MENGENAL DAN MERAWAT PASIEN DENGAN MASALAH ISOLASI SOSIAL

Pernahkah kita melihat pasien-pasien gangguan jiwa di ruang-ruang perawatan psikiatri yang menarik diri dari lingkungannya, tidak berminat / menolak berinteraksi dengan orang lain, terlihat sedih, tidak bergairah / lesu, bahkan ada yang menunjukkan permusuhan? Hal Ini merupakan tanda-tanda dari salah satu masalah keperawatan yaitu isolasi sosial.  Pengalaman penulis sendiri sebagai perawat di unit perawatan psikiatri pada pasien-pasien dengan gangguan jiwa berat, mereka mengungkapkan perasaan tidak aman ketika berada di dekat orang lain, merasa hanya ingin sendirian, merasa berbeda dengan orang lain, ataupun merasa asyik dengan pikirannya sendiri. Banyak orang menganggap tanda dan gejala ini sebagai hal yang biasa dan dibiarkan begitu saja sehingga penatalaksanaan dari permasalahan isolasi sosial ini menjadi terlambat.

Kejadian isolasi sosial di sekitar kita seringkali ditemukan terutama pada pasien-pasien gangguan psikiatrik dengan depresi mayor dan skizofrenia, gangguan fisik, dan pasien dengan penyakit kronis. Tetapi tidak menutup kemungkinan permasalahan ini juga dapat terjadi pada orang-orang di sekitar kita yang tanpa mengalami gangguan-gangguan tersebut. Apabila tidak segera ditangani maka akan menyebabkan kemunduran pada kualitas kehidupan sosial seseorang. Pada beberapa kasus yang penulis temukan selama merawat pasien-pasien gangguan jiwa berat didapatkan ada yang sudah mengalami kemunduran, tidak produktif, berhenti bekerja, sekolah, dan berpisah dengan pasangannya.

Berdasarkan Standar diagnosis keperawatan Indonesia, isolasi sosial adalah ketidakmampuan untuk membina hubungan yang erat, hangat, terbuka, dan interdependen dengan orang lain. Dalam referensi lain dikatakan bahwa isolasi sosial adalah keadaan seorang individu mengalami penurunan atau bahkan sama sekali tidak mampu berinteraksi dengan orang lain di sekitarnya. Pasien-pasien dengan isolasi sosial biasanya menarik diri dalam kehidupan sosial / dengan orang lain, termasuk keluarga dan teman dekat. Pasien mungkin merasa ditolak, tidak diterima, kesepian, dan tidak mampu membina hubungan yang berarti dengan orang lain. Banyak pasien-pasien dengan gangguan jiwa berat seperti skizofrenia menunjukkan respon atau tanda dan gejala demikian. Dalam bukunya Gelombang Lautan Jiwa (Samsara, 2010), dalam Epilogue nya dr. Eka Viora, Sp.KJ menjelaskan beberapa faktor yang menyebabkan orang dengan skizofrenia mengalami isolasi sosial adalah hilangnya dorongan minat, motivasi, inisiatif, adanya delusi (waham) yang menyebabkan ketakutan untuk berinteraksi dengan orang lain, kesulitan konsentrasi pada percakapan dan hilangnya keterampilan sosial.

Bagaimana cara kita mengenali masalah isolasi sosial? Sekedar berbagi pengalaman sebagai perawat yang berkerja di area keperawatan jiwa berikut ini akan saya jelaskan. Dalam praktiknya sebagai perawat kami menilai respon pasien terkait masalah kesehatan yang mereka hadapi, khususnya orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Dalam mendiagnosis seseorang mengalami isolasi sosial ataupun tidaknya, ada beberapa indikator atau tanda (sign) dan gejala (symptom) yang bisa diidentifikasi. Tanda dan gejala dari isolasi sosial tentunya beragam antara individu yang satu dengan yang lainnya.Tanda  dan gejala ini dapat kita identifikasi secara subjektif maupun objektif. Apa saja tanda dan gejala dari isolasi sosial tersebut? Berikut ini beberapa diantaranya.

