REAKSI-REAKSI FRUSTRASI

Frustrasi adalah suatu keadaan, di mana satu kebutuhan tidak bisa terpenuhi dan tujuan tidak bisa tercapai. Biasanya terjadi pada seseorang yang mengalami satu halangan dalam usahanya mencapai satu tujuan. Frustrasi ini bisa menimbulkan dua kelompok tingkah laku atau respons, yaitu (1) bisa melemparkan dan menghancurkan  seseorang, merusak atau mengakibatkan disorganisasi diri pada struktur kepribadian, dan mengalami gangguan mental parah, (2) menjadi satu titik-tolak baru bagi satu usaha baru, guna menciptakan bentuk adaptasi dan mekanisme pemuasan kebutuhan yang baru pula sehingga terjadilah perkembangan hidup baru. Frustrasi ini bisa menimbulkan situasi yang sifatnya membangun (positif) dan merusak (negatif).

  1. Reaksi-Reaksi Frustrasi yang Sifatnya Membangun (Positif)

Di bawah ini contoh reaksi-reaksi frustasi yang membangun (positif).

a. Mobilisasi Dan Penambahan Aktivitas

Karena mendapatkan rintangan dalam usahanya, kemudian terjadi pengum- pulan energi untuk mengatasi halangan tadi. Jadi, rintangan tersebut memanggil rangsangan untuk memperbesar energi, potensi, kapasitas, sarana, keuletan, dan keberanian untuk mengatasi semua kesulitan. Segenap usaha dan tenaga cadangan dikerahkan untuk mengaktualisasikan kemampuan pribadi guna mengatasi kesulitannya.

b. Besinung (Berpikir Secara Mendalam, Disertai Wawasan Jernih)

Setiap frustrasi akan memberikan masalah. Kejadian ini memaksa orang untuk melihat realitas dengan mengambil satu jarak, untuk berpikir lebih objektif dan mendalam sehingga berlangsung reorganisasi dari aktivitas dengan perspektif- perspektif usaha yang baru melalui besinung, yaitu mencari jalan atau alternatif penyelesaian lain. Semua itu memberikan kesempatan untuk menilai ulang arti dari kesukaran dan makna frustrasinya menurut proporsi sebenarnya.

c. Resignation (Tawakal/pasrah pada Tuhan)

Tawakal dan pasrah di sini mengandung arti menerima situasi dan kesulitan yang dihadapi dengan sikap rasional dan ilmiah, lalu tetap bekerja dan berusaha, sambil memelihara keseimbangan ketenangan jiwa, tanpa mengalami banyak konflik batin. Semua ini bisa dilakukan, jika sudah mulai belajar menggunakan pola hidup yang positif dalam menanggulangi setiap kesulitan sejak berusia sangat muda.

d. Membuat Dinamis Riil Satu Kebutuhan

Kebutuhan-kebutuhan  tertentu bisa mengalami atrofi atau juga lenyap dengan sendiri karena sudah tidak diperlukan oleh si subjek, juga sudah tidak sesuai lagi dengan kecenderungan dan aspirasi pribadi. Bagi kader pertumbuhan kebutuh- an subjek tadi, kebutuhan tersebut menjadi tidak berharga, salah tempat, salah waktu, dan tidak berguna lagi. Semua ini berarti membuat kebutuhan tersebut menjadi dinamis riil. Misalnya, seorang yang semula sangat fanatik terhadap satu keyakinan agama atau ide politik ekstrem tiba-tiba menilai sikapnya sebagai tidak bermanfaat karena sudah tidak sesuai lagi dengan proyek hidupnya yang baru.

e. Kompensasi Atau Substitusi Tujuan

Kompensasi ialah usaha untuk mengimbangi kegagalan dan kelelahan dalam satu bidang dengan satu sukses dan kemenangan di bidang lain. Semua ini dengan jalan menghidupkan semangat perjuangan yang agresif dan tidak mengenal rasa menyerah.

