PENANGANAN GADUH GELISAH PASIEN GANGGUAN JIWA

  1. DEFINISI

Menurut Depkes RI, 1997 : keadaan gaduh gelisah bukanlah merupakan suatu diagnosa, tetapi hanya menunjuk pada suatu keadaan atau sindroma dengan sekelompok gejala tertentu dengan ciri utama yaitu gaduh dan gelisah.

Menurut Berkowitz, 1993 dalam Depkes, 2000 : perilaku kekerasan atau agresif merupakan suatu bentuk perilaku yang bertujuan untuk melukai seseorang secara fisik maupun psikologis.

Keadaan gaduh gelisah dapat dimasukkan kedalam golongan kedaruratan psikiatri, bukan karena frekuensinya yang cukup tinggi, akan tetapi karena keadaan ini berbahaya bagi pasien sendiri maupun bagi lingkungannya, termasuk orang lain dan barang-barangnya. Tidak jarang seseorang yang gaduh gelisah dibawa ke rumah sakit. Yang mengantarnya sering tidak sedikit dan biasanya ialah anggota keluarganya dan sering mereka juga bingung dan gelisah. suatu keadaan yang menimbulkan tanda gejala Psikomotor meningkat, yaitu :

  1. Banyak bicara
  2. Mondar-mandir
  3. Lari-lari
  4. Loncat-loncat
  5. Destruktif
  6. Bingung

Afek / emosi excitement, yaitu :

  1. Marah-marah
  2. Mengancam
  3. Agresif
  4. Ketakutan
  5. Euphoria

Gaduh gelisah (agitasi) meningkatnya :

  • luapan emosional
  • aktivitas motorik
  • aktivitas verbal

Gaduh gelisah manifestasi dari :

  1. Psikosis organik
  2. Psikosis fungsional :
  • Psikosis reaktif
  • Skizofrenia
  • Serangan mania
  • Paranoid
  1. Amok (berkaitan dengan budaya)

Gaduh gelisah yang lain :

  1. Kecemasan akut (paniek)
  2. Kebingungan post konvulsi
  3. Reaksi disosiasi (konversi histeri)
  4. Ledakan kemarahan (temper tantrum)

 

  1. GEJALA GADUH GELISAH

Keadaan gaduh gelisah biasanya timbul akut atau sub akut. Gejala utama ialah psikomotorik yang sangat meningkat. Orang itu banyak sekali berbicara, berjalan mondar mandir, tidak jarang ia berlari-lari dan meloncat-loncat bila keadaan itu berat. Gerakan tangan dan kaki serta ajuk (mimic) dan suaranya ceat dan hebat. Mukanya kelihatan bingung, marah-marah atau takut. Ekspresi ini mencerminkan gangguan afek-emosi dan proses berpikir yang tidak realistic lagi. Jalan pikiran biasanya cepat dan sering terdaat waham curiga. Tidak jarang juga timbul halusinasi penglihatan (terutama pada sindroma otak organic yang akut) dan halusinasi endengaran (terutama pada skizofrenia).

Karena gangguan proses berikir ini, serta waham curiga dan halusinasi (lebih-lebih bila halusinasi itu menakutkan), maka pasien menjadi sangat bingung, gelisah dan gaduh. Ia bersikap bermusuhan dan mungkin menjadi agresif dan destruktif. Karena itu semua, maka ia menjadi berbahaya bagi dirinya sendiri atau lingkungannya. Ia dapat melukai diri sendiri atau mengalami kecelakaan maut dalam kegelisahan yang hebat itu. Jika waham curiganya keras atau halusinasinya sangat menakutkan, maka ia dapat menyerang orang lain atau merusak barang-barang disekitarnya.

Bila orang dalam keadaan gaduh gelisah tidak dihentikan atau dibuat tidak berdaya oleh orang-orang disekitarnya untuk mengamankan si pasien dan lingkungannya, maka ia akan kehabisan tenaga dengan segala akibatnya atau ia meninggal karena kecelakaan. Tergantung pada gangguan primer, maka kesadaran data menurun secara kuantitatif (tidak compos mentis) dengan amnesia sesudahnya (seperti pada sindroma otak yang akut) atau kesadaran itu tidak menurun akan tetapi tidak normal, kesadaran itu berubah secara kualitatif. Seerti pada semua psikosa, maka individu dalam keadaan gaduh gelisah ini sudah kehilangan kontak dengan kenyataan:proses berpikir, afek-emosi, psikomotor dan kemauannya sudah tidak sesuai lagi dengan realitas.

