RELAKSASI AUTOGENIK UNTUK MENGATASI GANGGUAN POLA TIDUR

Setiap pagi, saat perawat melakukan pengkajian pada pasien, perawat sering  menanyakan apakah bapak / ibu bisa tidur semalam? Apakah nyenyak?, dan pasien  kadang mengatakan dan mengeluh  sulit tidur, sering terbangun berkali kali / sering terjaga, merasa tidak puas tidur, mengeluh  pola tidur berubah, dan mengeluh istirahat tidak cukup. Sebagai seorang perawat, keluhan  pada pasien tersebut harus di tindaklanjuti dengan melakukan intervensi keperawatan , agar pasien terpenuhi kebutuhan istirahatnya. Didalam buku Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), perawat bisa menegakkan diagnosis pada pasien dengan gangguan tidur  adalah gangguan pola tidur, dimana definisi gangguan pola tidur adalah gangguan kualitas dan kuantitas waktu tidur akibat faktor eksternal. Penyebabnya adalah: hambatan lingkungan (mis. kelembapan lingkungan sekitar, suhu lingkungan, pencahayaan, kebisingan, bau tidak sedap, jadwal pemantauan/pemeriksaan/tindakan), kurang kontrol tidur, kurang privasi, restraint fisik, ketiadaan teman tidur, tidak familiar dengan peralatan tidur.

Berbagai cara dapat dilakukan untuk mengatasi gangguan tidur yaitu dengan farmakologi dan non farmakologi. Beberapa metode terapi yang dapat diterapkan untuk mengatasi gangguan tidur  adalah CBT (Cognitive Behavioral Therapy), stimulus control therapy, cognitive therapy dan imagery training. (Susilo, 2011) dalam (Mahdalena dkk, 2015). Salah satu terapi non farmakologi yang dapat dilakukan yaitu terapi relaksasi , dimana terapi tersebut akan  membuat pasien memasuki keadaan rileks pada saat dihadapkan pada kondisi yang penuh ketegangan. Terapi relaksasi sangat mudah dilakukan, tidak memiliki efek samping dan tidak menimbulkan ketergantungan. Dalam buku Standar Intervensi Keperawatan Indonesia ( SIKI)  intervensi keperawatan tindakan edukasi pada dukungan tidur yang bisa di lakukan pada pasien dengan gangguan pola tidur adalah ajarkan relaksasi otot autogenik. Apakah Relaksasi autogenik itu?

Relaksasi autogenik merupakan relaksasi yang bersumber dari diri sendiri dengan menggunakan kata-kata atau kalimat pendek yang bisa membuat pikiran menjadi tenang dan juga relaksasi autogenik membantu individu untuk dapat mengendalikan beberapa fungsi tubuh seperti tekanan darah, frekuensi jantung dan aliran darah (Widyastuti, 2004) dalam (Bara dkk, 2017) . Relaksasi autogenik dilakukan dengan membayangkan diri sendiri berada dalam keadaan damai dan tenang, berfokus pada pengaturan nafas dan detakan jantung.

Tujuan Relaksasi Autogenik adalah mengembangkan hubungan isyarat verbal dan kondisi tubuh yang tenang dimana tidak ada kondisi fisik yang aktif saat melakukannya. Efek yang dirasakan selama relaksasi autogenik seperti sensasi tenang, ringan dan hangat yang menyebar ke seluruh tubuh. Hal ini karena  pembuluh darah melebar sehingga darah mengalir secara teratur dan  membuat tekanan darah menjadi menurun serta efek yang menenangkan emosi. Teknik Relaksasi Autogenik juga dipercaya dapat membantu individu untuk mengendalikan beberapa fungsi tubuh seperti tekanan darah, frekuensi jantung dan aliran darah.

Teknik relaksasi autogenik dapat dilakukan dengan duduk di kursi, menyandar di atas kursi, atau berbaring di lantai atau matras. 

