UPTD RSJD PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG SIAP “PERANG” MELAWAN NARKOBA ATAU NAPZA

Indonesia beberapa tahun terakhir ini dilanda beberapa masalah serius dan saat ini telah mencapai kedalam keadaan yang memperihatinkan sehingga menjadi masalah nasional. Masalah-masalah ini telah meluas sedemikian rupa sehingga melampaui batas-batas strata sosial, umur, dan jenis kelamin. Penyalahgunaan narkotika dan obat-obat berbahaya (NARKOBA) atau NAPZA (narkotika, psikotropika dan zat adiktif) merupakan salah satu masalah yang menakutkan dinegri ini. Masalah NARKOBA atau NAPZA kini tidak hanya di perkotaan tetapi telah merambah sampai pedesaan dan pelosok-pelosok negri ini. Penyebaranya melampaui batas negara yang akibatnya sangat merugikan perorangan, masyarakat, negara, khususnya generasi muda. Masalah NARKOBA atau NAPZA bahkan dapat menimbulkan bahaya lebih besar lagi bagi kehidupan dan nilai-nilai budaya bangsa yang pada akhirnya dapat melemahkan ketahanan nasional. Penyalahguna NARKOBA atau NAPZA tiap tahunya mengalami peningkatan. Berdasarkan data World Drugs Report, 2018 yang diterbitkan United National Office on Drug and Crime (UNODC), menyebutkan sebanyak 275 juta penduduk di dunia atau 5,6 % dari penduduk dunia (usia 15-64 tahun) penah mengkomsumsi narkoba. Sedangkan di negara Indonesia berdasarkan data dari BNN angka Penyalahgunaan narkotika tahun 2017 sebanyak 3.376.115 orang pada rentang 10-59 tahun. Sedangkan dikalangan remaja sendiri, berdasarkan Keterangan Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komisiaris Jendral Polisi Heru Winarko menyebutkan, penyalahgunaan narkotika dikalangan remaja makin meningkat, dimana ada peningkatan sebesar 24 hingga 28 persen remaja yang menggunakan narkotika yang tahun sebelumnya hanya sebesar 20 persen. Penyalahgunaan narkotika dikalangan pelajar pun cukup mencengangkan mencapai angka 2,29 juta orang dari 13 ibukota provinsi. Banyaknya generasi muda Penyalahguna NARKOBA atau NAPZA, terlihat juga dari banyaknya penyedia rehabilitasi yang notabene diisi oleh generasi muda negri ini. Salah satu contoh rehabilitasi NAPZA di UPTD RSJD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, sejak didirikan pada tahun 2016 sampai 2019 pengguna dengan usia muda tercatat hingga 90% setiap bulanya, bahkan ada yang dibawah umur. Hal ini jelas sangat mengkwatirkan masa depan negri ini bila generasi muda bangsa ini terlena dengan kehidupan bersama obat-obatan terlarang ini. Karna maraknya peredaran NARKOBA atau NAPZA di masyarakat, dan besarnya dampak buruk serta kerugian, baik kerugian ekonomi, maupun kerugian sosial yang ditimbulkannya membuka kesadaran berbagai kalangan untuk menggerakkan ‟perang‟ terhadap NARKOBA atau NAPZA. Pemerintah pun tidak tinggal diam, di bidang hukum dari tahun 1997 pemerintah telah mengeluarkan 2 (dua) Undang–Undang yang mengatur tentang narkoba, yaitu Undang–undang Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika dan Undang–undang Nomor 22 Tahun 1997 tentang Narkotika. Dalam penerapanya kedua undang-undang tersebut memberikan ancaman hukuman yang cukup berat baik bagi produsen, pengedar, maupun pemakainya. Undang-undang ini pun mengalami pembaruhan pada tahun 2009 yaitu UU No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, hal ini dilakukan pemerintah demi menekan angka penggunaan NARKOBA atau NAPZA dan pada tahun 2014 ditetapkanya pencanangan penanganan penyelamatan pengguna NARKOBA atau NAPZA. Namun perang terhadap NARKOBA atau NAPZA tak cukup hanya dikeluarkannya undang-undang saja, terlihat pengedaran NARKOBA atau NAPZA tidak tercatat mengalami penurunan, justru adanya peningkatan setiap tahunya. Peran semua lini dalam pengaplikasian undang-undang merupakan hal terpenting dan penentu keberhasilan dalam perang ini. Adanya kesinerjian atara