MENGELOLA KECEMASAN DI TENGAH PANDEMI COVID-19

Dunia dikejutkan dengan adanya sebuah virus yang bernama Coronavirus disease 2019 atau disebut juga COVID-19. Virus ini saat menjadi pandemi hampir di seluruh negara di dunia. Terjadinya wabah pandemi ini memiliki dampak negatif pada kesehatan fisik dan psikologis individu dan masyarakat. Brooks dkk. (2020), mengatakan bahwa dampak psikologis selama pandemi diantaranya gangguan stres pascatrauma (post-traumatic stress disorder), kebingungan, kegelisahan, frustrasi, ketakutan akan infeksi, insomnia dan merasa tidak berdaya. Beberapa psikiatris dan psikolog mencatat hampir semua jenis gangguan mental ringan hingga berat dapat terjadi dalam kondisi pandemik saat ini. Bahkan terjadinya kasus xenofobia1 dan kasus bunuh diri karena ketakutan terinfeksi virus sudah mulai bermunculan dimana-mana. Para ahli mensepakati bahwa kesehatan fisik dan mental saling terkait satu sama lain maka, pengelolaanya harus secara seimbang. Pemerintah dalam hal ini melakukan perhatian terhadap keseimbangan antara kesehatan fisik dan mental di masa pandemi. Dibuktikan dari telah dikeluarkan buku pedoman Dukungan Kesehatan Jiwa Dan Psikososial (DKJPS) pada pandemi COVID19 oleh Kementerian Kesehatan. Buku ini merupakan salah satu panduan bagi tenaga kesehatan dalam memberikan dukungan kesehatan jiwa dan psikososial bagi Orang Sehat, Orang Dengan Pantauan (ODP), Orang Tanpa Gejala (OTG), Pasien Dengan Pengawasan (PDP), Pasien COVID-19, dan kelompok rentan. Berdasarkan pada struktur usia penduduk maka kelompok rentan yang terdampak pada kesehatan jiwa dan psikososial akibat infeksi COVID-19 diantaranya adalah perempuan, anak dan remaja, dan lanjut usia (lansia). Berdasarkan hasil kaji cepat Survei Ketahanan Keluarga di masa pandemi yang dilakukan oleh Institut Pertanian Bogor (IPB), diperoleh dari sebanyak 66 % responden perempuan yang sudah menikah menunjukkan bahwa gangguan psikologis yang paling banyak dialami adalah mudah cemas dan gelisah (50,6 %), mudah sedih (46,9 %), dan sulit berkonsentrasi (35,5 %). Keadaan ini harus menjadi perhatian mengingat perempuan memegang peran yang sangat penting dalam mengelola rumah tangga. Sedang pada anak-anak dan remaja tidak luput dari dampak kebijakan pembatasan penyebaran virus melalui sistem pembalajaran jarak jauh atau online. Terjadinya ruang gerak yang terbatas dan minimnya interaksi dengan teman sebaya selama masa pandemi, menjadi pemicu terpengaruhnya kesehatan jiwa mereka. Pada kelompok lansia kerentanan disebabkan oleh proses degeneratif yang terjadi, hal ini yang menyebabkan menurunnya imunitas tubuh sehingga lansia rentan terinfeksi penyakit, termasuk virus covid-19. Saat kondisi pandemi yang penuh ketidakpastian, lansia mudah dihinggapi perasaan cemas berlebihan yang kemudian berpengaruh terhadap kondisi kesehatan fisik dan psikis. Mengingat situasi yang terjadi saat ini yang demikian kompleks dan penuh tekanan secara psikologi dari setiap kelompok usia, perlu adanya perhatian dan penanganan yang cepat sehingga tidak menjadi ganguan jiwa yang lebih serius. Kelompok rentan yang disebutkan merupakan gambaran umum kondisi masyarakat saat ini. 1. Proses Terjadinya Kecemasan dalam Menghadapi Pandemi Covid-19 Semua gangguan kesehatan mental pada dasarnya diawali oleh perasaan cemas (anxiety). Kecemasan adalah respons terhadap situasi tertentu yang mengancam, dan merupakan hal yang normal terjadi. Diawali dari adanya situasi yang mengancam sebagai suatu stimulus yang berbahaya, pada tingkatan tertentu kecemasan dapat menjadikan seseorang lebih waspada terhadap suatu ancaman, karena jika ancaman tersebut dinilai tidak membahayakan, maka seseorang tidak akan melakukan pertahanan diri. Sedangkan pada saat menghadapi pandemi