Sebuah hal yang substansi dari kehidupan kita adalah pentingnya pekerjaan, karena dengan bekerja kita dapat menghidupi kehidupan kita secara jasmani, namun kadang dengan pekerjaan membuat seluruh organ-organ tubuh jenuh dengan aktifitas yang sering kita lakukan.
Penyakit Akibat Kerja adalah penyakit yang mempunyai penyebab yang spesifik atau asosiasi yang kuat dengan pekerjaan, pada umumnya terdiri dari satu agen penyebab, harus ada hubungan sebab akibat antara proses penyakit dan hazard di tempat kerja.
Penyakit Akibat kerja adalah penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan, alat kerja, bahan, proses maupun lingkungan kerja.
WHO membedakan empat kategori Penyakit Akibat Kerja (PAK):
- Penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan, misalnya Pneumoconiosis.
- Penyakit yang salah satu penyebabnya adalah pekerjaan, misalnya Karsinoma Bronkhogenik.
- Penyakit dengan pekerjaan merupakan salah satu penyebab di antara faktor-fator penyebab lainnya, misalnya Bronkhitis khronis.
- Penyakit dimana pekerjaan memperberat suatu kondisi yang sudah ada sebelumnya, misalnya asma.
Pada Simposium internasional mengenai penyakit akibat hubungan pekerjaan yang diselenggarakan oleh ILO (International Labour Organization) di Linz, Australia, dihasilkan definisi menyangkut PAK sebagai berikut :
- Penyakit Akibat Kerja – Occupational Disease adalah penyakit yang mempunyai penyebab yang spesifik atau asosiasi yang kuat dengan pekerjaan, yang pada umumnya terdiri dari satu agen penyebab yang sudah diakui.
- Penyakit yang Berhubungan dengan Pekerjaan- Work Related Disease adalah penyakit yang mempunyai beberapa agen penyebab, dimana faktor pekerjaan memegang peranan bersama dengan faktor risiko lainnya dalam berkembangnya penyakit yang mempunyai etiologi kompleks.
- Penyakit yang Mengenai Populasi Kerja- Disease of Fecting Working Populations adalah penyakit yang terjadi pada populasi pekerja tanpa adanya agen penyebab ditempat kerja, namun dapat diperberat oleh kondisi pekerjaan yang buruk bagi kesehatan.
Faktor Penyebab Penyakit Akibat Kerja
Faktor Fisik :
- Suara tinggi/bising dapat menyebabkan ketulian
- Temperatur/suhu tinggi :menyebabkan Hyperpireksi, Milliaria, heat cramp, Heat Exhaustion, Heat Stroke.
- Radiasi sinar elektromagnetik : infra merah menyebabkan katarak, ultraviolet menyebabkan konjungtivitis, radioaktif/alfa/beta/gama/X menyebabkan gangguan terhadap sel tubuh manusia.
- Tekanan udara tinggi : menyebabkan Coison Disease.
- Getaran: menyebabkan Reynaud’s Disease, gangguan proses metabolisme, Polineuritis.
Golongan Kimia :
- Asal : bahan baku, bahan tambahan, hasil antara, hasil samping, hasil (produk), sisa produksi atau bahan buangan.
- Bentuk : zat padat, cair, gas,uap maupun partikel.
- Cara masuk tubuh dapat melalui saluran pernafasan, saluran pencernaan, kulit dan mukosa.
- Masuknya dapat secara akut dan secara kronis.
- Efek terhadap tubuh : iritasi, alergi, korosif, Asphyxia, keracunan sistematik, kanker, kerusakan/kelainan janin, pneumoconiosis, efek bius (narkose), Pengaruh genetiK.
Golongan Biologi
Berasal dari Virus, bakteri, parasit, jamur, serangga, binatang buas, dll.
Golongan Ergonomi/Fisiologi
- Akibat: cara kerja, posisi kerja, alat kerja, lingkungan kerja yang salah, kontruksi salah
- Efek terhadap tubuh : kelelahan fisik, nyeri otot, deformirtas tulang, perubahan bentuk, dislokasi, dan kecelakaan.
Golongan Psikososial :
- Akibat organisasi kerja (tipe kepemimpinan, hubungan kerja komunikasi, keamanan), tipe kerja (monoton, berulang-ulang, kerja berlebihan, kerja kurang, kerja shif dan terpencil)
- Manifestasinya berupa stress
Beberapa contoh Penyakit Akibat Kerja :
- Penyakit alergi/hipersensitif
- Dermatitis kontak
- Penyakit paru
- Penyakit hati dan gastro intestinal
- Penyakit saluran urogenital
- Penyakit hematologi
- Penyakit kardiovaskuler
- Gangguan alat reproduksi
- Penyakit muskuloskletal
- Gangguan telinga
- Gangguan mata
- Gangguan susunan saraf
- Stress
- Infeksi
- Keracunan
Pencegahan Penyakit Akibat Kerja
Beberapa tips dalam mencegah penyakit akibat kerja :
- Pakailah alat pelindung diri secara benar dan teratur
- Kenali resiko pekerjaan dan cegah supaya tidak terjadi lebih lanjut
- Segera akses tempat kesehatan terdekat apabila terjadi luka yang berkelanjutan
Penanggulangan Penyakit Akibat Kerja
Untuk dapat menanggulangi Penyakit Akibat Kerja pada individu perlu dilakukan suatu pendekatan sistematis untuk mendapatan informasi yang diperlukan dan menginterprestasinya secara tepat.
