PERAN PERAWAT DALAM PRAKTEK KEPERAWATAN KESEHATAN JIWA

Sejak zaman dahulu di Indonesia sudah dikenal adanya gangguan jiwa. Namun demikian tidak diketahui secara pasti bagaimana mereka diperlakukan pada saat itu. Beberapa tindakan terhadap pasien gangguan jiwa sekarang dianggap merupakan warisan nenek moyang kita, maka dapat dibaayangkan tindakan yang dimaksud adalah dipasung, dirantai atau diikat lalu di tempatkan tersendiri di rumah atau di hutan apabila gangguan jiwanya berat dan membahayakan. Bila pasien tidak membahayakan maka dibiarkan berkeliaran di Desa sambil mencari makan sendiri dan menjadi bahan tontonanmasyarakat. Ada juga yang diperlakukan sebagai orang sakti atau perantara Roh dan Manusia.

Pada zaman kolonial sebelum didirikan Rumah Saki Jiwa di Indonesia pasien gangguan jiwa ditampung di Rumah Sakit sipil atau militer di Jakarta, Semarang, dan Surabaya. Pasien yang ditampung pasien jiwa berat saja. Perawatan yang dilakukan pada saat itu sifatnya hanya penjagaan saja. Berdasarkan sensus yang dilakukan pemerintahan Hindia Belanda diseluruh Indonesia (1862) di Pulau Jawa dan Madura ditemukan pasien sekitar 600 orang sedangkan di daerah lain ditemukan sekitar 200 orang. Bedasarkan temuan tersebut pemerintah mendirikan Rumah Sakit Jiwa.

Pada tanggal 1 Juli 1882 didirikan Rumah Sakit Jiwa pertama di Indonesia di daerah Cilendek Bogor Jawa Barat dengan kapasitas 400 tempat tidur. Sedangkan pendidikan perawat jiwa mulai dibuka pada bulan September 1940 di Bogor, berupa kursus. Pendidikan diberlakuakan pada orang Belanda dan Indo-Belanda, yang sudah lulus MULO atau setara dengan Sekolan Menengah Pertama. Lulusan pendidikanya mendapatkan sertifikat Diploma B.

Perkembangan usaha kesehatan jiwa di Indonesia meningkat, ditandai terbentuknya jawatan urusan penyakit jiwa pada bulan Oktober 1947. Usaha kesehatan jiwa berjalan walaupun lambat. Pada saat itu masih terjadi refolusi fisik, tetapi pembinaan dan penyelenggaraan kesehatan jiwa tetap dilaksanakan. Pada tahun 1951 dibuka sekolah perawat jiwa untuk orang Indonesia. Perawatan kesehatan jiwa mulai dikerjakan secara modern dan tidak lagi ditempatkan secara tertutup. Pasien dirawat di ruangan dan bebas berinteraksi.dengan orang lain. Pasien dihargai martabatnya sama dengan manusia lainya. Jawatan urusan kesehatan jiwa bernaung di bawah Departemen Kesehatan terus membenahi sistem pengelolaan dan pelayanan kesehatan. Pada tahun 1966 terjadi perubahan menjadi Direktorat Kesehatan Jiwa dan sampai sekarang dipimpin oleh Kepala Direktorat Kesehatan Jiwa. Pada tahun yang sama ditetapkan Undang-Undang Kesehatan Jiwa No. 3 Tahun 1966 oleh pemerintah, sehingga membuka peluang untuk melaksanakan modrnisasi semua sistem Rumah Sakit Jiwa dan Pelayananya.

Direktorat Kesehatan Jiwa bekerjasama dengan berbagai intansi pemerintah, fakultas kedokteran, badan Internasional, rapat kerja nasional dan daerah. Adanya sistem pelaporan, tersusunya Pedoman Penggolongan Diagnosa Gangguan Jiwa (PPDGJ) tahun 1973 dan diterbitkan pada tahun 1975. Pada tahun tersebut kesehatan jiwa diintegrasikandengan pelayanan di Puskesmas.

Kesehatan jiwa terus berkembang pesat pada abad ke 21 ini. Metode perawatan dan pengobatan bersifat ilmiah. Pengobatan disesuaikan dengan perkembangan Iptek, menggunakan obat-obatan psikofarmaka, therapy shock / ECT dan terapy lainya. Demikian juga dengan praktek keperawatan menggunakan metode ilmiah proses keperawatan, komunikasi terapeutiki dan terapi modalitas keperawatan dengan kerangka ilmu pengetahuan yang mendasari peraktek profesional.

