MARI MENGENAL PERIOD OF STORM and STRES

Adolescence” atau disebut dengan remaja, berasal dari bahasa latin “Adolescere” yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi matang.  Adolescence (remaja) adalah periode transisi dimana individu mengalami perubahan baik secara fisik maupun psikologis dari seorang anak menuju dewasa (sekitar usia 11 – 20 tahun). Masa Remaja merupakan masa tengah, dimana ia tidak termasuk golongan anak-anak, tetapi juga tidak bisa dikatakan dewasa karena ia tidak termasuk golongan orang dewasa atau golongan tua.

Menurut Hurlock (1981) remaja adalah mereka yang berada pada usia 12-18 tahun. Dalam bukunya Hurlock menuliskan bahwa istilah adolescence atau remaja berasal dari kata Latin adolescere yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Tidak berbeda dengan Jersild dalam bukunya The Psychology of Adolescence menyatakan bahwa masa remaja adalah masa dimana pribadi manusia berubah dari kanak-kanak menuju ke arah pribadi orang dewasa.

Menurut Stanley Hall – Bapak Psikologi Remaja, masa remaja adalah masa kelahiran baru yang ditandai dengan gejala yang menonjol, yaitu : perubahan pada seluruh kepribadian dengan cepat; perubahan pada segi biologis, mulai berfungsinya kelenjar kelamin dan sikap sosial yang eksplosif dan bergelora. Sedangkan menurut Hurlock ciri-ciri masa remaja adalah :

  1. Masa remaja sebagai periode yang penting, karena perkembangan fisik, mental yang cepat dan penting dan adanya penyesuaian mental dan pembentukan sikap, nilai dan minat baru.
  2. Masa remaja sebagai periode peralihan, adanya suatu perubahan sikap dan perilaku dari anak-anak ke menuju dewasa.
  3. Masa remaja sebagai periode perubahan, karena ada 5 perubahan yang bersifat universal yaitu perubahan emosi, tubuh, minat dan pola perilaku, dan perubahan nilai.
  4. Masa remaja sebagai usia bermasalah, karena pada masa kanak-kanak masalah-masalahnya sebagian besar diselesaikan oleh guru dan orang tua sehingga kebanyakan remaja kurang berpengalaman dalam mengatasi masalah.
  5. Masa remaja sebagai masa mencari identitas, karena remaja berusaha untuk menjelaskan siapa dirinya, apa peranannya.
  6. Masa remaja sebagai usia yang menimbulkan ketakutan, karena adanya anggapan stereotip budaya bahwa remaja adalah anak-anak yang tidak rapi, yang tidak dapat dipercaya dan cenderung merusak, menyebabkan orang dewasa harus membimbing dan mengawasi.
  7. Masa remaja sebagai masa yang tidak realistik. Karena remaja melihat dirinya sendiri dan orang lain sebagaimana yang diinginkan dan bukan sebagaimana adanya terlebih dalam cita-cita.
  8. Masa remaja sebagai ambang masa dewasa, karena remaja mulai memusatkan diri pada perilaku yang dihubungkan dengan orang dewasa.

Stanley Hall, mengingatkan kita bahwa masa remaja merupakan masa badai dan tekanan (storm and stress) dan statementnya ini sampai sekarang masih banyak dikutip oleh banyak ahli dan orang.

Gunarsa (1989) merangkum beberapa karakteristik remaja yang dapat menimbulkan berbagai permasalahan pada diri remaja, yaitu :

  1. Kecanggungan dalam pergaulan dan kekakuan dalam gerakan.
  2. Ketidakstabilan emosi.
  3. Adanya perasaan kosong akibat perombakan pandangan dan petunjuk hidup.
  4. Adanya sikap menentang dan menantang orang tua.
  5. Pertentangan di dalam dirinya sering menjadi pangkal penyebab pertentangan-pertentang dengan orang tua.
  6. Kegelisahan karena banyak hal diinginkan tetapi remaja tidak sanggup memenuhi semuanya.
  7. Senang bereksperimentasi.
  8. Senang bereksplorasi.
  9. Mempunyai banyak fantasi, khayalan, dan bualan.
  10. Kecenderungan membentuk kelompok dan kecenderungan kegiatan berkelompok.

