PSIKORELIGIUS DAN DIMENSI RELIGI DALAM PERSPEKTIF TERAPI

Menurut word health organization (WHO) pada sidang umum (general assembly) telah menerima bahwa dimensi spiritual /agama setara dengan 3 dimensi lainnya yaitu;
1.Terapi fisik / biologic yaitu dengan obat-abatan (psikofarmaka)
2.Terapi psikologik (konseling / psikotrapy)
3.Terapi psikososial (re-adaptasi)
4.Terapi psiko spiritual / psikoreligius (keimanan / faith)
Misi Dan visi word federation of mental health (WHMH) New Zealend 1989 mensejahtrakan umat manusia agar hidup dalam keadaan tenang, tentram dan terlindung serta terbebas dari stress, kecemasan dan depresi.Oleh karena itu upaya-upaya dibidang kesehatan jiwa ini tidak cukup melalui pendekatan ilmu pengetahuan saja, melainkan juga melalui pendekatan keagamaan.
Selama ini dimensi spiritual dan agama digambarkan sebagai dimensi yang terlupakan dalam upaya kesehatan oleh praktisi medis dan kesehatan. Sedangkan sebagian besar pasien dalah orang yang beragama yang mengharapkan terapi religius.
Peran agama dalam terapi terhadap penyalahgunaan Narkotika, psikotropika, alkohol dan zat adiktif lainnya, perlu diperhatikan pentingnya komitmen agama bagi pasien, pengaruh pendidikan agama dalam membentuk kepribadiannya dan memahami pengaruh terapi psikoreligius dalam menekan angka kekambuhan.Konsep terapi dan rehabilitasi holistic pasien NAPZA adalah integrasi antara medis, psikologis dan religi.Konsep dari dasar religi adalah menyadarkan pasien bahwa NAPZA tidak hanya berbahaya bagi kesehatan fisik maupun mental dan melanggar undang-undang dan yang tidak kalah pentinnya adalah bahwa NAPZA adalah haram hukumnya dari segi agama.
Secara oprasional tolak ukur kesehatan jiwa atau kondisi jiwa yang sehat adalah:
a.Bebas dari gangguan / penyakit jiwa
b.Mampu menyesuaikan diri dan menciptakan hubungan antar pribadi yang bermanfaat dan menyenangkan
c.Mengembangkan potensi potensi pribadi yang baik bagi diri sendiri dan lingkungannya
d.Beriman dan bertakwa kepada tuhan dan berupaya menerapkan tuntunan agama dalam kehidupan sehari hari
salah satu bentuk gangguan jiwa yang beekaitan dengan dimensi religi adalah gangguan obsesi kompulsi (OCD:Obsessive Compulsive Disorder), sebagai contoh misalnya pasien mencuci tangan atau kaki berulang ulang, mengambil air wudhu berulang ulang dan mandi berulang ulang menyadari bahwa pengulangan itu tidak rasional, namun dia tidak dapat mencegah berulang ulang perbuatan itu.Dalam hal ini dimensi agama bukan merupakan perimer sebagai penyebab OCD melainkan sekunder, oleh karena itu terapi psikofarmaka yang paling utama, sedangkan terapi psikoreligius ditujukan untuk meluruskan persepsi yang salah terhadap agama.
Bila dikaji secara mendalam maka sesungguhnya dalam agama ( islam) banyak ayat maupun hadist yang memberikan tuntunan agar manusia sehat seutuhnya, baik dari segi fisik, kejiwaan, social, maupun kerohanian, sebagai contoh:
a.”Dan bila aku sakit Dia-lah yah menyembuhkan” (Qs.asy syu araa,26;80)
b.”katakan lah ;Al Quran itu adah petujuk dan penawar (penyembuh) bagi orang –orang yang beriman” (QS.Fushshilat,41;44)
c.”Setiap penyakit ada obatnya.jika obat itu tepat mengenai sasarannya,maka dengan izin allah penyakit itu akan sembuh” (H.R Muslim dan Ahmad)
Dalam perspektif agama (islam)bagi mereka yang sakit dianjurkan berobat kepada ahlinya (memperoleh terapi medis)disertai berdoa dan berzikir.Dipandang dari sudut kesehatan jiwa bahwa doa dan dzikir mengandung unsur psikoterapeutik yang mendalam.Terapi psikoreligius tidak kalah penting karan mengandung kekuatan spiritual atau kerohanian yang membnangkitkan rasa percaya diri dan optimisme.Dua hai ini,yaitu percaya diri dan optimismemerupakan hal yang sangat esensial bagi penyembuhan suatu penyakit tanpa mengesampingkan obat- obatan dan tindakan medis atau terapi lainnya.
Penelitian terhadap aspek kesehatan jiwa keluarga dikemukakan oleh Stinnet dan John DeFrain (1987) yang berkesimpulan bahwa:
