GANGGUAN MENTAL

Gangguan mental (mental disorder) menurut perspektif Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder (DSM) ialah adanya gangguan klinis yang bermakna berupa sindrom atau pola perilaku dan psikologi, gejala klinis tersebut menimbulkan “penderitaan” (distress), antara lain dapat berupa rasa nyeri, tidak nyaman, tidak tenteram, dan disfungsi organ tubuh. Di samping itu, juga menimbulkan gejala “disabilitas” (disability) dalam aktivitas kehidupan sehari-hari yang biasa dan diperlukan untuk perawatan diri dan kelangsungan hidup.

Gangguan mental merupakan bentuk gangguan dan kekacauan fungsi mental (kesehatan mental) yang disebabkan oleh kegagalan bereaksinya mekanisme adaptasi dari fungsi kejiwaan atau mental terhadap stimulus eksternal dan ketegangan-ketegangan sehingga muncul gangguan fungsi atau gangguan struktur pada satu bagian, satu organ, atau sistem kejiwaan.

Gangguan mental itu merupakan totalitas kesatuan daripada ekspresi mental yang patologis terhadap stimulus sosial yang dikombinasikan dengan faktor- faktor penyebab sekunder lainnya.

PENYEBAB GANGGUAN MENTAL

Proses mengenai munculnya gangguan mental (jiwa) dipengaruhi oleh banyak faktor. Pada pembahasan ini gangguan mental dapat terjadi karena tiga faktor yang bekerja sama.

  1. Faktor Biologis

Untuk membuktikan bahwa gangguan mental adalah suatu penyakit seperti kriteria penyakit dalam ilmu kedokteran, para psikiater mengadakan banyak penelitian, di antaranya mengenai perbedaan-perbedaan neurotransmiter, biokimia, anatomi otak, dan faktor genetik yang ada hubungannnya dengan gangguan mental. Gangguan mental sebagian besar dihubungkan dengan keadaan neurotransmiter di otak.

Pembuktian lain menyatakan bahwa gangguan mental merupakan penyakit di dalam studi keluarga. Pada studi ini didapatkan bahwa pada keluarga penderita gangguan efektif, lebih banyak menderita gangguan efektif daripada skizofrenia. Skizofrenia erat hubungannya dengan faktor genetik, tetapi psikosis paranoid tidak hubungannya dengan faktor genetik.

Meskipun beberapa peneliti tidak dapat membuktikan hubungan darah mendukung etiologi genetik, hal ini merupakan langkah pertama yang perlu dalam membangun kemungkinan keterangan genetik. Apabila salah satu orang tua mengalami skizofrenia, kemungkinan 15% anaknya mengalami skizofrenia.

Sementara itu, apabila kedua orang tua menderita, 35–68% anaknya menderita skizofrenia. Kemungkinan skizofrenia meningkat apabila orang tua, anak dan saudara kandung menderita skizofrenia. Pendapat ini didukung oleh Slater (1966), yang menyatakan angka prevalensi skizofrenia lebih tinggi pada anggota keluarga yang individunya sakit dibandingkan dengan angka prevalensi penduduk umumnya.

  1. Faktor Psikologis

Hubungan antara peristiwa hidup yang mengancam dan gangguan mental sangat kompleks, tergantung dari situasi, individu, dan kondisi orang itu. Bergantung juga pada bantuan teman dan tetangga selama periode stres. Struktur sosial, perubahan sosial dan tingkat sosial yang dicapai sangat bermakna dalam peng- alaman hidup seseorang.

Kepribadian merupakan bentuk ketahanan relatif dari situasi interper- sonal yang berulang-ulang yang khas untuk kehidupan manusia. Perilaku yang sekarang bukan merupakan ulangan impulsif dari riwayat waktu kecil, tetapi merupakan retensi pengumpulan dan pengambilan kembali.

Setiap penderita yang mengalami gangguan mental fungsional memperli- hatkan kegagalan yang mencolok dalam satu atau beberapa fase perkembangan akibat tidak kuatnya hubungan personal dengan keluarga, lingkungan sekolah, atau dengan masyarakat sekitarnya. Gejala yang diperlihatkan oleh seseorang merupakan perwujudan dari pengalaman yang lampau, yaitu pengalaman masa bayi sampai dewasa.

  1. Faktor Sosiokultural

Gangguan mental yang terjadi di berbagai negara memiliki perbedaan terutama mengenai pola perilakunya. Karakteristik suatu psikosis dalam suatu sosiokul- tural tertentu berbeda dengan budaya lainnya.

