PENGEKANGAN FISIK PADA PASIEN DENGAN PERILAKU KEKERASAN

Gejala utama yang sering muncul pada pasien gangguan jiwa adalah perilaku kekerasan. Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik baik terhadap diri sendiri, orang lain, maupun lingkungan. Hal tersebut dilakukan untuk mengungkapkan perasaan kesal atau marah yang tidak konstruktif. Perilaku kekerasan harus segera ditangani karena dapat membahayakan diri pasien sendiri, orang lain, dan lingkungan. Selain membahayakan diri sendiri, perilaku kekerasan juga berimbas pada perawat sebagai petugas kesehatan. Perilaku kekerasan ditandai dengan tangan mengepal, 2 mata melotot, pandangan tajam, bicara keras dan kasar yang dapat mengakibatkan tindakan membahayakan baik diri sendiri, orang lain, maupun lingkungan. Penanganan perilaku kekerasan dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya dengan cara isolasi dan atau restarin (Purwanto, 2015) dalam Mustaqin,Luky Dwiantoro (2018). Indikasi pengekangan meliputi perilaku amuk yang membahayakan diri dan orang lain, perilaku agitasi yang tidak dapat dikendalikan dengan pengobatan, ancaman terhadap integritas fisik yang berhubungan dengan penolakan pasien untuk istirahat, makan, dan minum, permintaan pasien untuk pengendalian perilaku eksternal, pastikan bahwa tindakan ini telah dikaji dan berindikasi terapeutik (Abdul Muhith, 2015). Pengekangan fisik termasuk penggunaan pengekangan mekanik, seperti manset untuk pergelangan tangan dan pergelangan kaki, serta sprey pengekangan. Pengekangan fisik mekanis merupakan peralatan, biasanya restrein pada pergelangan tangan, kaki yang diikatkan ke tempat tidur untuk mengurangi agresi fisik klien, seperti memukul, menendang, menjambak rambut (Abdul Muhith, 2015). Dalam (Icha Suryani dan Anndy Prastya ( 2015)).
Menurut Stuart dan Laraia (2005) dalam (Florentina Inoq 2017), prinsip-prinsip menangani perilaku kekerasan terdiri dari tiga strategi yaitu preventif, antisipasi, dan pengekangan atau manajemen krisis. Strategi preventif meliputi self awareness perawat, edukasi, manajemen marah, terapi kognitif, dan terapi kognitif perilaku. Strategi antisipasi meliputi teknik komunikasi, perubahan lingkungan, psikoedukasi keluarga, dan pemberian obat antipsikotik. Strategi yang ketiga yaitu pengekangan atau restrain yang meliputi tindakan manajemen krisis, pengikatan / pengekangan fisik , dan pembatasan gerak.
Pengekangan fisik merupakan pendekatan koersif, karena pelaksanaannya bertentangan dengan keinginan pasien. Namun, pengekangan fisik terkadang dapat digunakan tanpa persetujuan karena kondisional untuk mengamankan pasien dari menyakiti diri sendiri atau orang lain dan lingkungan. Pengekangan fisik harus dilakukan oleh petugas yang berkualifikasi. Mengingat bahwa perawat dan pasien terkena risiko kritis selama penerapan pengekangan fisik, hanya petugas yang memenuhi syarat yang berwenang untuk menerapkan pengekangan fisik. Pelatihan tentang pengekangan fisik berfokus pada peningkatan kemampuan penerapan pengekangan fisik, termasuk indikasi klinis, pendekatan alternatif, prosedur penerapan, efek samping, dan strategi untuk meminimalkan cedera dan trauma pada pasien. Pengekangan fisik juga harus dilakukan untuk menjamin keselamatan pasien dan perawat, dengan meminimalkan terjadinya cidera pada pasien. Pengekangan fisik merupakan intervensi yang harus dilakukan sebagai upaya terakhir dalam pengamanan pasien, dimana intervensi self awareness perawat, edukasi, manajemen marah, terapi kognitif, terapi kognitif perilaku, komunikasi, belum berhasil dilakukan.

Daftar pustaka
Junrong Ye, Chen Wang, Aixiang Xiao, Zhichun Xia, Lin Yu, Jiankui Li,,Yao Liao,Yuxu,Yunlei Zhang, 2018, Physical restraint in mental health nursing A concept analysis diperoleh dari https://www.researchgate.net/publication/332546770, diakses pada 20 Desember 2020.
Icha Suryani, Anndy Prastya, 2017, HUBUNGAN DURASI PEMBERIAN RESTRAIN DENGAN RISIKO PERILAKU MARAH BERULANG PADA PASIEN SKIZOFRENIA DI RUMAH SAKIT JIWA Dr. RADJIMAN WEDIODININGRAT LAWANG-MALANG, diperoleh dari http:///C:/Users/user/Downloads/490-Article%20Text-1004-1-10-20200210.pdf, diakses pada tanggal 23 Desember 2020.
Dwi Ariani Sulistyowati, E. Prihantini , 2013 KEEFEKTIFAN PENGGUNAAN RESTRAIN TERHADAP PENURUNAN PERILAKU KEKERASAN PADA PASIEN SKIZOFRENIA DIPREROLEH DARI http:///C:/Users/user/Downloads/94-167-1-SM%20(1).pdf, diakses pada tanggal 23 Desember 2020.

Penulis: 
H. Dian Sarievita, S.Kep
Sumber: 
Perawat Rumah Sakit Jiwa Daerah

Artikel

05/05/2021 | Ns. Sari Anggun Feby Royanti, S. Kep
03/05/2021 | Enser Rovido, S. Kep, Ners
03/05/2021 | Mita Octarina, M.Psi., Psikolog
30/06/2016 | Wieke Erina Ariestya, S.Kep.Ners
02/02/2017 | Muhammad Isnaini.S.Kep
10/10/2018 | Emanuel Triwisnu Budi, AMK

ArtikelPer Kategori