MENGENAL HISTERIA PADA PSIKONEUROSIS (NEUROSIS)

Psikoneurosis ialah sekelompok reaksi psikis yang ditandai secara khas dengan unsur kecemasan dan secara tidak sadar ditampilkan dengan penggunaan mekanisme pertahanan diri (Defence Mechanism). Psikoneurosis merupakan bentuk gangguan atau kekacauan fungsional pada sistem persarafan, termasuk disintegrasi dari sebagian kepribadiannya. Khususnya, berkurang atau tidak adanya kontak antara pribadi dengan sekitarnya, relasinya dengan dunia luar sangat sedikit, walaupun masih memiliki wawasan.

Pada psikoneurosis inti tidak terdapat disorganisasi kepribadian yang serius dalam kaitannya dengan relitas eksternal atau dunia luar. Biasanya penderita mempunyai sejarah hidup penuh kesulitan, tekanan-tekanan batin dan peristiwa-peristiwa traumatis luar biasa. Mengalami kerugian psikis besar karena tidak pernah mendapatkan lingkungan sosial yang menguntungkan dan tidak pernah mendapatkan kasih sayang sejak usia yang sangat muda. Proses pengondisian yang buruk terhadap mentalnya itu menumbuhkan macam-macam gejala mental yang patologis, dan menimbulkan bermacam-macam bentuk gangguan mental.

Sebab-sebab timbulnya psikoneurosis atau lebih populer dengan neurosis ialah sebagai berikut:

  1. Tekanan-tekanan sosial dan tekanan kultural yang sangat kuat, menye- babkan ketakutan-kecemasan dan ketegangan-ketegangan dalam batin sendiri yang bersifat kronis sehingga yang bersangkutan mengalami mental breakdown/kepatahan mental.
  2. Individu mengalami frustrasi, konflik emosional dan internal yang serius, yang sudah dimulai sejak masa kanak-kanak.
  3. Individu sering tidak rasional sebab sering memakai defence mechanism yang negatif dan memiliki pertahanan diri secara fisik dan mental yang lemah.
  4. Pribadinya sangat labil.

Gejala-gejala psikis yang dapat dikelompokkan dalam kategori neurosis salah satunya histeria.

Histeria ialah gangguan psikoneurosis khas yang ditandai oleh emosionalitas yang ekstrem. Histeria mencakup macam-macam gangguan fungsi psikis, sensoris, motoris, vasomotor, dan alat pencernaan. Semua itu merupakan produk dari represi terhadap macam-macam konflik dalam kehidupan kesadaran.

Histeria juga bisa dikatakan sebagai penyakit yang karakteristiknya berupa disosiasi kepribadian terhadap lingkungan dalam berbagai bentuk dan gradasi, yang disebabkan oleh banyak konflik psikis/internal, yang kemudian ditransformasikan dalam gejala-gejala fisik, dalam bentuk histeria konversi dan somatis. Dahulu kala, histeria ditafsirkan sebagai penyakit kandungan.

Sebab-sebab histeria, antara lain:

  1. Adanya predisposisi pembawaan berupa sistem saraf yang lemah;
  2. Tekanan-tekanan mental yang disebabkan oleh kesusahan, kekecewaan, syok, dan pengalaman-pengalaman traumatis;
  3. Kebiasaan hidup dan disiplin diri yang keliru yang mengakibatkan kontrol pribadi menjadi lemah dan integrasi kepribadian menjadi lemah dan sangat kekanak-kanakan;
  4. Sering atau selalu menggunakan escape mechanism dan defence mechanism sehingga mengakibatkan maladjustment dan semakin banyak timbul kesulitan;
  5. Kondisi fisik/organis yang buruk, misalnya sakit-sakitan, lemah, lelah, fungsi-fungsi organik yang lemah, gangguan pikiran dan badaniah;
  6. Adanya sugesti diri yang buruk dan melemahkan mental serta berusaha untuk selalu melarikan diri dari relitas hidup karena sifat pengecutnya. Karena kelemahan-kelemahannya tersebut, individu berusaha untuk ”menguasai keadaan”, lalu mentiranikan  lingkungan dengan tingkah lakunya yang dikondisikan itu.

Histeria merupakan penyakit spesifik yang mempunyai dasar organis dan bukan merupakan suatu penyakit, tetapi kebiasaan yang dipelajari untuk mengontrol keadaan dan menghindari satu situasi yang berat dan tidak menyenangkan. Histeria disebab- kan oleh sugesti dan kemauan sendiri untuk mengekspresikan gejala-gejala, yang bertujuan untuk menghindari suatu situasi yang dianggap berat atau tidak menyenangkan. Di sisi lain menyatakan bahwa histeria disebabkan oleh syok-syok emosional atau keadaan lelah yang dialami individu, sehingga terjadi gangguan pada integrasi kepribadiannya dan disosiasi pribadi, yang ditampilkan dalam macam-macam gejala histeris.

