LIMA PILAR (5 TONGGAK DALAM PROGRAM) REHABILITAN NAPZA

Sebagai gambaran awal program napza ,konsep yang dipakai mengedepankan 5 pilar utama, diantara pilarnya adalah

1.Family milieu concept (Konsep kekeluargaan)

Lingkungan keluarga sebagai faktor penunjang bagi pemulihan addict.Komponen trapy lingkungan ,Lingkungan yang tepat untuk terapi milieu didasarkan pada lima komponen. Komponen-komponen tersebut adalah:

Dukungan. Terapi lingkungan berkembang dalam lingkungan yang longgar daripada yang ketat. Orang yang menerima perawatan diberi waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan dengan nyaman. Untuk membantu proses tersebut, pengasuh menawarkan dukungan dengan pendekatan individual. Hal ini juga berkontribusi pada kemajuan yang cepat.

Struktur. Lingkungan memiliki rutinitas yang teratur dan dapat diprediksi yang membantu membangun kepercayaan. Konsistensi juga memberikan kesempatan belajar yang berkontribusi pada peningkatan kesehatan.

Validasi. Lingkungan terapi lingkungan (milieu therapy) terasa hangat dan ramah. Ini adalah ruang aman bagi mereka yang mungkin merasa rentan. Perlindungan mendorong anggota untuk mengeksplorasi kebiasaan baru yang membantu mereka mengembangkan keterampilan hidup baru.

Keterlibatan. Rutinitas ini seringkali merupakan kegiatan rutin yang mendorong sosialisasi. Jika diperlukan, terapis dapat membantu anggota mempelajari metode baru untuk saling berbalas dan mengembangkan persahabatan.  

Pembatasan. Lingkungan terapi milieu memiliki berbagai aturan yang membatasi. Aturan-aturan ini konsisten dan dikomunikasikan dengan jelas kepada orang-orang yang terlibat dalam terapi.

Komponen-komponen ini memastikan bahwa orang-orang yang menerima perawatan mengikuti pendekatan perawatan yang serupa. Komponen-komponen ini juga membantu menciptakan lingkungan yang mandiri yang dapat terus mendorong kesehatan mental yang stabil bahkan tanpa kehadiran pengasuh.Manfaat terapy lingkungan.Terapi lingkungan memiliki beberapa manfaat, termasuk: 

Bebas dari sistem konstruksi yang dapat menghalangi pengobatan.

Memberikan dorongan untuk mengadopsi perilaku sehat sambil mencoba keterampilan mengatasi masalah yang baru.

Rasa aman.

Umpan balik langsung dari pengasuh dan komunitas untuk memotivasi kemajuan.

Lingkungan yang mendukung.

 

 

2. Peer pressure (Tekanan rekan sebaya)

Menciptakan tekanan antar rekan yang positif, sehingga dapat memicu perubahan. Jenis jenis peer pressure dapat dikategorikan menjadi beberapa jenis:

Peer Pressure Positif: Mendorong individu untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat, seperti belajar lebih giat, berpartisipasi dalam kegiatan sosial, atau mengadopsi gaya hidup sehat.

Peer Pressure Negatif: Mendorong individu untuk melakukan hal-hal yang berbahaya atau tidak sesuai dengan nilai-nilai pribadi, seperti merokok, menggunakan narkoba, atau melakukan tindakan kriminal.

Peer Pressure Netral: Mendorong individu untuk mengikuti tren atau kebiasaan yang umum di kalangan teman sebaya, seperti gaya berpakaian atau jenis musik yang didengarkan

.Dampak  peer peer pressure 

dapat memiliki dampak yang signifikan terhadap berbagai aspek kehidupan individu:

Kesehatan Mental: Tekanan untuk menyesuaikan diri dapat menyebabkan stres, kecemasan, atau depresi, terutama jika individu merasa tidak nyaman dengan perilaku yang diharapkan.

Perilaku Berisiko: Peer pressure negatif dapat meningkatkan risiko perilaku berbahaya, seperti penggunaan narkoba, alkohol, atau seks bebas.

Prestasi Akademik: Peer pressure positif dapat meningkatkan motivasi belajar dan prestasi akademik, sementara peer pressure negatif dapat menyebabkan penurunan prestasi.

Hubungan Sosial: Peer pressure dapat memengaruhi kualitas hubungan dengan keluarga dan teman.

3. Therapeutic session (Sesi terapi)

Berbagai kerja kelompok untuk meningkatkan rasa percaya diri dan pengembangan pribadi dalam rangka membantu proses pemulihan. Prinsip-Prinsip Dasar CBT. CBT mempunyai beberapa prinsip dasar, yaitu:

CBT didasarkan pada hubungan antara proses kognitif, emosi perasaan, dan perilaku seseorang

CBT merupakan prosedur yang singkat dan terbatas waktu

CBT membutuhkan hubungan terapetik yang kuat dan kerjasama kolaboratif antara terapis dan pasien

Dalam CBT, pasien akan dipandu untuk menemukan sudut pandang berpikir yang baru untuk masalah mereka

CBT dilakukan secara terstruktur, terarah, dan berorientasi pada masalah

CBT sering disusun berdasarkan model pendidikan (memberikan pengetahuan)

CBT mengandalkan metode induktif, pendekatan ilmiah dengan menggunakan logika dan reasoning, dan