Dalam melakukan suatu aktivitas atau pelaksanaan tugas, jika mengalami hambatan, seseorang akan memanggil dimensi ketegangan yang kuat. Peristiwa tersebut menuntut penyelesaian. Penyelesaian ini bisa diganti dengan penggantian bentuk tugas sehingga terjadi substitusi atau kompensasi tugas. Substitusi ini bisa bersifat insidental, tetapi bisa juga dijadikan satu sistem kebiasaan yang permanen. Jadi, kompensasi itu bisa disamakan dengan substitusi yang sudah menjadi kebiasaan.

f. Sublimasi

Sublimasi ialah usaha untuk mensubstitusikan atau mengganti kecenderungan egoistis, nafsu, dorongan biologis primitif dan aspirasi sosial yang tidak sehat dalam bentuk tingkah laku terpuji yang bisa diterima baik oleh masyarakat. Misalnya, kekecewaan disebabkan oleh terhambatnya nafsu seks atau nafsu berkuasa, disalurkan di bidang seni atau olahraga. Penderita batin oleh hinaan- hinaan, dijadikan stimulasi untuk menjadi pemikir atau ahli filsafat besar, dan lain-lain.

2. Reaksi-Reaksi Frustrasi yang Negatif

Di samping reaksi frustrasi yang positif, ada pula bentuk reaksi frustrasi yang negatif yang sangat merugikan pribadi. Telah dipahami bahwa penyelesaian frustrasi itu mengandung  usaha untuk  mengurangi ketegangan-ketegangan yang ada. Maka dari itu, bentuk penyelesaian yang tidak menguntungkan itu memang sementara waktu bisa mengurangi ketegangan dan bisa memberikan kepuasan semu. Akan tetapi, persoalannya sendiri masih belum terpecahkan sebab penyelesaiannya mengalami penundaan atau penguluran waktu. Bahkan kadang-kadang masalahnya dipecahkan dengan cara yang salah. Hal ini membuat masalah semakin sulit dan rumit.

Bentuk-bentuk reaksi frustrasi negatif atau penyelesaian yang tidak riil dan tidak menguntungkan  itu dikenal pula dengan istilah escape mechanism (mekanisme penghindaran atau pelarian diri), atau defence machanism (mekanisme pertahanan diri). Mekanisme-mekanisme negatif tersebut sebagai berikut.

a. Agresi

Agresi ialah kemarahan meluap-luap dan mengadakan penyerangan kasar karena mengalami kegagalan. Reaksinya sangat primitif, dalam bentuk kemarahan hebat dan emosi yang meledak-ledak, seperti mau jadi gila. Ada kalanya berupa tindakan tirani dan tindak sadistis. Agresi semacam ini sangat mengganggu fungsi intelegensi sehingga harga dirinya merosot. Agresi yang kronis dan ekstrem sering menyebabkan timbulnya penyakit hipertensi atau tekanan darah tinggi.

b. Regresi

Regresi ialah kembali pada pola reaksi yang primitif, tidak adekuat, serta kekanak-kanakan. Misalnya dengan jalan menjerit-jerit, menangis meraung- raung, membanting-banting  barang-barang pecah belah, mengisap ibu jari, mengompol, pola tingkah laku histeris, dan lain-lain. Tingkah laku sedemikian itu didorong oleh rasa dongkol, kecewa, dan rasa tidak mau memecahkan masa- lahnya, lalu ingin ditolong dan dihibur. Namun jelas, tingkah laku sedemikian ini merupakan ekspresi dari rasa menyerah kalah, putus asa, dan lemah mental.

c. Fiksasi

Fiksasi ialah reaksi atau respons individu yang selalu memiliki pola tetap, yaitu selalu memakai cara yang sama untuk memecahkan kesulitan hidupnya. Perangai ini sering kita jumpai pada pola tingkah laku paksaan dan penderita neurosis. Misalnya, menyelesaikan kesulitannya dengan membisu, membentur-benturkan kepala, berlari-lari histeris, memukul-mukul dada sendiri, dan lain-lain. Semua ini dilakukan sebagai “alat pencapai tujuan”, juga dipakai sebagai alat balas dendam atau sarana penyalur kedongkolan dan sebagai usaha penghibur diri.

