BERATNYA MEMILIKI KELUARGA DENGAN GANGGUAN JIWA DI INDONESIA

Keluarga dengan gangguan jiwa mengalami masa-masa sulit yang harus dihadapi saat harus merawat pasien dengan gangguan jiwa. Saat fase kritis, pasien mengalami amuk, merusak alat rumah tangga, mengganggu lingkungandan tidak jarang melakukan Tindakan kriminal seperti membacok dan menganiaya orang. Keluarga sebagai orang terdekat harus menyelesaikan masalah yang ditimbulkan oleh pasien tersebut. Keluarga merasa putus asa dalam memberikan perawatan karena kondisi tersebut seringkali berulang. Kerugian harta benda, pikiran dan tenaga yang tidak terhitung, berdampak pada kehidupan pribadi pemberi perawatan pada pasien dengan gangguan jiwa tersebut. Beberapa masalah yang seringkali dihadapi oleh keluarga dengan gangguan jiwa:

1. emahami kebutuhan perawatan pasien

Kesadaran tentang kesehatan jiwa yang kurang pada keluarga dan lingkungan seringkali merupakan alasan yang mendasar terjadinya salah perawatan. Banyak yang mengaitkan kondisi kesehatan jiwa dengan gangguan jin. Pasien mendapatkan perawatan yang tidak sesuai dengan kondisi yang dihadapi, sehingga berdampak pada kondisi pasien yang makin parah. Lamanya pasien mengalami gejala gangguan jiwa ternyata tidak berbanding lurus dengan kepahaman keluarga pasien. Banyak keluarga pasien yang tidak memahami bahkan sudah kehabisan ide untuk menghadapi pasien, sehingga akhirnya putus asa. Perawatan yang holistik tentu saja jauh panggang dari api.

2. Mengantisipasi kondisi krisis yang dialami pasien dengan gangguan jiwa

Kondisi krisis pada pasien jiwa berkaitan dengan tindakan kekerasan yang dilakukan oleh pasien terhadap diri pasien sendiri maupun orang lain. Kondisi krisis pada jiwa juga berkaitan dengan keinginan pasien untuk bunuh diri. Kondisi tersebut membuat selain menimbulkan kerugian materiil, tidak jarang menimbulkan trauma bagi caregiver. Di sisi lain, pasien yang tidak dibantu dalam tahap krisis ini akan mengalami proses krisis yang Panjang akan mengalami perlambatan dalam proses pemulihan, atau bahkan mengalami hal fatal saat dalam tahap krisis tersebut.

3. Menghadapi kondisi terburuk dari pasien

Penurunan kualitas hidup pasien dengan gangguan jiwa bisa saja terjadi dan hal tersebut mengakibatkan berbagai kesulitan. Kesulitan-kesulitan yang dihadapi tersebut memang memerlukan bantuan dari orang terdekat untuk menghadapinya. Ekspektasi dari keluarga pasien dan kondisi pasien yang tidak sesuai, membuat keluarga merasa Lelah, marah, dan menyalahkan kondisi atas apa yang terjadi. Di sisi pasien, merasa tidak berguna dan merasa sangat tidak berdaya.

4. Mengkoordinasikan dan memantau penggunaan pelayanan kesehatan

Kesulitan terakhir yang dihadapi oleh keluarga pasien dengan gangguan jiwa ketika poin 1-3 dapat terlampaui, dengan kata lain, keluarga memahami dan mengerti kondisi kesehatan jiwa yang sedang dialami oleh salah satu anggota keluarga adalah pelayanan kesehatan itu sendiri. Keterbatasan akses pelayanan jiwa, arahan pemberi asuhan pelayanan kesehatan jiwa harus seperti apa saja saat ini belum jelas alurnya. Kebingungan tersebut tidak jarang membuat keluarga pasien lari ke pengobatan alternatif yang lagi-lagi tidak dapat menyelesaikan permasalaha, sehingga kembali ke pelayanan kesehatan jiwa dengan kondisi yang sudah sangat buruk, sehingga proses pemulihannya sangat sulit.

Kondisi keluarga pasien dengan gangguan jiwa di Indonesia saat ini menghadapi tantangan yang tidak mudah. Selain stigma negative dari lingkungan dan masyarakat, tantangan dalam proses perawatan yang dihadapi sangat tidak mudah. Seringkali keluarga pasien mengalami keputusasaan dan membuat keluarga melakukan pembiaran yang berdampak pada pasien yang mengalami relaps dan kondisi krisis yang Panjang. Untuk itu, perlu adanya Kerjasama yang solid antara pasien, keluarga pasien, pemerintah, pemberi pelayanan kesehatan di komunitas dan pemberi pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan.

 

DAFTAR PUSTAKA

Díaz-Fernández, Silvia.2022.The Mental Health Nurse as Case Manager of a Patient with Severe Schizophrenia. Enfermería Clínica (English Edition) Volume 32, Issue 1, January–February 2022, Pages 60-64. Diakses pada tanggal 20 Mei 2023 jam 12.00 di https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S244514792200011X

 

Jia Cheng, dkk. 2020.The Effect of Case Management for Schizophrenia Clients in China. Journal of Behavioral and Brain Science > Vol.10 No.8, August 2020. Diakses pada tanggal 20 Mei 2023 jam 12.00 di https://www.scirp.org/journal/paperinformation.aspx?paperid=101752

Lippi, Gian .2016. Schizophrenia in a Member of The Family: Burden, Expressed Emotion and Addressing The Needs of The Whole Family. Published online 2016 Aug 31. doi: 10.4102/sajpsychiatry.v22i1.922. Diakses pada tanggal 20 Mei 2023 jam 12.00 di https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6138106/

 

 

Penulis: 
Tri Nurul Hidayati, S.Kep
Sumber: 
Perawat Rumah Sakit Jiwa Daerah

Artikel

13/05/2024 | Ns.Sri Rahmawat,AMK,S.Kep.
06/05/2024 | Eni, AMK
30/04/2024 | Ns. Pamela Kusuma Dewi, S.Kep
24/04/2024 | Efa Zulli Nursekha, AMK
23/04/2024 | Rosmala Dewi,AMK
18/06/2022 | Gita Riskika,S.Farm.,Apt
30/06/2016 | Wieke Erina Ariestya, S.Kep.Ners
30/11/2022 | Zurniaty, S. Farm., Apt
18/06/2022 | Gita Riskika,S.Farm.,Apt

ArtikelPer Kategori