DEVIASI TINGKAH LAKU

Manusia diciptakan di dunia ini dengan berbagai macam karakter dan tingkah laku yang berbeda-beda. Tingkah laku yang diciptakan manusi, normalnya akan memberikan dampak kebaikan, namun tingkah laku manusia dapat menyebabkan permasalahan bila tingkah laku itu menyimpang pada normanya.

Tingkah laku yang menyimpang dari kecenderungan umum atau karakteristik rata-rata kebanyakan dari masyarakat disebut dengan deviasi atau penyimpangan. Sementara itu, diferensiasi diartikan sebagai tingkah laku yang berbeda dari tingkah laku umum. Misalnya, kejahatan adalah semua bentuk tingkah laku yang berbeda dan menyimpang dari ciri-ciri karakteristik umum, bertentangan dengan hukum atau melawan peraturan yang legal. Sementara itu, kejahatan itu sendiri mencakup banyak variasi tingkah laku dan sangat heterogen sifatnya serta bisa dilakukan oleh pria, wanita, anak-anak, orang tua, remaja, ataupun anak kecil.

Deviasi tingkah laku (behavioral) menurut tipenya dapat dibedakan menjadi personal dan sosial. Sementara itu, menurut aspeknya dapat dibedakan menjadi yang tampak (overt) dan yang tidak tampak (covert).

Deviasi tingkah laku, artinya penyimpangan tingkah laku yang sering kali disebut juga dengan istilah abnormal atau mal- adjusted. Untuk mengetahui tingkah laku abnormal atau maladjusted atau yang menyimpang sudah barang tentu harus mengetahui tingkah laku yang normal, yang telah disinggung sebelumnya. Hal yang dijadikan patokan ialah norma sosial. Norma sosial ini tergantung pada waktu dan tempat, status usia, jenis kelamin, serta kelas sosial.

Norma sosial ialah batas-batas dari berbagai tingkah laku yang secara jelas (eksplisit) atau samar (implisit) dimiliki atau dikenal secara retrospektif oleh anggota-anggota suatu kelompok, komunitas, atau masyarakat. Retrospektif berarti sebagian besar orang tidak menyadarinya, dan norma itu baru disadari apabila dilanggar atau disadari secara proyektif.

Tingkah Laku Normal dan Menyimpang dari Norma Sosial

Tingkah laku normal ialah tingkah laku yang serasi, tepat, dan wajar yang bisa diterima oleh masyarakat pada umumnya. Tingkah laku pribadi yang normal ialah perilaku yang sesuai dengan pola kelompok masyarakat tempat dia berada, sesuai pula dengan norma-norma sosial yang berlaku pada saat dan tempat itu sehingga tercapai relasi personal dan interpersonal yang memuaskan.

Pribadi yang normal itu secara relatif dekat dengan integrasi jasmaniah dan rohaniah yang ideal. Kehidupan psikisnya bersifat stabil, tidak banyak konflik internal (konflik batin) serta lingkungan (batinnya tenang, imbang dan jasmaniahnya merasa sehat selalu).

Tingkah laku abnormal atau menyimpang ialah tingkah laku yang tidak normal, serta tidak bisa diterima oleh masyarakat pada umumnya dan tidak sesuai dengan norma sosial yang ada. Banyak sosiolog menyamakan tingkah laku yang menyimpang dengan tingkah laku abnormal atau maladjusment (tidak mampu menyesuaikan diri). Pribadi yang abnormal itu pada umumnya jauh daripada status integrasi, baik secara internal dalam batin sendiri maupun secara eksternal dengan lingkungan sosialnya. Pada umumnya, mereka itu terpisah hidupnya dari masyarakat, sering didera oleh konflik batin, dan tidak jarang dihinggapi gangguan mental.

Norma adalah kaidah, aturan pokok, ukuran, kadar atau patokan, yang diterima secara utuh oleh masyarakat, guna mengatur kehidupan dan tingkah laku sehari-hari agar hidup ini terasa aman dan menyenangkan. Dalam masyarakat primitif yang terisolasi dan sedikit jumlahnya, serta masyarakatnya relatif terintegrasi dengan baik, norma-norma untuk mengukur tingkah laku menyimpang atau abnormal itu terindikasi jelas dan tegas.

Tingkah laku menyimpang itu sendiri mudah dibedakan dengan tingkah laku normal pada umumnya. Akan tetapi, dalam masyarakat urban di kota- kota besar dan masyarakat teknologi industri yang serba kompleks dengan macam-macam budaya yang selalu berubah, norma-norma sosial yang dipakai sebagai standar untuk mengukur tingkah laku orang yang “normal” serta “abnormal” itu menjadi tidak jelas. Dengan kata lain, konsep tentang normalitas dan abnormalitas menjadi sangat samar. Kebiasaan-kebiasaan, tingkah laku, dan sikap hidup orang normal oleh suatu kelompok masyarakat bisa dianggap sebagai abnormal oleh kelompok lainnya. Hal yang dianggap sebagai normal oleh beberapa generasi sebelum kita bisa dianggap abnormal pada saat sekarang.

