PENGARUH PERSEPSI PEGAWAI TERHADAP SUATU ORGANISASI (ADOPSI TEORI PORTOFOLIO KRALJIC)

 Baru-baru ini nama Mukidi menjadi sebuah viral di banyak media sosial karena tokoh yang satu ini identik dengan orang kocak, konyol dan sebagainya. Saya bertanya kepada kawan apa arti Mukidi ? Ternyata Mukidi adalah singkatan dari muka kita sendiri. Artinya bahwa tokoh Mukidi sebenarnya mentertawakan diri sendiri dan orang lain karena keluguan,kekocakan dan sejenisnya. Jadi saya mau memakai tokoh Mukidi ini menjadi salah satu tokoh dalam artikel (atau fiksi kurang ilmiah ?) ini.

Malam sudah agak larut dan saya sudah bersiap mau beristirahat tiba-tiba pintu rumah diketuk. Mula-mula mengetuknya pelan, namun setelah beberapa saat tidak saya buka karena malas campur takut; ketukan pintunya makin keras. Akhirnya saya mengintip dan akhirnya saya buka karena ternyata yang datang adalah mas Mukidi yang terkenal itu. Kebetulan dia (dalam cerita ini) adalah tetangga saya.

Omong-omong ternyata dia bertanya cara mutasi ke organisasi A (dalam cerita ini dia adalah PNS daerah tertentu). Loh, saya malah balik nanya ke dia kok nanyanya ke saya? Saya belum pernah ada pengalaman mutasi mas Mukidi, jawab saya. Terus saya lanjut bertanya, alasannya apa pindah ke organisasi A? Lha wong posisi mas Mukidi sudah eselon (dalam cerita ini dia eselon IV/a) mau pindah ke organisasi A jadi staf biasa seperti saya.

Mas Mukidi akhirnya curhat sampai malam sampai akhirnya dia pamit pulang. Untung ……dalam hati saya, udah ngantuk soalnya. Pas mau berbaring, pikiran saya malah jadi ingat terus sama curhatan mas Mukidi tadi. Akhirnya saya tunda tidurnya dan saya merenung sambil buka buku untuk bahan artikel.

Saya pernah belajar teori bisnis portofolio Kraljic; salah satunya adalah teori persepsi suplier (penyedia barang/jasa) terhadap suatu organisasi. Jadi prinsipnya teori ini membagi persepsi tersebut menjadi 4 kuadran. 

Jadi ada dua aksis :

  1. Aksis X adalah nilai bisnis pembeli (organisasi)
  2. Aksis Y adalah seberapa tinggi level ketertarikan penyedia (penjual) terhadap organisasi (pembeli)

Cara membaca bebasnya sebagai berikut :

  1. Golongan Nuisance : Nilai bisnis organisasi kecil sehingga penyedia kurang tertarik kepada organisasi
  2. Golongan Exploitable : Nilai bisnis organisasi besar namun penyedia mempunyai ketertarikan yang rendah terhadap organisasi.
  3. Golongan Development : Nilai bisnis organisasi kecil namun penyedia mempunyai ketertarikan yang tinggi terhadap organisasi.
  4. Golongan Core : Nilai bisnis organisasi besar dan penyedia mempunyai ketertarikan yang tinggi terhadap organisasi.

Selanjutnya saya ibaratkan penyedia adalah mas Mukidi sedangkan organisasinya adalah organisasi A. Jadi kembali ke cerita mas Mukidi tadi, bisa saja malam itu dia adalah pegawai yang terletak pada pegawai golongan Core. Setelah dia berjuang sampai titik darah penghabisan bisa pindah ke organisasi A tadi, bisa saja dia pindah ke golongan Exploitable :

  1. Mukidi sudah dapat tunjangan yang lebih besar dari organisasi sebelumnya meskipun dia hanya jadi staf di organisasi yang baru (organisasi A)
  2. Dia sudah tidak peduli lagi dengan perkembangan organisasi A karena tujuan pindah untuk mendapatkan tunjangan yang lebih besar sudah tercapai. Pada awalnya dia idealis tapi setelah beberapa saat dia baru sadar untuk apa capek-capek mikir organisasi toh gajinya sama aja.
  3. Pandangan dia sekarang adalah organisasinya adalah ladang tambang yang bisa dieksplorasi sehabis-habisnya, dia tidak peduli lagi dengan organisasinya karena karir dia sudah habis alias numbur tembok (kalau cuma staf S-1 habisnya ya golongan III/d, mau pinternya selangit ya itu aja jatahnya) jadi dia jadi staf di kegiatan sebanyak-banyaknya sehingga dapat honorarium melimpah.

Mukidi yang lain bisa saja bernasib lain. Dia adalah pegawai di golongan Nuisance :

  1. Mukidi bekerja di suatu organisasi kecil, tunjangannya kecil
  2. Tahun depan dia pensiun, pangkatnya terakhir II/d
  3. Dia memandang organisasinya biasa saja dari awalnya dan pasrah tunjangan kecil karena yang mau menerima dia hanya organisasi itu saja. Bagi dia rutinitas adalah hidupnya. Kalau disuruh atasannya kerja…...dia kerja. Kalau tidak ada perintah kerja ya…kerja apa aja yang penting kelihatan kerja.

Mukidi yang lain bisa ada di golongan Development :

  1. Bagi Mukidi, bekerja adalah amanah dari Tuhan dan masyarakat.
  2. Walaupun tunjangan dari organisasi yang sekarang kecil, dia tetap bersyukur dengan cara bekerja sebaik-baiknya memberi pelayanan masyarakat.
  3. Dia tidak pernah berpikir mau mutasi dari organisasi sekarang walaupun tunjangannya lebih kecil dari organisasi lain.

Nah ….Mukidi yang ini yang (mungkin) paling beruntung karena ada di golongan Core :

  1. Mukidi mendapat tunjangan yang besar dari organisasinya karena dia dihargai keprofesionalannya
  2. Jenjang karirnya mulus, masih muda golongannya sudah tinggi
  3. Bagi dia organisasi adalah hal penting dalam hidupnya sehingga dia sepanjang hidupnya berpikir bagaimana memajukan organisasinya sehingga pelayanan kepada masyarakat bisa terpenuhi dengan cepat, murah dan baik.
  4. Dia tidak pernah berpikir untuk mutasi ke organisasi lain yang lebih besar tunjangannya karena bagi dia tunjangan dia sekarang sudah cukup besar untuk ukuran seumur dia.

Nah ……anda jadi Mukidi yang mana sekarang ……………..?

Penulis: 
Tri Putranto Vindi Kusuma,SKM
Sumber: 
modul ITC

Artikel

13/01/2022 | Roesmala Dewi,AMK
29/12/2021 | Novariani, S.Si, Apt
29/12/2021 | Novariani, S.Si, Apt
30/06/2016 | Wieke Erina Ariestya, S.Kep.Ners
10/10/2018 | Emanuel Triwisnu Budi, AMK
02/02/2017 | Muhammad Isnaini.S.Kep

ArtikelPer Kategori