PERIOD OF STORM and STRESS

Psikologi memandang periode remaja sebagai periode yang penuh gejolak dengan menamakan period of storm and stress. Arnett menarik tiga tantangan tipikal yang secara general biasa dihadapi oleh remaja :

  1. Konflik dengan orangtua
  2. Perubahan mood yang cepat
  3. Perilaku beresiko.

Period of  Storm and stress adalah suatu istilah yang merujuk kepada masa remaja, dimana pada masa tersebut remaja sedang mencari jati dirinya. Mereka sedang berada pada masa perkembangan pikiran menuju dewasa. Kadangkala remaja menemukan persoalan ataupun gejolak yang berat layaknya badai yang membuat mereka galau dan stres berat dalam memikirkan kehidupan perasaan dan emosinya. Oleh karena itu masa remaja sering dikaitkan dengan kata istilah storm and stress. Tidak aneh lagi bagi orang yang mengerti kalau melihat sikap dan sifat remaja yang sesekali bergairah sangat dalam bekerja tiba-tiba berganti lesu, kegembiraan yang meledak bertukar dengan rasa sedih, rasa yakin diri berganti rasa ragu diri yang berlebihan. Soal lanjutan pendidikan dan lapangan kerja tidak dapat direncanakan dan ditentukannya. Lebih-lebih dalam persahabatan dan cinta, rasa bersahabat sering bertukar menjadi senang. Di masa ini remaja juga ingin mencari kebebasan dan berusaha mencari konsep diri. Pada masa remaja akhir sikap dan perasaan relatif stabil.

Masa remaja sebagai psychosocial moratorium (masa jeda sementara) yaitu masa kesenjangan antara keamanan dari masa anak-anak menuju otonomi orang dewasa (hak atau wewenang). Oleh karena itu pada masa ini remaja dianggap belum sepenuhnya memiliki tanggung jawab atas dirinya, dan dibebaskan mencari identitas diri. Masa remaja awal merupakan masa crisis identity (krisis identitas) atau masa pencarian identitas. Pada masa ini remaja sedang dibingungkan dengan pencarian jati diri, mulai bertanya hakekat dirinya (dasar atau kenyataan yang sesungguhnya), siapa dirinya, bagaimana kehidupannya, mau jadi apa nantinya, dan segudang pertanyaan yang bergejolak pada diri mereka sendiri. Selain itu dalam masa pencarian identitas, remaja juga mulai disibukkan dengan status baru orang dewasa, seperti pekerjaan, relasi romantis dan sebagainya.

Masa remaja adalah masa emas, merupakan masa yang sangat strategis untuk mencari dan mengembangkan potensi diri, karena pada usia ini perkembangan kognitif (kemampuan anak untuk berpikir) sudah mencapai tahap perkembangan operasional formal (anak sudah mampu berpikir abstrak dan logis dengan menggunakan pola berpikir “kemungkinan”), dimana mereka sudah mampu bernalar secara logis (sistem atau cara untuk memikirkan sesuatu secara rasional dan tidak berhubungan dengan hal – hal yang tidak masuk akal fikiran manusia. Penalaran logis bersifat logika, dan didasarkan pada sebuah kenyataan), berfikir abstrak, dan lebih rasional. Namun juga merupakan masa yang rawan terhadap berbagai guncangan negatif yang berasal dari lingkungan maupun teman pergaulan. Hal ini dikarenakan pada usia tersebut, remaja cenderung membentuk dua pola (arah pergerakan) yaitu, pola menjauhi orang tua dan mendekati teman sebaya (model lama relasi orang tua remaja), sehingga lingkungan, pola pergaulan dan teman sebaya sangat menentukan pembentukan perilaku yang sangat berpengaruh pada tugas perkembangan ketika memasuki masa dewasa.