Peran dan fungsi perawat jiwa dituntut lebih aktif dan profesional untuk melaksanakan pelayanan keperawatan kesehatan jiwa. Pada saat ini pelayanan keperawatan kesehatan jiwa berorientasi pada pelayanan komunitas. Komitmen ini sesuai dengan hasil Konfrensi Nasional I Keperawatan Jiwa pada bulan Oktober 2004, bahwa pelayanan keperawatan diarahkan pada tindakan prefentif dan promotif. Hal ini sejalan dengan paradigma sehat yang digariskan WHO dan dijalankan Departemen Kesehatan Ri, bahwa upaya proaktif perlu dilakukan  untuk mencegah terjadinya gangguan jiwa. Upaya proaktif ini melibatkan banyak profesi termasik psikiater dan perawat. Penanganan kesehatan jiwa bergeser pada upaya  kuratif / perawatan Rumah Sakit menjadi perawatankesehatan jiwa masyarakat. Pusat kesehatan jiwa masyarakat akan memberikan pelayanan di Rumah berdasarkan wilayah kerjanya, diharapkan pasien dekat dengan keluarganya sebagai sistem pendukung yang dapat membantu pasien mandiri dan boleh berfungsi sebagai individu yang berguna.

Menurut Stuart dan Sundan (1995) dalam Prabowo (2017) dalam memberikan asuhan dan pelayanan keperawatan kesehatan jiwa perawat dapat melakukan aktivitas pada tiga area utama, meliputi :

  1. Memberikan asuhan keperawatan secara langsung.
  2. Aktivitas komunikasi, dan
  3. Aktivitas dalam pengelolaan atau menejemen keperawatan.

Dalam hubungan perawat dengan pasien, ada beberapa peran perawat dalam keperawatan kesehatan jiwa, meliputi :

  1. Kopetensi klinik.
  2. Advokasi pasien dan keluarga.
  3. Tanggung jawab keuangan.
  4. Kerjasama antar disiplin ilmu di bidang keperawatan.
  5. Tanggung gugat sosial.
  6. Parameter etik legal.

Pada setiap tingkatan pelayanan kesehatan jiwa, perawat mempunyai peranan tertentu :

  1. Peran perawat dalam prevensi primer

       a. Memberikan penyuluhan tentang prinsip sehat jiwa.

       b. Mengefektifkan perubahan dalam kondisi kehidupan, tingkat kemiskinan dan pendidikan.

      c. Memberikan pendidikan dalam kondisi normal, pertumbuhan dan perkembangan dan pendidikan seks.

      d. Melakukan rujukan yang sesuai sebelum terjadi gangguan jiwa.

      e. Membantu pasien di Rumah Sakit Umum untuk menghindari masalah psikiatri.

      f. Bersama keluarga untuk memberikan dukungan pada anggotanya untuk meningkatkan fungsi kelompok.

     g. Aktif dalam kegiatan masyarakat atau politik yang berkaitan dengankesehatan jiwa.

       2. Peran perawat dalam prevensi sekunder

  • Melakukan skrining dan pelayanan evaluasi kesehatan jiwa.
  • Melakukan kunjungan rumah atau pelayanan penanganan di rumah.
  • Memberikan pelayanan kedaruratan psikiatri di Rumah Sakit umum.
  • Menciptakan lingkungan terapeutik.
  • Melakukan supervisi pasien yang mendapatkan pengobatan.
  • Memberikan pelayanan pencegahan bunuh diri.
  • Memberi konsultasi.
  • Melaksanakan intervensi krisis.
  • Memberikan psikoterapi pada individu, keluarga, dan kelompok pada semua usia.
  • Memberikan intervensi pada komunitas dan organisasi yang teridentifikasi masalah.

       3. Peran perawat dalam prevensi tertier

  • Melaksanakan latihan vokasional dan rehabilitasi.
  • Mengorganisasi pelayanan perawatan pasien yang sudah pulang dari Rumah Sakit Jiwa untuk memudahkan transisi dari Rumah Sakit Komunitas.
  • Memberikan pilihan perawatan rawat siang pada pasien.

 

DAFTAR PUSTAKA

Prabowo, 2017. Asuhan Keperawatan Jiwa. Semarang : Universitas Diponegoro

Undang-Undang No 3 Tahun 1966 tentang Kesehatan Jiwa.

Undang-Undang Republik Indonesia No 44 Tahun 2009 tentang Kesehatan Jiwa

Undang-Undang Republik Indonesia No 18 Tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa.

Penulis: 
Zeva Dwi Virsa, AMK
Sumber: 
Humas RSJD Babel

Artikel

26/09/2020 | GITTA RISKIKKA S.Farm,. Apt
26/09/2020 | Liya Anggraini,S.Kep.,Ns.
07/09/2020 | Rakhmawati Tri Lestari, S. Psi., M.Psi
30/06/2016 | Wieke Erina Ariestya, S.Kep.Ners
02/02/2017 | Muhammad Isnaini.S.Kep
14/11/2015 | Sri Ayu Indayani, S. Farm., Apt
16/11/2017 | Syafri Rahman,AMK

ArtikelPer Kategori