FAKTOR YANG MEMENGARUHI PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN ANAK

Setiap makhluk hidup yang ada didunia ini mengalami namanya pertumbuhan, termasuk manusia. Pertumbuhan dan perkembangan yang terjadi baik secara anatomi maupun secara psikologis setiap manusia berbeda. Perbedaan terjadi disebabkan oleh beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan manusia tersebut.

Anak-anak merupakan wujud pertumbahan dan perkembangan dari manusia. Manusia normal mengalami perkembanganan dan pertumbuhan pada setiap fase kehidupan manusia. Diamana fase kehidupan manusia mulai dari kandungan, bayi, balita, anak-anak, remaja, dewasa muda, dewasa, tua, lansia dan meninggal dunia. Pada fase anak-anak manusia mengalami pertumbuhan dan perkembangan, baik secara anatomi maupun psikologis anak.

Dalam perjalanannya pertumbuhan dan perkembangan anak tidak selamanya sesuai dengan pengharapan manusia. Terbukti dikehidupan, pertumbuhan dan perkembangan anak sangat bervariasi sesuai dengan adanya faktor yang memengaruhinya. Sehingga terdapat perbedaan pada setiap anak, baik secara anatominya mapun psikologinya.

Faktor yang memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak sangat banyak diungkapkan, diantaranya faktor mikrokosmos, faktor makrokosmos, serta faktor keberhasilan atau kegagalan pertumbuhan perkembangan sebelumnya. Dalam mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak semua berinteraksi secara dinamis.

A. Fakto. r Mikrokosmos

Faktor mikrokosmos merupakan faktor yang ada dalam diri anak, seperti kondisi genetika dan berbagai masalah intrauterin. Keadaan genetika ditentukan oleh komposisi kromosom yang akan mempengaruhi identitas gender, kecenderungan perlakuan berikutnya, dan pewarisan sifat orang tuanya. Permasalahan yang terkait intrauterin meliputi usia (ibu atau janin), nutrisi, obat-obatan yang dikonsumsi ibu, radiasi, dan berbagai komplikasi kehamilan lainnya

Kondisi Genetika

1. Komposisi Kromosom (XX, XY, XXY, XYY)

Pertumbuhan dan perkembangan komposisi kromosom XX akan menjadi seorang pria dengan berbagai sifatnya. Sejak bayi lahir orang tua sudah mengenalkan sifat gender ini, terkadang bahkan sebelum bayi lahir. Saat melakukan stimulasi pertumbuhan dan perkembanganpun disesuaikan dengan sifat gender yang ada. Pertumbuhan dan perkembangan komposisi kromosom XY akan menjadi sorang wanita dengan berbagai sifatnya. Pertumbuhan dan perkembangan komposisi kromosom terkadang ditemukan komposisi kromosom XXY atau XYY. Dengan adanya keadaan ini akan menentukan pilihan seandainya terjadi kebingungan peran antara pria atau wanita. Untuk melakukan penentuan didasarkan pada organ reproduksi yang lebih dominan. Tindakan operasi kejelasan kelamin (pria atau wanita) ditentukan berdasarkan organ reproduksi dominan yang dimiliki, sehingga identitas gender dapat ditentukan.

2. Identitas Gender

Yang dimaksud dengan Identitas gender ialah ciri sifat yang ditentukan oleh komposisi kromosom pria atau wanita. Kearifan lokal budaya orang tua membangun ciri sifat gender. Penduduk Indonesia menghendaki pria harus maskulin, tidak boleh cengeng, harus bertanggung jawab, bertugas mencari nafkah, mengayomi, dan melindungi seluruh anggota keluarganya. Melalui jenis permainan (bola, robot, mobil-mobilan, atau sejenisnya) dan imitasi peran ayah, merupakan pembelajaran awal pada anak pria.

Sedang wanita dituntut lebih feminim, memperhatikan penampilan, tidak boleh bicara keras, berjalan harus lemah lembut, serta bertugas memelihara anak dan seluruh anggota keluarganya. Melalui jenis permainan (boneka, bunga, alat masak) dan imitasi peran ibu, pembelajaran yang ditampilkan.

