DAMPAK RE-ADMISI PASIEN GANGGUAN MENTAL BERAT

Pengertian Re-admisi Gangguan Mental Berat

Gangguan mental berat merupakan gangguan jiwa yang terdiri dari skizofrenia, bipolar, gangguan depresi berat dengan psikosis, serta psikosis akut dan sementara yang memerlukan stabilisasi intensif. 

Re-admisi merupakan kondisi dimana pasien gangguan mental berat (gangguan jiwa) mengalami rawat inap kembali dalam jangka waktu singkat atau kurang dari 30 hari setelah keluar dari perawatan akut rumah sakit. Selain itu, Re-admisi merupakan masuknya kembali pasien ke rumah sakit dalam periode tertentu setelah keluar dari perawatan sebelumnya, dalam konteks pasien jiwa hal ini bisa jadi sebagai penanda kekambuhan. 

Re-admisi sendiri merujuk kepada Implementasi Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang menerapkan sistem kendali mutu dan biaya pelayanan bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas jaminan kesehatan dengan prinsip managed care. Re-admisi sebagai dimensi mutu efektifitas dan kompetensi Rumah sakit. Tentu saja, jika kasus re-admisi meningkat maka biaya pelayanan di Rumah Sakit juga akan ikut meningkat.

 

Penyebab Re-admisi 

Re-admisi memiliki beberapa penyebab, antara lain:

1.Peran diri sendiri dan peran keluarga dalam proses pemulihan

2.Peran keluarga yang memiliki hubungan yang kuat dengan frekuensi kekambuhan pasien dengan gangguan mental berat

3.Kepatuhan minum obat

4.Tingkat pengetahuan keluarga sebagai caregiver

5.Pada spesifik bipolar afekktif disorder, sering dikaitkan dengan gejala masuk Rumah sakit sebelumnya antara lain nafsu makan yang buruk, Riwayat mencelakai diri sendiri, dll

6.Tindak lanjut yang buruk setelah konsultasi psikiatri dan kurangnya aktifitas bisa jadi penentu angka re-admisi semakin meningkat.

 

Peran penting keluarga (caregiver)

1.Keluarga berperan sebagai pemberi dukungan emosional. Dukungan yang diberikan kelurga dalam bentuk perhatian, kasih skayang, penerimaan, empati, dan kenyamanan psikologis sangat berperan penting dalam proses pemulihan, kestabilan gejala sehingga angka kekambuhan atau re-admisi dapat berkurang

2.Mengelola prilaku dan pengobatan pasien. Selain dukungan emosional, keluarga juga berperan langsung dalam mengelola prilaku pasien serta memastikan kepatuhan terhadap pengobatan. Dukungan ini menjadi komponen utama pencegahan kekambuhan

3.Dukungan sosial dan sebagai pemecah masalah bagi pasien gangguan mental berat karena alasan keterbatasan yang dimiliki.

 

Dampak Re-admisi

Re-admisi memiliki dampak baik itu ke pasien maupun ke ke keluarga sebagai caregiver.

Dampak re-admisi bagi pasien, antara lain:

1.Kualitas hidup pasien. Kompleksitas masalah pada pasien dengan Skizofrenia menyebabkan pasien sering mengalami kekambuhan. semakin sering pasien Skizofrenia mengalami kekambuhan maka akan semakin tinggi pula potensi re-admisinya, sehingga kualitas hidup pasien akan semakin menurun

2.Ketidakamanan finansial. Beban biaya berulang yang tidak di cover oleh Jaminan kesehatan seperti Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) meliputi biaya transportasi ke Rumah Sakit, biaya akomodasi (jika jarak rumah jauh), biaya kebutuhan harian pasien, serta biaya obat-obatan yang tidak masuk dalam pembiayaan BPJS

3.Stigma yang timbul akibat penyakit gangguan mental berat

Dampak re-admisi bagi keluuraga atau caregiver, antara lain:

1.Penurunan kesehatan para caregiver (kelelahan baik fisik maupun mental)

2.Stigma negative dari lingkungan sekitar. Bagi keluarga, stigma menyebabkan beban psikologis yang berat sehingga berdampak pada kurang adekuatnya dukungan yang diberikan oleh keluarga pada proses pemulihan

3.Menurunnya hubungan keluarga dengan pasien. Dinamika hubunga antara pasien dan keluarganya akibat re-admisi yang berulang sering menimbulkan perubahan dalam relasi keluarga akibat tekanan emosional, beban merawat dan rasa frustasui yang berkepanjangan.

4.Beban yang dirasakan keluarga. Beban subyektif maupun obyektif yang mempengaruhi pengasuhan baik itu materil, sosial mapun psikologis. Bebannya dapat berupa biaya mapun waktu karena keluarga memberikan support biaya baik itu kebutuhan skehari-hari maupun kebutuhan dalam proses pengobatan.

 

 

Referensi

 

https://library.fk.ui.ac.id/index.php?p=show_detail&id=32661&keywords=%2...

nnisa Endah Pratiwi, Dr. dr. Hanevi Djasri, M.A.R.S. Fisq. Analisa Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kejadian Re-admisi pada Pasien BPJS Rawat Inap di RSUP Persahabatan Annisa Endah Pratiwi, Dr. dr. Hanevi Djasri, M.A.R.S., FISQua. 2024; Available from: https://etd.repository.ugm.ac.id/penelitian/detail/248411

Prasetya AD, Sari IP. Hubungan Frekuensi Readmission dengan Kualitas Hidup Pasien Skizofrenia di Ruang IPCU RS Radjiman Wediodiningrat. J Kesehat TAMBUSAI [Internet]. 2024;5:5064–70. Available from: https://journal.universitaspahlawan.ac.id/index.php/jkt/article/download...

Penulis: 
Destinawati, AMK
Sumber: 
Perawat RSJD dr Samsi Jacobalis

ArtikelPer Kategori