7 langkah pendekatan yang dapat digunakan sebagai pedoman :
a. Tentukan Diagnosis klinisnya.
Diagnosis klinis harus dapat ditegakkan terlebih dahulu, dengan memanfaatkan fasilitas-fasilitas penunjang yang ada, seperti umumnya dilakukan untuk mendiagnosis suatu penyakit. Setelah diagnosis klinik ditegakkan baru dapat dipikirkan lebih lanjut apakah penyakit tersebut berhubungan dengan pekerjaan atau tidak.
b. Tentukan pajanan yang dialami oleh tenaga kerja selama ini.
Pengetahuan mengenai pajanan yang dialami oleh seorang tenaga kerja adalah esensial untuk dapat menghubungkan suatu penyakit dengan pekerjaannya. Untuk itu perlu dilakukan anamnesis mengenai riwayat pekerjaannya secara cermat dan teliti, yang mencakup :
- Penjelasan mengenai semua pekerjaan yang telah dilakukan oleh penderita secara kronologis
- Lamanya melakukan masing-masing pekerjaan
- Bahan yang di produksi
- Materi (bahan baku) yang digunakan
- Jumlah pajanan
- Pemakaian alat pelindung diri
- Pola waktu terjadinya gejala
- Informasi mengenai tenaga kerja lain (apakah ada yang mengalami gejala
- Informasi tertulis yang ada mengenai bahan-bahan yang digunakan (MSDS,label, dan sebagainya)
c. Tentukan apakah pajanan tersebut memang dapat menyebabkan penyakit tersebut.
Apakah terdapat bukti-bukti ilmiah dalam kepustakaan yang mendukung pendapat bahwa pajanan yang dialami menyebabkan penyakit yang diderita. Jika dalam kepustakaan tidak ditemukan adanya dasar ilmiah yang menyatakan hal tersebut di atas, maka tidak dapat ditegakkan diagnosa penyakit akibat kerja. Jika dalam kepustakaan tak ada yang mendukung, perlu dipelajari lebih lanjut secara khusus mengenai pajanan sehingga dapat menyebabkan penyakit yang diderita (konsenterasi, jumlah, lama, dan sebagainya).
d. Tentukan apakah jumlah pajanan yang dialami cukup besar untuk dapat mengakibatkan penyakit tersebut.
Jika penyakit yang diderita hanya dapat terjadi pada keadaan pajanan tertentu, maka pajanan yang dialami pasien ditempat kerja menjadi penting untuk diteliti lebih lanjut dan membandingkannya dengan kepustakaan yang ada untuk dapat menentukan diagnosis penyakit akibat kerja.
e. Tentukan apakah ada faktor-faktor lain yang mungkin dapat mempengaruhi
Apakah ada keterangan dari riwayat penyakit maupun riwayat pekerjaannya, yang dapat mengubah keadaan pajanannya, misalnya penggunaan APD, riwayat adanya pajanan serupa sebelumnya sehingga risikonya meningkat. Apakah pasien mempunyai riwayat kesehatan (riwayat keluarga) yang mengakibatan penderita lebih rentan/lebih sensitif terhadap pajanan yang dialami.
f. Cari adanya kemungkinan lain yang dapat merupakan penyebab penyakit
- Apakah ada faktor lain yang dapat merupakan penyebab penyakit ?
- Apakah penderita mengalami pajanan lain yang diketahui dapat merupakan
penyebab penyakit. Meskipun demikian, adanya penyebab lain tidak selalu dapat
digunakan untuk menyingkirkan penyebab di tempat kerja.
g. Buat keputusan apakah penyakit tersebut disebabkan oleh pekerjaannya
Sesudah menerapkan ke enam langkah diatas perlu dibuat suatu keputusan berdasarkan informasi yang telah didapat yang memiliki dasar ilmiah. Tetapi tidak selalu pekerjaan merupakan penyebab langsung suatu penyakit, kadang-kadang pekerjaan hanya memperberat suatu kondisi yang telah ada sebelumnya.
Daftar Pustaka :
Cecep Dani Sucipto
https://Safety4abipraya.wordpress.com/2008/03/19/penyakit-akibat-kerja/
https://newssafety.blogspot.co.id/2014/04/penyakit-akibat-kerja.html?m:1

