PERAN AYAH DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER ANAK

Dalam proses pengasuhan dan pendidikan anak, ayah memiliki posisi yang khusus dalam diri anak. Keterlibatan ayah dalam kehidupan sehari-hari memberikan kesan tersendiri bagi anak, baik pada anak laki-laki maupun anak perempuan. Kebutuhan akan hadirnya ayah dalam kehidupan anak akan menjadi referensi hidupnya dalam menjalani proses kehidupannya nanti. Peran ayah cukup beragam, secara umum yang dipahami peran yang utama adalah mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Namun seiring berkembangnya zaman, peran ayah tidak cukup hanya sekedar pemenuhan kebutuhan nafkah saja, ada banyak peran yang harus dijalankan oleh ayah dalam proses pendidikan anak.

                Teori tentang parenting khususnya tentang kehadiran ayah dalam proses pendidikan dan pengasuhan anak memberikan gambaran bahwa ayah memiliki peran yang penting dalam kehidupan anak. Menurut Hart, peran yang pertama yaitu sebagai pemenuh kebutuhan finansial anggota keluarga. Peran yang kedua yaitu sebagai teman bagi anak-anak yang menuntut lebih banyak waktu bagi ayah untuk bermain dengan anak-anak. Peran ketiga yaitu memberikan rasa nyaman dan hangat bagi anggota keluarga salah satunya yaitu pada anak. Peran keempat yang diharapkan dari ayah yaitu sebagai guru dan mentor, ayah merupakan sumber contoh atau teladan  bagaimana ia bersikap dan berperilaku dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga untuk perannya yang keempat tersebut ada pendapat yang menyatakan bahwa kehadiran seorang ayah lebih baik dari pada seratus guru, hal tersebut menunjukkan bahwa ayah merupakan contoh atau teladan yang efektif bagi anak-anak. Perannya yang kelima yaitu sebagai pengawas, ayah memiliki peran untuk mendeteksi penyimpangan yang dilakukan oleh anak sehingga kurang bijak ketika pengawasan terhadap anak diserahkan sepenuhnya kepada ibu atau pengasuhnya. Selain itu, penegakkan kedisiplinan juga ada pada ayah tentu saja dibantu oleh sosok ibu yang juga ikut berperan dalam penegakkan aturan di rumah. Peran yang keenam yaitu sebagai pelindung, yang dimaksud sebagai pelindung disini yaitu, ayah memastikan bahwa anak berada dalam kondisi yang aman dan terhindar dari bahaya, meskipun perlu dipisahkan dengan keinginan untuk menolong anak dalam segala situasi. Peran ketujuh yang perlu diperhatikan oleh para ayah yaitu ia memiliki peran untuk menjamin kesejahteraan anak terutama yang berhubungan dengan pendidikan dan kesehatan. Peran terakhir pada ayah yaitu sebagai pendukung, ayah memiliki peran penting untuk mendorong dan memberikan dukungan pada anak untuk mencapai tujuan atau cita-cita anak (Yuniardi dalam Wahyuningrum).

                Melihat pentingnya peran ayah dalam kehidupan anak maka menjadi suatu keharusnya bagi para ayah untuk memiliki kedekatan hubungan dengan anak-anak. Bagi anak laki-laki ia akan mempelajari aspek tanggungjawab, pengambilan keputusan, pemecahan masalah, dan bagaimana sikapnya dalam memperlakukan ibunya. Karena membesarkan anak laki-laki bertujuan untuk menyiapkan seorang laki-laki yang siap menjadi ayah dan suami yang bertanggungjawab, sehingga anak laki-laki membutuhkan model atau contoh bagaimana ayahnya bersikap terhadap ibu dan dirinya. Apakah anak perempuan harus dekat juga dengan ayahnya? Sama halnya dengan anak laki-laki kebutuhan kehadiran figur ayah sama pentingnya pada anak perempuan. Melalui ayahnya ia akan belajar tentang kemandirian, tanggungjawab, pengambilan keputusan, pemecahan masalah, dan konsep tentang laki-laki yang baik. Sehingga ketika ia beranjak dewasa maka ia sudah memiliki standar teman laki-laki yang baik untuk dijadikan teman.