  1. PENYEBAB KEADAAN GADUH GELISAH
  1. Gangguan psikotik akut
  2. Psikosa yang berhubungan dengan sindroma otak organic yang akut

Pasien dengan keadaan gaduh gelisah yang berhubungan dengan sindroma otak organic akut menunjukkan kesadaran yang menurun. Sindroma ini dinamakan delirium. Istilah sindroma otak organic menunjuk kepada keadaan gangguan fungsi otak karena suatu penyakit badaniah. Penyakit badaniah ini yang menyebabkan gangguan fungsi otak itu mungkin terdapat di otak sendiri dan karenanya mengakibatkan kelainan  patologik-anatomik. Secara mudah dapat dikatakan bahwa ada sindroma otak organic yang akut biasanya terdapat kesadaran yang menurun, pada sindrom otak organic yang menahun biasanya terdapat demensia,. Akan tetapi data daja menimbulkan psikosa ataupun gaduh gelisah.

  1. Skizofrenia
  2. Keadaan

Bila kesadaran tidak menurun, maka biasanya keadaan gaduh gelisah itu merupakan manifestasi suatu psikosa fungsional, yaitu psikosa yang tidak berhubungan atau sampai sekarang belum diketahui dengan pasti adanya hubungan dengan suatu penyakit badaniah seperti pada sindroma otak organic.

  1. Amok

Keadaan gaduh gelisah yang timbul mendadak dan dipengaruhi oleh factor-faktor social budaya, karena itu PPDGJ 1 memasukkan kedalam kelompok” Keadaan yang terikat pada kebudayaan setempat” (culture bound phenomenon). Efek malu memegang peranan penting. Biasanya seorang pria sesudah periode “meditasi” atau tindakan ritualistic, maka mendadak ia bangkit dan mengamuk. Ia menjadi sangat agresif dan destruktif.

  1. Gangguan panic

mungkin saja terjadi pada orang yang normal bila nilai ambang frustasinya mendadak dilampaui, misalnya kecemasan dan panic sewaktu kebakaran, kecelakaan masala tau bencana. Sebagian besar orang-orang ini lekas menjadi tenang kembali, bila perlu diberikan pengobatan suportif seerti berbicara dengan tenang, istirahat, tranquilaizer serta makanan dan minuman.

  1. Kebingungan post konvulsi

tidak jarang terjadi sebuah konvulsi karena epilepsy grandmall atau sesudah terapi konvulsi elektrokonvulsi. Pasien menjadi gelisah atau agresif. Keadaan ini berlangsung beberapa menit dan jarang lebih lama dari 15 menit. Pasien dikendalikan dengan dipegang saja dan dengan kata-kata yang menentramkan. Bila ia masih tetap bingung dan gelisah, maka perlu diberi diazeapam atau penthotal secara intravena untuk mengakhiri keadaan bingungnya.

  1. Reaksidisosiatifatau keadaan fugue memperlihatkan pasien dalam

keadaan bingung juga. Keduanya merupakan jenis nerosa histerik yang disebabkan oleh konflik emosional. Kesadaran pasien menurun, ia berbicara dan berbuat sesuai seperti dalam keadaan mimpi, sesudahnya terdapat amnesia total.

  1. Ledakan amarah (temper tantrum) tidak jarang timbul pada anak kecil.

Mereka menjadi binggung dan marah tidak karuan. Penyebabnya sering terdaat pada hubungan dengan dunia luar yang dirasakan begitu menekan sehingga tidak dapat ditahan lagi dan anak kecil itu bereaksi dengan caranya sendiri.

  1. PENANGANA PASIEN GADUH GELISAH

Pasien dalam episode kekerasan tidak memperhatikan campur tangan rasional dari orang lain dan kemungkinan tidak mendengarkan mereka. Jika memiliki senjata, pasien tersebut secara khusus berbahaya dan mampu untuk membunuh. Pasien tersebut harus dilucuti senjatanya dan kalau bisa tanpa membahayakan  pasien tersebut. Hal ini sebaiknya dilakukan oleh aparat keamanan yang terlatih.

