FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBERHASILAN INDIVIDU DALAM MENJALANI REHABILITASI NAPZA/NARKOBA

Penyalahgunaan terhadap narkotika pada kalangan  masyarakat  tentu  membuat  sebagian  besar  kalangan  merasa  khawatir,  dikarenakan  dampak buruk yang ditimbulkan bukanlah masalah kecil. Terjadinya ketergantungan terhadap penggunaan narkotika tentu merupakan salah satu dampak yang ditimbulkan. Hal itu dikarenakan pecandu telah menggunakan  narkotika  secara  teratur  namun  dilakukan diluar dari dosis pengawasan medis. Tingginya tingkat kecanduan pada pengguna narkoba tentu akan berdampak signifikan  terhadap  masa  depan  individu  itu  sendiri, apalagi telah diketahui penyalahgunaan narkotika lebih cenderung berada pada usia-usia produktif.

Adanya rasa sadar mengenai dampak penyalahgunaan  harusnya  dapat  memberikan efek jerah pada individu yang telah ketergantungan  narkotika.  Upaya  pemerintah  untuk  menyelamatkan  para  korban  penyalahgunaan  narkotika  telah  diimplentasikan  oleh  badan narkotika melalui program rehabilitasi. Menurut  Data  Badan  Narkotika  Nasional, Tahun  2014  tercatat  sebanyak  45  Orang  yang  yang  mengikuti  rehabilitasi,  pada  tahun  2015  sebanyak 620 Orang dari angka tersebut kurang lebih 250 orang secara sukarela meminta untuk direhabilitasi selebihnya adalah proses penangkapan.

Pada tahun 2016 terjadi peningkatan  angka  yang  sangat  tinggi  yaitu sebanyak  1200  orang  yang  mengikuti  proses  masa  rehabilitasi,    dan  data  terbaru  sampai  dengan bulan Januari hingga Maret 2017 sebanyak 50 orang. Menurut Badan Narkotika Nasional klasifikasi  residen  yang  berada  pada  proses rehabilitasi pada tahun 2016 sebanyak 735 adalah usia produktif kerja, sedangkan 465 adalah usia produktif yang tidak bekerja dan pada tahun 2019, BNN telah menyelenggarakan layanan rehabilitasi terhadap 13.320 orang dimana melebihi target yang telah diberikan yaitu sebanyak 10.300 orang, dengan rincian yaitu
sebanyak 11.370 orang dengan rehabilitasi layanan rawat jalan dan 1.950 orang rawat inap. Dari
jumlah tersebut yang mengikuti layanan pascarehabilitasi sebanyak 3.404 orang. Melihat angka tersebut tentu merupakan ancaman nyata bagi kita semua jika tidak segera mengambil langkah dan mendorong seorang pecandu untuk segera melakukan rehabilitasi.  Rehabilitasi  bagi  pecandu  adalah  langkah strategis untuk merubah ketergantungan  pada  narkotika  untuk  menjadi  lebih produktif dalam kehidupan.

Program Rehabilitasi merupakan upaya yang dilakukan untuk memulihkan pecandu pada  ketergantungan  narkoba.  Pada  dasarnya  rehabilitasi  adalah  untuk  menyelamatkan  para korban  penyalahguna  agar  tidak  terjerumus  lebih jauh dan dapat terjadi perubahan perilaku dan  psikologis.  Keberhasilan  rehabilitasi  tentu  dipengaruhi oleh beberapa factor utama diantaranya :

1. Motivasi Individu

Motivasi  dapat  diartikan  sebagai  dorongan internal  dan  eksternal  yang  timbul  dalam  diri  manusia yang diindikasikan dengan adanya hasrat  dan  minat  untuk  melakukan  kegiatan, dorongan dan kebutuhan untuk melakukan kegiatan,  harapan dan cita – cita,  penghargaan dan  penghormatan  atas  diri, lingkungan  yang  baik, serta  kegiatan  yang  menarik.  (Darman  Tarmin, 2014:49)

Motivasi adalah “pendorongan“; suatu usaha yang disadari untuk mempengaruhi tingkah  laku  seseorang  agar  tergerak  hatinya  untuk  bertindak  melakukan  sesuatu  sehingga mencapai hasil atau tujuan tertentu, (NgalimPurwanto,  2013:71).  Menurut  Martin Handoko,tahun  2015  ,  motivasi  suatu  tenaga atau faktor yang terdapat di dalam diri manusia, yang menimbulkan,  mengarahkan dan mengorganisasikan  tingkah  lakunya,    Dengan demikian  motivasi  merupakan  dorongan  yang  terdapat  dalam  diri  seseorang  untuk  berusaha mengadakan perubahan tingkah laku yang lebih baik  dalam  memenuhi  kebutuhanya,    (Hasdin Abdullah,  2013: 43).

