Membangun Resiliensi pada anak

Perkembangan zaman yang saat ini sangat pesat membuat individu didalamnya dituntut untuk mampu dengan cepat menyesuaikan diri dengan situasi. Menjadi pribadi yang tangguh dan kuat serta mampu menyesuaikan diri dengan segala situasi adalah keinginan setiap orangtua terhadap anaknya. Namun tentu saja hal tersebut tidak dilakukan dengan selalu membantu setiap aktivitas anak hingga menjadi tergantung pada orangtua melainkan melatih mereka agar mandiri, mampu memikirkan jalan keluar dari permasalahan yang dihadapi serta beradaptasi dengan situasi yang ada. Proses tersebut memang tidaklah mudah, dibutuhkan waktu, tenaga serta pikiran untuk mempersiapkan anak agar mampu dan tidak mudah menyerah serta segera bangkit dalam menghadapi setiap persoalan serta kegagalan yang akan hadapi nantinya. Kemampuan ini dikenal dengan nama resiliensi. Kata resiliensi mungkin asing bagi telinga kita namun ternyata resiliensi merupakan sebuah kemampuan yang harus dimiliki tidak hanya pada orang dewasa bahkan pada anak-anak.
Garbarino (Jhonson, dkk 2011) mendefinisikan resiliensi sebagai kemampuan individu untuk beradaptasi dengan situasi yang penuh tekanan atau stressful. Sedangkan Yu dan Zang (2007) mendefinisikan resiliensi sebagai kemampuan untuk melenting dan kembali ke bentuk semula setelah terjadinya trauma atau shock dan menunjukkan adaptasi atau penyesuaian yang positif walaupun dibawah tekanan. Dari dua definisi diatas dapat disimpulkan bahwa resiliensi merupakan suatu kemampuan untuk melenting kembali dan menyesuaikan diri dari kondisi stres, kemalangan, kegagalan atau bahkan trauma yang dialami oleh individu. Resiliensi bukanlah suatu kemampuan yang bersifat genetik, melakinkan suatu skill yang dimiliki individu, dan menjadi semakin kuat dengan berbagai peristiwa hidup yang mampu diatasi. Hal tersebut juga berlaku pada anak-anak, untuk memiliki resiliensi yang baik dibutuhkan banyak pengalaman yang harus dihadapi dalam kehidupan mereka serta dukungan. Seorang anak yang memiliki resiliensi yang baik mengetahui batasan kemampuan yang mereka miliki dan berusaha mendorong diri mereka untuk keluar dari zona nyaman. Hal tersebut membantu mereka untuk mencapai tujuan jangka panjang yang diinginkan serta melatih kemampuan penyelesaian masalah mereka.

Untuk membentuk anak memiliki resiliensi yang baik, peran dari keluarga dibutuhkan. Seperti yang diungkapkan oleh Brook & Goldstein ( Kiswanto, 2017) bahwa orang tua memiliki pengaruh yang sangat signifikan terhadap perkembangan resiliensi anak. Keluarga menjadi faktor protektif yang dapat mendukung bagi pengembangan resiliensi. Penelitian yang dilakukan oleh Smith & Carlson, (1997) menemukan bahwa keluarga berperan sebagai faktor protektif, ia juga menambahkan dukungan sosial sebagai faktor protektif dalam resiliensi ikut membantu dalam menurunkan tingkat tekanan masalah yang dihadapi. Hal ini menunjukkan besarnya peran resiliensi dalam kehidupan. Untuk membangun resiliensi pada anak, berikut ini, berapa hal yang dapat dilakukan orang tua yaitu:

1. Bangun hubungan emosi yang kuat dengan anak.
Membangun hubungan emosi dengan dengan anak dapat dilakukan dengan meluangkan waktu dan fokus bersama anak sehingga anak dapat mengembangkan keterampilannya dalam membangun hubungan / perhatian. Ketika anak mendapatkan penghargaan positif tanpa syarat, maka anak merasa memiliki kekuatan untuk mencari dan berusaha mengatasi situasi sulit yang mereka hadapi. Hubungan yang positif antar anak dan orangdewasa membuat anak mampu mencontoh cara penyelesaian masalah yang baik dari orang dewasa (orangtua)

2. Latih anak untuk mengenal emosi dan mengatasi emosi yang dirasakan.
Melatih emosi dapat melatih anak memahami apa yang sedang terjadi pada diri mereka. Anak juga diajarkan bahwa tidak mengapa ketika mereka merasa sedih ataupun marah, karena hal tersebut akan mereka lalui. Setelah anak mengenal emosi yang dirasakan, latih anak untuk mengatasi emosi yang dirasakan secara positif.

