PROGRAM KERJA KLINIK GANGGUAN PENGGUNAAN NAPZA UPTD RUMAH SAKIT JIWA DAERAH PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Rumah sakit merupakan salah satu sarana pelayanan kesehatan yang penting keberadaannya bagi masyarakat. Untuk menunjang pelayanan yang diberikan bagi masyarakat dibutuhkan beberapa fasilitas dan peralatan medis yang lengkap dan memadai. Semakin tinggi taraf kehidupan masyarakat, semakin tinggi pula tuntutannya terhadap penyediaan fasilitas kesehatan.

Penyediaan fasilitas dalam pelayanan kesehatan di masyarakat merupakan tanggung jawab pemerintah karena menyangkut kesehatan hidup masyarakat. Fasilitas pelayanan kesehatan tersebut meliputi unsur pelayanan dan juga unsur sarana. Unsur pelayanan berupa jenis-jenis pelayanan yang ada dalam rumah sakit tersebut dan unsur sarana meliputi perlengkapan dan peralatan-peralatan yang digunakan di rumah sakit. Sistem pelayanan yang baik harus sebanding dengan unsur sarana yang ada didalamnya, Jika pembangunan pelayanan kesehatan berhasil dengan baik maka akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Pembangunan kesehatan yang dilaksanakan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari pembangunan dibidang lainnya. Kebijakan dasar pembangunan kesehatan ditujukan untuk mengupayakan peningkatan kualitas sumber daya manusia, meningkatkan kesejahteraan keluarga dan masyarakat serta mempertinggi kesadaraan akan pentingnya hidup sehat selain itu pembangunan Kesehatan juga merupakan upaya untuk memenuhi salah satu hak dasar rakyat, yaitu hak untuk memperoleh pelayanan kesehatan sesuai dengan amanat UUD 1945 pasal 28 ayat (1) dan UU Nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan.

UPTD Rumah Sakit Jiwa Daerah (UPTD RSJD) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung merupakan salah satu sarana untuk menggambarkan pencapaian pembangunan kesehatan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. UPTD RSJD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung merupakan satu-satunya rumah sakit jiwa pemerintah yang ada di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Sebagai rumah sakit rujukan Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung memiliki peranan penting dalam pelayanan orang dengan gangguan jiwa dan ketergantungan obat.

Adapun tugas utamanya RSJD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menyelenggarakan pelayanan pencegahan, penyembuhan, pemulihan dan rehabilitasi dibidang kesehatan jiwa dan ketergantungan obat yang dilaksanakan secara terpadu dan bermutu, sebagai tempat pengembangan sumber daya manusia melalui pendidikan dan pelatihan bagi tenaga dibidang kesehatan jiwa.

Rumah sakit merupakan multi sektor yang salah satunya menjadi pelayanan gangguan penggunaan NAPZA. Oleh sebab itu perlu dilakukan peningkatan mutu pelayanan di Klinik Gangguan Penggunaan NAPZA salah satunya melalui program peningkatan mutu pelayanan. Pelayanan gangguan penggunaan NAPZA di rumah sakit merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sistem pelayanan kesehatan rumah sakit yang berorientasi kepada pelayanan klien baik pengkajian, pemeriksaan penunjang, maupun intervensi dan penyediaan alat-alat kesehatan, yang bermutu dan terjangkau bagi semua lapisan masyarakat termasuk pelayanan klinik gangguan penggunaan NAPZA.

Perawat dan dokter yang bekerja di rumah sakit dituntut untuk merealisasikan paradigma pelayanan gangguan penggunaan NAPZA yang berorientasi pada klien. Kasus Penyalahgunaan NAPZA makin hari makin menghawatirkan dimana angka pecandu, penyalahguna dan korban diperkirakan semakin meningkat baik pada anak-anak sekolah dasar, usia remaja dan dewasa. Kasus Penyalahgunaan NAPZA terjadi diseluruh wilayah tanah air.

