KLEPTOMANIA / GANGGUAN MENGUTIL P

Kata-kata kleptomania seringkali kita dengar dikehidupan sehari-hari. Tidak jarang label kleptomania ini diberikan pada orang yang diketahui berulangkali mengambil barang orang lain tanpa izin atau mencuri seperti misalnya dipesantren, sekolah, dsb. Namun sayangnya istilah tersebut diberikan tidak tepat karena tidak memperhatikan hal-hal lain seperti tujuan, motif dari tindakan itu sendiri. Kleptomania sendiri berbeda dengan mencuri biasa. Pada penderita kleptomania, ia tidak dapat dapat mengendalikan keinginan untuk mencuri dan pada umumnya barang yang diambil bukanlah barang yang berharga dan tidak diperlukan secara pribadi oleh pelaku.

Kleptomania merupakan salah satu bentuk gangguan jiwa yang ditandai dengan perilaku mencuri berulang. Lebih rinci dijelaskan dalam DSM V (2013) bahwa ciri utama dari kleptomania itu adalah kegagalan berulang untuk menahan dorongan mencuri barang meskipun barang tersebut tidak dipergunakan untuk keperluan pribadi ataupun berharga baginya. Pelaku Kleptomania sadar bahwa tindakan yang dilakukan salah, namun ia tidak mampu mengendalikan impuls / dorongan untuk mencuri. Tindakan pencurian yang dilakukan tidak pernah direncanakan sebelumnya, dilakukan sendiri tanpa bantuan oranglain dan bukan sebagai ungkapan kemarahan, balas dendam ataupun sebagai respon dari delusi ataupun halusinasi. Sesaat sebelum melakukan pencurian, pelaku kleptomania akan mengalami ketegangan kemudian merasakan kenikmatan, kepuasan ataupun lega setelah berhasil mencuri barang yang diinginkan. Benda-benda yang dicuri umumnya juga kurang bernilai bahkan pelaku kleptomania mampu membayarnya. Kadang kala barang yang dicuri pun hanya ditimbun, dibuang, diberikan kepada oranglain bahkan diam-diam dikembalikan lagi kepada pemiliknya.
Kejadian kleptomania biasanya muncul pada masa remaja, namun tidak menutup kemungkinan muncul lebih awal dimasa kanak-kanak dan dapat berlanjut hingga dewasa. Kejadian pun lebih banyak ditemui pada perempuan dari pada laki-laki (Grant &Otlaug, 2010). Saat ini diketahui terdapat berbagai penyebab munculnya ganggguan kleptomania. Secara biologis, dijelaskan dalam APA ( Risnawaty, 2021) bahwa terdapat jalur neurotransmitter yang berhubungan dengan perilaku adiksi, termasuk yang terkait dengan sistem serotonin, dopamin, dan opioid yang juga berperan dalam kleptomania. Penurunan serotonin dan peningkatan dopamin mengarah terjadinya kleptomania. Selain itu gangguan pada otak seperti epilepsi dan frontotemporal dementia juga menyebabkan kleptomania. Faktor lain secara psikologis dan sosial juga turut berkontribusi terhadap kemunculan gangguan kleptomania, diantaranya trauma pada masa kanak-kanak, pola pengasuhan orangtua yang kasar dan adanya pengabaian, merasakan sensasi menyenangkan ketika memikirkan akan mencuri karena ketegangan meningkat serta adanya konformitas pada lingkungan pergaulan.
Dalam penanganannya, belum ada obat khusus yang mampu menyembuhkan kleptomania. Namun upaya tetap dilakukan baik melalui psikoterapi maupun pengobatan untuk mengurangi dorongan mencuri pada kleptomania. Psikoterapi yang diberikan pada penderita kleptomania berguna untuk mengetahui permasalahan psikologis yang menjadi pemicu sehingga teknik-teknik yang digunakan disesuaikan. Misalnya pemberian terapi perilaku dan kognitif, mengajarkan relaksasi dan manajemen stres, self - education agar penderita memahami faktor resiko, pemicu serta tindakan yang harus dilakukan, dan lain sebagainya. Namun tidak semua penderita kleptomania mencari tindakan untuk pengobatan, rasa takut serta malu membuat mereka tidak berani mencari bantuan profesional. Hodgins & Peden (2008) menyebutkan banyak penderita kleptomania tidak hadir dalam sesi pengobatan keculi mereka telah diberikan perintah karena tertangkap mengutil. Untuk itu jika anda atau orang yang dikenal dicurigai menderita kleptomania, sebaiknya segera dikonsultasikan ke profesional yang menangani seperti psikiater atau psikolog, karena kelainan ini penting untuk segera ditangani mengingat resiko moral, sosial maupun hukum yang dihadapi penderita kleptomania.
Referensi:
American Psychiatric Association. 2013. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder Edition (DSM-5). Washington: American Psychiatric Publising.

Grant &Otlaug. 2010. Kleptomania. Encyclopedia Of Behavioral Neuroscience. Pg: 118-122. https://doi.org/10.1016/B978-0-08-045396-5.00181-0

Risnawaty, W. 2021. Penatalaksanaan Gangguan Psikologis Ed. 1. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Hodgins, D.C & Peden, N. 2008. Cognitive-behavioral treatment for impulse control disorders. Rev Bras Psiquiatr. 2008;30(Supl I):S31-40

Penulis: 
Mita Octarina, M.Psi., Psikolog
Sumber: 
Piskolog Rumah Sakit Jiwa Daerah

ArtikelPer Kategori