MEWASPADAI ANCAMAN VARIAN BARU COVID-19; TANTANGAN DAN STRATEGI

Penghujung Tahun 2019 dunia di hebohkan dengan munculnya virus baru  Covid 19 yang melanda propinsi Wuhan, China, dan di awal tahun 2020 virus tersebut mulai menjadi pandemi di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Saat ini sudah berjalan 1 tahun 6 bulan kita menghadapi pandemi ini dan belum menunjukan kapan pandemi berakhir. Kondisi tiap negara berbeda-beda dan sangat bervariasi, ada negara yang sudah membolehkan warganya melepas masker dalam kegiatan sehari hari, serta ada juga negara yang belum membolehkan bahkan membuat peraturan baru dalam menerapkan protokol kesehatan seperti negara kita tercinta ini. Kita semua pasti mendambakan era sebelum pandemi Covid 19 dimana kita bebas  berinteraksi dengan siapapun dan mau bepergian kemanapun tanpa takut tertular, kita bebas melakuakn ibadah dan acara keagamaan  tanpa  protokol Kesehatan. .

Per awal juli 2021, data harian Covid 19 melonjak tajam secara signifikan, Menurut data dari Kementerian  Kesehatan per tanggal 10 juli 2021, jumlah kasus terkonfirmasi positif covid 19 menjadi 2.491.006 kasus, dengan rincian kasus aktif 373,440 kasus.,  sembuh 2.052.109 kasus dan meninggal bertambah menjadi 65.457 orang.  Dari Bulan Mei 2021 - Juni 2021 terjadi peningkatan kasus > 500%. Keterisian Tempat Tidur ruang isolasi > 90% di > 24 kaupaten/kota di Indonesia. Kapasitas ICU diberbagai kota mendekati 100%. Angka kemtian pasien COVID 19 pun meningkat dan terjadi penumpukan pasien COVID 19 di UGD dibanyak rumah sakit di Jawa. Sehingga pemerintah Indonesia mengeluarkan kebijakan baru PPKM Mikro Darurat untuk wilayah Jawa dan Bali...

Seiring berjalannya waktu, mutasi virus covid 19 terbentuk sebagai respon normal dari virus tersebut terhadap inangnya dan merupakan proteksi diri virus dalam mempertahankan diri, mutasi inilah yang menyebabkan munculnya varian baru. Ketika varian baru ini muncul akan meningkatkan risiko terhadap inangnya dalam hal ini manusia, baik dalam transmisi, virulensi, maupun tatalaksana gejala klinis yang ditimbulkan dan efektifitas vaksin yang sudah ada (kita kenal sebagai variants of concern / VOC). Perlu kita ketahui bersama bahwa  semakin banyak infeksi di populasi akan membuat mutasi dari virus covid 19 akan semakin banyak.

Di mana saat ini banyak ditemukan varian baru covid 19 seperti yang berasal dari inggris, afrika selatan, india, brazil dan lainnya. Badan kesehatan dunia WHO menamakan varian ini dengan lebih sederhana yaitu varian Alfa, Beta, Gamma, Delta, Epsilon, Zeta, Eta, Teta, Kappa, Lambda dan lainnya. Hal ini bertujuan untuk memudahkan kita mengingatnya agar tidak tumpang tindih dalam penyebutan, gejala yang di timbulkan. Varian baru Covid 19 B.1617.2 (Delta) yang pertama kali muncul di india, mulai menyebar di Indonesia terutama wilayah Jawa- Bali ( wilayah Jakarta dan sekitarnya ) Masyarakat harus lebih mewaspada tehadap varian Delta  yang mana sangat  cepat  menular. Kita harus lebih mengenali  gejala covid 19 varian Delta  yaitu berupa gejala umum : Demam, batuk kering, kelelahan, Mual Muntah, diare dan sakit perut, hilang nafsu makan, nyeri sendi, pembekuan darah, gangguan pendengaran, Gejala serius berupa kesulitan bernafas atau sesak nafas, nyeri dada atau rasa tertekan didada, susahnya berbicara atau bergerak oleh sebab sesak. Rata-rata gejala akan muncul 5-6 hari setelah seseorang terinfeksi virus ini, jarang terjadi 14 hari setelah terinfeksi.