Pasien  harus ditempatkan dalam lingkungan yang aman. Beberapa pasien perlu dipindahkan ke unit forensik karena beratnya potensi kekerasan mereka. Medikasi yang spesifik diberikan jika diindikasikan, kecuali diperlukan tindakan non spesifik untuk memodifikasi perilaku sampai penyebabanya dipastikan dan terapi psesifik dimulai.

Pemakaian medikasi adalah dikontraindikasikan pasien yang teragitasi akut yang menderita cidera kepala, karena medikasi dapat membingungkan gambaran klinis. Pada umumnya, haloperidol intramuskular (IM) adalah salah satu terapi gawat darurat yang paling bermanfaat untuk pasien psikotik yang melakukan kekerasan.

Terapi elektrokonvulsif (ECT) juga telah digunakan dalam ruang gawat darurat untuk mengendalikan kekerasan psikotik. Satu atau beberapa kali ECT dalam beberapa jam biasanya mengakhiri suatu episode kekerasan psikotik.

  1. PSIKOTERAPI

Dalam intervensi psikiatrik gawat darurat, semua usaha dilakukan untuk membantu pasien mempertahankan harga dirinya. Empati adalah penting untuk penyembuhan pasien psikiatrik. Pengetahuan yang diperlukan adalah bagaimana biogenetik, situasional, perkembangan dan eksistensial berkumpul pada satu titik dalam riwayat penyakit untuk menciptakan kegawat daruratan psikiatrik adalah seruppa untuk kematangan keterampilan pada dokter psikiatrik.

Untuk keadaan kegawt daruratan psikiatri, diperlukan lebih dari satu orang psikiater. Dan tidak ada prosedur yang baku untuk setiap orang, karena masing-masing orang memiliki kerentanan yang berbeda dan proses psikoterapi yang berbeda.

  1. FARMAKOTERAPI

Indikasi utama untuk pemakaian medikasi psikotropik diruang gawat darurat adalah perilaku kekekrasan atau menyerang, kecemasan atau panik yang masif, dan reaksi ekstrapiramidalis, seperti distonia dan akathisia sebagai efek samping dari obat psikiatrik. Suatu bentuk yang jarang dari distonia adalah laringospame, dan dokter psikiatrik harus siap untuk mempertahankan jalan nafas yang terbuka dengan intubasi jika diperlukan.

Orang yang paranoid atau dalam keadaan luapan katatonik memerlukan trankuilisasi. Ledakan kekerasan yang episodik berespon terhadap lithium (Eskalith), penghambat-beta, dan carbamazepine (Tegretol). Jika riwayat penyakit mengarahkan suatu gangguan kejang, penelitian klinis dilakukan untuk menegakkan diagnosis, dan suatu pemeriksaan dilakukan untuk memastikan penyebabnya. Jika temuan adalah positif, antikonvulsan adalah dimulai, atau dilakukan pembedahan yang sesuai (sebagai contohnya, pada massa serebral). Untuk intoksikasi akibat zat rekreasional, dilakukan tindakan konservatif mungkin adekuat. Pada beberapa keadaan, obat-obat seperti thiothixene (Navane) dan Haloperidol (Haldol), 5-10 mg setiap setengah sampai satu jam diperlukan sampai pasien distabilkan. Benzodiazepine digunakan sebagai pengganti atau sebagai tambahan antipsikotik (untuk menurunkan dosis antipsikotik). Jika obat reaksional memiliki sifat antikolinergik yang kuat, maka benzodiazepine lebih tepat dibandingkan antipsikotik. Orang dengan respon alergik atau menyimpang terhadap antipsikotik atau benzodiazepine diobati dengan sodium amobarbital (Amytal) (sebagai contohnya, 130 mg oral atau IM), paraldehyde, atau diphenhydramine (Benadril, 50 sampai 100 mg oral atau IM).