d. Pendesakan Dan Kompleks-Kompleks Pendesak

Pendesakan ialah usaha untuk menghilangkan atau menekankan dalam ketidak- sadaran berupa kebutuhan, pikiran yang jahat, nafsu, dan perasaan yang negatif. Kemudian, oleh hati nurani (sebagai alat superstruktur sosial) nafsu, dorongan, ke- butuhan vital, pikiran primitif, dan kecenderungan yang tidak sesuai dengan norma etis itu didesakkan ke dalam alam tidak sadar karena dianggap tidak sopan dan tidak bernilai sehingga terjadi kompleks-kompleks terdesak, yang sering mengganggu ketenangan batin. Meskipun kompleks-kompleks terdesak ini bisa diusir dari kesadaran, tetapi belum lenyap sama sekali. Hal itu tetap bertahan dan memiliki kekuatan untuk bercokol dan beroperasi mengganggu terhadap ketenangan batin manusia. Jadi, kompleks-kompleks terdesak merupakan bagian psikis yang terlepas dari kepribadian dan pengawasan kesadaran, dan bergentayangan bebas dalam ketidaksadaran yang gelap, yaitu berupa mimpi-mimpi yang menakutkan, halu- sinasi, delusi, ilusi, salah baca, salah ucap, somnabulisme, dan lain-lain.

e. Rasionalisasi

Rasionalisasi adalah cara untuk menolong diri secara tidak wajar atau berbentuk teknik pembenaran diri (self justification) dengan jalan membuat sesuatu yang tidak rasional dan menyenangkan. Penyebab kegagalan selalu dicari di luar dirinya. Subjek selalu menyalahkan orang lain untuk menolong diri sendiri dan berusaha agar tidak kehilangan muka, disertai harapan untuk bisa membenarkan semua perbuatannya. Misalnya, seorang yang gagal secara total melaksanakan tugas, akan berkata, ”Tugas itu terlalu berat bagi saya yang masih muda sekali” atau ”Tugas itu tidak bermanfaat, jadi tidak saya kerjakan”.

f. Proyeksi

Proyeksi ialah usaha melemparkan atau memproyeksikan kelemahan dan sikap negatif pada diri sendiri, orang lain, juga pikiran serta harapan yang buruk dialihkan pada orang lain, dan tidak mau mengakuinya. Contohnya, seorang yang sangat iri hati akan kekayaan dan sukses tetangganya akan berkata bahwa justru tetangganya itulah yang senantiasa iri dan dengki pada dirinya.

g. Teknik Anggur Masam (Sour Grape Technique)

Teknik anggur masam adalah usaha memberikan atribut yang jelek atau negatif pada tujuan yang tidak bisa dicapai. Hal itu disebut sebagai tidak bernilai. Seorang mahasiswa yang gagal menempuh ujian akan berkata, “Bahan ujiannya begitu gila, hingga tidak sesuai dengan selera/intelegensiku yang halus ini”.

h. Teknik Jeruk Manis (Sweet Orange Technique)

Teknik jeruk manis adalah usaha untuk memberikan atribut yang bagus dan unggul pada semua kegagalan, kelemahan, dan kekurangan sendiri. Jadi, potensi yang minor itu selalu ingin ditolongnya dengan satu alasan yang bisa membelai- belai harga dirinya. Misalnya, seorang diplomat yang gagal total melakukan tugasnya akan berkata; “Inilah taktik diplomasi bertaraf internasional, mundur untuk merebut kemenangan”.