Yang menjadi masalah dan bisa membahayakan bila yang terjangkit tersebut dalam 5-6 hari sebelum ada gejala pasien bebas kemana-mana dan apalagi tanpa protocol kesehatan maka akan sangat berpotensi sebagai penular ke komunitasnya. Maka hati-hati akan hal ini. Apalagi yang baru pulang bepergian dari wilayah jawa dan sebagainya yang sebagai epicentrum varian delta tersebut. Segera  cari bantuan medis jika anda mengalami gejala. Selalu hubungi dokter atau fasilittas Kesehatan terdekat dari tempat tinggal anda.

Varian delta menjadi lebih mematikan karena lebih mudah menyebar, menyerang segala usia tanpa perlu komorbid, lebih  memperberat gejala, lebih efisien dalam cara penularan antar manusia dan pada akhirnya akan menemukan individu-individu yang rentan yang akan menjadi sakit parah, harus dirawat di rumah sakit dan berpotensi mati sehingga ini berpotensi meningkatkan angka kematian dan menurunkan efektifitas vaksin. Varian baru ini telah menyebar di seluruh wilayah jawa dan sebagian sumatra

Sebenarnya berapapun orang yang terdeteksi positif COVID-19 dalam sehari, sebaiknya segera dikarantina atau dirawat jika memiliki gejala, sehingga angka kematian  akibat Covid 19 bisa tetap rendah. Problem terjadi diseluruh Indonesia saat ini terjadi sistem yang belum optimal untuk mengakomodasi pencatatan, laporan, dan validasi data dari provinsi secara realtime. Penambahan kasus positif Covid-19 terus terjadi, tetapi kapasitas test dan pelacakan masih belum maksimal. Ini bisa memperparah kondisi karena membuat sistem kesehatan kewalahan menghadapinya. Belum lagi pandemi ini sudah berlangsung lama membuat semua unsur sudah Lelah menghadapi pandemi tersebut.

Lemahnya surveilans, terutama dalam melakukan pemeriksaan, membuat situasi Covid-19 di Indonesia jauh lebih tinggi dari angka yang tercatat. Penularan virus SARS-CoV-2 di komunitas dikhawatirkan sangat tinggi, sementara banyak warga abai terhadap protokol kesehatan karena tidak menyadari risikonya. Tanpa langkah progresif dalam pemeriksaan, pelacakan, dan isolasi orang yang terinfeksi, kasus Covid-19 dikhawatirkan terus membesar dan membuat sistem kesehatan kewalahan. Saat ini, fasilitas kesehatan di beberapa kota juga sudah kembali penuh dengan pasien Covid-19, sementara para tenaga kesehatan yang gugur terus bertambah. Ledakan kasus Covid-19 kian mengerikan. Televisi nasional terus memberitakan membludaknya perawatan pasien covid-19 di semua rumah sakit, terjadinya antrian di tiap IGD, antrian warga dalam pembelian tabung oksigen, lahan pemakaman pasien Covid-19 semakin terbatas, bahkan juga pasien yang sudah meninggal menunggu antrian untuk di makamkan. Berbagai kebijakan dan strategi dilakukan  pemerintah pusat maupun pemerintah daerah, mulai dari menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), PPKM, bahkan terakhir penerapan PPKM Mikro darurat, hingga penegakan hukum bagi pelanggar protokol kesehatan (prokes). Tapi nyatanya belum mampu menahan laju peningatan Covid-19. Fakta ini harusnya membuka mata semua pihak bahwa genderang perang melawan Covid-19 harus makin kencang ditabuh.

Begitu juga dengan yang terjadi di Bangka belitung dalam seminggu ini terus terjadi peningkatan kasus covid-19. Pertanggal 10 juli 2021 tercatat total terkonfirmasi positif mencapai 23.510 kasus, dengan 372 meninggal dunia. Penulis berasumsi jika terjadi penyebaran covid 19 varian baru yang masif di Bangka Belitung, kiita akan kelabakan baik dari segi sarana dan prasarana fasilitas kesehtan maupun sumber daya tenaga kesehtan yang ada, dikarenakan Bangka Belitung marupakan daerah kepulauan yang di kelilingi oleh lautan. Jadikan contoh yang sekarang terjadi di pulau jawa  dimana rumah sakit penuh sesak, IGD kewalahaan menerima lonjakan paisen covid 19, ketersediaan oksigen yang menipis bahkan sampai habis (hebohnya berita salah satu rumah sakit di yogyakarta dengan kasus kematian pasiennya),perawatan pasien covid-19 di tenda-tenda, selasar, lobi bahkan dalam ambulance, kewalahannya nakes, serta naiknya angka kematian tiap hari akibat COVID 19. Jikalau kita lengah, maka bukan tidak mungkin hal yang sama akan terjadi di propinsi yang kita cintai ini, apalagi sistem kesehatan kita tidak sebaik dan selengkap mereka.