Sesi CBT hanya merupakan panduan, pasien tetap harus berlatih sendiri di antara sesi-sesi CBT

CBT berorientasi pada kondisi saat ini dan berfokus pada masalah[1]

Isi Sesi CBT

Sesi-sesi dalam CBT mempunyai tujuan dan isi berikut:

Membantu pasien untuk memulihkan aktivitas hariannya sebagai dasar dan arah terapi secara bertahap

Mendorong pasien untuk mengidentifikasi dan menentang pikiran negatif serta asumsi-asumsi, sehingga pasien mampu menggunakan bukti-bukti yang lebih realistik mengenai apa yang mereka alami

Membantu pasien mengalihkan perhatian dari gejala-gejala fisik dan suasana perasaan negatif yang berhubungan dengan gangguannya

Membantu pasien agar mampu kembali menjalankan aktivitas rutin sehari-hari dan produktif

Menilai kondisi pasien di setiap awal sesi, baik dengan menggunakan instrumen atau skor subyektif oleh pasien. Namun disarankan untuk melakukan monitoring proses dan hasil terapi setiap sesi dengan menggunakan instrumen yang sesuai

Membuat review penugasan minggu sebelumnya pada awal sesi, dan diakhiri dengan penjelasan mengenai penugasan minggu berikutnya, sesuai dengan tahapan setiap

4. Spiritual session (Sesi spiritual)

Proses untuk meningkatkan nilai-nilai dan pemahaman agama serta penerapan dalam kehidupan sehari-hari.Seorang terapis spiritualitas menyediakan layanan yang serupa dengan banyak pemimpin agama, tetapi dengan fokus yang lebih besar untuk mengenal klien dan membentuk hubungan terapeutik (melalui kepercayaan dan mendengarkan dengan empati).

Terapis spiritualitas cenderung holistik dalam praktiknya, berfokus tidak hanya pada spiritualitas tetapi juga pikiran dan tubuh. Mereka dapat membantu klien menemukan keseimbangan dalam hidup, dan terhubung kembali dengan kekuatan yang lebih tinggi (baik itu Tuhan, Semesta, alam, dll.).

Alasan umum lainnya mengapa orang mencari bantuan terapis spiritual adalah ketika mereka bergumul dengan keraguan tentang hubungan mereka dengan kekuatan yang lebih tinggi, spiritualitas, dan/atau agama. Bagi banyak orang, hal ini sering terjadi setelah kehilangan orang terkasih dan kesedihan yang diakibatkannya.

Selain masalah spiritual/keagamaan, orang terkadang menghubungi terapis spiritualitas untuk mengembangkan kode etik pribadi mereka dengan lebih baik.

Yang lain mungkin ingin menyelesaikan perselisihan dalam sistem kepercayaan mereka, dan yang lain mungkin perlu menangani masalah yang berkembang dari pendidikan agama mereka ( trauma agama ).

Selain itu, beberapa orang mencari dukungan spiritual karena kecemasan yang besar terhadap kematian dan proses sekarat. Secara keseluruhan, terapi spiritualitas dapat membantu individu terhubung kembali dengan kehidupan mereka, membangun kembali (atau membangun untuk pertama kalinya) makna dan tujuan hidup, meneguhkan dan mengaktualisasikan keberadaan mereka, dan secara keseluruhan merasa damai.

5. Role modelling (Keteladanan)

Proses pembelajaran dimana seorang residen belajar dan mengajar mengikuti mereka yang sudahTerapi Keteladanan (Modeling/Observational Learning) dalam CBT adalah teknik di mana klien belajar perilaku atau cara berpikir baru yang adaptif dengan mengamati model (bisa terapis, orang lain yang berhasil, atau bahkan video) yang menunjukkan perilaku tersebut secara efektif, membantu klien melihat bahwa perubahan itu mungkin, lalu secara bertahap meniru dan mempraktikkannya untuk mengatasi masalahnya, seperti kecemasan atau depresi. Ini memperkuat prinsip CBT bahwa pikiran dan perilaku bisa diubah, dengan keteladanan menjadi "contoh hidup" dari strategi yang berhasil. Bagaimana keteladanan berfungsui dalam CBT

1.Observasi: Klien mengamati model (terapis, orang lain, atau rekaman) melakukan perilaku yang diinginkan (misalnya, cara mengatasi stres, cara menghadapi situasi sosial).

2.Identifikasi: Klien mengenali pikiran dan perasaan yang menyertai perilaku positif model tersebut (proses kognitif).

3.Imitasi (Peniruan): Klien mencoba meniru perilaku yang diamati dalam sesi terapi (misalnya, latihan relaksasi, restrukturisasi kognitif).

4.Penguatan: Ketika klien berhasil meniru, terapis memberikan penguatan positif, mendorong klien untuk mempraktikkannya di kehidupan nyata. 

Secara garis besar  gambaran umum yang digunakan dalam layanan program rehabilitan napza yang mencangkup banyak profesi, waktu dan hal-hal tekhnis yang menjadi kekhasan individu konselor dalam memberikan pelayanan dalam program.

Penulis: 
Ns.Hendra, S.Kep
Sumber: 
Perawat RSJD dr Samsi Jacobalis

ArtikelPer Kategori