Aliran psikoanalisis menyatakan bahwa oleh kelemahan pribadi berupa pembawaan, timbul fiksasi ide-ide yang keliru dan bermacam-macam perasaan negatif, malu, bersalah, berdosa, yang ditekan menjadi kompleks terdesak, kemudian timbul konflik internal. Elemen-elemen yang ditekan dalam ketidaksadaran itu lalu ditampilkan keluar melalui motor behavior (perbuatan). Jadi, gejala histeris merupakan ekspresi yang kamuflase dari fiksasi ide-ide dan elemen-elemen yang ditekan tadi. Selanjutnya, terjadilah disosiasi antara dirinya dengan lingkungan dalam pelbagai bentuk dan gradasi.

Ciri-ciri kepribadian penderita histeria antara lain:

  1. Sangat egois dan semaunya, berperangai seperti anak yang manja, selalu menginginkan perhatian dan belas kasihan, dan selalu mengharap pujian- pujian;
  2. Selalu merasa ”tidak bahagia” dan sensitif terhadap opini orang lain, ingin melakukan semua saran dari orang lain untuk mendapatkan pujian, perhatian, dan persetujuan yang pada akhirnya malah membuatnya kebingungan dan mengalami konflik batin;
  3. Emosinya sangat kuat, dan semua penilaiannya ditentukan oleh rasa suka dan tidak suka yang kuat;
  4. Selalu berkecenderungan untuk melarikan diri dari kesulitan dan hal-hal yang tidak menyenangkan, berusaha menghindar dengan gejala fisik yang dibuat-buat seperti pingsan dan pura-pura sakit, untuk memperpanjang usaha melarikan diri, juga untuk mendapatkan maaf atau ”belas kasihan” dari orang luar, dengan tujuan utama ialah untuk  menghindari  situasi yang tidak menyenangkan.

Stigmata (ciri khas) yang sering menyertai gejala histeria ialah:

  1. Sering merasa pusing, bisa juga mengalami stupor, seperti terbius tidak merasa apa-apa, kadang-kadang seperti dalam keadaan trance (kesurupan, keadaan tidak sadar diri);
  2. Sangat pelupa atau pikun, sering dibarengi gejala somnambulis (tidur berjalan), fugue (kondisi amnesia atau hilang ingatan), ataupun pribadi majemuk;
  3. Ada kalanya timbul ”kesakitan-kesakitan histeris”, sekalipun tidak ada kesakitan organis, disebabkan sugesti diri dan ide-ide yang salah, misalnya dia merasa betul-betul sakit, dan ada juga yang menderita kelumpuhan, anggota badan menjadi kaku, buta, tuli, dan disertai invalidisme lain-lain yang sifatnya sementara;
  4. Ada tik (gerak-gerak facial, di wajah), tremor/gemetar, dan ada juga yang kejang-kejang dan mau muntah;
  5. Tidak bisa merasa apa-apa dan sering terjadi gangguan alat pernapasan.

Ada empat bentuk histeria sebagai berikut:

1. Histeria Minor (Bentuk Lunak Dari Gejala Histeria)

Ada serangan-serangan kekejangan/convulsive. Penderita suka menangis dan tertawa-tawa tidak terkendali atau terkontrol sebagai mekanisme pelepasan emosi yang kuat.

2. Histeria Mayor (Histeria Konversi)

Ada transformasi dan konflik-konflik psikis ke dalam gejala-gejala fisik atau organis/jasmaniah berbentuk rasa bingung, gempar, dan heboh. Kadang-kadang melakukan gerakan serupa dengan gejala epilepsi grand mal. Semua gangguan psikoneurosis itu disebabkan oleh rasa kecemasan yang ditransformasikan dalam gejala fungsional pada organ-organ atau bagian tubuh. Semuanya berlangsung di bawah kontrol saraf kemauan. Semua gejala keluar atau diperbuat dengan sengaja untuk mengurangi kecemasan. Pada umumnya merupakan simbol atau ekspresi konflik mental yang tersembunyi oleh sifat kekanak-kanakan dan penakut atau pengecut.

Reaksi histeria antara lain berwujud hilangnya rasa sensoris atau anestesi, hilangnya rasa pengecap, buta atau tuli, bentuk paralisis (kelumpuhan), paresis (lumpuh sebagian), afonia (tidak bisa bicara), dan hemiplegia (lumpuh pada satu sisi badan). Bisa juga berupa gangguan diskinesia atau gangguan gerak, yaitu tik (gerak facial), tremor (gemetar), sikap badan yang salah, atau katalepsi (seluruh tubuh menjadi kaku), mengalami kejang-kejang, dan pingsan. Gejala- gejala tadi sering kali berupa perbuatan pura-pura, atau dibuat berlebih- lebihan, dengan tujuan mendominasi untuk lingkungan melalui kelemahan serta rasa invalidismenya atau bertujuan untuk menghindari tanggung jawab dan situasi yang tidak disenangi agar segala kelemahannya bisa dimaafkan lalu dirinya dikasihani.

