MENGENAL DISABILITAS MENTAL

Apa yang terbersit di benak kita saat ada orang dengan perilaku yang tidak lazim seperti tertawa sendiri, menggelandang, marah-marah tanpa sebab? Orang gila, itulah pikiran yang langsung terbersit di pikiran kita. Yang lebih memahami tentang kesehatan jiwa akan mengatakan orang tersebut adalah Orang Dengan Masalah Kejiwaan (ODMK) dan ODGJ (Orang dengan Gangguan Jiwa). Ya, hal tersebut tidak bisa disalahkan, tetapi perlu sosialisasi tentang kesehatan jiwa, tentang disabilitas mental.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, disabilitas mental adalah gangguan fungsi pikir, emosi, dan perilaku. Sedangkan Direktorat Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Kementerian Sosial RI, menyebut penyandang disabilitas mental adalah ODMK dan ODGJ yang mengalami hambatan dalam interaksi dan partisipasi di masyarakat dalam jangka waktu lama. Dapat dikatakan bahwa, ODGJ dan ODMK karena penyakit yang dideritanya berupa gangguan fungsi pikir, emosi, perilaku, gangguan perasaan, gangguan persepsi, gangguan motivasi dan neurokognitif. Sebagai akibatnya, kemampuan sosialisasi dan partisipasi di masyarakat mengalami hambatan dalam jangka waktu yang lama.

Disabilitas mental memiliki ciri khas yang sangat menonjol yaitu memiliki perilaku gaduh gelisah, perilaku kekerasan dan atau terdiagnosa memiliki penyakit skizofrenia. Secara spesifik, disabilitas mental mengalami gangguan perasaan berupa emosi yang meledak-ledak, perubahan perasaan yang sangat ekstrim dari yang sangat sedih hingga sangat bahagia dan penuh energi alih-alih datar dan tanpa ekspresi. Perilaku penyandang disabilitas mental seringkali jorok dan tidak rapi.

Hal lain yang dominan adalah persepsi yang salah berupa halusinasi membuat penderita disabilitas mental tidak mampu membedakan yang nyata dan tidak nyata. Kondisi ini mempengaruhi pola pikir penyandang disabilitas saat diajak bicara menjadi tidak nyambung, tidak sesuai, atau kadang ketinggian. Setelah memahami tentang pengertian dan ciri-ciri pada penyandang disabilitas mental, maka selanjutnya adalah bagaimana cara menghadapi penyandang disabilitas mental. Sama seperti penyandang disabilitas lain, seperti disabilitas fisik misalnya. Penyandang disabilitas tidak memiliki kaki, maka dibantu dengan kursi roda atau kruk, kurang pendengaran dengan alat bantu dengar atau bahasa isyarat.

Demikian halnya dengan penyandang disabilitas mental, ketidakmampuan dalam bersosialisasi dan interaksi di tengah masyarakat memerlukan bantuan. Hal pertama yang dapat membantu penyandang disabilitas mental adalah tidak membuat mereka stress dan tertekan dengan masalah. Saat berinteraksi dengan penyandang disabilitas mental, menggunakan kata yang mudah dimengerti. Hal lain yang diperlukan adalah kesabaran dan pemakluman-pemakluman pada kondisi penyandang disabilitas mental. Besar harapannya, tidak ada lagi stigma negative bagi penyandang disabilitas mental. Perlu pemakluman yang besar sehingga tidak ada lagi orang yang merekam orang yang sedang telanjang di pinggir jalan, alih-alih membantu penyandang disabilitas mental tersebut untuk mendapatkan perawatan sebagaimana mestinya.

DAFTAR PUSTAKA

Yazfinedi. 2018. KONSEP, PERMASALAHAN, DAN SOLUSI PENYANDANG DISABILITAS MENTAL DI INDONESIA. Jurnal Quantum Vol XIV nomor 26 Juli-Desember 2018.

Diakses pada tanggal 25 Februari 2021 jam 20.00 di https://ejournal.kemsos.go.id/index.php/Quantum/article/download/1740/906

KBBI DARING Diakses pada tanggal 25 Februari 2021 jam 20.00 di https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/disabilitas%20mental Widinarsih,Dini.2019.

PENYANDANG DISABILITAS DI INDONESIA: PERKEMBANGAN ISTILAH DAN DEFINISI. JURNAL ILMU KESEJAHTERAAN SOSIAL, JILID 20, NOMOR 2, OKTOBER 2019, 127-142.

Diakses pada tanggal 25 Februari 20120 jam 20.00 di http://jurnalkesos.ui.ac.id/index.php/jiks/article/download/239/153

Penulis: 
Tri Nurul Hidayati
Sumber: 
Perawat Rumah Sakit Jiwa Daerah