Covid-19, kecemasan perlu dikelola dengan baik sehingga tetap memberikan awareness namun, tidak sampai menimbulkan kepanikan yang berlebihan atau menyebabkan gangguan kesehatan kejiwaan yang lebih buruk. Setiap individu memiliki reaksi kecemasan yang berbeda-beda. Sebagian orang reaksi kecemasannya tidak selalu diiringi oleh reaksi fisiologis namun, pada orang-orang tertentu kompleksitas respons dalam kecemasan dapat melibatkan reaksi fisiologis sesaat seperti, detak jantung menjadi lebih cepat, berkeringat, sakit perut, sakit kepala, gatal-gatal dan gejala lainnya. Ketika seseorang mulai merasakan kecemasan maka sistem petahanan diri selanjutnya akan menilai kembali ancaman diiringi dengan usaha untuk mengatasi, mengurangi atau menghilangkan perasaan terancam tersebut. Dalam kondisi seperti ini sesesorang dapat menggunakan pertahanan diri dengan meningkatkan aktifitas kognisi atau motorik. Kecemasan yang terjadi biasanya berasal dari persepsi terhadap peristiwa yang tidak terkendali, sehingga individu akan berfokus pada tindakan yang terkendali. Contoh tindakan yang terkendali pada saat pandemi saat ini, yang diharuskan untuk di Rumah saja maka, tindakan yang dilakukan antara lain berolahraga, meditasi, melukis, bermain musik, berkebun, memasak, membaca buku, menonton film, dan lain sebagainya. Berbagai aktivitas tersebut sesuai dengan ketertarikan dan kemampuan individu sebagai strategi yang tangguh dan protektif untuk mengatasi stres, kecemasan, dan panik. Tahapan terakhir dalam menghadapi kecemasan adalah menemukan solusi dengan bentuk pertahanan diri seperti rasionalisasi. Rasionalisasi tidak dimaksudkan supaya tindakan yang tidak masuk akal dijadikan masuk akal, akan tetapi merasionalkan. Rasionalisasi tidak dimaksudkan untuk membujuk atau memanipulasi orang lain, melainkan membujuk dirinya sendiri supaya bisa menerima keterbatasan diri sendiri. Mengelola kecemasan supaya tetap pada tingkatan yang proporsional, merupakan hasil dari proses penilaian yang terjadi berulang kali. Proses penilaian seseorang dapat berubah seiring ada informasi yang diperoleh, kemudian perubahan penilaian ini kemudian berdampak pada bentuk coping. Pada awal mula masa pandemi COVID-19 mewabah, tindakan membeli kebutuhan secara berlebihan merupakan salah satu contoh penilaian individu terhadap ancaman kelangkaan bahan kebutuhan pokok. Keputusan untuk beli kebutuhan dengan panik dilakukan karena, input informasi dari media digabung dengan pengalaman masa lalu ketika ketersediaan bahan-bahan pokok menipis pada masa krisis moneter. Namun beli yang berlebihan kemudian tidak berlangsung lama karena dianggap tidak efektif lagi. 2. Mengelola Kecemasan Saat Menghadapi Pandemi Covid-19 Dengan adanya pemberitaan yang mendadak dan hampir terus menerus mengenai pandemi akan membuat siapa pun menjadi merasa cemas. Untuk menilai tingkat bahaya akan COVID-19 melalui penyeleksian informasi yang diterima dan kebijakan menjadi kunci mengelola kecemasan. Adanya informasi dan kebijakan yang diterima dapat mempengaruhi penilaian seseorang terhadap ancaman (COVID-19) dan kemudian mempengaruhi respons kecemaasan yang ditimbulkan. Ada beberapa tips dalam menjaga kesehatan mental dalam mengelola kecemasan Saat Menghadapi Pandemi Covid-19 adalah: a. Dengan mengurangi menonton, membaca atau mendengarkan berita yang membuat kecemasan meningkat. b. Cobalah cari informasi dari sumber-sumber terpercaya dan utamakan membuat rencana praktis melindungi diri dan orang-orang terdekat. c. Berusaha untuk hanya mencari berita 1-2 kali dalam satu hari dan pada waktu yang spesifik. d. Karna banyaknya terpapar misinfodemik mengakibatkan kesalahan dalam strategi coping yang diambil. Misinfodemik merupakan istilah yang digunakan untuk misinformasi yang berkontribusi terhadap penyebaran penyakit dan cukup lazim untuk COVID-19. e. Mencoba mencari informasi terkait menjaga kesehatan mental di masa pandemi di berbagai sumber online juga suatu langkah yang positif namun, mesti memilih situs jaringan kesehatan mental yang valid dan terpercaya seperti Kementerian Kesehatan, WHO, Biro Konsultasi Psikologi, atau sumber-sumber yang bersifat keagamaan/religius. 