Norma merupakan simbol dari loyalitas ideologis dan simbol dari afiliasi terhadap kelompok-kelompok tertentu. Norma itu bisa bersifat institusional atau formal, juga noninstitusional atau sosial (norma umum). Norma juga bisa bersifat positif, yaitu mengharuskan, menekan, atau kompulsif sifatnya.

Sebaliknya norma juga bisa bersifat negatif, yaitu melarang sama sekali, menjadikan tabu, dilarang menjamah, atau melakukannya karena diliputi ke- kuatan gaib yang lebih tinggi. Bisa juga berupa larangan-larangan dengan sanksi keras, hukuman atau tindak pengasingan. Khususnya terhadap tingkah laku menyimpang yang provokatif dan merugikan hak serta hak istimewa orang banyak, diberikan sanksi keras berupa hukuman atau pengasingan oleh orang banyak. Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa tingkah laku deviatif atau menyimpang itu dicap dan ditentang dengan tegas secara kultural oleh umum di satu tempat dan pada satu waktu tertentu.

Unsur Tingkah Laku yang Menyimpang

Ciri-ciri tingkah laku yang menyimpang itu bisa dibedakan sebagai berikut.

  1. Aspek lahiriah, yang bisa kita amati dengan jelas. Aspek ini bisa dibagi dalam dua kelompok, yakni:
  1. Deviasi lahiriah verbal dalam bentuk: kata makian, bahasa slang (bahasa tidak resmi), kata-kata yang tidak senonoh dan cabul, sumpah serapah, dialek dalam dunia politik dan dunia kriminal, ungkapan sandi, dan lain-lain. Misalnya, penamaan “singa” untuk tentara, “serigala” untuk polisi, “kelinci” untuk orang-orang yang bisa dijadikan mangsa (di- rampok, dicopet, atau digarong), dan seterusnya;
  2. deviasi lahiriah nonverbal dalam bentuk tingkah laku, yaitu semua tingkah laku nonverbal yang nyata terlihat.
  1. Aspek simbolik yang tersembunyi. Aspek-aspek ini khususnya mencakup sikap-sikap hidup, emosi, sentimen, dan motivasi yang mengembangkan tingkah laku menyimpang. Dalam hal ini, berupa mens rea (pikiran yang paling dalam dan tersembunyi), atau berupa iktikad kriminal di balik semua aksi kejahatan dan tingkah laku menyimpang. Hendaknya selalu diingat bahwa sebagian besar dari tingkah laku penyimpangan, misalnya kejahatan, pelacuran, kecanduan narkotika dan lain-lain itu bersifat tersamar dan tersembunyi, tidak nyata atau bahkan tidak bisa diamati (dalam dunia sufi disebut dengan penyakit hati).

Dari proses simbolisasi ini, yang paling penting ialah simbolisasi atau penamaan diri. Beberapa penulis menamakan simbolisasi diri itu sebagai pendefinisian diri, peranan diri, atau konsepsi diri. Anak-anak yang tumbuh dan berkembang di tengah-tengah lingkungan sosial yang kriminal dan asusila, mudah sekali mewarisi moral yang buruk dari masyarakatnya. Kontak sosial ini menanamkan dan mencamkan konsepsi mengenai nilai-nilai moral dan kebiasaan bertingkah laku buruk, baik secara sadar maupun tidak sadar.

Kelompok-kelompok bermain sejak masa kanak-kanak dan masyarakat setempat yang kriminal dan amoral secara perlahan-lahan membentuk tradisi, hukum, dan kebiasaan tertentu sehingga anak-anak secara otomatis terkondisi untuk bertingkah laku kriminal dan asusila. Bahkan ada proses “penamaan diri” dan simbolisasi diri sebab dirinya dilambangkan dan dipersamakan dengan tokoh- tokoh penjahat tertentu yang disanjunginya. Konsep-konsep asusila yang umum berlaku dalam lingkungannya itu pindah secara otomatis. Lalu dijadikan “milik” atau “konsep hidupnya”. Oleh karena itu, berlangsunglah proses konsepsi diri sesuai dengan kondisi dan situasi lingkungannya.

Proses konsepsi diri atau simbolisasi diri ini pada umumnya berlangsung tidak sadar dan berangsur perlahan-lahan. Akibatnya, berlangsunglah proses sosialisasi tingkah laku menyimpang pada diri anak sejak usia sangat muda sampai remaja dan dewasa. Berlangsung pula pembentukan pola tingkah laku deviasi yang progresif sifatnya, yang kemudian dirasionalkan secara sadar untuk kemudian dikembangkan menjadi kebiasaan-kebiasaan patologis yang menyimpang dari pola tingkah laku umum.