Perilaku manusia sebenarnya hanyalah cermin  yang  paling  sederhana  dari  motivasi  dasar  mereka.  Agar  motivasi  sesuai  dengan  tujuan, mereka harus ada perpaduan antara motivasi  dan  pemenuhan  kebutuhan  mereka  sendiri dan permintaan dari orang lain. Perilaku manusia  di  timbulkan  atau  di  mulai  dengan adanya motivasi (Supardi  2015:47)

Dalam penjelasannya bahwa  ada  beberapa  indikator  dalam  motivasi  seseorang yaitu:

  1. Keinginan untuk selalu berubah menjadi lebih baik
  2. Harapan dalam keberhasilan
  3. Dorongan untuk terus berusaha

Motivasi merupakan dorongan dan kekuatan dalam  diri  seseorang  untuk  melakukan  tujuan  tertentu yang ingin dicapainya. Pernyataan ahli tersebut,  dapat diartikan bahwa yang dimaksud dengan tujuan adalah sesuatu yang berada diluar diri manusia sehingga kegiatan manusia lebih  terarah  karena  seseorang  akan  berusaha lebih semangat dan giat dalam berbuat. Menurut (Herzberg, 2013),  ada dua jenis faktor yang mendorong seseorang untuk berusaha  mencapai  kepuasan  dan  menjauhkan  diri dari ketidakpuasan. Dua faktor itu disebutnya faktorhigiene (faktor ekstrinsik) dan faktor motivator (faktor intrinsik). Faktor higiene memotivasi seseorang untuk keluar dari ketidakpuasan,    termasuk  didalamnya  adalah pengaruh  antar  manusia,    imbalan,    kondisi lingkungan,  dan sebagainya (faktor ekstrinsik), sedangkan faktor motivator memotivasi seseorang untuk berusaha mencapai kepuasan,  yang termasuk didalamnya adalah achievement, pengakuan,   kemajuan  tingkat  kehidupan,  dsb (faktor intrinsik). Oleh karena itu motivasi dari diri individu itu sendiri sangat mempengaruhi  keberhasilan seseorang saat di rehab sehingga nantinya mereka kembali ke tengah-tengah masyarakat.

2. Dukungan Keluarga

Keluarga  adalah  dua  atau  lebih  dari  dua individu yang tergabung karena pengaruh darah,  pengaruh perkawinan atau pengangkatan  dan  mereka  hidup  dalam  satu rumah tangga,  berinteraksi satu sama lain dan didalam perannya masing-masing menciptakan serta mempertahankan kebudayaan (Friedman,2010).

Sedangkan menurut Ali (2010), keluarga adalah dua atau lebih individu yang bergabung
karena pengaruh darah, perkawinan dan adopsi dalam satu rumah tangga, yang berinteraksi satu dengan lainnya dalam peran dan menciptakan serta mempertahankan suatu budaya.
Pada hakekatnya keluarga diharapkan mampu berfungsi untuk mewujudkan proses pengembangan timbal balik rasa cinta dan kasih sayang  antara  anggota  keluarga,    antar  kerabat,    serta  antar  generasi  yang  merupakan  dasar  keluarga  yang  harmonis  (Abdul  Kadir,  2011). Di dalam menjalankan Rehabilitasi Napza peran keluarga merupakan faktor penting dalam keberhasilan rehabilitasi korban penyalahgunaan napza (narkotika, psikotropika, dan zat adiktif), Dukungan keluarga terhadap pecandu merupakan formulasi yang sangat baik dikarenakan dengan mendapatkannya dukungan yang tinggi akan memberikan dampak yang besar pada residen untuk membantu proses pemulihan. Dukungan atau support keluarga sangatlah dibutuhkan dalam proses keberhasilan rehabilitasi, tanpa adanya dukungan keluarga tentu akan menghambat masa pemulihan seorang pecandu narkoba.

Keluarga juga diharapkan dapat menjadi role model bagi keluarganya yang tersandung narkoba, dengan mengajarkan kepada mereka untuk berperilaku yang normative, yaitu :

  1. Primary prevention : pencegahan yang dilakukan kepada orang belum parah
    menggunakan narkoba dengan menegaskan bahwa mereka bisa saja menjadi
    pecandu apabila tidak berhati-hati.
  2. Secondary prevention : pencegahan kepada orang-orang yang pernah menggunakan narkoba sekali-kali, namun belum belum menjadi ketergantungan agar tidak tambah jatuh.
  3. Tertiary  prevention  :  pencegahan  yang  dilakukan  kepada  orang  yang  telah ketergantungan (rehabilitasi) dengan menegaskan mengenal bagaimana agar tidak relapse (proses kejatuhan kembali) dan kembali menjadi ketergantungan.