Berdasarkan tinjauan teori perkembangan, usia remaja atau masa remaja adalah masa saat terjadinya perubahan-perubahan yang cepat, termasuk perubahan fundamental dalam aspek kognitif, emosi, sosial dan pencapaian. Sebagian remaja mampu mengatasi transisi ini dengan baik, namun beberapa remaja bisa jadi mengalami penurunan pada kondisi psikis, fisiologis, dan sosial. Beberapa permasalahan remaja yang muncul biasanya banyak berhubungan dengan karakteristik yang ada pada diri remaja.

Masa remaja merupakan juga masa berekplorasi perilaku seksual, masa fantasi (khayalan), dan ralitas seksual. Menguasai perasaan seksual dan membentuk rasa indentitas seksual merupakan proses yang panjang. Hal ini mencakup kemampuan belajar mengelola perasaan seksual (seperti keterguguhan dan ketertarikan seksual), mengembangkan keterampilan untuk mengelola tingkah laku seksual agar terhindar dari konsekuensi (menghindari perilaku seksual agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan). Beberapa remaja memiliki level kecemasan yang tinggi mengenai seks, sementara yang lain memiliki level kecemasan yang rendah. Beberapa remaja mudah sekali terbangkitkan secara seksual, smentara yang lain tidak. Beberapa remaja aktif secara seksual yang lainya tidak aktif karena dibesarkan di lingkungan religius yang kuat.

Sebuah ulasan penelitian terbaru menemukan bahwa kegiatan seksual yang dimulai lebih dini terkait dengan pengawasan orangtua yang rendah (Zimmer-Gembeck & Helfand, 2008). Remaja menghabiskan cukup banyak waktunya untuk berpacaran atau berpikir mengenai pacaran. Pacaran dapat merupakan sebuah bentuk rekreasi, sumber status, sebuah setting untuk mempelajari relasi yang akrab, dan juga suatu cara untuk menemukan pasangan (JODOH). Perubahan perkembangan dalam pacaran dan relasi romantis ada tiga tahapan di masa remaja :

  1. Mulai memasuki afiliasi dan antraksi romantis pada sekitar usia 11 sampai 13 tahun. Tahap awal ini dipicu oleh pubertas. Dari usia 11 hingga 13 tahun, remaja menjadi sangat tertarik pada keromantisan dan hal itu mendominasi banyak percakapan dengan kawan sesama gender. Perasaan tertarik pada seseorang umum terjadi dan ketertarikan itu diceritakan kepada kawan sesama gendernya. Remaja muda mungkin tidak berinteraksi dengan individu yang disukainya tersebut. Namun ketika kencan terjadi, biasanya berlangsung dalam setting kelompok.
  2. Mengekplorasi (penyelidikan) relasi romantis pada usia sekitar 14 hingga 16 tahun. Pada tahap ini terjadi dua jenis keterlibatan romantis pada remaja :
  1. Pacaran biasa (casual dating), terjadi diantara individu yang saling tertarik. Pengalaman pacaran seperti ini berjangka pendek, mungkin hanya berlangsung beberapa bulan, dan biasanya hanya bertahan beberapa minggu saja.
  2. Pacaran secara berkelompok (dating in groups), biasa terjadi dan mencerminkan keterkaitan dalam konteks kawan sebaya. Sahabat sering kali berperan sebagai fasilitator dari sebuah relasi (hubungan) pacaran dengan mengkomunikasikan ketertarikan romantis rekanya dan menginformasi bahwa ketertarikan tersebut berbalas.

       3. Mengonsolidasi keterikatan romantik pada usia sekitar 17 hingga 19 tahun. Pada akhir masa sekolah menenengah keatas, terbentuk relasi romantis yang semakin serius. Relasi             ini dicirikan dengan ikatan emosi yang kuat, seperti pada relasi romantik orang dewasa. Ikatan emosi ini lebih stabil dan tahan lama dibanding ikatan sebelumnya, dan biasanya               bertahan satu tahun lebih.