a.Pasangan yang berpegang pada agama dalam kehidupan keluarga, menduduki peringkat tertinggi bagi keberhasilan dan kebahagiaan dalam berumah tangga.
b.Pasangan yang dalam kehidupan sehari hari tidak berpegang teguh pada agama, menduduki peringkat tertinggi untuk kegagalan dan ketidakbahagiaan dalam berumah tangga.
c.Rumah tangga yang tidak mempunyai komitmen agama, mempunyai resiko 4 kali lebih besar untuk mengalami broken home, yaitu suami minggat, istri kabur, anak tak tau arah, kekerasan dalam rumah tangga (psysical and sexual abuse, child abuse) dan penyalahgunaan NAPZA (narkotika, psikotropika, alcohol dan zat adiktif lainnya).
Dari hasil riset yang kita dapat diberbagai literasi dapat kita simpulkan bahwa komitmen agama berhubungan dengan manfaatnya dibidang klinik (religious commitment is associated with clinical benefit).Ternyata apa yang dikatakan snydermen (1996)benar adanya, yaitu bahwa terapi medis saja tanpa disertai doa dan dzikir tidaklah lengkap, sedangkan doa dan dzikir saja tanpa disertai terapi medis tidaklah efektif.Dalam ajaran agama (islam) seseorang yang menderita penyakit baik fisik maupun psikis (kejiwaan)diwajibkan untuk berobat kepada ahlinya (contoh dokter/psikater/psikolog) dan disertai berdoa dan berdzikir (H.R.Muslim dan Ahmad,at tirmidzi).
Sebagai ilustrasi kita bersama adalah adalah sebuah contoh riwayat yang mengisahkan suatu hari nabi Muhammad saw kedatangan seorang sahabat.Sahabat tersebut mengadu kepada nabi bahwa anaknya yang sakit tidak kunjung sembuh, padahal dia sudah banyak melaksanakan ibadah sholat, berdoa, berdzikir dan berpuasa bagi kesembuhan anaknya itu namun tidak kunjung membaik, kemudian nabi bertanya kepada apakah anaknya sudah dibawa ke tabib(dokter), yang dijawab oleh sahabat itu belum dibawa ke tabib.Kemudian nabi menasehati agar anaknya diobati oleh ahlinya (tabib/dokter) disertai doa dan dzikir.Selanjutnya menurut riwayat, setelah nasehat itu dijalankan penyakit anak dari sahabat tersebut sembuh.Dari riwayat ini dapat kita tarik kesimpulan bahwa terapi tanpa ilmu pengetahuan (terapi medis) dan terapi keagamaan (doa dan dzikir) hendaknya dilakukan bersama sama.
Bagi mereka yang beragama (Islam) ayat dan hadist berikut dapat diamalkan dalam upaya meningkatkan kekebalan baik fisik maupun mental terhadap penyakit maka hendaklah senantisa berdoa dan berdzikir,.Ayat dan hadist yang merujuk pada doa dan dzikir yang dimaksud sebagai berikut
a.”Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila berdoa kepada-KU”(Q.S Al Baqoroh,2:186)
b.”Adalah Rosulullah saw, mengingat (berdzikir)kepada Allah untuk sepanjang waktunya”(H.R.Aisyah r.a)
c.”Sesungguhnya hanya orang -orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas “(Q.S AZ Zumar,39:10)
d. Berobatlah Kalian, maka sesungguhnya Allah swt tidak medatangkan penyakit kecuali mendatangkan juga obatnya, kecuali penyakit tua”.(H.R Tirmidzi)
e.”Aku mohon kepada Allah yang maha agung agar menyembuhkan aku dengan tidak menderita sakit lagi”(H.R.Bukhari)
f.”Dengan nama allah yang maha pengasih lagi maha penyayang: ya allah tuhannya manusia, hilangkanlah derita, sembuhkanlah penyakit, engkaulah zat yang maha penyembuh, kecuali engkau.Ya Allah, Hamba Mohon kepada Mu agar aku sehat”(H.R Ahmad Nasai dari Muhammad bin Khatib)
Dari banyak fakta, riset dan pendapat bahwa Tujuan dari terapi psikoreligius ini adalah untuk membangkaitkan rasa percaya diri, harapan dan kepasrahan kepada tuhan yang maha esa.

Referensi:
Al Quran
Al Hadist
Hawari,D :”Dimensi religi dalam praktek psikiatri dan psikologi”Balai Penerbit FKUI Jakarta,cet ke 2,2005
Hawari,D”Doa dan dzikir sebagai pengkap terapi medis”.Dana Bhakti Primayasa,ed II,2001
Hawari,D “Al Quran,Ilmu kedokteran Jiwa dan kesehatan Jiwa”.Dana Bhakti Primayasa,cet x,2001

Penulis: 
Ns.Hendra,S.Kep
Sumber: 
Perawat Jiwa RSJD Prov Kep.Babel

Artikel

ArtikelPer Kategori