Pasien yang melakukan kekerasan dan melawan paling efektif ditenangkan dengan sedatif atau antipsikotik yang sesuai. Diazepam (Valium), 5-10 mg, atau lorazepam (Ativan), 2-4 mg, dapat diberikan intravena (IV) perlahan-lahan sampai 2 menit. Klinisi harus memberikan medikasi IV dengan sangat berhati-hati, sehingga henti pernafasan tidak terjadi. Pasien yang memerlukan medikasi IM dapat disedasi dengan haloperidol, 5-10 mg IM, atau dengan chlorpromazine (Thorazine), 25 mg IM. Jika kemarahan disebabkan oleh alkohol atau sebagai bagian dari gangguan psikomotor pascakejang, tidur yang ditimbulkan oleh medikasi IV dengan jumlah relatif kecil dapat berlangsung selama berjam-jam. Saat terjaga, pasien seringkali sepenuhnya terjaga dan rasonal dan biasanya memiliki amnesia lengkap untuk episode kekerasan.

Jika kemarahan adalah bagian dari proses psikotik yang sedang berlangsung dan kembali setelah medikasi IV menghilang, medikasi kontinu dapat diberikan. Kadang-kadang lebih baik menggunakan dosis IM atau oral kecil dengan interval ½ sampai 1 jam–sebagai contohnya, Haloperidol 2-5 mg, diazepam 10 mg–sampai pasien terkendali dibandingkan dengan menggunakan dosis besar pada awalnya dan menghentikannya dengan pasien yang mengalami overmedikasi. Saat perilaku pasien yang terganggu telah dikendalikan, dosis yang semakin kecil dan lebih jarang dapat diberikan. Selama terapi pendahuluan, tekanan darah pasien dan tanda vital lainnya harus dimonitor.

Transkuilisasi cepat. Medikasi antipsikotik dapat diberikan dalam cara cepat dengan interval 30-60 menit untuk mencapai hasil terapetik yang secepat mungkin. Prosedur ini bermanfaat bagi pasien yang teragitasi dan pasien yang dalam keadaan tereksitasi. Obat yang dipilih untuk trankuilisasi cepat adalah haloperidol dan antipsikotik potensi tinggi lainnya. Pada orang dewasa 5-10 mg Haloperidol peroral atau IM dan diulangi dalam 20-30 menit sampai pasien menjadi tenang. Beberapa pasien mungkin mengalami gejala ekstrapiramidal ringan dalam 24 jan pertama setelah transkuilisasi cepat. Walaupun keadaan ini jarang, tetapi dokter psikiatri harus bisa mengatasinya. Dan keadaan ini biasanya terjadi sebelum diberikan dosis total 50 mg. Tujuan dari pemberian ini bukanlah untuk proses sedasi atau somnolensi. Tetapi agar pasien mampu bekerja sama dalam proses pemeriksaan dan dapat memeberikan penjelasan tentang perilaku teragitasi. Pasien yang teragitasi atau panik dapat diobati dengan dosis kecil lorazepam, 2-4 mg IV atau IM yang dapat diulangi jika diperlukan dalam 20-30 menit sampai pasien ditenagkan

Kegawatan ekstrapiramidal berespon terhadap benztropine (Cogetin) 2 mg peroral atau IM, atau diphenhydramine 50 mg IM atau IV. Beberapa pasien berespon terhadap diazepam 5-10 mg peroral atu IV.

  1. PENGIKATAN

Pengikatan digunakan jika pasien sangat berbahaya bagi dirinya sendiri atau orang lain karena memiliki ancaman yang sangat parah yang tidak dapat dikendalikan dengan cara lain. Pasien dapat diikat secara sementara untuk mendapatkan medikasi atau untuk periode yang lama jika medikasi tidak dapat digunakan. Paling sering, pasien yang diikat menjadi tenang setelah beberapa waktu. Pada tingkat psikodinamika, pasien tersebut mungkin menerima pengendalian impuls yang diberikan oleh pengikatan.

DAFTAR PUSTAKA

http://astaqauliyah.com/2006/12/falsafah-dasar-kegawatdaruratan/trackback/

http://www.lintasberita.com/Lifestyle/Kesehatan/tahukah-anda-tanda-tanda-jika-orang-ingin-bunuh-diri-

Stuart, G.W.2007. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Jakarta : EGC.

Yosef, Iyus. 2009. Keperawatan Jiwa. Bandung : Refika Aditama.

Herdman, T. heather. 2012. NANDA Internasional Diagnosis Keperawatan : Definisi dan Klasifikasi 2012-2014. Jakarta : EGC.

Penulis: 
Syafri Rahman,AMK
Sumber: 
Humas RSJ Babel

Artikel

ArtikelPer Kategori