PSIKOTIK GELANDANGAN

Psikotik Gelandangan adalah mereka yang hidup di jalan dan mengalami gangguan kejiwaan yakni mental dan sosial, sehingga mereka hidup mengembara, berkeliaran, atau menggelandang di jalanan. Psikotik gelandangan tidak memiliki pola pikir yang jelas dan mereka sudah tidak lagi mementingkan mengenai norma dan kebiasaan yang ada dalam masyarakat, tidak memiliki rasa malu dan memiliki amarah yang tidak bisa di kontrol (Ningsih, 2018). Psikotik gelandangan yang hidup keluyuran dijalan-jalan umum dapat mengganggu ketertiban umum dan merusak keindahan lingkungan (Kundarto dan Karnadi, 2014) Psikotik gelandangan ada dimasyarakat karena disebabkan oleh faktor keluarga yaitu keluarga tidak peduli, malu, tidak tahu, obat tidak diberikan, selain itu psikotik gelandangan juga disebabkan oleh pasien psikotik yang tersesat ataupun urbanisasi yang gagal (Kundarto dan Karnadi, 2014). Ningsih (2018) mempunyai pendapat yang sama tentang penyebab psikotik gelandangan. Menurut Ningsih (2018) penyebab psikotik gelandangan adalah kehadiran mereka tidak diterima oleh keluarga dan masyarakat sekitar. Penyebab ini menjadi kondisi terburuk pada kelompok gelandangan yang mengalami gangguan mental (psikotik). Sikap dan perilaku seseorang yang dikategorikan psikotik gelandangan antara lain sering mengamuk dan berbicara sendiri, penampilan tidak sesuai dengan norma dalam masyarakat, misalnya tidak menggunakan pakaian, makan makanan sisa dari tempat sampah, dan tidak mempunyai pekerjaan (Ningsih, 2018). Tursilarini, dkk (2009) juga menjelaskan ciri-ciri tingkah laku pribadi psikotik gelandangan seperti : kurang atau tidak memiliki kesadaran sosial, suka mengembara kemana-mana tanpa tujuan, serta emosi dan kepribadian tidak stabil. Respon motorik pada psikotik gelandangan tidak sesuai dengan norma dalam masyarakat seperti tidak menggunakan pakaian, dan makan makanan sisa dari tempat sampah. Townsend (2010) juga menjelaskan hal yang sama bahwa pasien psikotik gelandangan dengan defisit perawatan diri mengalami hambatan kemampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas sehari-hari. Kurang perawatan diri merupakan keadaan ketika individu mengalami suatu kerusakan fungsi motorik atau fungsi kognitif, Kebutuhan pelayanan bagi penderita psikotik gelandangan tidak hanya membuthkan pelayanan medis, tetapi juga membutuhkan pelayanan sosial. Usaha pengobatan harus menyiapkan penderita secara fisik, mental dan sosial dapat menyesuaikan diri di lingkungan masyarakat, dapat mandiri serta pengakuan hak asasi sebagai manusia seutuhnya.Hak-hak dasar akan kebutuhan yang diperlukan psikotik gelandangan adalah dengan memenuhi menurut Maslow yaitu kebutuhan fisiologi, kebutuhan akan keselamatan (perlindungan, bebas dari rasa takut, bebas dari rasa cemas dan kekalutan), kebutuhan akan rasa memiliki dan rasa cinta, kebutuhan akan harga diri, dan kebutuhan aktualisasi diri. Perawatan berkelanjutan pada pasien psikotik gelandangan juga diperlukan dikarenakan masalah keperawatan sebagian belum teratasi sehingga perlu dilakukan tindakan keperawatan berulang-ulang. Bahkan perawatan berkelanjutan tetap dilakukan ketika pasien dipulangkan dari rumah sakit. Perawatan berkelanjutan di rumah sakit dilakukan oleh perawat melalui program perencanaan pulang atau discharge planning. Program perencanaan pulang atau discharge planning merupakan program pengobatan yang dilakukan sejak pasien psikotik gelandangan masuk rumah sakit. Pada program ini perawat sebagai bagian dari tim kesehatan ikut terlibat. Keterlibatan perawat dalam proses perencanaan pulang antara lain memperbaiki kemampuan pasien psikotik gelandangan dalam melakukan aktivitas harian seperti makan dan minum, eliminasi, personal hygiene, berpakaian, aktivitas, dan tidur. Menurut Windarini (2014), program perencanaan pulang dapat meningkatkan perawatan berkelanjutan bagi psikotik gelandangan. Hal ini didukung oleh Yusuf, Fitryasari, Nihayati, (2014). yang menyatakan bahwa discharge planning yang dilakukan oleh perawat dengan kategori baik dapat menurunkan angka kekambuhan pasien psikotik. Referensi Karnadi dan Kundarto, S, A. (2014). Model Rehabilitasi Sosial Gelandangan Psikotik Berbasis Masyarakat. Jurnal at-Taqaddum, Volume 6, Nomor 2, Nopember 2014 Ningsih, W. (2018). Bentuk Dan Tahapan Rehabilitasi Gelandangan Psikotik Di Lembaga Kesejahteraan Sosial Orang Dengan Kelainan (Lks Odk) Ekpsikotik Aulia Rahma Kota Bandarlampung. Diakses tanggal 09 Maret 2019.http://digilib.unila.ac.id/32769/3/SKRIPSI%20TANPA%20BAB%20PEMBAHASAN.pdf Townsend, M. C. (2009). Psychiatric Mental Healt Nursing : Concepts of Care in Evidence-BasedPractice (6th ed.), Philadelphia : F.A. Davis Tursilarini, Y., Tateki., dkk. (2009). Uji Coba Model Penanganan Gelandangan Psikotik. Yogyakarta: B2P3KS Press Windarini. (2014). Sikap Caring Perawat dalam Memberikan Asuhan Keperawatan pada Pasien di Ruang Intensive Care Unit RSUD Dr. Soedirman Mangun Sumarso Kabupaten Wonogiri. Jurnal STIKES Kusuma Husada Surakarta. Yusuf,A., Fitryasari, R., Nihayati, H, E. (2014). Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta: Salemba Medik

Penulis: 
OLEH : ROSITA. AMK
Sumber: 
Perawat Jiwa RSJD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

Artikel

09/12/2019 | Ridho Handari Dwansi, S.Kep,Ners
09/12/2019 | Liya Anggraini. S.Kep, Ners
09/12/2019 | Eran Doharma Siringoringo, S.Farm.,Apt
30/06/2016 | Wieke Erina Ariestya, S.Kep.Ners
02/02/2017 | Muhammad Isnaini.S.Kep
14/11/2015 | Sri Ayu Indayani, S. Farm., Apt
04/04/2016 | Sri Chandra Dewi, SKM (Perekam Medis)

ArtikelPer Kategori