3. Kecenderungan Perlakuan

Bentuk perlakuan yang ditampilkan orang tua dan anggota keluarganya terkait kondisi anak merupakan kecenderungan perlakuan. Orang tua dan lingkungan sekitarnya cenderung memperlakuan lebih baik anak yang cantik; manis; ganteng; penurut; patuh pada orang tua dari pada anak yang jelek, bawel, dan tidak bisa diatur.

Citra anak sebagai anak yang baik atau buruk terbentuk dari kecenderungan perlakuan orang tua dan lingkungan sekitar. dengan Keadaan yang ada dapat memberikan stimulasi pertumbuhan dan perkembangan berikutnya.

4. Mewariskan Sifat

Disampaikan melalui komposisi kromosom kedua orang tua mulai saat pembuahan sampai perkembangan pembelahan berikutnya sifat orang tua diwariskan kepada anak. Memungkinkan terjadi penyimpangan sifat yang akan diwariskan saat proses berlangsung. Belum tentu anak akan sama persis dengan orang tuanya, meskipun ada sifat kedua orang tua yang diwariskan. Pewarisan sifat melalui cara proses canalisasi, nice picking, dan range reaction.

  1. Canalisasi

Yang dimaksud dengan Canalisasi ialah salah satu cara pewarisan sifat secara langsung dari orang tua terhadap anak. Melalui sifat genetika dominan antara ayah atau ibu dengan demikian, sifat anak nyaris sama dengan ayah atau ibunya.

  1. Nice Picking

Nice picking merupakan pewarisan sifat melalui kecenderungan anak untuk meniru (imitasi) sifat ayah atau ibunya. Kecenderung anak memilih sifat yang sesuai dirinya yang dipelajari dari berbagai aturan orang tua yang cocok dan sesuai dengannya. Sifat yang menyenangkan dari salah satu orang tuanya akan dikembangkan anak.

  1. Range Reaction

Sedangkan range reaction merupakan pewarisan sifat yang terkadang sifat kedua orang tuanya ada tampak pada anak. Suwaktu-waktu akan muncul sifat anak seperti sifat orang tuanya. Seperti saat marah, sama persis dengan sifat ayahnya atau ibunya. Ketika sedang menangis sama persis dengan sifat ibunya. Karakteristik dan sifat individu dapat saja dikembangkan sendiri, tetapi ia tidak akan pernah keluar bounder atau range dari sifat ayah atau ibunya yang diturunkan.

Masalah Intrauterin

Pertumbuhan dan perkembangan anak dapat dipengaruhi oleh masalah dalam kandungan. Masalah dalam kandungan antara lain usia (baik ibu maupun usia janin), nutrisi ibu selama hamil, berbagai obat yang konsumsi ibu selama hamil, radiasi, atau adanya komplikasi kehamilan atau persalinan. Masalah dalam kandungan juga merupakan faktor mikrokosmos yang akan memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan  anak selanjutnya.

B. Faktor Makrokosmos

Faktor makrokosmos yang dimaksud merupakan faktor luar dari anak yang juga akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangannya. Yang termasuk ke dalam faktor tersebut meliputi pola asuh yang dilakukan orang terdekat (orang tua, keluarga, teman) dan lingkungannya.

Orang Terdekat

Orang terdekat anak yang dimaksud adalah orang tua, keluarga, dan teman, dimana mereka tanpa disadari lebih sering mendidik anak untuk seperti keinginannya. Seorang anak diharapkan menjadi seperti dirinya baik cara hidup, dan strategi menghadapi kehidupan yang diajarkan berdasarkan pengalaman mereka. Sementara zaman sudah berbeda, sehingga memungkinkan adanya beda tantangan. Strategi menghadapi kehidupan diharapkan tidak terpaku pada setrategi lama semata, namun mengajarkan strategi kehidupan yang akurat untuk menghadapi tantangan pada zamannya anak.