Aktivitas pacaran pada remaja bisa berdampak negatif pada seksualitas remaja, ada kemungkinan remaja yang tidak aktif secara seksual bisa aktif karena berpacaran karena mereka saling tertarik maka timbulah hasrat seksual yang memang sewajarnya ada namun kebanyakan para remaja tidak dapat mengendalikan lalu terjerumus lah ke area yang salah. Ada beberapa sebab lain seperti faktor status ekonomi, keluarga/pengasuhan orangtua, dan rekan sebaya.

Banyak remaja terjerumus dalam kasus kenakalan remaja, baik disebabkan karena lingkungan, teman sebaya maupun faktor internal keluarga (faktor-faktor yang berasal dari dalam). Bahkan jumlahnya ralatif bertambah setiap tahun. Namun tidak berarti semua remaja memiliki citra diri yang negatif. Masa istirahat yang lama atau yang biasa dikenal dengan istilah psychosocial moratorium  oleh Ericson ini (Santrock, 2012)  sebenarnya adalah masa yang paling efektif untuk menggali dan mengembangkan potensi diri.

Pada usia remaja dominasi teman sebaya memiliki peran yang cukup besar, tidak mengherankan jika banyak remaja yang terjerumus kasus narkoba, pergaulan bebas, minum-minuman keras yang diakibatkan lingkungan dan pengaruh teman pergaulan. Begitu juga sebaliknya, remaja yang berkembang dalam lingkungan yang potensial bersama orang-orang yang memiliki pola pergaulan sehat dan bersemangat untuk mencapai cita-cita akan membentuk remaja yang memiliki citra diri positif. Hal ini sangat berpengaruh pada tahap perkembangan selanjutnya. Mereka akan memperoleh kepuasan karena telah membuat torehan (luka) dan mencapai cita-citanya semasa muda.

Peran teman sebaya terkadang ‘menggeser’ peran orangtua sebagai kelompok referensi tidak jarang membuat tegang hubungan remaja dan orangtua. Teman sebaya menjadi ukuran bahkan pedoman dalam remaja bersikap dan berperilaku. Meskipun demikian studi Stenberg menemukan bahwa teman sebaya memang memiliki peran yang penting bagi remaja, namun pengaruh teman sebaya cenderung pada hal-hal yang berhubungan dengan gaya berpakaian, musik dan sebagainya. Sementara untuk nilai-nilai fundamental, remaja cenderung tetap mengacu pada nilai yang dipegang orangtua termasuk dalam pemilihan teman sebaya, biasanya juga mereka yang memiliki nilai-nilai sejenis.

Mereka yang menyikapi tahap perkembangan ini dengan bijak (tidak berlebihan) secara tidak langsung kedewasaan emosinya pun akan berkembang. Namun mereka yang tidak mampu menyikapi/menghadapi tahap perkembangan ini dengan baik cenderung membentuk citra diri yang negatif yang nantinya berpengaruh pada kematangan emosional.

Karena kondisi emosi atau suasana hati (mood) diusia remaja yang sangat tidak menentu dan pada masa ini diwarnai oleh banyak konflik maka G. Stanlley Hall menamai masa remaja sebagai masa storm and stress (badai dan stress), masa yang dipenuhi masalah. Hormon-hormon seksual yang sudah mulai berfungsi adalah salah satu pemicu kondisi emosi pada usia remaja menjadi labil (tidak menentu). Berbeda dengan masa kanak-kanak yang dipenuhi dengan  kesenangan dan dunia main-main, pada usia remaja mereka dihadapkan dengan tugas perkembangan baru yang nantinya menjadi penentu awal kehidupan mereka. Perubahan terhadap fisik yang terjadi memicu minat terhadap citra tubuh yang memunculkan egosentrisme pada remaja (sifat dan kelakuan yang selalu menjadikan diri sendiri sebagai pusat segala hal).

