MENGENAL SKIZOFRENIA

Skizofrenia adalah gangguan jiwa berat yang gejala utamanya adalah terdapatnya gangguan penilaian realitas, yaitu mengalami kesulitan membedakan antara nyata dengan tidak nyata. Gangguan penilaian realitas dapat berupa halusinasi dan waham. Penderitanya biasanya menunjukkan perubahan perilaku dan pikiran kacau.

Halusinasi adalah gangguan persepsi yang keliru ditangkap oleh panca indera, misalnya mendengar suara yang sebetulnya tidak nyata, atau melihat bayang-bayang yang tidak nyata, yang tidak dapat didengar atau dilihat orang lain. Bagi orang yang mengalaminya, halusinasi terasa sangat nyata, dan terdapat kesulitan baginya untuk membedakan dengan kenyataan yang sebenarnya. Orang di sekitarnya biasanya melihat dirinya berbicara sendiri, tertawa sendiri, atau marah-marah sendiri. Bagi orang yang mengalami halusinasi, ia tidak merasa bahwa ia bicara sendiri, karena suara yang didengarnya sungguh nyata bagi dirinya.

Waham adalah keyakinan yang keliru dan tidak sesuai dengan budaya setempat, tetapi dipertahankan dengan kuat oleh orang yang memilikinya. Ada beberapa jenis waham, yaitu waham paranoid, waham kebesaran, waham rujukan, dan lain-lain.

Penderita skizofrenia sering menunjukkan gejala gaduh gelisah, ketakutan, bicara sendiri, tertawa sendiri, menarik diri dari lingkungan, sulit tidur, merasa orang di sekitarnya berniat jahat pada dirinya, dan merasa disindir dan dibicarakan oleh orang di sekitarnya. Semua gejala ini terjadi karena ketidakmampuannya membedakan antara realitas dengan bukan realitas seperti yang dijelaskan di atas. Gaduh gelisah pada derajat yang berat dapat menyebabkan perilaku kekerasan, seperti memukul, melempar dan merusak barang-barang, membawa senjata tajam dan mengancam, sampai dengan membunuh atau bunuh diri. Pada dasarnya, seorang dengan skizofrenia menjadi gelisah karena ia sedang ketakutan akibat halusinasi yang didengarnya atau keyakinan bahwa ada pihak yang hendak mencelakai dirinya. Karena ia tidak mampu membedakannya dengan kenyataan, maka ia yakin bahwa hal tersebut beul-betul sedang terjadi.

Gejala skizofrenia biasanya dimulai pada usia dewasa muda, yaitu sekitar usia 20 sampai 30 tahun, tetapi tidak menutup kemungkinan terjadi pada usia anak (di bawah 18 tahun) dan pada usia lanjut. Gejala biasanya diawali dengan perubahan sikap dan perilaku, misalnya menarik diri atau menjadi pendiam, tidak mau bertemu orang dan terjadi penurunan aktivitas. Gejala seperti ini seringkali tidak disadari oleh keluarga sebagai awal dari gejala gangguan jiwa, sampai dengan timbulnya gejala yang lebih parah. Semakin cepat diobati, maka kemungkinan pulihnya semakin besar, dan sebaliknya, bila dibiarkan tanpa pengobatan selama bertahun-tahun, maka proes pemulihan akan lebih sulit. Dalam hal ini, keluarga dan lingkungan sekitar berperan sangat besar untuk membantu mengenali gejala sedini mungkin dan untuk mendapat pengobatan secepat mungkin. Pengobatan bisa didapatkan di Puskesmas, Rumah Sakit, dan Rumah Sakit Jiwa. Bila kondisinya cukup berat dan dibutuhkan rawat inap, maka sebaiknya segera dibawa ke Rumah Sakit Jiwa.

Ada beberapa penyebab terjadinya skizofrenia, yaitu faktor genetik (keturunan), kelainan struktur otak dan sistem saraf, masalah dalam kehamilan (kekurangan nutrisi saat dalam kandungan, penyakit tertentu yang menebabkan gangguan pembentukan struktur dan fungsi otak janin, terpapar racun atau logam berat), penyalahgunaan zat atau obat-obatan, dan beberapa faktor lain yang masih belum jelas hubungan sebab-akibatnya. Penelitian mendapatkan bahwa terjadi ketidakseimbangan zat kimiawi otak (neurotransmitter dopamin, serotonin, norepinefrin) pada orang yang menderita skizofrenia. Oleh karena itu, obat-obat yang diberikan bertujuan untuk membantu mengembalikan keseimbangan zat-zat kimiawi otak tersebut,  agar otak dapat kembali berfungsi sebagaimana seharusnya.

Tujuan pengobatan adalah untuk mengendalikan gejala, mengembalikan fungsi otak, mengembalikan kemampuan untuk bekerja, bersosialisasi, dan merawat diri sendiri. Selain obat, perlu diberikan pula terapi rehabilitasi mental maupun sosial, yaitu melatih kemampuan untuk berkomunikasi, kemampuan mengekspresikan emosi, latihan kerja, latihan kognitif, dan lain-lain.

Peran keluarga dan lingkungan adalah memberi dukungan terhadap pengobatan, menerima penderita apa adanya dengan segala kelebihan dan kekurangannya, serta menjauhkan pandangan negatif terhadap penderita.

Skizofrenia bisa dipulihkan dengan kerjasama yang baik antara penderita itu sendiri, keluarga, lingkungan, petugas kesehatan, dan dukungan pemerintah.

Penulis: 
dr Imelda Gracia Gani,Sp.KJ

Artikel

13/12/2017 | Gita Riskika, S.Farm, APT
13/12/2017 | Gita Riskika, S.Farm, APT
13/12/2017 | Gita Riskika, S.Farm, APT
13/12/2017 | Jun Winasto, S.Kep
30/06/2016 | Wieke Erina Ariestya, S.Kep.Ners
4,893 kali dilihat
30/05/2016 | Sri Chandra Dewi, SKM
815 kali dilihat
04/04/2016 | Sri Chandra Dewi, SKM (Perekam Medis)
781 kali dilihat
03/12/2015 | dr. H Heru Effendi, Sp.KJ
451 kali dilihat
14/11/2015 | Sri Ayu Indayani, S. Farm., Apt
438 kali dilihat

ArtikelPer Kategori