PENGETAHUAN MERAWAT KLIEN DENGAN KURANG (DEFISIT ) PERAWATAN DIRI

Pengertian

Keadaan dimana individu mengalami hambatan kemampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas perawatan diri yang harus dilakukan secara rutin.

Apa Penyebab Kurang Perawatan Diri?

1.  Banyak diam

2. Mundur ke tahap perkembangan sebelumnya

3. Cemas berat sampai panik

4. Adaya halusinasi atau gangguan untuk memahami informasi

5. Ketidakmampuan mempercayai orang lain

Apa tanda-tanda Kurang Perawatan Diri?

  1. Jika klien menolak untuk disarankan melakukan mandi, berpakaian, atau makan dan berhias
  2. Jika klien tidak mampu mengontrol Buang Air Kecil (BAK) atau BAK pada tempat yang tepat
  3. Mengatakan tidak mampu untuk melakukan perawatan diri (mandi, makan, berpakaian, atau berhias)
  4. Kurang motivasi dalam melakukan perawatan diri

Apa yang diharapkan dari merawat klien dengan Kurang Perawatan Diri?

  1. Klien mampu makan sendiri dan membersihkan perlengkapan makannya tanpa bantuan
  2. Klien mampu memilih pakaian yang sesuai, berpakaian dan berhias sendiri setiap hari tanpa bantuan
  3. Klien dapat mempertahankan tingkat kebersihan diri optimal dengan mandiri setiap hari dan melakukan prosedur defekasi dan urinasi tanpa bantuan

Apa yang harus dilakukan keluarga untuk merawat klien dengan kurang perawatan diri?

  1. Dorong untuk melakukan aktifitas hidup sehari-hari normal sesuai kemampuannya
  2. Dorong kemandirian, tetapi segera bantu jika ia tidak mampu melakukan satu aktifitas
  3. Beri penghargaan dan penguatan positif untuk pencapaian mandiri
  4. Berikan contoh pada tingkat yang nyata cara melakukan kegiatan perawatan diri yang sulit
  5. Berikan asupan makanan dan cairan yang cermat dan berikan makanan ringan dan cairan diantara jam makan
  6. Bila klien tidak makan karena curiga makanannya ada racunnya, maka berikan makanan kaleng dan biarkan klien membukanya sendiri
  7. Buatlah jadwal rutin untuk kebutuhan defekasi dan urinasi dan bantu klien ke kamar mandi setiap jam atau setiap dua jam sesuai kebutuhan.

 

Pembahasannya Perawatan Rehabilitasi untuk Individu dengan Skizofrenia yang Memiliki Masalah Defisit Perawatan Diri. Tujuan dari pembahasan ini adalah untuk menguji beberapa prinsip umum perawatan bagi klien skizofrenia yang mengalami defisit perawatan diri dari segi rehabilitasi; seperti perkembangan kemandirian, komunikasi terapeutik, dan kolaborasi. Dalam hal ini, penulis tidak akan menganalisa secara spesifik intervensi keperawatan pada tiap area perawatan diri (nutrisi, kebersihan diri, berhias, toileting, istirahat, interaksi sosial, dan keselamatan

Asuhan keperawatan untuk klien skizofrenia sangat beragam, bergantung pada tingkat ketergantungan klien apakah mereka memerlukan perawatan total, perawatan sebagian, atau hanya pemberian dukungan-edukasi. Situasi yang berbeda ini menentukan metode intervensi keperawatan. Contohnya, klien dalam perawatan total mengharuskan perawat memberikan bantuan yang menyeluruh: melakukan, memandu, mendukung secara fisik ataupun psikologis, menyediakan lingkungan yang mendukung, dan memberikan pendidikan kesehatan.

Berbeda dengan klien dalam perawatan parsial, dalam hal ini perawat memberikan asuhan keperawatan seperti halnya terhadap klien dengan perawatan total, namun ada unsur keterlibatan klien. Terakhir, klien dalam perawatan pemberian dukungan – edukasi hanya memfokuskan pada memandu dan memberikan pendidikan kesehatan.

Perawat perlu mengetahui waktu yang tepat ketika klien tidak lagi membutuhkan panduan yang intensif dalam memenuhi kebutuhan dasar mereka. Meskipun demikian, perawat harus sensitif dalam memberi intervensi darurat saat dibutuhkan untuk meyakinkan klien sudah mampu mencapai syarat minimal melakukan perawatan diri.