Mood yang naik turun juga sering terdengar dari celetukan remaja. Ada dua mekanisme di mana mood mempengaruhi memori kita :

  1. Mood-dependent memory ,suatu informasi atau realita yang menimbulkan mood tertentu.
  2. Mood congruence effects, kecenderungan untuk menyimpan atau mengingat informasi positif kala mood sedang baik, dan sebaliknya informasi negatif lebih tertangkap atau diingat ketika mood sedang jelek.

Bisa dibayangkan bagaimana perubahan mood yang cepat pada remaja terkait dengan kecemasan yang mungkin terbentuk. Remaja juga mempunyai reputasi berani mengambil resiko paling tinggi dibandingkan periode lainnya. Hal ini pula yang mendorong remaja berpotensi meningkatkan kecemasan karena kenekatannya sering mengiring pada suatu perilaku atau tindakan dengan hasil yang tidak pasti. Keinginan yang besar untuk mencoba banyak hal menjadi salah satu pemicu utama. Perilaku nekat dan hasil yang tidak selalu jelas diasumsikan Arnett membuka peluang besar untuk meningkatnya kecemasan pada remaja.

Sebagai orang tua yang memiliki dua anak remaja, terkadang cukup kewalahan didalam mengikuti perkembangan mereka, baik di lingkungan pendidikan, lingkungan pergaulannya bahkan dalam institusi religius sekalipun. Orang tua yang saat ini cenderung sibuk dengan dunianya, dan terkesan melimpahkan tanggung jawabnya tersebut kepada orang lain. Baik itu guru, pendidik religi, keluarga terdekat bahkan pembantu. Orang tua seolah-olah tidak terlalu memperdulikan kondisi anak remajanya sejauh tidak ada tanda-tanda permasalahan yang berarti di depan mata. Namun tanpa disadari, ketidak pedulian tersebut, akan menjadi BOM WAKTU dikemudian hari, dimana saat itu tiba, kita baru menyadari bahwa anak remaja kita sebenarnya telah lama memiliki persoalan baik secara moral dan sisi psikologi lainnya.

Kalau seperti ini siapa yang disalahkan ? mereka yang kita gaji untuk memperhatikan anak kita ?, atau mungkin pemerintah kita ?. Seolah-olah mendidik anak remaja dapat diwakili dan bisa diselesaikan dengan “uang”. Tidak sedikit orang tua yang ketakutan akan persoalan dilingkungan remaja, cenderung “memaksakan” anak remajanya untuk menyibukan diri mereka, layaknya seperti para orang tua yang sibuk dengan pekerjaannya. Les tambahan setelah pulang sekolah, dari senin bahkan hinga sabtu, diakali sedemikian rupa untuk mencegah terjadinya penyimpangan perilaku dari anak remaja kita. Sebenarnya bukan itu yang mereka harapkan perhatian dan kepedulian lah jawabanya.

Dengan paparan di atas, saya mengajak semua orang tua untuk lebih meluangkan waktu terhadap anak remaja kita. Bukan saja memahami kondisi remaja secara teoritis. Namun lebih banyak meluangkan waktu, untuk berkomunikasi dan memperhatikan mereka dari waktu ke waktu, di sela-sela kesibukan kita. Masih terbuka banyak jalan untuk memahami kecemasan dan permasalahan yang dialami remaja.

DAFTAR PUSTAKA

Keliat, Budi Anna dkk, 2014-2015. Buku Asuhan Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC.

Muhith, Abdul. 2015. Pendidikan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta.

Purwaningsih, Wahyu & Karlina Ina.2010. Asuhan Keperawatan Jiwa. Jogjakarta : Nuha Medika.

Penulis: 
Emanuel Triwisnu Budi, AMK
Sumber: 
Humas RSJD Babel

Artikel

05/05/2021 | Ns. Sari Anggun Feby Royanti, S. Kep
03/05/2021 | Enser Rovido, S. Kep, Ners
03/05/2021 | Mita Octarina, M.Psi., Psikolog
30/06/2016 | Wieke Erina Ariestya, S.Kep.Ners
02/02/2017 | Muhammad Isnaini.S.Kep
10/10/2018 | Emanuel Triwisnu Budi, AMK

ArtikelPer Kategori