Macam-Macam Deviasi Tingkah Laku dan Lingkungannya

Deviasi atau penyimpangan tingkah laku itu bisa bersifat tunggal, misalnya hanya kriminal saja dan tidak alcoholic atau hanya mencandu bahan-bahan narkotika. Akan tetapi, juga bisa jamak sifatnya, misalnya seorang wanita tuna susila sekaligus juga pelaku kriminal. Jadi, ada kombinasi dari beberapa tingkah laku menyimpang. Contoh lainnya, sudah kriminal, penjudi besar, alkoholik, sekaligus juga asusila secara seksual.

Deviasi ini dapat kita bedakan dalam tiga kelompok berikut:

  1. Individu dengan tingkah laku yang menjadi “masalah” merugikan dan destruktif bagi orang lain, tetapi tidak merugikan diri sendiri.
  2. Individu dengan tingkah laku menyimpang yang menjadi “masalah” bagi diri sendiri, tetapi tidak merugikan orang lain.
  3. Individu dengan deviasi tingkah laku yang menjadi “masalah” bagi diri sendiri dan bagi orang lain.

Hal yang jelas adalah deviasi tingkah laku itu tidak pernah berlangsung dalam isolasi, sui generis (unik khas satu-satunya dalam jenisnya), dan dalam keadaan vakum. Akan tetapi, selalu berlangsung dalam satu konteks sosio kultural dan antarpersonal. Jadi, sifatnya bisa fisiologis, psikis, interpersonal, antarpersonal, dan kultural. Sehubungan dengan lingkungan sosio kultural, deviasi tingkah laku ini dapat dibagikan menjadi sebagai berikut.

a.    Deviasi Individual

Deviasi individual merupakan deviasi yang berasal dari gejala personal, pribadi, atau individual, ditimbulkan oleh ciri-ciri yang khas unik individu itu sendiri, yaitu berasal dari anomali-anomali (penyimpangan dari hukum, kelainan-kelainan), variasi biologis, dan kelainan psikis tertentu, yang sifatnya herediter ada sejak lahir. Kelainan ciri tingkah laku bisa juga disebabkan oleh penyakit dan kecelakaan. Jika tidak ada diferensiasi biologis, deviasi-deviasi itu pastilah disebabkan oleh pengaruh sosial dan kultural yang membatasi dan merusak kualitas-kualitas psiko-fisik individu.

b.    Deviasi Situasional

Deviasi jenis ini disebabkan oleh pengaruh bermacam-macam kekuatan situasional atau sosial di luar individu, serta pengaruh situasi yang membuat pribadi yang bersangkutan menjadi bagian integralnya. Situasi tadi memberi- kan pengaruh yang memaksa sehingga individu tersebut terpaksa melanggar peraturan dan norma-norma umum atau hukum formal. Misalnya, karena anak dan istri hampir mati kelaparan dan tidak ada jalan lain untuk mendapatkan bahan makanan, kecuali dengan cara mencuri sehingga yang bersangkutan memilih mencuri, jadilah ia seorang penjahat situasional.

c.    Deviasi Sistematis

Deviasi sistematis itu pada hakikatnya adalah satu subkultur atau satu sistem tingkah laku yang disertai organisasi sosial khusus, status formal, peranan, nilai-nilai, rasa kebanggaan, norma, dan moral tertentu yang semuanya berbeda dengansituasi umum.

Sumber:  Burlian, P. 2016. Patologi Sosial. PT Bumi Aksara. Jakrta.

Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Pasal 282 dan 283 tentang Kejahatan terhadap Kesusilaan.

Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Pasal 532 tentang Pelanggaran Kesusilaan. UU No. 22 Tahun 1954 tentang Undian.

UU No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. UU No. 44 Tahun 2008 tentang Pornografi.

 

 

Penulis: 
ANGGA KUSUMA, AMK
Sumber: 
Perawat Rumah Sakit Jiwa Daerah

Artikel

27/11/2021 | Ns. Monalisa, AMK, S.Kep
27/11/2021 | Septia lianti, S.Kep, Ners
27/11/2021 | Tri Nurul Hidayati, S.Kep
27/11/2021 | Boifrida Butar-Butar, S.Kep,Ners
27/11/2021 | Ns.Kristianus Triaspodo, M.Kep, Sp.Kep.J
30/06/2016 | Wieke Erina Ariestya, S.Kep.Ners
10/10/2018 | Emanuel Triwisnu Budi, AMK
02/02/2017 | Muhammad Isnaini.S.Kep

ArtikelPer Kategori