Selain fleksibel, perawat spesialis jiwa juga harus mampu memutuskan sumber yang dapat mempengaruhi keberhasilan dari intervensi keperawatan yang dipersiapkan. Idealnya, fasilitas rehabilitasi harus siap untuk membantu klien dalam kondisi kritis, terlebih bagi pusat rehabilitasi di daerah perkotaan.

Pengalaman berhasil, walaupun kecil, secara signifikan akan meningkatkan harga diri klien. Untuk mencapai kondisi ini, perawat spesialis tidak seharusnya mendorong klien untuk melakukan aktivitas perawatan diri di luar kemampuan mereka. Karena mereka menderita gangguan atensi dan memori, mereka hanya akan memperlihatkan perkembangan kecil setiap harinya . Namun, seharusnya hal ini tidak menyebabkan perawat merasa frustrasi, dan kemudian menelantarkan perkembangan kecil yang ada. Sebaliknya, sudah sewajarnya perawat bersikap sensitif terhadap setiap perkembangan, dan memberikan reinforcement positif pada usaha klien

Komunikasi Terapeutik Indikator kesuksesan asuhan keperawatan dalam mengurangi masalah defisit perawatan diri pada klien skizofrenia bukan hanya mengacu pada kemampuan klien memenuhi perawatan dirinya. Perawat psikiatri harus mempertimbangkan bagaimana intervensinya dapat berguna mengurangi masalah utama dari skizofrenia yaitu kurangnya orientasi realita.

Komunikasi terapeutik, sebagai salah satu perawatan yang efektif, sangat penting dilakukan untuk membantu klien dalam melakukan ADL yang adekuat, dan juga mengurangi kerusakan kognitif. Beberapa penulis telah menganjurkan bagaimana komunikasi terapeutik disampaikan kepada klien skizofrenia dalam kaitannya dengan manajemen perawatan diri

Intervensi pertama ialah dengan menunjukkan klien bagaimana melakukan aktivitas pada saat klien memiliki kesulitan dalam orientasi realita. perawat kesehatan jiwa, sehingga mengaplikasikan keterampilan terapeutik untuk klien dapat menjadi “aliran tugas yang luar biasa banyak dan emosional” . Selain itu, penelitian menunjukkan stres di antara para perawat kesehatan jiwa berhubungan dengan kompetensi emosional mereka, dan seimbang dengan penampilan mereka di dalam menyediakan perawatan . Untuk itu, penting sekali untuk perawat spesialis jiwa untuk memvalidasi perasaan dan perilaku mereka terlebih dahulu sebelum memberikan perawatan kepada klien.

Aktivitas keperawatan bervariasi termasuk mendukung dan memonitor obat yang diberikan dan terapi psikologis, mengobservasi kondisi fisik klien dan melaporkan masalah kepada dokter, dan mengkolaborasikan dengan ahli gizi untuk memilih menu yang sesuai untuk klien. Bagaimanapun, kewajiban ini dapat diaplikasikan untuk tujuan umum, namun belum ada penjelasan yang spesifik untuk pelayanan rehabilitasi.

Kolaborasi yang paling signifikan dalam solusi defisit perawatan diri diantara klien Skizofrenia dapat ditunjukkan dengan obat antipsikosis diantara psikiater dan perawat psikiatri. Klien yang mendapatkan obat antipsikotik secara teratur dapat memenuhi terapi sosial, rekreasional, dan rehabilitasi serta Selain itu, obat psikotropik juga.

Tambahan lagi, kemampuan mengajar klien dan keluarganya terkait terapi yang diberikan sangatlah penting . Bagaimanapun, kemampuan ini dapat tidak sesuai ketika perawat menemukan kesulitan dalam menjalankan peran kolaborasinya. Pertama-tama, perawat ahli mungkin saja ahli dalam pemberian obat, tetapi mereka kurang baik dalam menggunakan komunikasi yang efektif kepada klien, keluarga, atau profesi kesehatan lainnya.

Untuk memecahkan masalah ini, perawat ahli harus bernegosiasi dengan pihak yang berwenang dalam kebijakan untuk memperpanjang durasi waktu interaksi dengan klien. Kesimpulan Masalah defisit perawatan diri pada klien skizofrenia harus dipertimbangkan sebagai area penting dalam rehabilitasi psikososial. Untuk itu sangatlah penting untuk perawat praktisi dan perawat ahli yang bekerja di rehabilitasi psikososial memberikan tindakan keperawatan profesional untuk mengurangi masalah tersebut.