Penulis berpendapat sstrategi yang di lakukan harus seimbang antara hulu dan hilir, antara preventif,kuratif, rehabilitatif dan promotif. Perkuat pelayanan kuratif dan rehabilitatif dengan melengkapi dan memaksimalkan sarana dan prasarana  kesehatan baik di rumah sakit, puskesmas, maupun tempat iisolasi terpadu dan mandiri. Lakukan general spesific protection dan case finding yang lengkap pada pasien yang terpapar dengan ada atau tidak adanya penyakit penyerta ( komorbid ) agar memudahkan petugas dalam melakukan tindakan monitoring Buat pengeelompokan warga  terpapar berdasarkan hijau, kuning, dan merah dengan berdasarkan pada gejala dan penyakit penyerta. Tindakan ini untuk meminimalkan angka kematian pasien akibat covid-19. Dibdang preventif dan promotif lakukan perencanaan promosi dan preventif sebelum terjadinya penyebaran, saat terjadinya penyebaran dan setelah terjadinya penyebaran varian baru covid-19. Lakukan monitoring dan evaluasi terhadap kegiatan promotif dan preventif yang telah dilakukan. Upaya preventif juga bisa di lakukan dengan menrapkan Five Level Prevention. Pemerintah daerah juga harus pro aktif dalam menjemput bola dengan lebih memacu 3T (tracing, testing dan treatment) kepada warga dan pintu keluar masuk daerah, Hubungan jejaring kerjasama tim baik internal maupun eksternal antar satgas dan lintas sektoral harus terkoordinasi dengan baik. Penggunaan dana CSR dari perusahaan sebaiknya jangan terlalu berfokus pada pembangunan ikon tata kota yang nantinya bisa memicu terjadinya kerumunan warga tanpa penerapan prokes yang baik. . Tenaga kesehatan yang terlibat dalam langsung dalam penanganan covid-19 harus di perhatikan dengan maksimal, karena tanpa mereka perawatan pasien covid-19 mustahil berjalan dengan baik

Pemerintah daerah bekerjasama dengan kepolisian dan TNI juga harus lebih memaksimalkan penerrapan protokol kesehatan kepada warga.. Petugas di lapangan dalam menerapkan protokol kesehatan  dalam berkomunikasi dengan masyarakat harus menerapkan prinsip REACH ( Respect, Empathy, Audible, Clarity, Humble ) untuk meminimalisir terjadinya gesekan-gesekan negatif. Maksimalkan peran tokoh masyarakat maupun tokoh agama dalam memberikan pengarahan kepada masyarakat. Karena sekarang ini masyarakat terbelah menjadi percaya adanya covid, ragu ragu dengan adanya covid, dan tidak percaya sama sekali dengan adanya covid-19. Yang percaya dengan adanya covid-19 mereka tetap patuh terhadap protokol kesehatan, Yang tidak percaya tetap tidak akan percaya dan malah berusaha menyebarkan kepada sekitarnya serta mengingkari keberadaan Covid 19. Dan kelompok yang ragu-ragu jauh lebih banyak lagi, harapan kita semoga mereka akan lebih yakin dan patuh pada prokes. Ditambah lagi rasa takut masyarakat dalam memeriksakan kesehatannya baik di rumah sakit maupun puskesmas.

Sekali lagi penulis mengingatkan bahwa kondisi daerah kita tidak sedang baik-baik saja.  Mari sama sama kita terapkan 6 M, dimana 3 M dan 5 M belum maksimal efektif, waspada titik lengah kita saat ini seperti : rame-rame makan Bersama, hadir diacara pemakaman, rapat tatap muka, olah raga Bersama, foto Bersama dengan melepas masker dan tidak jaga jarak, acara pernikahan, kunjungan rumah, transportasi umum, berbelanja  di pasar maupun  mall dan sarana umum lainnya. Karena 5 M Belum cukup, saatnya kita bisa melakukan 6 M. 1. Menggunakan Masker setiap saat, meskipun sudah divaksin, tetap wajib pakai masker. Apalagi yang belum vaksinasi. 2. Menjaga jarak minimal 1 Meter. Jaga jarak bukan berarti bermusuhan. Tetap Kompak walaupun berjauhan. 3. Mencuci Tangan Hingga Bersih. Cuci tangan dengan bersih, minimal 20 detik, cuci tangan tidak seberat cuci pakaian kok. 4. Membatasi Mobilitas. Kurangi Bepergian, apalagi itu tidak penting dan darurat. 5. Menjauhi Kerumunan. Hindari Tempat dengan jumlah orang banyak seperti pasar yang gak sesuai Protokol kesehatan, hajatan, atau menonton orang kecelakaan dan lainnya. 6. Menghindari makan Bersama. Hindari dulu, kita harus sabar dulu untuk mengadakan makan Bersama, agar kita saling jaga. Jadi mari sama sama kita patuhi anjuran pemerintah untuk melakukan  protokol kesehatan dengan benar dan melaksanakan vaksinasi untuk memutus mata rantai penyebaran covid-19.