Selain itu, penyebab adanya kekalutan mental (gangguan mental) secara mendalam dikaji oleh ahli terapis. Dalam pikiran manusia itu terdapat suatu energi yang dibedakan dalam dua jenis, yaitu energi positif dan negatif. Energi positif dalam pikiran muncul dan dibentuk oleh suatu kondisi yang mengarah kepada hal-hal yang bersifat positif, seperti cinta kasih, keyakinan, kesadaran, ketenangan, dan kebijaksanaan. Sementara itu, energi negatif dibangun oleh kondisi pikiran yang selalu muncul rasa iri, dengki, serakah, sombong, khawatir, ragu-ragu, egois, putus asa, dan lain-lain. Sifat negatif dan positif yang ada dalam pikiran manusia akan memunculkan suatu energi negatif dan positif yang sangat berpengaruh terhadap kesehatan manusia.

Berdasarkan pemahaman yang berkembang pada dasarnya manusia itu terdiri atas dua elemen dasar, yaitu materi dan batin. Pembentukan unsur materi diawali dengan proses biologis dari pertemuan ovum dan sperma. Dalam perkembangan kedua sel tersebut untuk menjadi manusia, dipengaruhi oleh empat energi, yaitu energi pikiran, perbuatan, makanan, temperatur. Keempat energi tersebut berfungsi untuk mengikat, memengaruhi, membentuk, dan memberi materi yang ada dalam alam ini untuk membentuk tubuh. Keempat energi ini pula yang memengaruhi muncul getaran negatif, positif, dan netral dalam diri manusia.

Apabila kita jatuh sakit, salah satu sebabnya adalah terlalu banyak pikiran manusia yang memproduksi energi negatif. Demikian pula sebaliknya, pikiran yang selalu didasari oleh rasa tenang, kebijaksanaan dan cinta kasih, akan menghasilkan suatu energi positif yang membuat tubuh kita menjadi sehat.

Apabila disimpulkan, sebetulnya ada tiga faktor yang menyebabkan timbulnya kekalutan mental, yaitu

  1. Predisposisi struktur biologis atau jasmaniah dan mental atau kepribadian yang lemah,
  2. Konflik-konflik sosial dan kultural yang memengaruhi diri manusia, dan
  3. Pemaksaan batin (internalisasi) pengalaman yang keliru, yaitu pencernaan pengalaman oleh si subjek yang salah.

Kita mengetahui bahwa dalam hidup manusia itu selalu terdapat konflik, baik konflik terbuka antar manusia maupun konflik batin dalam diri sendiri. Biasanya keduanya dapat diselesaikan oleh individu sendiri, tanpa adanya campur tangan orang luar, juga tanpa menimbulkan ekses gangguan mental. Akan tetapi, ada kalanya persaingan dan konflik itu berlangsung sangat tidak sehat dan terus-menerus sehingga menjadi kronis dan mengganggu ketenangan jiwa. Lalu timbul kekalutan mental yang terpendam dan tertutup, yang sangat serius dan membahayakan kesehatan jiwa penderitanya.

Ada kekalutan jiwa yang menampilkan diri dalam bentuk tingkah laku autistik, dipenuhi rasa panik dan gambaran bahaya-bahaya yang khayali. Pasien lalu mengkhayalkan satu dunia sosial imajiner yang indah, sesuai dengan angan- angannya. Sementara itu, dunia luar tampak semakin gelap dan menakutkan bagi dirinya. Rasanya seperti ingin “menerkam hancur” dirinya. Maka dari itu, sebagai kompensasi dari perasaan-perasaan takut dan curiga, kemudian timbul agresi yang meledak-ledak atau tingkah laku psikotis lain yang sangat membahayakan orang lain dan dirinya sendiri, misalnya dengan jalan membunuh orang lain atau bunuh diri.

Penderita gangguan mental lebih banyak ditemukan di kota besar daripada di desa. Di kota besar, banyak orang yang merasa bingung, ditolak oleh masyarakat, atau merasa terancam oleh macam-macam bahaya. Kemudian timbul rasa anomi, kesunyian, cemas, takut, dan lain-lain yang memunculkan disorganisasi diri, disosiasi, dan disintegrasi diri.