Dampak yang lebih menghawatirkan adalah kandungan psikoaktif zat yang memberikan “efek psikoaktif” secara langsung diantaranya terganggunya fungsi emosional dan mental. Sedangkan efek adiksi yang membahayakan dapat mengakibatkan hasrat yang tidak tertahankan yang akan menimbulkan Gangguan psikologis dan psikososial bahkan kematian. Karna hal ini lah masalah Penyalahgunaan NAPZA perlu mendapatkan perhatian dari semua kalangan termasuk tenaga kesehatan.

Klien-klien yang mengalami gangguan penggunaan NAPZA selama ini cenderung menutup diri dan terkadang diketahui setelah adanya penangkapan dari pihak yang berwajib. Tak jarang keluarga yang memiliki keluarga gangguan penggunaan NAPZA justru menyembunyikan dan menutup-nutupi, namun setelah timbul masalah keluarga baru mengharapkan bantuan.

Adanya permasalah yang timbul mendorong terwujudnya sebuah wadah yang dapat memberikan pelayanan pada klien dengan gangguan penggunaan NAPZA. Oleh karena itu sebaiknya semua klien dengan gangguan penggunaan NAPZA perlu mendapatkan pelayanan penangan permasalahan gangguan penggunaan NAPZA utamanya di POLIKLINIK Gangguan Penggunaan NAPZA Rumah Sakit Jiwa Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Pelayanan Gangguan Penggunaan NAPZA adalah kegiatan yang dilakukan oleh perawat dan dokter yang telah menjalani pelatihan khusus terkait gangguan penggunaan NAPZA. Dalam memberikan jasa dan praktik kepada masyarakat untuk pemecahan masalah gangguan penggunaan NAPZA, yang bersifat individual maupun kelompok dengan menerapkan prinsip-prinsi penanganan gangguan penggunaan NAPZA.

Termasuk dalam pengertian praktik pelayanan gangguan penggunaan NAPZA tersebut adalah terapan prinsip penangan gangguan penggunaan NAPZA yang berkaitan dengan kegiatan assesmen, pemeriksaan penunjang, diagnostik, prognosis, konseling dan psikoterapi.

Pelayanan gangguan penggunaan NAPZA meliputi langkah-langkah :

a.         Pengkajian

b.         Pemeriksaan penunjang

c.         diagnostik

d.         Intervensi

e.         Pencatatan dan pelaporan

f.         Perujukan

Untuk itu diperlukan sebuah program kerja untuk menunjang kelancaran dalam pelaksanaan pelayanan gangguan penggunaan NAPZA di UPTD RSJD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Tujuanya untuk meningkatkan mutu pelayanan dan keselamatan klien di Rumah Sakit, Meningkatkan mutu pelayanan gangguan penggunaan NAPZA, Memberikan layanan penanganan gangguan penggunaan NAPZA yang sesuai dengan kaidah keilmuan dan standar prosedur operasional (SPO) yang telah ditetapkan untuk kesejahteraan masyarakat.

KEGIATAN POKOK DAN CARA MELAKSANAKAN KEGIATAN (METODOLOGI)

  • Pemilihan

Memilih kebutuhan alat-alat kesehatan dan ATK pendukung lainnya sesuai dengan kebutuhan pelayanan Klinik Gangguan Penggunaan NAPZA.

  • Perencanaan Kebutuhan

Merencanakan kebutuhan Klinik Gangguan Penggunaan NAPZA secara optimal yang dibutuhkan dalam melakukan pelayanan.

  • Pengadaan

Mengajukan pengadaan kebutuhan dengan membuat daftar usulan pembelian alat-alat kesehatan, dan alat tulis kantor sesuai dengan hasil rapat bulanan kepada Bidang Pelayanan.

  • Penerimaan

Penerimaan yang dimaksud adalah proses serah terima alat-alat yang telah diajukan dari pihak pengadaan alat ke Klinik Gangguan Penggunaan NAPZA dan melakukan pengecekan kesesuaian.

  • Penyimpanan.