Ada 6 fase dalam terapi relaksasi autogenik, yaitu perasaan berat, perasaan hangat, ketenangan jantung dan ketenangan pernapasan yaitu:

1. Awal latihan dimulai dengan menarik nasaf dalam dengan cara:

  • Memejamkan mata dan bernafas dengan pelan (menarik nafas melalui hidung dan keluarkan melalui mulut) 
  • Irama yang konstan dapat dipertahankan dengan menghitung dalam hati dan lambat setiap inhalasi (“hirup, dua, tiga”) dan ekshalasi (“hembuskan, dua, tiga”) 

2. Mengulangi prosedur ini 3-5 kali

  • Sensasi berat melalui tangan dan kaki dimulai dari tangan dan kaki yang dominan. Penting bagi pasien untuk berkonsentrasi. Sugesti berat tersebut sebaiknya diulang-ulang dalam fikiran sekitar 6 kali. Biasanya perasaan berat akan tercapai pada sesi latihan pertama.
  • Sensasi hangat melalui tangan dan kaki dimulai dari  tangan dan kaki yang dominan. Dilakukan setelah merasakan sensasi berat. Sugesti hangat ini diulang beberapa kali. Sensasi hangat merupakan indikasi pembuluh dalah telah berdilatasi dan rileks. 

3. Sensasi hangat dan rileks area jantung agar jantung berdetak dengan    tenang dan teratur. Sensasi  hangat akan mempengaruhi sistem sirkulasi, relaksasi pembuluh darah cenderung menyebar dari lengan kiri ke pembuluh darah koroner. Sehingga akan lebih banyak volume darah dan oksigen yang mengalir ke jantung, maka nyeri di jantung juga akan berkurang.

4. Sensasi rileks pada pernafasan. Sugesti agar pernafasan tenang dan teratur. Perasaan yang rileks akan meningkatkan volume udara inspirasi dan menurunkan frekuensi pernafasan.

5. Sensasi hangat pada abdomen. Setelah terasa rileks pada organ-organ dada, maka selanjutnya pada organ di perut. Sugesti perut atau hati terasa menghangat.

6. Sensasi dingin pada kepala. Sugesti dingin dimulai dari area dahi. Ulangi sekitar 6 kali. Sugesti ini akan semakin membuat nyaman dan rileks seluruh tubuh.

Latihan relaksasi autogenik membutuhkan waktu sekitar 3 – 4 menit pada setiap fase berlangsung selama 15 menit. Relaksasi autogenik dapat memberikan efek selama 1 minggu latihan, bahkan hanya 2 kali latihan. Dengan latihan teratur,semoga bisa membantu pasien mengatasi gangguan tidur..selamat berlatih.....

Daftar Pustaka:

PPNI DPD SDKI Pokja Tim, 2018. Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia Edisi 1 : Jakarta : DPP PPNI

PPNI DPD SIKI Pokja Tim, 2018. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia Edisi : 1 : Jakarta : DPP PPNI

Anggraini Dkk,2018,Pengaruh Terapi Relaksasi Autogenik terhadap Tingkat Kualitas Tidur Pada Lanjut Usia, diakses 07 Oktober 2021. Di  file:///C:/Users/user/Downloads/25461-49435-1-SM%20(2).pdf

Bara Dkk,2017, Pengaruh Terapi Relaksasi Autogenik Terhadap Penurunan Tekanan Darah Pada Penderita Hipertensi. Diakses 07 Oktober 2021.  Di http://Repository2.Unw.Ac.Id/1112/1/ARTIKEL.Docx%20-%20neneng%20bara.Pdf

Novitasari,2017,Relaksasi Autogenik Untuk Penurunan Tekanan Darah Pada Lansia dengan Hipertensi. Diakses 07 Oktober 2021. Di  http://news.uhb.ac.id/id/posts/relaksasi-autogenik-untuk-penurunan-tekanan-darahpada-lansia-dengan-hipertensi

Romadhoni,2019, Penggunaan Teknik Relaksasi Autogenik Terhadap Pengurangan Nyeri Pada Pasien Post Orif . Diakses 07 Oktober 2021. Di Http://Eprintslib.Ummgl.Ac.Id/708/1/16.0601.0093_BAB%20I_BAB%20II_BAB%20III_BAB%20V_DAFTAR%20PUSTAKA.Pdf

Penulis: 
Diansari Evita,S.Kep.,Ners
Sumber: 
Perawat Rumah Sakit Jiwa Daerah

Artikel

27/11/2021 | Ns. Monalisa, AMK, S.Kep
27/11/2021 | Septia lianti, S.Kep, Ners
27/11/2021 | Tri Nurul Hidayati, S.Kep
27/11/2021 | Boifrida Butar-Butar, S.Kep,Ners
27/11/2021 | Ns.Kristianus Triaspodo, M.Kep, Sp.Kep.J
30/06/2016 | Wieke Erina Ariestya, S.Kep.Ners
10/10/2018 | Emanuel Triwisnu Budi, AMK
02/02/2017 | Muhammad Isnaini.S.Kep

ArtikelPer Kategori