Jumlah penderita kekalutan mental paling banyak terdapat di kalangan orang-orang dewasa dan lanjut usia. Jelas bahwa faktor- faktor sosial serta kultural merupakan penyebab utama kekalutan mental dan penyakitnya. Muncul perasaan isolasi sosial, hilangnya martabat diri dan perasaan tidak dihargai oleh masyarakat. Sementara itu, dengan sedikitnya jumlah anak-anak usia sangat muda yang menjadi psikotis menunjukkan bahwa penyebab gangguan mental sebagian besar adalah faktor kultural dan faktor sosial.

Gejala psikotis banyak terdapat di kalangan anak remaja, puber, serta orang-orang pada usia klimakterium. Hal ini membuktikan bahwa pada usia-usia kritis dan umur tua, pribadi menjadi mudah terganggu jiwanya dan rapuh, mudah patah mental oleh tekanan-tekanan eksternal. Dengan begitu, ada sebab-sebab sosiologis, kultural, dan sosial dari penyakit mental pada periode usia lanjut pada remaja dan usia remaja pada masa tua atau klimakterium.

Di kalangan dinas militer, juga sering ditemukan penyakit kekalutan mental. Ada perasaan tidak atau belum bisa menyesuaikan diri dalam kelompok baru dengan kedisiplinan yang ketat dan suasana yang otoriter. Kemudian timbul kepatahan komunikasi, rasa takut, dan bersalah, serta rasa inferior atau rendah diri. Selain itu, pihak yang juga rentan terkena penyakit kekalutan mental adalah orang-orang dengan status ekonomi rendah dan mata pencaharian sangat minim, namun mempunyai tuntutan sosial dan ambisi materiil tinggi.

Di kalangan para gelandangan dan migran dari desa yang pindah ke kota, yang tidak bisa menyesuaikan diri terhadap tuntutan sosial baru, juga mudah terkena penyakit kekalutan mental. Mereka tidak mempunyai cukup pendidikan dan keterampilan teknis sehingga kalah bersaing di pasaran kerja.

Latar belakang keluarga yang tidak harmonis juga dapat memicu timbulnya penyakit kekalutan mental. Juga orang-orang super ekstrem dan sangat ortodoks serta fanatik terhadap doktrin-doktrin agama dan ide-ide politik, tanpa penggunaan nalar sehat dan pengendalian perasaan, banyak sekali yang menderita kekalutan mental. Dengan tegas dapat dinyatakan bahwa banyaknya penderita gangguan mental merupakan refleksi dari pola-pola konflik yang terdapat dalam masyarakat modern, dan menjadi salah satu epifenomenon (gejala tambahan) modernitas.

Patut diingat bahwa gangguan mental oleh faktor sosial dan kultural yang bersifat eksternal bisa dihindari dengan jalan berikut.

  1. Selalu memelihara kebersihan jiwa.
  2. Menghindari konflik batin yang serius dan konflik dengan lingkungan.
  3. Menegakkan disiplin diri yang ketat.
  4. Berusaha berpikir dan berbuat wajar, tanpa mekanisme pelarian serta pertahanan diri yang negatif.
  5. Berani menghadapi kesulitan dengan nyata dan mau memecahkan kesu- litan dengan perbuatan konkret.

Sumber:  Burlian, P. 2016. Patologi Sosial. PT Bumi Aksara. Jakrta.

Nurhalimah. (2016). Keperawatan Jiwa. Jakarta Selatan: Pusdik SDM Kesehatan

Prabowo, Eko. 2017. Asuhan Keperawatan Jiwa. Semarang: Universitas Diponegoro.

Republik Indonesia. (2014). Undang-Undang No. 18 Tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa. Lembaran Negara RI No. 5571. Jakarta: Sekretariat Negara.

 

Penulis: 
Evirillia, Amd. Kep
Sumber: 
Perawat Rumah Sakit Jiwa Daerah

Artikel

27/11/2021 | Ns. Monalisa, AMK, S.Kep
27/11/2021 | Septia lianti, S.Kep, Ners
27/11/2021 | Tri Nurul Hidayati, S.Kep
27/11/2021 | Boifrida Butar-Butar, S.Kep,Ners
27/11/2021 | Ns.Kristianus Triaspodo, M.Kep, Sp.Kep.J
30/06/2016 | Wieke Erina Ariestya, S.Kep.Ners
10/10/2018 | Emanuel Triwisnu Budi, AMK
02/02/2017 | Muhammad Isnaini.S.Kep

ArtikelPer Kategori