Melakukan penyimpanan alat-alat kesehatan dan alat tulis lainnya pada filing cabinet dan lemari penyimpanan yang sesuai

  • Pendistribusian

Pendistribusian alat-alat kesehatan adalah penyaluran alat-alat kesehatan dari ruang penyimpanan alat-alat kesehatan ke ruang alat-alat kesehatan.

  • Pemusnahan.

Pemusnahan alat-alat kesehatan habis pakai dilakukan setiap 2 tahun sekali dengan dibuatkan pelaporan dan evaluasi.

  • Pengkajian

Melakukan serangkaian pemeriksaan gangguan penggunaan NAPZA dengan wawancara dan pemeriksaan fisik, mulai dari assesmen sampai dengan analisa data yang bertujuan untuk menilai dan atau mengevaluasi kondisi seseorang yang mengalami gangguan penggunaan NAPZA, baik secara individu atau dalam interaksinya dengan lingkungan dimana ia berada.

  • Pemeriksaan Penunjang

Melakukan serangkaian pemeriksaan tambahan untuk menguatkan penilaian dan Rencana tindakan yang akan dilakukan pada seseorang yang mengalami gangguan penggunaan NAPZA dengan pemeriksaan laboratorium dan rontgen.

  • Intervensi

Intervensi dapat berupa konseling, psikoterapi dan psikoedukasi. Penerapannya bisa tunggal, dapat pula  dilakukan secara simultan.

  • Pencatatan dan Pelaporan

Pencatatan hasil pemeriksaan gangguan penggunaan NAPZA dilakukan dengan menggunakan form sesuai dengan kebutuhan klien. Adapun laporan yang dibuat mencakup aspek kognitif, social, dan emosi.

  • Perujukan

Membuat rujukan sesuai dengan kebutuhan (Psikiater, Neurologi, Ahli Penyakit Dalam, Rehabilitasi, Pekerja Sosial, dan Profesional lainnya yang terkait)

SASARAN

  1. Keselamatan klien
  2. Peningkatan mutu pelayanan Klinik Gangguan Penggunaan NAPZA.

EVALUASI PELAKSANAAN KEGIATAN DAN PELAPORAN

Dalam evaluasi pelaksanaan kegiatan ini dilakukan secara berkala, setiap bulan. Data dikumpulkan melalui sensus harian oleh Kepala Klinik Gangguan Penggunaan NAPZA dan dilakukan analisa serta rencana tindak lanjut yang selanjutnya dilaporkan ke Direktur Utama melalui, Kepala Intalasi Rawat Jalan, Kasi Pelayanan medik dan Penunjang Medik.

PENCATATAN, PELAPORAN DAN EVALUASI KEGIATAN

  1. Dilakukan melalui sensus harian dan pelaporan setiap bulan Kepala Klinik Gangguan Penggunaan NAPZA untuk dianalisa dan pembuatan rencana tindak lanjut dan dilanjutkan kepada Direktur Utama melalui Kepala Intalasi Rawat Jalan, Kasi Pelayanan Medik dan Penunjang Medik.
  2. Evaluasi kegiatan dilakukan oleh Kepala Klinik Gangguan Penggunaan NAPZA untuk selanjutnya dilakukan pembuatan Rencana Tindak Lanjut.

 

Sumber:

Profil UPTD Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, 2019. Kepulauan Bangka Belitung.

Peraturan Menteri Sosial Republik Indonesi Nomor 3 Tahun 2012 tentang Standar Lembaga Rehabilitasi Sosial Korban Penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika, dan Zat Aditif Lainya.

Prabow

o, 2017. Asuhan Keperawatan Jiwa. Semarang: Universitas Diponegoro

Riskesdas. (2018). Kesehatan Jiwa Menurut Riskesdas 2019. Jakarta.

Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009. Tentang Narkotika. Jakarta

 

Penulis: 
Ns. MARDIAH S. Kep
Sumber: 
Perawat Rumah Sakit Jiwa Daerah

ArtikelPer Kategori