                Beberapa faktor yang mempengaruhi keinginan ayah untuk mau terlibat dalam proses pendidikan karakter anak yaitu: yang pertama, motivasi yang dimiliki oleh ayah untuk terlibat dalam proses pendidikan anak. Faktor motivasi keterlibatan ayah dalam proses pendidikan tersebut dipengaruhi oleh sejauh mana kelekatannya dengan pekerjaan yang ia geluti, bagi ayah yang kurang memiliki keterikatan kerja yang tinggi menumbuhkan keinginan lebih tinggi untuk terlibat lebih lanjut. Sebaliknya untuk ayah yang memiliki keterikatan kerja yang tinggi maka dapat mempengaruhi motivasinya untuk bisa terlibat dalam proses pendidikan dan pengasuhan anak. Faktor yang ke dua yaitu kepercayaan diri ayah terhadap keterampilan atau kemampuannya dalam mengasuh dan mendidik anak, dalam penelitian yang dilakukan oleh Sanderson & Thompson dalam Wahyuningrum, 2011) ayah memiliki kepercayaan diri (efikasi diri) lebih rendah dari pada ibu dalam hal pengasuhan dan pendidikan anak. Faktor yang ketiga yaitu dukungan sosial, sejauh mana lingkungan baik dari pasangan, rekan sekerja maupun keluarga besarnya memberikan dukungan kepada ayah untuk ikut terlibat dalam pendidikan anak, sehingga dapat menghapus pandangan bahwa pengasuhan dan pendidikan anak diserahkan kepada ibu. Faktor keempat yaitu institusional (berhubungan dengan karakteristik pekerjaan). Semakin tinggi jam kerja ayah maka kesempatan untuk menjalin kedekatan dengan anak akan berkurang, sebaliknya semakin longgar jam kerja ayah makan akan memberikan peluang lebih besar untuk bisa berinteraksi dengan anak.  

                Adapun dampak dari keterlibatan ayah dalam pengasuhan terhadap anak yang telah diteliti dirangkum oleh Allen & Daly (dalam Wahyuningrum, 2011). Pada aspek perkembangan kognitif, anak yang memiliki kedekatan hubungan dengan ayah memiliki kemampuan pemecahan masalah dan tingkat IQ lebih tinggi dibandingkan dengan anak-anak yang kurang memiliki kedekatan dengan ayahnya. Selain itu, anak yang memiliki kedekatan dengan ayah kurang memiliki masalah perilaku di sekolah. Sedangkan pada aspek emosional, anak yang memiliki kemampuan adaptasi yang cukup baik sehingga membantunya untuk bisa menyesuaikan diri dalam lingkungan dan orang-orang baru, selain itu anak juga lebih mudah mengatur emosinya ketika sedang menghadapi masalah. Pada aspek perkembangan sosial, anak dengan pola kedekatan yang telah terbina dengan ayahnya mampu menjalin dan membina hubungan baik dengan teman sebaya maupun orang yang lebih dewasa darinya secara efektif, ada sikap saling membantu dan menghindari perilaku yang bersifat agresif dan lebih toleran. Anak yang dekat dengan ayah juga menghindarkan dari perilaku merusak seperti penggunaan zat adiktif, minum-minuman beralkohol, tawuran dan kenakalan remaja lainnya.

Mengingat pentingnya kedekatan antara ayah dan anak maka menuntut untuk adanya kegiatan atau “proyek” anak dan ayah yang bisa menjadi jembatan untuk membangun kedekatan diantara keduanya. Proyek ayah dan anak ini merupakan kegiatan bersama yang direncanakan berdua tanpa keterlibatan ibu dan saudara yang lainnya, sehingga setiap anak memiliki proyek yang berbeda-beda satu sama lain. Dengan adanya proyek bersama tersebut diharapkan dapat membangun kedekatan secara psikologis sehingga ayah mudah untuk mengenali dan menggali kondisi anak saat ini baik kondisi emosi maupun fisiknya. Selain itu, ayah mendapatkan kemudahan untuk bisa menyampaikan harapan, gagasan atau konsep norma yang dimilikinya kepada anak.

 

Daftar Pustaka

Wahyuningrum, E. 2011. Jurnal Psikowacana. Peran Ayah (Fathering) Pada Pengasuhan Anak Usia Dini (Sebuah Kajian Teoritis). Salatiga: Universitas Kristen Satya Wacana. 

Penulis: 
Rahmawati,S.Psi,M.Psi
Sumber: 
Humas RSJ Babel

Artikel

05/10/2017 | Boifrida,S.Kep.Ns
30/09/2017 | Boifrida,S.Kep.Ns
29/09/2017 | Rahmawati,S.Psi,M.Psi
19/09/2017 | dr Imelda Gracia Gani,Sp.KJ
30/06/2016 | Wieke Erina Ariestya, S.Kep.Ners
3,664 kali dilihat
30/05/2016 | Sri Chandra Dewi, SKM
738 kali dilihat
04/04/2016 | Sri Chandra Dewi, SKM (Perekam Medis)
664 kali dilihat
03/12/2015 | dr. H Heru Effendi, Sp.KJ
412 kali dilihat
14/11/2015 | Sri Ayu Indayani, S. Farm., Apt
371 kali dilihat

ArtikelPer Kategori