Figur ibu (Mother Figure), seorang anak biasanya akan menjadikan sosok seorang ibu menjadi figur dalam kehidupannya. Berikanlah contoh kepada anak, bagaimana tugas seorang ibu dalam mengatur seluruh kehidupan keluarga, serta memberikan asuhan pada anak dan seluruh anggota keluarga. Tanamkan rasa bangga pada anak terhadap kinerja ibunya, sehingga anak akan mempelajari dan menginginkan sifat ibu berkembang dalam dirinya untuk menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Figur ayah (Father Figure), figur seorang ayah perlu juga diajarkan kepada anak, agar anak tau bagaimana seharusnya seorang ayah mengatur dan memenuhi kebutuhan hidup untuk seluruh anggota keluarganya. Tanamkan pada anak rasa bangga dengan perilaku ayahnya. Sehingga anak akan bangga menjadi bagian keluarga dan akan meneruskan perjuangan keluarga sesuai pola asuh yang diterimanya. Anak jangan sampai mengalami kebingungan peran karena tidak jelasnya perilaku orang tua dalam kehidupan keluarga.

Lingkungan

Keadaan lingkungan dengan berbagai macam menuntut anak mampu beradaptasi, serta membandingkan dengan ajaran yang telah diperoleh atau dipelajari dari rumah untuk dikembangkan dalam lingkungan sosial. Lingkungan sendiri merupakan mediator dan fasilitator dalam pembentukan perilaku anak. Dalam menjalani kehidupan anak dapat belajar kehidupan melalui asosiasi, konsekuensi, atau observasi.

Anak Belajar dari Pergaulan (Learning By Association Atau Conditioning).

Keadaan atau kondisi kehidupan yang kita jalani dapat mengajarkan bagaimana seharusnya kita beradaptasi. Manusia diciptakan Tuhan dalam bentuk yang paling sempurna, dimana manusia merupakan pemimpin (khalifah) di muka bumi ini. Manusia akan mempelajari keadaan kehidupan agar tetap bertahan dan melanjutkan (survive) kehidupan.

Anak Belajar dari Konsekuensi (Learning By Consequences) atau Sebab Akibat

Salah satu cara manusia beradaptasi dengan kehidupan dapat terjadi karena sebab akibat. Salah satu contoh, terjadi kejadian yang menyebabkan trauma terjadi pada keluarga dimana seorang ibu terjatuh akibat adanya tumpahan air dilantai dapur, kemudian salah satu anggota keluarga segera membersihkan air dilantai agar tidak terjadi hal serupa. Dengan adanya kejadian itu seorang anak akan mengingatnya bila ada tumpahan air dilantai anak akan segera membersihkan, karena takut kejadian serupa terulang kembali. Perilaku yang berkembang pada anak adalah dengan mencontoh kejadian yang anak alami.

Anak Belajar dari Observasi/Melihat (Learning By Observation/Watching) atau Mencontoh

Pembelajaran perilaku yang diperoleh anak dengan menganalisis, mencontoh atau melihat perilaku orang lain. Biasanya anak melihat atau mencontoh idola yang dikagumi, seperti orang tua, tokoh agama, pemimpin negara, artis, dan idola-idola anak yang lainya. Mencontoh perilaku yang baik diharapkan dalam pertumbuhan dan perkembangan anak, namun mencontoh perilaku negatif yang hsrus dihindarkan dari anak.

Maka penting sekali pembelajaran perilaku anak didalam keluarga sebelum anak belajar pada lingkungan, karena keluarga merupakan tempat yang pertama dan utama dalam proses sosialisasi anak.

 

 

Sumber: Depkes RI, Direktorat Kesehatan Jiwa. 1996. Pedoman Perawatan Psikiatri. Jakarta.

Depkes RI, Direktorat Kesehatan Jiwa. 1998. Buku Standar Keperawatan Kesehatan Jiwa dan Penerapan Standar Asuhan Keperawatan pada Kasus di RSJ dan RS Ketergantungan Obat. Jakarta.

Maramis, W.F. 2010. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya: Airlangga University Press.

Ogden, J. 2007. Health Psychology a Textbook, 4th Edition. Inggris: Open University Press.

Yusuf, dkk. 2015. Buku Ajar Keperawatan Kesehatan Jiwa. Penerbit Salemba Medika. Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Penulis: 
Riski Melinda, Amk
Sumber: 
Perawat Rumah Sakit Jiwa Daerah

Artikel

10/08/2022 | Ns. Mahmudah AMK, S. Kep.
18/07/2022 | Riski Melinda, Amk
18/07/2022 | Ns.Karmila,AMK.,S.Kep.

ArtikelPer Kategori