3. Beradaptasi dengan Kondisi Pandemi Terhadap keadaan yang terjadi belum ada perkiraan yang akurat tentang berapa lama situasi COVID-19 akan bertahan, jumlah orang di seluruh dunia yang akan terinfeksi, atau berapa lama hidup orang akan terganggu. Kehidupan harus tetap berjalan maka, langkah awal yang dilakukan adalah penerimaan (acceptance). Penerimaan dalam hal ini memberi ruang kesadaran yang penuh kepada diri bahwa pandemi COVID-19 adalah sebuah kenyataan. Disaat kita sudah menerima bahwa kondisi sekarang bukanlah kondisi normal, maka kita siap untuk beradaptasi. Beradaptasi merupakan kemampuan individu agar dapat melakukan penyesuaian diri pada suatu tempat atau lingkungan yang dipandang sebagai suatu hal yang baru. Beradaptasi juga dapat, diartikan sebagai proses penyesuaian diri dalam mengubah diri sesuai dengan keadaan lingkungan, tetapi dapat juga mengubah lingkungan sesuai dengan keadaan atau keinginan diri. Kemampuan setiap individu untuk beradaptasi pun berbeda-beda. Banyak faktor yang mempengaruhi kecepatan dan cara seseorang beradaptasi seperti, kepribadian, usia, pengalaman, proses belajar, kondisi fisik, dan lingkungan. Karena terdaoat perbedaan kemampuan beradaptasi pada setiap individu tersebut maka proses adaptasi akan berujung kesuksesan beradaptasi atau kegagalan beradaptasi. Terjadinya kesuksesan beradaptasi akan melahirkan daya lenting atau resiliensi pada diri seseorang, sedangkan kegagalan beradaptasi akan berdampak pada penurunan kondisi kesehatan mental. DAFTAR PUSTAKA Banerjee D. (2020). The COVID-19 outbreak: Crucial role the psychiatrists can play. Asian J. Psychiatr. https://doi.org/ 10.1016/j.ajp.2020.102014. Brooks, S.K., Webster, R.K., Smith, L.E., Woodland, L., Wessely, S., Greenberg, N., & Rubin, G.J. (2020). The Psychological Impact Of Quarantine And How To Reduce It: Rapid Review Of The Evidence. Lancet, 395 (10227), 912–920. https://doi.org/10.1016/S01406736(20)30460-8 Gerungan, W.A. (1996). Psikologi Sosial. Eresco Kementerian Kesehatan RI. (2019). Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus Disease (COVID-2019). https://www.kemkes.go.id/resources/download/info-terkini/COVID 19/Pedoman-dukungankeswa-psikososial-covid-19.pdf Shin, K.E. & Newman, M.G.(2019). Self- And OtherPerceptions Of Interpersonal Problems: Effects Of Generalized Anxiety, Social Anxiety, And Depression. Anxiety Disord., 65, 1–10. https://doi.org/10.1016/j.janxdis.2019.04.005 Sunarti, E. (2020, 19 Juni). Paparan Hasil Survey Ketahahan Keluarga Di Masa Pandemi COVID19. Webinar The 14th IPB Strategic Talks COVID-19 Series: Mencegah Krisis Keluarga Indonesia di Masa Pandemi COVID-19. Wood W. & Rünger D. (2016). Psychology of habit. Annu., 67, 289–314. https://doi.org/10.1146/annurev-psych-122414033417 Zandifar, A & Badrfam, R. (2020). Iranian Mental Health During The COVID-19 Epidemic. Asian Asian J Psychiatr. 51 (101990) https://doi.org/10.1016/j.ajp.2020.101990 Zhang, J., Wu, W., Zhao, X., & Zhang, W. (2020). Recommended Psychological Crisis Intervention Response to The 2019 Novel Coronavirus Pneumonia Outbreak In China: A Model Of West China Hospital. Precision Clinical Medicine, 3 (1), 3–8, https://doi.org/10.1093/pcmedi/pbaa006

Penulis: 
Nurya, Skep, Ns
Sumber: 
Perawat Jiwa RSJD Prov Kep.Babel
File: 
AttachmentSize
Image icon index.jpg80.68 KB

Artikel

ArtikelPer Kategori