AMANKAH MENCAMPUR VAKSIN PLATFORM YANG BERBEDA?

Tenaga kesehatan di Indonesia akan menerima dosis ketiga vaksin Covid-19 dengan merek dan platform yang berbeda. Seperti diketahui, dua dosis sebelumnya tenaga kesehatan menerima vaksin Sinovac. Vaksin ketiga yang rencananya akan digunakan oleh pemerintah  terhadap tenaga kesehatan yaitu vaksin Moderna.

Vaksin Moderna menggunakan teknologi baru yang disebut messenger RNA, yang memacu sel-sel sehat untuk memproduksi protein virus yang merangsang respon imun yang kuat. Vaksin Moderna diklaim mampu melindungi pengguna dari varian baru virus Corona yang diktemukan di Inggris dan Afrika. Respon antibodi vaksin Moderna terhadap varian baru COVID-19 masih di atas level yang memberikan perlindungan. Singkatnya, pemberian vaksin Moderna nanti akan mencampur vaksin Covid-19 Sinovac yang telah diberikan sebelumnya. Lantas bagaimana dari sisi aspek keamanannya?

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menyampaikan bahwa penggunaan Vaksin Moderna itu sudah melalui diskusi dengan Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sebagai penasihat Independen. Ketua Tim Riset Uji Klinis Vaksin COVID-19 mengatakan bahwa pemberian vaksin dosis ketiga itu cukup aman. Pencampuran platform vaksin metode yang dikenal sebagai dorongan utama heterolog memiliki sejarah panjang dalam imunologi sebagai jauh lebih unggul daripada beberapa dosis vaksin yang sama. Artinya, berbagai jenis vaksin meningkatkan sistem kekebalan dengan cara yang berbeda, sehingga beberapa vaksin memberikan cakupan yang lebih luas.

Sebuah penelitian terhadap hampir 700 orang di Spanyol menunjukkan bahwa orang yang mendapat dosis kedua vaksin Pfizer setelah dosis pertama dari AstraZeneca menunjukkan antibody penawar mereka naik tujuh kali lipat respon imun yang jauh lebih kuat daripada mereka yang mendapat dua dosis Astra. Sejumlah Negara diketahui juga mencampurkan vaksin beda merek salah satunya Vietnam dan beberapa Negara lain juga turut mencampur vaksin yang berbeda seperti Thailand, Korea Selatan, Kanada dan Spanyol.

Pada dasarnya vaksin bertujuan membentuk respons imunitas agar tercipta antibodi untuk melawan virus. Selama vaksin yang diberikan bertujuan sama, semua jenis vaksin dapat diberikan kepada penerima. Tidak ada efek samping berbahaya dari campuran vaksin tersebut. Selain tidak berbahaya, booster vaksin diklaim dapat menurunkan dua kali lipat angka infeksi dan kematian.

Meski demikian, kepala ilmuwan Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebut pencampuran dua vaksin beda merek ini merupakan tren yang berbahaya. Lebih lanjut, ia juga mengingatkan bahwa metode itu berpotensi menimbulkan sesuatu yang sangat parah ketika masyarakat berpikir sendiri mengenai vaksin apa yang akan mereka ambil dalam dosis berikutnya. Belum ada data pasti mengenai dampak kesehatan dari pencampuran dua vaksin dengan merek berbeda.

 

Daftar Pustaka

www.bbc.com

Penulis: 
RIDHO HANDARI.D,S,Kep.Ner
Sumber: 
Perawat Rumah Sakit Jiwa Daerah

Artikel

27/11/2021 | Ns. Monalisa, AMK, S.Kep
27/11/2021 | Septia lianti, S.Kep, Ners
27/11/2021 | Tri Nurul Hidayati, S.Kep
27/11/2021 | Boifrida Butar-Butar, S.Kep,Ners
27/11/2021 | Ns.Kristianus Triaspodo, M.Kep, Sp.Kep.J
30/06/2016 | Wieke Erina Ariestya, S.Kep.Ners
10/10/2018 | Emanuel Triwisnu Budi, AMK
02/02/2017 | Muhammad Isnaini.S.Kep

ArtikelPer Kategori