3. Histeria Narkolepsi

Ada kecenderungan kuat untuk terus-menerus tidur yang disebabkan oleh gejala histeria dan bukan oleh kelelahan atau penyakit tidur. Tidurnya ber- langsung mulai dari beberapa jam sampai beberapa hari. Penderita banyak tersenyum dan berkata-kata selagi tidur. Penyebabnya ialah kelemahan jasmani, ditambah pengalaman-pengalaman emosional yang tidak menyenangkan. Timbul kemudian fantasi-fantasi tentang mati, tidur, atau pingsan. Dalam tidurnya, penderita ingin melupakan semua konflik batin dan derita hidupnya.

4. Histeria Anoreksi

Penderita tidak merasa lapar dan menolak untuk makan. Ini berlangsung selama beberapa hari, beberapa bualan, bahkan bisa sampai beberapa tahun sehingga berakibat fatal mental, seperti mati kelaparan. Penolakan untuk makan biasa- nya dimulai dengan gejala sakit perut dan rasa nyeri pada lambung. Tidak ada nafsu makan dan tidak merasa lapar.

Penyebab histeria anoreksi antara lain:

  1. Ada sikap berhati-hati yang ekstrem terhadap makanan yang kemudian berkembang menjadi fobia terhadap makanan;
  2. Ada ide atau pikiran melekat yang salah, misalnya makanan itu menjijik- kan, tidak pantas, dan lain-lain.
  3. Ada pengalaman-pengalaman emosional yang tidak menyenangkan sehingga timbul keinginan kuat yang ditekan, untuk mati, kemudian ditransformasi-kan dalam bentuk sikap tidak mau makan.

Cara penyembuhan gejala histeria anoreksi sebagai berikut:

  1. Hukuman dan terapi kejutan (shock therapy) sering kali berhasil. Akan tetapi, ada kalanya juga tidak menumbuhkan mekanisme penyesuaian yang tepat dan positif sehingga terapi tersebut gagal.
  2. Berikan sugesti untuk menyadarkan penderita pada realitas hidup dan temukan mekanisme penyesuaian diri yang tepat. Lalu arahkan pada integrasi serta keseimbangan pribadi.
  3. Analisis elemen-elemen yang ditekan dan menyadarkannya. Semua ide di- lenyapkan dan elemen-elemen disosiasi diintegrasikan dengan kepribadian. Apabila pasien menyadari sifat dari kesukaran dan menyadari kelemahan sendiri, gejalanya akan hilang dengan sendirinya.
  4. Usaha reedukasi (pendidikan ulang) melalui pemberian motivasi hidup yang luhur, mengarahkan pada tujuan hidup yang berarti, memberikan masukan yang diarahkan agar pasien mau berpikir kritis, dan menggunakan wawasan. Hilangkan ide-ide yang melekat. Pasien harus menyadari bahwa gejala-geja- lanya merupakan akibat cara berpikir, bertindak, dan penyesuaian diri yang salah terhadap segenap kesulitan hidup yang dihadapi. Oleh karena itu, perlu adanya reedukasi dan rekondisi kebiasaan serta pola hidupnya yang keliru.

Sumber:  

Burlian, P. 2016. Patologi Sosial. PT Bumi Aksara. Jakrta.

Nurhalimah. (2016). Keperawatan Jiwa. Jakarta Selatan: Pusdik SDM Kesehatan

Prabowo, Eko. 2017. Asuhan Keperawatan Jiwa. Semarang: Universitas Diponegoro.

 

Penulis: 
Yunhar Nursaleh, S. Kep, Nes
Sumber: 
Perawat Rumah Sakit Jiwa Daerah

Artikel

27/11/2021 | Ns. Monalisa, AMK, S.Kep
27/11/2021 | Septia lianti, S.Kep, Ners
27/11/2021 | Tri Nurul Hidayati, S.Kep
27/11/2021 | Boifrida Butar-Butar, S.Kep,Ners
27/11/2021 | Ns.Kristianus Triaspodo, M.Kep, Sp.Kep.J
30/06/2016 | Wieke Erina Ariestya, S.Kep.Ners
10/10/2018 | Emanuel Triwisnu Budi, AMK
02/02/2017 | Muhammad Isnaini.S.Kep

ArtikelPer Kategori