pemerintah, penegak hukum dan masyarakat merupakan langkah yang mesti ditempuh dalam menyelesaikan masalah NARKOBA atau NAPZA. Bila masalah penyalahgunan NARKOBA atau NAPZA tidak segera ditangani maka tidak menuntut kemungkinan negri ini hanya tinggal sebuah cerita. Bagaimana tidak, generasi muda penerus bangsa hidup dalam 3 zona kehancuran, yaitu zona kematian atau kecacatan, zona gangguan jiwa dan zona kebodohan. Pengguna NARKOBA atau NAPZA berat memiliki tiga pilihan dalam hidupnya yaitu Mati atau cacat, gila (gangguan kejiwaan) dan menjadi bodoh karna kerusakan otak. Apakah mungkin negri ini tetap ada bila penerus bangsa ini hidup dalam tiga zona yang mengerikan ini?”, pertanyaan ini lah yang seharusnya menjadi motivasi kita semua untuk ikut berperan dalam memerangi Penyalahgunaan NARKOBA atau NAPZA. Bidang kesehatan salah satu bidang yang selalu dilibatkan dalam permasalahan ini, oleh karna itu bidang kesehatan tidak mau ketinggalan dalam penanganan permasalahan ini. Selain melakukan peningkatan ilmu pengetahuan tentang NARKOBA atau NAPZA, bidang kesehatan pun menyediakan layanan terkait pencegahan, penangan dan perencanaan lanjutan pada Penyalahgunaan NARKOBA atau NAPZA. Hampir semua layanan kesehatan baik rumah sakit, puskesmas dan klinik-klinik kesehatan ikut serta berperan dalam menangani permasalahan ini dengan menyediakan pelayan bagi penyalahgunaan NARKOBA atau NAPZA. Salah satu contoh UPTD RSJD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menyediakan layanan Poliklinik NAPZA, IPWL dan Rehabilitasi Penyalahgunaan NAPZA. Rehabilitasi NAPZA yang didirikan sejak tahun 2016 ini telah menerima klien dengan Penyalahgunaan NAPZA dengan cara Cuma-Cuma alias “GRATIS”. Setiap penyalahguna yang menjalani rehabilitasi di UPTD RSJD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tidak dibebani biyaya. Rehabilitasi ini memiliki 20 kapasitas tempat tidur, yang artinya Rehabilitasi NAPZA UPTD RSJD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung siap membantu menyelamatkan masyarakat yang mengalami Penyalahgunaan NAPZA. Dengan adanya upaya ini diharapkan dapat membantu seluruh masyarakat khususnya masyarakat Kepulauan Bangka Belitung dalam menangani dan menyelamatkan klien dengan masalah Penyalahgunaan NAPZA. Mari bersama-sama, bahu membahu dalam upaya penanganan dan penyelamatan generasi bangsa dari jeratan NARKOBA atau NAPZA, agar negeri ini tetap ada hingga bumi ini taka ada lagi. Diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara mulailah menanamkan siap “perang” melawan NARKOBA atau NAPZA. UPTD RSJD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung siap “perang” melawan NARKOBA atau NAPZA. DAFTAR PUSTAKA Bidang Rekam Medis & Bidang Keperawatan Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, 2018. Kepulauan Bangka Belitung. http://bnn.go.id/penggunaan-narkotika-dikalangan-remaja-meningkat, dikunjungi pada tanggal 18/11/2019. Peraturan Menteri Sosial Republik Indonesi Nomor 3 Tahun 2012 tentang Standar Lembaga Rehabilitasi Sosial Korban Penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika, dan Zat Aditif Lainya. Undang–Undang Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika. Jakarta. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1997. Tentang Narkotika. Jakarta. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009. Tentang Narkotika. Jakarta.

Penulis: 
Nurya, Skep., Ns
Sumber: 
Perawat Jiwa RSJD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

Artikel

09/12/2019 | Ridho Handari Dwansi, S.Kep,Ners
09/12/2019 | Liya Anggraini. S.Kep, Ners
09/12/2019 | Eran Doharma Siringoringo, S.Farm.,Apt
30/06/2016 | Wieke Erina Ariestya, S.Kep.Ners
02/02/2017 | Muhammad Isnaini.S.Kep
14/11/2015 | Sri Ayu Indayani, S. Farm., Apt
04/04/2016 | Sri Chandra Dewi, SKM (Perekam Medis)

ArtikelPer Kategori