3. Latih anak untuk menghadapi resiko yang sehat dari setiap tindakan yang dilakukan
Resiko yang sehat adalah sesuatu yang mendorong seorang anak keluar dari zona nyamannya, tetapi hanya menimbulkan sedikit kerugian jika mereka tidak berhasil. Orangtua sebaiknya mendorong anak untuk keluar dari zona amannya dengan begitu mereka mengetahui bahwa setiap tindakan yang dilakukan memiliki resiko. Keluar dari zona aman membuat mereka dihadapkan padahal baru yang mungkin terjadi, dari situ akan diketahui apakah anak siap mengambi resiko atau memilih menghindar. Misalnya, mencoba ekstrakulikuler baru atau mencoba berbicara dengan teman baru. Ketika mereka memilih untuk menghindar mengartikan bahwa mereka belum cukup siap untuk menghapi tantangan baru.

4. Ajarkan anak untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi
Latih anak untuk melakuakn brainstorming dari permaslahan yang dihadapi sehingga mereka memahami proses penyelesaian masalah. Selain itu ide-ide / solusi untuk pemecahan masalah dapat terbentuk dan mereka dapat memahami efek dari setiap solusi yang dipilih.

5. Tidak langsung memperbaiki / membantu anak namun berikan pertanyaan bagaimana agar ia berfikir.
Anak biasanya akan langsung meminta bantuan kepada orangtua ketika dalam masalah, untuk itu sebaiknya kembalikan pertanyaan pada anak mengapa hal tersebut terjadi dan solusi yang bisa dilakukan.

6. Rangkul anak ketika melakukan kesalahan
Saat anak melakukan kesalahan, sebagiknya orangtua tidak langsung menyalahkan mereka hal tersebut. Ajak anak bicara tentang kesalahan yang dilakukan dan bagaimana mereka menghadapinya. dengan begitu anak akan belajar dalam setiap peristiwa ada hikmah / pelajaran yang dapat dipetik.

7. Tumbuhkan optimisme pada anak
Optimisme berjalan lurus dengan resiliensi, bangun kepercayaan diri anak dengan begitu mereka akan lebih yakin dengan apapun yang dilakukan.

Referensi:
• Smith, C and Carlson, B E. 1997. Stress, Coping, and Resilience in Children and Youth. Social Service Review. JStor: Vol. 71, No. 2 (Jun., 1997), pp. 231-256. The University of Chicago Press
• Kiswanto, Andi. 2017. The Power of Parenting: Building Resilience in Children. Dipublikasikan pada konferensi: Mengembangkan Kesejahteraan Psikologis Keluarga Melalui Bimbingan dan Konseling. Tanggerang Selatan, Indonesia. Diakses dari : Researchgate.net/publication/325545004_The_Power_of_Parenting_Building_Resilience_in_Children
• Jhonson N, Dinsmore J.A & Hof D.D. 2011. The Relationship between College Students Resilience Level and Type of Alcohol Use. International Journal of Psychology: A Biopsychosocial Approach. 8, 67-82
• Yu & Zhang. 2007. Factor Analysis and Psychometric Evaluation of The Connor-Davidson Resilience Scale With Chinese People. Journal of Social Behavior and Personality 35 (1)
• Resilience in Children: Strategies to Strengthen Your Kids diakses: https://www.psycom.net/build-resilience-children

Penulis: 
Mita Octarina, M.Psi., Psikolog
Sumber: 
Psikolog Rumah Sakit Jiwa Daerah

Artikel

13/01/2022 | Roesmala Dewi,AMK
29/12/2021 | Novariani, S.Si, Apt
29/12/2021 | Novariani, S.Si, Apt
30/06/2016 | Wieke Erina Ariestya, S.Kep.Ners
10/10/2018 | Emanuel Triwisnu Budi, AMK
02/02/2017 | Muhammad Isnaini.S.Kep

ArtikelPer Kategori