MENJAGA KESEHATAN MENTAL CAREGIVER PASIEN DENGAN GANGGUAN JIWA

Pasien dengan gangguan jiwa berat memiliki sifat kronis dan menetap. Kondisi mental pasien mengalami distorsi, baik pikiran, perbuatan dan emosional. Halusinasi dan delusi yang dialami pasien membuat pasien harus didampingi dan dibantu dalam aktifitasnya tergantung dengan tingkat kemandiriannya. Proses yang berkepanjangan tersebut membuat keluarga sebagai caregiver mengalami masalah finansial, hingga masalah psikologis seperti bingung, khawatir, sedih, merasa bersalah, kecewa dan malu.  Proses pengobatan jangka panjang yang harus dilakukan dan menghadapi kondisi mental pasien yang tidak stabil, membuat caregiver stress, kelelahan dan tertekan. Hal tersebut diperparah dengan perjuangan perlawanan pasien dan keluarga terhadap stigma negatif tentang kesehatan jiwa di masyarakat. Dampak jangka panjang tentu hal tersebut berpengaruh pada kesehatan jiwa caregiver.

Cara mengatasi stress ada beberapa cara sesuai dengan kondisi individu dan lingkungan yang berpengaruh. Salah satu caranya adalah dengan teknik relaksasi. Teknik relaksasi adalah salah satu teknik untuk mengontrol diri yang berguna untuk mengatur regulasi emosi dan fisik individu dari stres, kecemasan, ketegangan dan lainnya. Ada tiga jenis teknik relaksasi yaitu relaksasi pernafasan, relaksasi otot, dan relaksasi visual/guided imagery. Relaksasi pernapasan adalah salah satu teknik yang paling mudah untuk dilakukan. Ada beberapa teknik yang dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu:

1. Pernapasan bibir

Katupkan bibir dan tarik napas perlahan lewat hidung selama dua hitungan. Kerucutkan bibir seakan hendak bersiul. Hembuskan napas dari mulut selama empat hitungan.

2. Pernapasan diagframa

Berbaringlah telentang dengan kedua lutut ditekuk dan kepala disangga bantal. Letakkan satu tangan di dada atas dan satunya lagi di bawah tulang dada (perut bagian atas) untuk merasakan gerakan diagframa. Perlahan tarik napas lewat hidung dan hembuskan napas lewat bibir yang mengerucut. Rasakan pergerakan diagframa dan usahakan bagian dada atas tetap diam selama mempraktikkan latihan pernapasan ini.

3. Pernapasan singa (simhasana)

Duduklah dengan posisi paling nyaman, boleh bersimpuh atau bersila. Tekan telapak tangan ke lutut dengan posisi jari-jari tangan terbuka di atas lutut. Tarik napas dalam sambil membuka mata lebar-lebar. Buka mulut dan julurkan lidah ke bawah seakan ingin menjilat dagu. Keluarkan napas lewat mulut sambil mengeluarkan suara ‘haa’ yang panjang.

4. Pernapasan Sitali

Latihan pernapasan ini bisa membantu menurunkan suhu tubuh dan membuat pikiran rileks. Karena tenik pernapasan ini dipraktikkan dengan menarik napas lewat mulut, pastikan ruangan bebas dari debu dan polusi udara lainnya. Begini caranya: Pilih posisi duduk yang nyaman. Julurkan lidah. Lipat lidah supaya kedua sisi luar lidah bertemu di tengah. Kamu bisa mengerucutkan bibir supaya lidah dalam posisi tergulung. Tarik napas melalui mulut dan hembuskan napas melalui hidung.

5. Pernapasan dalam

Dalam posisi berdiri atau duduk, tarik kedua siku sedikit ke belakang supaya dada lebih mengembang. Tarik napas dalam melalui hidung. Tahan napas selama lima hitungan. Hembuskan napas perlahan-lahan melalui hidung.

6. Nafas Lebah

Duduklah dalam posisi paling nyaman. Tutup kedua mata dan usahakan otot-otot wajah tetap rileks. Letakkan telunjuk di tragus cartilage alias tulang rawan kecil di depan lubang telinga. Tarik napas. Saat menghembuskan napas lewat hidung, tekan tragus cartilage dengan jari telunjuk. Dengan bibir terkatup, buatlah suara menggumam selama mungkin saat mengeluarkan napas.

7. Pernapasan Resonansi

Tarik napas selama lima hitungan. Hembuskan napas selama lima hitungan. Lakukan pola pernapasan ini selama beberapa menit.

Manfaat dari teknik relaksasi ini terbukti dapat menstabilkan detak jantung, menurunkan tekanan darah, dan menenangkan pikiran. Relaksasi dilakukan secara teratur dan terus menerus untuk mencapai hasil yang maksimal.

Caregiver sebagai ujung tombak perawatan pasien dengan gangguan jiwa saat ini, perlu mendapatkan perhatian dan support agar mampu memberikan perawatan yang optimal kepada pasien dengan gangguan jiwa agar pasien dapat tetap produktif. Selain dengan memberikan dukungan kepada pasien dan caregiver, semua aspek perlu memberikan dukungan agar orang dengan gangguan jiwa mendapatkan fasilitas agar dapat produktif dan mampu berkontribusi di masyarakat, alih-alih menjadi beban.

           

 

DAFTAR PUSTAKA

Niman,Susanti. 2019. PENGALAMAN FAMILY CAREGIVER DALAM MERAWAT ANGGOTA KELUARGA YANG MENGALAMI GANGGUAN JIWA. Jurnal Keperawatan Jiwa,Volume 7 No 1 Hal 19- 26, Mei 2019 FIKKes Universitas Muhammadiyah Semarang bekerjasama dengan PPNI Jawa Tengah. Diakses pada tanggal 30 Desember 2021 jam 22:55 di https://jurnal.unimus.ac.id/index.php/JKJ/article/download/2787/pdf

Nuraini, Tengku. 2019. BEBAN CAREGIVER DALAM MERAWAT PENDERITA SKIZOFRENIA DI POLI KLINIK RSJ BINA KARSA MEDAN. Diakses pada tanggal 30 Desember 2021 jam 22:55 di  https://repositori.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/25523/151101018.pdf?sequence=1&isAllowed=y

Sandani, Aldila Putri & Faridah Ainur Rohmah. 2020. RELAKSASI UNTUK MENURUNKAN STRES PADA FAMILY CAREGIVER ORANG DENGAN GANGGUAN JIWA (ODGJ). Psikoislamika Jurnal psikologi dan psikologi Islami Vol.17, No 1, 2020, hlm 56—60. Diakses pada tanggal 30 Desember 2021 jam 22:55 di  https://ejournal.uin-malang.ac.id/index.php/psiko/article/view/9224

 

Penulis: 
Tri Nurul Hidayati, S.Kep
Sumber: 
Perawat Rumah Sakit Jiwa Daerah

Artikel

13/01/2022 | Roesmala Dewi,AMK
29/12/2021 | Novariani, S.Si, Apt
29/12/2021 | Novariani, S.Si, Apt
30/06/2016 | Wieke Erina Ariestya, S.Kep.Ners
10/10/2018 | Emanuel Triwisnu Budi, AMK
02/02/2017 | Muhammad Isnaini.S.Kep

ArtikelPer Kategori