Konsep diri adalah komponen penting dalam menentukan tujuan hidup seseorang yang akan di lalui. Tau kah, bahwa konsep diri bukan sesuatu yang terbentuk secara tiba-tiba atau bahkan dibawa sejak lahir, diperlukan proses panjang dan terus menerus sejak usia dini dalam membentuk konsep diri. Pada ulasan kali ini kita akan membahas pembentukan konsep diri, apa saja langkah langkah yang harus dilakukan orang tua dalam membangun konsep diri positif pada anak?
Pembentukan konsep diri sama pentingnya dengan mengkondisikan ketercapaian aspek fisik pada anak seperti berjalan, berbicara ataupun melakukan aktivitas bantu diri lainnya. Hanya saja perhatian pada pembentukan konsep diri belum menjadi prioritas orang tua dalam fase tumbuh kembang anak. Super menyatakan bahwa pembentukan konsep diri adalah salah satu tugas perkembangan karir yang harus dijalani oleh anak pada rentang usia 0-14 tahun, hal tersebut menunjukkan bahwa pengkondisian konsep diri pada usia dini adalah satu bagian dari stimulasi tumbuh kembang anak. Anak-anak dengan konsep diri positif lebih optimis dalam memandang kegagalan sehingga tidak mudah putus asa ketika menghadai kendala atau kesulitan menyelesaikan tugas-tugas yang ditujukan padanya. Selain itu dengan konsep diri yang positif, anak cenderung mampu menerima dirinya apa adanya dan mampu mengontrol gejolak emosi yang ia rasakan.
Menurut Puspasari konsep diri merupakan pandangan yang muncul melalui pengalaman pribadi yang dialami seseorang dengan melibatkan panca Indera sehingga membentuk pandangan tentang dirinya (Dianingtyas, 2023). Ada empat fase yang perlu dilalui seseorang dalam pembentukan konsep diri. Fase pertama yaitu fase persiapan dimana anak lebih banyak meniru perilaku yang dilakukan orang orang disekitarnya tanpa memahami perilaku yang ditirunya, fase ini dijalani anak pada awal-awal masa hidupnya. Fase kedua yaitu bermain, pada fase ini anak sudah mulai memberikan label atau mendefinisikan dengan istilah yang sama dengan orang lain. Sebagai contoh perbedaan kedua fase tersebut yaitu Ketika anak berada pada fase persiapan anak akan meniru orang berteriak tanpa memahami kata yang disampaikan atau sebab berteriak, sedangkan pada fase bermain anak mulai memahami kata yang diucapakan ketika berteriak sama dengan yang dipahami orang lain.
Selanjutnya, fase ketiga disebut dengan game stage, fase ini adalah fase yang akan dilalui ketika memasuki fase dewasa awal, dimana ia lebih mampu menyesuaikan diri dengan pandangan yang berbeda dari orang di sekelilingnya. Dan fase terakhir pada konsep diri yaitu reference group stage, dimana seseorang memiliki identitas diri yang melekat pada beragam komunitas yang ia ikuti, pada fase ini seseorang mulai memandang dirinya tidak hanya pada satu komunitas saja namun memungkinkan memiliki identitas lainnya pada komunitas yang beragam.
Pada anak, proses pembentukan konsep diri salah satunya melalui komunikasi dan interaksi, melalui pengalaman berinteraksi tersebut ia mulai membentuk identitas dirinya. Orang tua yang kerap memberikan identifitas positif akan membantu anak menjadi diri sebagai pribadi yang baik, pun sebaliknya ketika orang tua memberikan penilaian atau label negatif maka anak cenderung memiliki konsep diri yang negative. Berasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Dianingtyas (2023) salah satu faktor yang mempengaruhi pembentukan konsep diri yaitu pola asuh orang tua, dimana sikap positif orang tua yang terbaca oleh anak mengkondisikannya untuk memiliki pikiran yang positif dan lebih menghargai dirinya, sebaliknya sikap negatif orang tua memunculkan asumsi negatif pula seperti perasaan tidak berharga atau tidak cukup layak untuk dikasihi dan disayang.
Dari ulasan tersebut maka dapat disimpulkan bahwa pengkondisikan pembentukan konsep diri sejak usia dini adalah penting. Adapun yang dapat dilakukan orang tua dalam membentuk konsep diri yang positif pada anak yaitu dengan memberikan beragam pengalaman yang berkesan disesuaikan dengan bahasa kasih anak seperti pemberian kata-kata positif, hadiah, sentuhan fisik yang nyaman, menghabiskan waktu bersama atau sekedar membuat makanan yang ia sukai. Selain itu, orang tua perlu mengontrol dirinya melakukan kekerasan fisik ataupun verbal ketika ananda melakukan kesalahan, hal tersebut dapat membentuk konsep diri negatif pada anak sehingga menyukitkannya memetakan tujuan hidup yang ingin dicapai.
Sekiranya orang tua mengalami kesulitan dalam mengontrol gejolak emosi maka dapat berkonsultasi dengan psikolog klinis yang memiliki izin praktek.
.
Referensi:
Dianingtyas Murtanti Putri, 2012. Journal Communication Spectrum Vol. 2 No 1. Pembentukan Konsep diri Anak Usia Dini Di One Earth School Bali. Jakarta: Program Studi ILmu Komunikasi Universeitas Bakrie.