Mari kita meningkatkan kekebalan imunitas dari dalam diri kita dengan cara kelilingi diri dengan orang yang positif, perbanyak asupan informasi positif, belajar untuk bahagia tanpa bergantung dengan orang lain, buang dendam dan kemarahan, stop membandingkan diri dengan orang lain, lakukan random kindness, hidup dimasa sekarang, jangan terlalu serius, ucapkan kalimat kalimat positif ( saya sehat, saya bahagia, saya merasa bersyukur, saya merasa di cintai, saya merasa beruntung, saya merasa aman dan terlindungi, saya mampu saya bisa, saya percaya diri ). Islam juga mengajarkan cara meningkatkan imunitas diri dengan cara: a. Memperbanyak Istighfar, karena akan membuat hati bersih, yang akan meningkatkan sistem imun.  “Dan tidaklah (pula) Allah akan mengadzab mereka, sedang mereka meminta ampun.” (QS Al-Anfaal 33). b. Memperbanyak sedekah. Berdasarkan studi oleh Jorge Moll dari National Institutes of Health terbukti bahwa ketika seseorang melakukan donasi atau sedekah, beberapa area di otak yang terkait dengan kenyamanan, koneksi sosial, dan rasa percaya, turut aktif sehingga menciptakan efek positif terhadap perasaannya, juga membuat otak melepaskan hormon endorfin, memproduksi hormon dopamin serta oksitosin yang mampu meningkatkan imunitas tubuh dan mengurangi stres. "Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung" (Al-Hasyr 9) dan “Sedekah itu menutup tujuh puluh pintu kejahatan.” (HR Thabrani). c. Sabar terhadap semua skenario Allah ini. Sabar dalam arti tetap ber-ikhtiar melakukan langkah pencegahan. Sabar dan Sholat sesungguhnya menjadi kunci utama peningkatan sistem imun, sesuai Al Quran Surat Al Baqarah 153, “Wahai orang-orang yang beriman jadikanlah SABAR dan SHOLAT sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. d. Selalu mengingat Allah, dengan berdzikir. Karena saat mengingat Allah, hati menjadi tenang, otak merelesae hormon oksitosin yang akan meningkatkan sistem imun. Ar Ra’dhu 28. Tubuh akan memproduksi Natural Killer Cell (NK Cell), saat seseorang berada dipuncak spiritualitas nya karena selalu mengingat Allah. Berdoa Tanpa Henti, menghilangkan stress dan membuat bahagia, memunculkan Hormon Kebahagiaan. "Tidak ada yang dapat mencegah takdir, kecuali doa.” (HR. Al-Hakim).

 

DAFTAR PUSTAKA

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (2021). Update Infografis Percepatan Penanganan Covid -19 Di Indonesia Pertanggal 10 Juli 2021. Jakarta.

Kementerian Kesehatan RI. (2018). Pusat pelatihan SDM Kesehatan Badan PPSDM Kesehatan

 

 

Penulis: 
Sapri Rahman, S.Kep Ners
Sumber: 
Perawat Rumah Sakit Jiwa Daerah

Artikel

27/11/2021 | Ns. Monalisa, AMK, S.Kep
27/11/2021 | Septia lianti, S.Kep, Ners
27/11/2021 | Tri Nurul Hidayati, S.Kep
27/11/2021 | Boifrida Butar-Butar, S.Kep,Ners
27/11/2021 | Ns.Kristianus Triaspodo, M.Kep, Sp.Kep.J
30/06/2016 | Wieke Erina Ariestya, S.Kep.Ners
10/10/2018 | Emanuel Triwisnu Budi, AMK
02/02/2017 | Muhammad Isnaini.S.Kep

ArtikelPer Kategori