PENGARUH “PHYSICAL TAUCH’ BAGI PASIEN JIWA

Banyak pasien yang tidak mampu mengungkapkan perasaan dikarenakan kurangnya rasa percaya, keaman, dan dukungan dari sekitar. Salah satu Physical touch (sentuhan fisik) yang konsensual dan terapeutik memiliki pengaruh positif yang signifikan pada pasien kesehatan jiwa. Sentuhan ini mampu mengurangi gejala depresi dan kecemasan, menenangkan sistem saraf, serta memberikan rasa aman dan nyaman. Sentuhan dapat memberikan dukungan psikologis bagi pasien. Namun yang perlu diketahui, sentuhan ini perlu dilakukan dengan benar, tepat waktu dan tepat sasaran, sentuhan fisik juga dapat mempercepat proses penyembuhan. Sentuhan seperti pelukan, pegangan tangan, atau pijatan lembut dapat meredakan depresi, mengurangi kecemasan, serta merangsang pelepasan hormon kebahagiaan (oksitosin, dopamin, dan serotonin).

Penggunaan sentuhan dalam proses terapi merupakan isu yang kontroversial dan topik sensitif, namun menguntungkan dalam memenuhi kebutuhan pasien. Ada beberapa kondisi sentuhan yang paling sering dilakukan, misalnya mengelus tangan, lengan, bahu dan punggung, namun dalam keadaan atau kondisi tertentu dibutuhkan izin pasien.

 

Ada beberapa sentuhan yang fisik yang dapat memperkuat koneksi emosional :

1.Sentuhan Ringan, yang melibatkan kontak fisik lembut. 

2.Pelukan, dapat memicu produksi hormon Endorfin yang dapat melepas stress. Namun perlu diingat, pada pasien tidak selalu bisa dilakukan karena menyangkut emosional pasien dan jenis kelamin (lawan jenis atau bukan), dan lebih mengarah pada rasa menghargai pasien.

3.Genggaman tangan, meskipun dianggap Tindakan fisik yang sederhana, namun dapat menciptakan rasa keamanan dan kepercayaan.

 

Berikut adalah pengaruh physical touch pada pasien jiwa berdasarkan temuan ilmiah, dengan Manfaat Utama Sentuhan Fisik :

1.Mengurangi Stres dan Kecemasan: Sentuhan menurunkan kadar hormon kortisol (hormon stres) dan meningkatkan relaksasi. Studi menunjukkan intervensi sentuhan dapat mengurangi gejala kecemasan hingga 34%.

2.Mengatasi Depresi: Sentuhan merangsang pelepasan neurotransmitter seperti dopamin dan serotonin, yang membantu memperbaiki suasana hati (mood) dan meredakan depresi.

3.Memberikan Rasa Aman: Sentuhan non-seksual, seperti menepuk bahu atau berpegangan tangan, memberikan rasa aman, diterima, dan mengurangi perasaan terisolasi/kesepian.

4.Mengatur Respons Emosional: Sentuhan membantu menenangkan amigdala (pusat alarm otak), yang sangat berguna bagi pasien dengan kecemasan tinggi atau trauma.

5.Manfaat Tambahan: Sentuhan fisik terapeutik (seperti pijatan) dapat memperbaiki kualitas tidur dan menurunkan tekanan darah.

 

Ada beberapa sentuhan yang harus dihindari, yaitu jika pasien menunjukkan rasa tidak nyaman, ketakutan, agresivitas, atau memiliki Riwayat trauma fisik atau seksual yang parah, dimana sentuhan dapat dianggap sebagai serangan.

Hal yang Perlu Diperhatikan (Konteks Klinis):

1.Konsensual: Sentuhan harus selalu disetujui dan diinginkan oleh pasien. Sentuhan yang tidak diinginkan dapat memicu ketakutan atau perasaan malu, terutama pada pasien dengan trauma masa lalu atau kecemasan sosial.

2.Sentuhan Terapeutik (Therapeutic Touch): Dalam keperawatan jiwa, sentuhan digunakan sebagai bentuk komunikasi non-verbal untuk menunjukkan dukungan dan empati.

3.Efek Kumulatif: Sentuhan yang dilakukan berulang kali (misalnya, sesi pijat rutin) memberikan hasil yang lebih baik daripada sentuhan tunggal.

 

 

REFRENSI 

Damaiyanti, M., & Iskandar. (2012). Asuhan Keperawatan Jiwa. Bandung: Refika Aditama. (Membahas teknik komunikasi terapeutik termasuk penggunaan sentuhan secara profesional).

Encountering touch: a path to affinity in psychiatric care (2005). PubMed (Studi tentang makna sentuhan bagi pasien psikosis).

Gleeson, M., & Higgins, A. (2009). "Touch in mental health nursing: an exploratory study of nurses' views and perceptions". Journal of Psychiatric and Mental Health Nursing.

Grossman, et al. (2021). "Rethinking touch in psychiatric nursing practice". ScienceDirect (Studi tentang sentuhan yang diinformasikan trauma/trauma-informed care).

Keliat, B. A., et al. (2019). Asuhan Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC. (Sumber standar keperawatan jiwa di Indonesia, sering membahas komunikasi terapeutik dan manajemen perilaku kekerasan)

Penulis: 
indah Wulandari, S.Kep
Sumber: 
Perawat RSJD dr Samsi Jacobalis

Artikel

25/02/2026 | indah Wulandari, S.Kep
19/02/2026 | Eni, AMK
26/01/2026 | Doni Arwinda, AMK
13/01/2026 | Bagus Sugiarto,A.MK
18/06/2022 | Gita Riskika,S.Farm.,Apt
30/06/2016 | Wieke Erina Ariestya, S.Kep.Ners
30/11/2022 | Zurniaty, S. Farm., Apt
18/06/2022 | Gita Riskika,S.Farm.,Apt

ArtikelPer Kategori