Seperti yang kita ketahui, bahwa baru-baru ini terjadi fenomena kasus bunuh diri yang melibatkan anak-anak. Hal ini tentu menjadi perhatian serius oleh bebeberapa kalangan masyarakat.
Stidaknya dalam setahun terakhir Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat 25 kasus bunuh diri pada anak selama periode Januari-Oktober 2025. Yang terbaru dan cukup menggemparkan terjadi belum lama ini di Sawahlunto, Sumatera Barat dan Sukabumi, Jawa Barat. Bahkan belum lama ini masih di awal tahun 2026, masyarakat juga digemparkan dengan kasus bunuh diri di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, dimana anak umur 10 tahun ditemukan mengakhiri hidupnya dengan cara yang tragis.
Dari peristiwa tersebut tentunya menimbulkan keprihatinan yang mendalam sekaligus menjadi sinyal darurat bagi kita semua mengenai kondisi mental generasi muda saat ini terutama pada anak-anak.
Menanggapi hal tersebut, Manajer Center of Public Mental Health (CPMH) Universitas Gajah Mada, Nurul Kusuma Hidayati, M.Psi., Psikolog menyebutkan meningkatnya kasus bunuh diri harus dipandang sebagai “alarm darurat” yang menunjukkan perlunya langkah cepat dan kolaboratif untuk melindungi kesehatan mental anak. “Ini sudah semacam wake-up call yang harus membuat semua pihak waspada. Sudah saatnya setiap elemen bangsa melihat kesehatan mental anak sebagai hal yang penting untuk diperhatikan. Anak tidak hanya perlu sejahtera secara prestasi tetapi juga secara mental”, ujarnya dikutip dari Liputan/berita 12/11/25 oleh Gusti Grehenson.
Penyebab
Generasi muda saat ini sangat rentan terhadap masalah mental. Banyak hal yang bisa menyebabkan masalah kesehatan mental pada anak, diantaranya adalah ;
1.Tumbuh dalam paparan digital
Mudahnya akses informasi serta interaksi yang intensif dalam dunia maya membuat mereka rentan terahadap kelelahan emosional atau lebih dikenal dengan istilah burnout.
2.Rendahnya literasi tentang kesehatan mental di masyarakat
Masih banyak masyarakat khususnya orang tua dan guru yang belum memahami tanda-tanda gangguan psikologis pada anak, sehingga mereka terlambat menyadari atau mendeteksi dini sehingga masalah psikologis pada anak dibiarkan berkembang sampai mencapai masa kritis.
3.Rendahnya kemampuan anak dalam mengatur emosi
Di era sekarang ini, peran pengasuhan orang tua banyak digantikan oleh media digital, sehingga anak-anak tidak memiliki kesempatan belajar secara langsung dari orang tua tentang bagaimana cara mengekspresikan dan mengelola perasaan secara sehat.
Tanda dan gejala
Anak usia 9-10 tahun cenderung sudah memahami konsep bahwa kematian adalah sesuatu hal yang permanen, meskipun mereka belum sepenuhnya paham tentang bagaimana cara mengelola emosi dan menimbang konsekuensi dalam jangka panjang.
Lebih lanjut, mereka belum bisa berpikir secara konkret dan hitam-putih sehingga saat berada dalam tekanan psikologis, anak akan dengan mudah mengambil kesimpulan ekstrem seperti semua masalah akan selesai jika mereka tidak ada.
Tanda-tanda yang perlu diwaspadai pada anak yang memiliki masalah kesehatan mental adalah;
1.Anak menjadi lebih pendiam dan menarik diri
2.Perubahan emosi drastis, seperti murung, mudah menangis, atau cepat marah
3.Ucapan bernada putus asa, misalnya ‘aku capek hidup” atau “aku cuma bikin repot”
4.Gangguan tidur, termasuk mimpi buruk yang berulang
5.Penurunan prestasi sekolah atau hilangnya minat bermain
Perubahan perilaku pada anak bukan tanpa sebab, tetapi itu cara jiwa meminta pertolongan. Menurut WHO mayoritas anak-anak yang bunuh diri menunjukkan tanda peringatan sebelumnya, namun sering tidak terbaca atau dianggap suatu hal biasa dan disepelekan.
Bunuh diri pada anak-anak tidak disebabkan oleh faktor tunggal biasanya terjadi karena akumulasi beberapa masalah. Akumulasi tersebut bisa berasal dari faktor individu, keluarga, lingkungan, seperti tekanan emosional berkepanjangan, konflik keluarga, perundungan, hingga isolasi sosial.
Dalam beberapa kasus, anak juga menyerap stress orang tua, terutama terkait masalah ekonomi, meskipun mereka belum bisa memahami masalahnya secara utuh seperti yang belum lama terjadi di NTT.
Jika kita menemukan tanda-tanda di atas sebaiknya segeralah melakukan tindakan-tindakan yang diperlukan secepatnya, seperti kosnseling dengan pihak sekolah, atau jika perlu kita juga harus menghubungi professional terkait untuk penanganan secara cepat dan tepat.
Pencegahan
Untuk menekan meningkatnya kasus bunuh diri pada anak, perlu dilakukan upaya-upaya prefentif dan promotif dalam hal ini kita harus bisa melakukan deteksi dini pada kesehatan mental anak-anak.
Dalam hal ini, lingkungan sekolah dan keluarga adalah lingkungan yang paling berperan penting dalam pencegahan bunuh diri pada anak. Langkah-langkah yang bisa kita lakukan di lingkungan sekolah;
1.Penguatan fungsi guru
Khususnya guru BK (Bimbingan Konseling) agar lebih proaktif memantau kondisi social-emosional siswa.
2.Pelatihan guru dan siswa sebaya
Pre counselor bisa dilakukan untuk mengenali tanda-tanda depresi, stress, atau pun menarik diri.
3.Kordinasi berlapis
Kordinasi berlapis antara pihak sekolah, puskemas, dan dinas terkait saat ditemukan anak dengan resiko tinggi.
4.Pemanfaatan data
Pemanfaatan data presensi, perilaku dan interaksi sosial siswa sebagai indikator awal gangguan kesehatan mental.
Selain keterlibatan pihak sekolah, keterlibatan keluarga juga tak kalah penting. Kedua lingkungan ini berperan sama pentingnya dalam pertumbuhan anak dan juga kesehatan mental anak.
Peran orang tua sangat berpengaruh, untuk itu orang tua juga harus menerapkan aturan-aturan yang tegas dan meiliki batasan-batasan yang jelas. Diantaranya adalah penerapan aturan screen time yang bijak untuk seluruh anggota keluarga, tidak hanya anak-anak saja. Orang tua juga diaharapkan berperan aktif dalam melatih emosi anak dengan menanamkan contoh ekspresi yang positif dan terbuka. Selain itu orang tua juga sebagai figure pemberi contoh dalam membangun komunikasi yang terapeutik terhadap anak-anak, sehingga anak-anak tidak takut dalam menyampaikan perasaannya pada orang tua. Tidak hanya itu, orang tua juga sebaiknya menambah referensi dan literasi tentang gangguan atau maalah mental pada anak, terlebih akses informasi digitalisasi saat ini lebih mudah diperoleh.
Referensi ;
Fenomena Bunuh Diri di Kalangan Anak dan Remaja, Psikolog UGM Sebut Gen Alpha Rentan Depresi - Universitas Gadjah Mada
Alarm KPAI: 25 Anak Bunuh Diri Sepanjang 2025
bunuh diri pada anak - Search
Fakta Singkat: Perilaku Ingin Bunuh Diri pada Anak-anak dan Remaja - Manual MSD Versi Konsumen