l. Identifikasi

Identifikasi ialah usaha mempersamakan diri dengan orang lain. Orang yang meng- alami frustrasi dan kegagalan tidak mau melihat kelemahan dan kekurangan sendiri, tetapi selalu berusaha mengidentifikasi dirinya dengan seseorang yang sukses dalam dunia imajinasinya. Misalnya, mengidentifikasikan diri dengan seorang bintang film tenar, pahlawan perang, profesor yang cemerlang, dan lain- lain. Semua ini bertujuan untuk memberikan kepuasan semu pada diri sendiri.

j. Narsisme

Narsisme adalah perasaan superior, ekstrem self-importancy, dan disertai cinta diri yang patologis dan berlebih-lebihan. Seseorang yang memiliki kepribadian narsisme menganggap dirinya paling pandai, hebat, atau berkuasa. Dengan begitu, dia menganggap tidak perlu adanya tenggang rasa terhadap perasaan orang lain. Ia menjadi pribadi yang sangat egois. Hal yang paling penting bagi dirinya adalah dirinya sendiri dan tidak peduli pada dunia luar. Kebanyakan orang-orang yang narsis ini mempunyai kecenderungan jadi psikopat, asosial, moral defect, atau pelaku kriminal yang tidak bisa disembuhkan.

k. Autisme

Autisme ialah gejala menutup diri secara total dari dunia riil, dan tidak mau ber- komunikasi lagi dengan dunia luar. Dunia luar dianggap kotor dan jahat, penuh kepalsuan, dan mengandung bahaya-bahaya yang mengerikan. Oleh karena itu, ia ingin melarikan diri dalam diri sendiri ke dalam angan-angan dan fantasinya. Dia ingin mendapatkan kedamaian, kepuasan, dan rasa aman dalam dunia cita-cita (An imaginary social world).

Semua bentuk tingkah laku reaksi frustrasi negatif atau escape mechanism, ini sangat tidak sehat efeknya bagi ketenangan batin dan sangat tidak baik bagi pembentukan karakter sebab memberikan kepuasan semu belaka. Apabila tingkah laku ini selalu dijadikan pola pertahanan diri dan dijadikan pola kebiasaan yang menetap, hal ini akan mengakibatkan neurosis dan disintegrasi kepribadian sebab pola hidup yang salah ini akan mengakibatkan bertumpuknya kesulitan hidup, semakin bertambahnya konflik batin yang kronis, semakin banyak me- nimbulkan ketegangan, serta semakin parah disorientasi sosialnya, lalu terjadi disintegrasi kepribadian. Pasien bisa menjadi neurotik atau psikotis karenanya.

Sumber:   Abdussalam, H.R. 2007. Kriminologi. Jakarta: Restu Agung.

Adjis, Chairil A. dan Dudi Akasyah. 2007. Kriminologi Syariah: Kritik terhadap Sistem Rehabilitasi. Jakarta: RMBOOKS.P. 2016. Patologi Sosial. PT Bumi Aksara. Jakrta.

Burlian, P. 2016. Patologi Sosial. PT Bumi Aksara. Jakrta.

Nurhalimah. (2016). Keperawatan Jiwa. Jakarta Selatan: Pusdik SDM Kesehatan.

Soekanto, Soerjono. 2012. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Soemardjan, Selo dan Soelaeman Soemardi. 1964. Setangkai Bunga Sosiologi. Jakarta: Yayasan Badan Penerbit Fakultas Ekonomi UI.

Penulis: 
Emanuel Triwisnu Budi, AMK
Sumber: 
Perawat Rumah Sakit Jiwa Daerah

Artikel

27/11/2021 | Ns. Monalisa, AMK, S.Kep
27/11/2021 | Septia lianti, S.Kep, Ners
27/11/2021 | Tri Nurul Hidayati, S.Kep
27/11/2021 | Boifrida Butar-Butar, S.Kep,Ners
27/11/2021 | Ns.Kristianus Triaspodo, M.Kep, Sp.Kep.J
30/06/2016 | Wieke Erina Ariestya, S.Kep.Ners
10/10/2018 | Emanuel Triwisnu Budi, AMK
02/02/2017 | Muhammad Isnaini.S.Kep

ArtikelPer Kategori