PENDIDIKAN SEKS SEJAK DINI

Mama... periiih jerit Melati saat sedang mandi sore.

Mama Melati terkejut dan langsung bergegas pergi kekamar mandi menemui anaknya.

Dengan ekspresi cemas, mama melati langsung bertanya apa yang perih nak?

Melati menjawab, ini ku perih ma (sambil menunjukkan bagian kemaluannya).

Dengan mata berkaca-kaca mama melati mencoba menenangkan anaknya. Sambil membersihkan tubuh melati, sang Mama mulai bertanya penyebab perihnya kemaluan anak tersebut. Dengan ekspresi ketakutan Melati mulai menceritakan peristiwa yang terjadi saat di rumah kakek. Secara terbata-bata Melati menceritakan tindakan kakek yang menggesek gesekan kemaluannya ke kemaluan melati...

 

Penggalan percakapan di atas adalah salah satu cerita peristiwa yang terjadi menimpa seorang anak bernama Melati. Melati merupakan seorang anak perempuan berusia enam tahun menjadi salah satu korban tindakan kekerasan seksual yang dilakukan oleh kakek yang sehari-hari mengasuhnya. Peristiwa yang dialami oleh Melati saat ini seringkali kita dengar baik dari media massa maupun media sosial yang beredar.

 

Kekerasan seksual merupakan salah satu kasus yang meningkat akhir-akhir ini. Korban dari kekerasan seksual saat ini tidak pandang bulu, tidak hanya orang dewasa bahkan anak kecil di bawah umur pun rentan menjadi korban. Tanpa diduga ternyata pelaku kekerasan seksual tidak hanya orang asing namun juga banyak dilakukan oleh kerabat dekat maupun anggota keluarga itu sendiri. Hal ini menjadi pertanyaan dalam benak kita mengapa peristiwa ini terjadi? Kasus demi kasus mencuat ke permukaan dan ramai diberitakan, namun sayangnya kasus kekerasan seksual ini seperti fenomena gunung es, dimana hanya beberapa yang melapor, sedangkan korban dan keluarga korban lain memilih diam dengan berbagai alasan.

Menurut Yuwono (2015), kekerasan seksual adalah segala bentuk ancaman dan pemaksaan seksual yang tidak dikehendaki oleh salah satu pihak. Lebih lanjut Yuwono menjelaskan bahwa ancaman dalam hal ini merupakan suatu perbuatan atau tindakan menakut-nakuti dengan tujuan agar pihak lain bertindak sesuai dengan keinginan pihak yang menakut-nakuti. Sedangkan pemaksaan adalah perintah dari satu pihak agar pihak lain mengerjakan sesuatu sesuai dengan keinginannya. Walaupun pihak lain tidak mau mengerjakan, pihak yang memberikan perintah mengharuskan pihak lain untuk mengerjakannya. Merujuk dari pengertian diatas sangat jelas bahwa dalam kekerasan seksual terdapat ancaman dan pemaksaan yang dilakukan oleh salah satu pihak kepada pihak lain. 

Pada kasus kekerasan seksual terhadap anak, ancaman dan paksaan membuat mereka tidak berdaya sehingga mau tidak mau menuruti kehendak dari pelaku itu sendiri. Bentuk-bentuk kekerasan seksual terhadap anak juga cukup luas, mencakup perkosaan, sodomi, seks oral, seksual gesture (serangan seksual secara visual termasuk eksibisionisme), seksual remark (serangan seksual secara verbal), pelecehan seksual, pelacuran anak dan sunat klitoris pada anak perempuan.

 

Berdasarkan catatan kekerasan terhadap perempuan tahun 2019, komnas perempuan menyebutkan bahwa dari 2.341 kasus kekerasan terhadap anak perempuan, terdapat 770 kasus yang merupakan hubungan inses. Angka ini yang paling besar dari kategori lainnya, yakni kekerasan seksual 571 kasus, kekerasan fisik 536 kasus, kekerasan psikis 319 kasus dan kekerasan ekonomi 145 kasus.  Tingginya kasus inses dan kekerasan seksual pada anak perempuan menunjukkan bahwa ancaman itu nyata walaupun mereka bersama orang terdekat.