Perawatan diri model Orem dapat dikerjakan di unit rehabilitasi klien dengan skizofrenia yang memiliki defisit perawatan diri. Untuk kelompok klien ini, kebutuhan perawatan diri lebih besar sebagai efek dari penyakit contohnya kerusakan kognitif, afek, dan perilaku.

Defisit perawatan diri pada klien skizofrenia: Aplikasi teori keperawatan Orem (Herni Susanti) Manifestasi dari defisit perawatan diri terkait dengan ketidakmampuan untuk melakukan satu dari kebutuhan dasar dari ADL seperti makan, personal hygiene, berpakaian, toileting, tidur, interaksi sosial, atau keamanan.

Apapun tingkat defisit klien skizofrenia, perawat spesialis jiwa dapat memberikan praktik profesional kepada kelompok spesifik ini dengan menggunakan beberapa prinsip dasar; yaitu pengembangan kemandirian, komunikasi terapeutik, dan kolaborasi. Untuk meningkatkan level kemandirian klien skizofrenia, fleksibilitas perawat dan menyediakan kesempatan bagi klien untuk berhasil adalah penting. Komunikasi terapeutik diharapkan dapat membawa dampak positif kepada klien untuk memperbaiki orientasi realita mereka. Kolaborasi dengan anggota tim, terutama perawatan medis, merupakan tantangan bagi perawat untuk meningkatkan kemampuan dan pengetahuannya dalam pemberian obat, begitu juga kemampuan interpersonal.

Sebagai tambahan, perawat harus mampu memberikan kontribusi untuk memecahkan masalah dalam melaksanakan peran kolaborator, baik dalam tingkat organisasi, profesional, ataupun edukasional. Komunikasi terapeutik kepada klien dan komunikasi efektif kepada klien dan disiplin lain dalam kolaborasi menjadi perhatian utama dalam tulisan ini. Selanjutnya, penelitian mengenai keefektifan komunikasi dalam memandirikan klien dalam perawatan diri perlu dilakukan untuk mengembangkan praktik keperawatan yang evidence-based.

 

 

                Referensi ;

Tim pokja SDKI DPP PPNI ,CET 2,JANUARI 2017,SDKI definisi dan indicator diagnostic,jakarta

Birchwood, M., & Jackson, C. (2001). Schizophrenia: Clinical psychology a modular course. Philadelphia: Taylor & Francis Inc

Departemen Kesehatan RI. (2008). Profil Kesehatan Indonesia 2008. Diperoleh dari www.depkes.go. id/Profil%20Kesehatan%20Indonesia%2020 08.pdf.

Destine, J.B. (1992). Theory-based advanced rehabilitation nursing: Is it a reality? Holistic Nursing Practice, 6 (2), 1-6. Dittmar, S (1989). Rehabilitation nursing: Process dan Application. St. Louise: Mosby Company.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kekambuhan penderita skizofrenia di RSJ Prof. 96 Jurnal Keperawatan Indonesia, Volume 13, No. 2, Juli 2010; hal 87-97Dr. Soeroyo Magelang. (Skripsi, Tidak dipublikasikan).

McFarland, G.K., & McFarlane, E.A. (1997). Nursing diagnosis & intervention: Planning for patient care. Missouri: Mosby Year Book.

Buku Ajar Keperawatan. Jakarta: EGC. WHO. (2001). The World Health Report: 2001: Mental Health: New Understanding, New Hope. Diperoleh dari www.who.int/whr/2001/en.

 

 

 

 

Penulis: 
Ns. Hendra,S.Kep
Sumber: 
Perawat Rumah Sakit Jiwa Daerah

Artikel

27/11/2021 | Ns. Monalisa, AMK, S.Kep
27/11/2021 | Septia lianti, S.Kep, Ners
27/11/2021 | Tri Nurul Hidayati, S.Kep
27/11/2021 | Boifrida Butar-Butar, S.Kep,Ners
27/11/2021 | Ns.Kristianus Triaspodo, M.Kep, Sp.Kep.J
30/06/2016 | Wieke Erina Ariestya, S.Kep.Ners
10/10/2018 | Emanuel Triwisnu Budi, AMK
02/02/2017 | Muhammad Isnaini.S.Kep

ArtikelPer Kategori