  1. Tanda (bisa kita identifikasi secara objektif)
  • Apatis (acuh terhadap lingkungan)
  • Tidak memiliki teman dekat
  • Ekspresi tampak sedih (wajah kurang berseri)
  • Menarik diri (menghindari orang lain, tampak menyendiri, dan memisahkan diri dari orang lain).
  • Komunikasi kurang / tidak ada (tidak komunikatif)
  • Menunjukkan permusuhan
  • Menolak berhubungan dengan orang lain, memutuskan pembicaraan, atau pergi saat diajak bercakap-cakap
  • Tidak ada kontak mata dan sering menunduk
  • Tidak bergairah / lesu (kurang berenergi/bertenaga)
  • Aktivitas menurun (tidak tampak melakukan kegiatan sehari-hari)
  • Perawatan diri kurang, tidak memperhatikan kebersihan diri

       2. Gejala (bisa diidentifikasi secara subjektif)

  • Menjawab dengan singkat “ya”, “tidak”, “tidak tahu”
  • Tidak menjawab sama sekali
  • Merasa ingin sendirian (malas bergaul dengan orang lain)
  • Merasa tidak aman di tempat umum atau ketika berada dengan orang lain
  • Merasa berbeda dengan orang lain
  • Merasa asyik dengan pikiran sendiri
  • Menceritakan perasaan kesepian atau ditolak oleh orang lain
  • Mengatakan hubungan yang tidak berarti dengan orang lain
  • Merasa tidak berguna (rendah diri)

Bagaimana cara merawat pasien dengan masalah isolasi sosial ? Sebagai seorang perawat, berikut ini ada beberapa tindakan sederhana yang bisa saya bagikan untuk merawat pasien, teman dekat, keluarga, ataupun orang-orang di sekitar kita yang mengalami masalah isolasi sosial.

  1. Selalu bina hubungan saling percaya terhadap pasien. Setiap kali kita berinteraksi tunjukkan sikap hangat dan ramah, empati, dan selalu menghargai.
  2. Bantu pasien menyadari perilaku isolasi sosial. Diskusikan tentang kebiasaan nya dalam berinteraksi dengan orang lain, penyebab tidak ingin berinteraksi dengan orang lain, serta diskusikan keuntungan bersosialisasi dan kerugian mengisolasi diri.
  3. Latih pasien berinteraksi dengan orang lain secara bertahap. Jelaskan caranya berinteraksi dengan orang lain, berikan contoh cara berbicara dengan orang lain, beri kesempatan pasien untuk mempraktikkannya.
  4. Ketika pasien mampu mengerti dan mempraktikkan cara berinteraksi, bantu pasien berinteraksi secara bertahap dimulai dengan satu orang teman / anggota keluarga. Bila menunjukkan kemajuan, tingkatkan jumlah interaksi dengan dua, tiga, empt orang, dan seterusnya
  5. Jangan lupa beri pujian untuk setiap kemajuan interaksinya.
  6. Dengarkan ekspresi perasaan pasien setelah berinteraksi dengan orang lain. Dengarkan ungkapan keberhasilan ataupun kegagalannya. Terus berikan dorongan agar tetap semangat meningkatkan interaksinya.

DAFTAR PUSTAKA

Sutejo. 2015. Keperawatan Jiwa. Yogyakarta : Pustaka Baru Press

Yusuf, A.H., Rizky Fitryasari dan H.E. Nihayati. 2015. Buku Ajar Keperawatan Asuhan Kesehatan Jiwa. Jakarta : Penerbit Salemba Medika

Prabowo, Eko. 2014. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Yogyakarta : Nuha Medika

Samsara, Anta. 2010. Gelombang Lautan Jiwa. Yogyakarta : Jejak Kata Kita

Muhith, Abdul. 2015. Pendidikan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta : Andi Offset

Keliat, B. A. dkk. 2009.  Model Praktik Keperawatan Profesional Jiwa. Jakarta : EGC

Tim Pokja SDKI DPP PPNI. 2016. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia. Jakarta : DPP PPNI

Fitria, Nita. 2012.Prinsip Dasar dan Aplikasi Penulisan Laporan Pendahuluan dan Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika

Penulis: 
Fuad Hamada,S.Kep.Ners
Sumber: 
Humas RSJD Babel

Artikel

30/06/2016 | Wieke Erina Ariestya, S.Kep.Ners
02/02/2017 | Muhammad Isnaini.S.Kep
14/11/2015 | Sri Ayu Indayani, S. Farm., Apt
04/04/2016 | Sri Chandra Dewi, SKM (Perekam Medis)

ArtikelPer Kategori