Dan pada akhirnya peran keluarga adalah first opinion change dalam proses penyembuhan pasien penyalahgunaan narkoba. Sebab keluarga akan menyediakan berbagai macam perhatian tersendiri selama proses rehabilitasi berlangsung. Dengan diberikannya perhatian yang intens maka akan dapat membendung stigma yang acapkali menjadi persoalan tersendiri bagi pasien yang sedang menjalankan rehabilitasi. Adanya stigma sosial acapkali mengakibatkan pecandu narkoba merasa kehilangan status, dibedakan dan diasingkan dari keikutsertaannya dalam masyarakat. Stigma negatif tadi pun mengakibatkan para pengguna menjadi malu sehingga tak mau untuk menjalani tahapan rehabilitasi narkoba. Sebab itulah, support dari keluarga adalah jalan keluar untuk mengembalikan keyakinan diri para pemakai narkoba yang ingin sembuh. Berkat tersedianya support dari keluarga maka dampak jangka panjangnya yaitu menurunnya jumlah pecandu sehingga akan terwujud Indonesia yang bebas narkoba, rakyat sehat dan makin produktif.

3. Lingkungan Sosial

Lingkungan  sosial  merupakan  salah  satu faktor yang dapat mempengaruhi seseorang atau kelompok untuk dapat melakukan sesuatu tindakan  serta  perubahan-perubahan  perilaku setiap  individu.  Lingkungan  sosial  yang  kita kenal antara lain lingkungan keluarga, lingkungan teman sebaya,  dan lingkungan tetangga. Keluarga merupakan lingkungan sosial  yang  pertama kali  dikenal  oleh  individu sejak lahir. Ayah,  ibu,  dan anggota keluarga, merupakan lingkungan sosial yang secara langsung berpengaruh dengan individu, sedangkan masyarakat adalah lingkungan sosial  yang  dikenal  dan  yang  mempengaruhi pembentukan  kepribadian  seseorang yang  salah satu diantaranya adalah teman sepermainan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa lingkungan sosial merupakan wadah atau sarana untuk berinteraksi dengan orang lain dan membentuk sebuah pribadi serta mempengaruhi tingkah laku seseorang. Oleh karena itu lingkungan sosial yang baik akan mempengaruhi pribadi atau perilaku seseorang
itu menjadi baik pula.

Dalam menjalankan rehabilitasi napza, peran masyarakat sangat dibutuhkan agar para mantan pecandu narkoba tidak kembali kambuh atau relapse menggunakan narkoba. Beberapa hal yang bisa dilakukan masyarakat dalam rehabilitasi napza terhadap mantan pecandu di antaranya:

1. Berikan Dukungan

Lepas dari ketergantungan narkoba adalah perjuangan berat yang harus ditempuh pecandu untuk bisa sembuh. Maka dari itu dukungan dari masyarakat sangat diperlukan. Bantulah mereka saat membutuhkan pertolongan dan dengarkan saat ia ingin bercerita atau 'curhat'.

2. Tunjukkan Empati

Ingatlah bahwa mantan pecandu juga manusia yang berhak mendapatkan kesempatan kedua. Terimalah mantan pecandu yang sungguh-sungguh ingin sembuh dengan tangan terbuka, tanpa menghakimi dan menyudutkan perilaku mereka di masa lalu. Tunjukkan bahwa Anda ada untuk mereka. Jika mereka adalah orang terdekat kita, maka jadilah teman terbaik untuk mereka dan ajak untuk sering beraktivitas positif.

3. Hapus Stigma Negatif

Stigma negatif bisa mempersulit mantan pecandu untuk diterima masyarakat. Selain itu, juga akan menempatkan psikologi mantan pecandu dalam kondisi tertekan, sehingga memicu mereka kembali ke lingkungan lama dan menjerumuskan kembali ke narkoba. Singkirkan sejenak stigma negatif dan bantu mereka dengan hal-hal positif yang membangun.

 

Sumber :

https://ashefagriyapusaka.co.id/pentingnya-dukungan-keluarga-bagi-pemulihan-pecandu-narkoba/

https://bnn.go.id/konten/unggahan/2019/12/DRAFT-LAMPIRAN-PRESS-RELEASE-A...

https://bnn.go.id/pengaruh-lingkungan-hidup-dalam-pemulihan-mantan-pecandu-narkoba/

Jurnal Mirai Management, Volume 1 Nomor 2, Oktober 2016

https://www.liputan6.com/news/read/4688498/3-peran-penting-masyarakat-da...

Penulis: 
Yunhar Nursaleh, S. Kep, Nes
Sumber: 
Perawat Rumah Sakit Jiwa Daerah

Artikel

27/11/2021 | Ns. Monalisa, AMK, S.Kep
27/11/2021 | Septia lianti, S.Kep, Ners
27/11/2021 | Tri Nurul Hidayati, S.Kep
27/11/2021 | Boifrida Butar-Butar, S.Kep,Ners
27/11/2021 | Ns.Kristianus Triaspodo, M.Kep, Sp.Kep.J
30/06/2016 | Wieke Erina Ariestya, S.Kep.Ners
10/10/2018 | Emanuel Triwisnu Budi, AMK
02/02/2017 | Muhammad Isnaini.S.Kep

ArtikelPer Kategori