MENUMBUHKAN SIKAP EMPATI DI ERA PANDEMI

Awal tahun 2021, terjadi kasus bunuh diri di Pangkalpinang yang dilakukan oleh pasien dengan suspek Covid-19. Kasus ini diduga terjadi karena depresi. Korban mengalami depresi setelah mendapatkan hasil pemeriksaan antigen reaktif. Kejadian tersebut merupakan salah satu akibat dari minimnya budaya empati di masyarakat.

Salah satu indikator seseorang memiliki empati adalah ketika ia dapat merasakan kecemasan dan iba saat melihat seseorang mengalami sebuah pengalaman yang buruk. Seseorang memiliki kecenderungan pula untuk membayangkan jika dirinya berada di posisi orang yang mengalami pengalaman buruk tersebut. Begitupun dengan kasus bunuh diri yang terjadi pada seseorang yang diduga menderita covid-19. Jika masyarakat memiliki empati pasti akan merasa peduli terhadap kondisi orang yang diduga menderita covid-19 tersebut karena mereka dapat membayangkan rasanya ketika mereka mengalami hal tersebut. Namun jika dilihat dari kasus tersebut, kurangnya rasa peduli  akan membuat seseorang tidak dapat menumbuhkan keinginan untuk memberikan perhatian ataupun pertolongan kepada orang lain.

Sifat empati merupakan kemampuan seseorang untuk menyadari perasaan, kepentingan, kehendak, masalah, atau kesusahan yang dirasakan orang lain. Singkatnya, empati adalah ikut merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain. Untuk itu, perlu mengembangkan sikap empati, terutama di era pandemi. Bagaimana caranya?

Pertama yaitu berkumpul dengan orang yang berbeda. Penting untuk keluar dari zona nyaman dan berkumpul dengan mereka yang berbeda. Entah itu perbedaan latar belakang, kemampuan sosial ekonomi, etnis, kesempurnaan fisik, dan lainnya. Orang yang banyak menghabiskan waktu dengan mereka yang berbeda akan memiliki rasa empati lebih besar. Ini adalah bentuk penerimaan terhadap perbedaan dan bukannya menonjolkan bahwa diri sendiri berbeda dengan orang lain.

Kedua yaitu menjadi pendengar yang baik. Tidak semua orang bisa menjadi pendengar yang baik. Sikap empati tentu berperan penting ketika berada di posisi ini. Sadari betul bahwa ketika ada orang bercerita tentang kesulitan yang dihadapinya, tugas pendengar adalah mendengarkan, bukan untuk memberi jawaban.Tugas utama Anda adalah mendengarkan ceritanya, bagaimanapun caranya orang tersebut mengekspresikan emosinya. Mau menyisihkan waktu dan mendengarkan curahan hati orang lain adalah bentuk empati yang nyata.

Ketiga yaitu posisikan diri menjadi orang lain. Meski mustahil bisa memposisikan diri seperti orang lain secara 100%, setidaknya cobalah membayangkan jika Anda ada di posisi tersebut. Bayangkan jika Anda yang mengalami hal itu. Pola pikir seperti ini akan membantu membentuk sikap empati sekaligus rasa solidaritas untuk bersama-sama merasakan apa yang mereka hadapi.

Keempat yaitu tertarik dengan sekitar. Contoh sikap empati adalah ketika seseorang dengan tulus mau mengajak bicara orang asing yang duduk di sebelahnya saat di pesawat atau bus. Bukan untuk menginterogasi, namun orang yang memiliki sikap empati tinggi menganggap orang lain lebih menarik ketimbang dirinya sendiri. Di sinilah sikap empati membuat seseorang mau melihat dengan kacamata lebih luas terhadap apa yang terjadi di dunia. Topik yang dibicarakan tentu bukan basa basi tentang cuaca, namun memahami perspektif dari kacamata orang lain. Tak mudah melakukan hal ini karena perlu keberanian.

Kelima yaitu mulai perubahan sosial. Sikap empati yang terakumulasi bahkan bisa mewujudkan perubahan sosial dan aksi yang besar. Ini bisa terjadi ketika orang dengan sikap empati tinggi berinisiatif melakukan aksi sosial atau berkumpul dengan sesama orang yang memiliki sifat yang sama. Tidak menutup kemungkinan, buah dari pemikiran orang-orang dengan empati ini dapat mengubah dunia.

Keenam yaitu imajinasi tanpa batas. Orang yang memiliki sikap empati tinggi juga tak akan segan berimajinasi tanpa batas. Tentunya, ke arah perubahan dunia yang lebih positif. Contoh sikap empati ketika mengampanyekan pemanasan global, orang yang empati tak ragu memposisikan diri untuk membaca perspektif perusahaan minyak yang belum terbarukan.

 

Sikap empati merupakan salah satu indikator yang harus dimiliki seseorang agar seseorang dapat merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain terutama di era pandemi ini. Rasa empati pada seseorang harus dikembangkan. Untuk itu diperlukan juga adaptasi yang berasal dari diri sendiri dan lingkungan dalam membentuknya agar kedepannya seseorang memiliki kesadaran untuk bersikap empati dalam menghadapi situasi apapun terutama di era pandemi sehingga tidak terjadi hal-hal yang akan berdampak negatif.

DAFTAR PUSTAKA

Detiknews. 2021. Arti Empati Menurut Islam dan Manfaatnya dalam Kehidupan. Diakses 05 Oktober 2021 dari https://news.detik.com.

Luberiningsih, Theresia Asri. 2021. Kesadaran Diri dan Empati di Masa Pandemi. Buletin Kesehatan Jiwa.Diakses 05 Oktober 2021 dari https://rs-amino.jatengprov.go.id.

Trifiana, Azelia. 2020. Cara Mengembangkan Sikap Empati yang Baik Bagi Diri Sendiri dan Orang Lain. Kesehatan Mental.Diakses 5 Oktober 2021 dari https://www.sehatq.com.

 

Penulis: 
Ns. Monalisa, AMK, S.Kep
Sumber: 
Perawat Rumah Sakit Jiwa Daerah

Artikel

27/11/2021 | Ns. Monalisa, AMK, S.Kep
27/11/2021 | Septia lianti, S.Kep, Ners
27/11/2021 | Tri Nurul Hidayati, S.Kep
27/11/2021 | Boifrida Butar-Butar, S.Kep,Ners
27/11/2021 | Ns.Kristianus Triaspodo, M.Kep, Sp.Kep.J
30/06/2016 | Wieke Erina Ariestya, S.Kep.Ners
10/10/2018 | Emanuel Triwisnu Budi, AMK
02/02/2017 | Muhammad Isnaini.S.Kep

ArtikelPer Kategori