 

Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan pendidikan seks sejak dini. Pendidikan seks sejak dini tidak hanya mengajarkan anak tentang anggota tubuhnya tetapi juga memberikan pemahaman akan bagian-bagian tubuh yang boleh disentuh dan tidak boleh disentuh. Selain itu juga memberikan pengetahuan kepada anak bahwa perbuatan orang dewasa menyentuh bagian pribadi anak adalah perbuatan salah. Namun sayangnya kultur budaya menganggap tabu untuk membicarakan tentang pendidikan seks sejak dini sehingga banyak orangtua yang tidak memberikan pemahaman tersebut kepada anaknya.

 

Mengutip dari halaman mayoclinic, dijelaskan bahwa pemberian pendidikan seks pada anak dapat dimulai dari  mana saja. Adapun langkah-langkah yang dapat dilakukan yaitu:

 

1. Eksplorasi awal

Saat anak mulai belajar bicara, berjalan mereka juga belajar tentang tubuh mereka. Pendidikan seks dapat dimulai dengan pemberian nama pada organ seksnya misalnya pada saat mandi. Saat anak menunjuk ke bagian tubuh tertentu, beri tahu anak apa itu, dan ini merupakan saat yang tepat untuk membicarakan bagian tubuh yang bersifat pribadi. Saat menjelaskan bagian tubuh tersebut, sebagai orangtua anda tidak perlu malu ataupun tertawa namun tetap bersikap seperti biasa dan anggap pertanyaan tersebut sangat berharga. Berikan penjelasan langsung sesuai dengan usia anak. Anak akan bertanya lebih lanjut ketika ia merasa hal tersebut menarik.

 

2. Harapkan anak melakukan stimulasi diri

Banyak balita mengekspresikan keingintahuan seksual alami mereka melalui stimulasi diri. Anak laki-laki dapat menarik penis mereka, dan anak perempuan dapat menggosok alat kelamin mereka.  Jelaskan kepada anak bahwa hal tersebut termasuk pada aktivitas seksual seperti hal nya masturbasi. Jelaskan kepada anak bahwa hal tersebut adalah normal namun sebaiknya tidak dilakukan. Terkadang, seringnya masturbasi dapat mengindikasikan adanya masalah dalam kehidupan anak. Mungkin dia merasa cemas atau tidak menerima cukup perhatian di rumah. Bahkan bisa menjadi tanda pelecehan seksual. Ajari anak bahwa tidak seorang pun diizinkan menyentuh bagian pribadi tubuhnya tanpa izin.

 

3. Rasa Ingin tahu tentang oranglain

Pada usia 3 atau 4 tahun, anak mulai menyadari bahwa anak perempuan dan laki-laki memiliki alat kelamin berbeda. Berikan penjelasan tentang perbedaan ini untuk memuaskan rasa ingin tahu anak. Mungkin mereka akan melakukan eksplorasi saat bermain dengan temannya, berikan batasan yang jelas terkait eksplorasi yang bisa anak lakukan.

 

4. Momen dalam kehidupan sehari-hari adalah kunci dalam pendidikan seks pada anak

Pendidikan seks merupakan diskusi yang berkelanjutan, manfaatkan kesempatan sehari-hari untuk mendiskusikan tentang seks pada anak. Misalnya terdapat anggota keluarga yang sedang hamil. Beritahu anak bahwa bahwa bayi tumbuh di tempat khusus di dalam ibu yang disebut rahim. Jika anak Anda menginginkan rincian lebih lanjut tentang bagaimana bayi sampai di sana atau bagaimana bayi akan lahir, berikan rincian tersebut dan berbagai contoh lain dalam kehidupan sehari-hari bisa menjadi permulaan dari pendidikan seks pada anak.

 

Daftar referensi.

 

Penulis: 
Mita Octarina, M.Psi., Psikolog
Sumber: 
Piskolog Rumah Sakit Jiwa Daerah

Artikel

27/11/2021 | Ns. Monalisa, AMK, S.Kep
27/11/2021 | Septia lianti, S.Kep, Ners
27/11/2021 | Tri Nurul Hidayati, S.Kep
27/11/2021 | Boifrida Butar-Butar, S.Kep,Ners
27/11/2021 | Ns.Kristianus Triaspodo, M.Kep, Sp.Kep.J
30/06/2016 | Wieke Erina Ariestya, S.Kep.Ners
10/10/2018 | Emanuel Triwisnu Budi, AMK
02/02/2017 | Muhammad Isnaini.S.Kep

ArtikelPer Kategori