MENGENAL 7 DIAGNOSIS KEPERAWATAN UTAMA DALAM ASUHAN KEPERAWATA JIWA

Perawat sebagai pemberi pelayanan kesehatan (asuhan keperawatan) dalam praktiknya melakukan penilaian klinis mengenai respon atau reaksi pasien terhadap masalah kesehatan atau proses kehidupan yang dialami, baik yang berlangsung aktual maupun potensial. Penilaian klinis ini dinamakan diagnosis keperawatan yang merupakan dasar pengembangan rencana intervensi keperawatan dalam rangka mencapai peningkatan, pencegahan, dan penyembuhan penyakit, serta pemulihan kesehatan.

Dalam praktik asuhan keperawatan jiwa ada berbagai respon (diagnosis keperawatan) yang ditemukan. Respon perilaku individu terhadap stressor bervariasi sesuai dengan kondisi masing-masing. Berdasarkan pengalaman penulis dalam berpraktik di area keperawatan jiwa ada beberapa respon perilaku (diagnosis keperawatan) yang sering ditemukan pada pasien-pasien dengan gangguan jiwa berat, diantaranya :

Perilaku kekerasan

Perilaku kekerasan merupakan salah satu respon terhadap stressor yang dihadapi oleh seseorang. Respon ini dapat menimbulkan kerugian, baik pada diri sendiri, orang lain, maupun lingkungan. Perilaku kekerasan dapat terjadi dalam dua bentuk, yaitu perilaku kekerasan saat sedang berlangsung atau perilaku kekerasan terdahulu (riwayat perilaku kekerasan). Dalam Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI) ada 2 label diagnosis terkait hal ini, yaitu Perilaku Kekerasan dan Resiko Perilaku Kekerasan.

Perilaku kekerasan (0132) adalah kemarahan yang diekspresikan secara berlebihan dan tidak terkendali secara verbal sampai dengan mencederai orang lain dan / atau merusak lingkungan. Secara subjektif (symptom) biasanya disertai dengan mengancam, mengumpat dengan kata-kata kasar, suara keras, bicara ketus. Sedangkan secara objektif (sign) ditandai dengan menyerang orang lain, melukai diri sendiri / orang lain, merusak lingkungan, perilaku agresif / amuk. Selain itu biasanya juga ditandai dengan mata melotot atau pandangan tajam, tangan mengepal, rahang mengatup, wajah memerah, dan postur tubuh kaku.

Resiko perilaku kekerasan (0146) secara definisi berarti beresiko membahayakan secara fisik, emosi, dan / atau seksual pada diri sendiri atau orang lain. Adapun indikator diagnostik (faktor resiko) dari diagnosa ini sendiri, antara lain pemikiran waham / delusi, curiga pada orang lain, halusinasi, berencana bunuh diri, kerusakan kognitif, disorientasi atau konfusi, kerusakan kontrol impuls,alam perasaaan depresi, riwayat kekerasan pada hewan, kelainan neurologis, penganiayaan atau pengabaian anak, riwayat atau ancaman kekerasan terhadap diri sendiri atau orang lain atau destruksi prorperti orang lain, impulsif, dan ilusi.

Faktor seseorang dapat melakukan perilaku kekerasan beragam diantaranya adalah psikologis, perilaku yang dilakukan orang lain, control social yang pasif dan bioneurologis (kerusakan pada system limbik, lobus frontal dan lobus temporal). Selain itu, ada faktor prespitasi seperti kelemahan fisik, keputusaan dan percaya diri kurang sehingga memunculkan perilaku kekerasan.

Langkah dalam penanganan klien dengan perilaku kekerasan beragam salah satu diantaranya adalah metode assertive training atau terapi tingkah laku dimana klien diminta mengungkapkan perasaan marah secara tepat atau asertif sehingga mampu berhubungan dengan orang lain. Mampu menyatakan apa yang disukai, yang ingin dikerjakan dan merasa nyaman berbicara tentang dirinya.

Gangguan sensori persepsi : halusinasi

Halusinasi adalah salah satu gejala gangguan jiwa pada individu yang ditandai denagn perubahan sensori persepsi; merasakan sensasi palsu berupa suara, penglihatan, pengecapan, perabaan, atau penghiduan. Pasien merasakan stimulus yang sebenarnya tidak ada. Secara subjektif (symptom) biasanya pasien mengatakan mendengar suara bisikan atau melihat bayangan, merasakan sesuatu melalui indera perabaan, penciuman,atau pengecapan. Secara objektif (sign) ditandai dengan adanya distorsi sensori, respon tidak sesuai, bersikap seolah melihat, mendengar, mengecap, meraba, atau mencium sesuatu. Selain itu juga ditandai dengan perilaku menyendiri, melamun, konsentrasi buruk, disorientasi (waktu, tempat, orang atau situasi), curiga, melihat ke satu arah, mondar mandir, dan bicara sendiri.

Ada banyak faktor penyebab seseorang mengalami gangguan sensori : halusinasi yaitu tugas masa perkembangan yang terhambat, masalah sosial seperti kemiskinan, kondisi lingkungan seperti adanya stressor lingkungan, kerusuhan, faktor biologi, faktor psikologis seperti hubungan interpersonal yang tidak harmonis dan kondisi kesehatan (gizi buruk atau infeksi).

Isolasi sosial

Isolasi sosial adalah keadaan ketika seorang individu mengalami penurunan atau bahkan sama sekali tidak mampu berinteraksi dengan orang lain di sekitarnya. Pasien dengan isolasi sosial biasanya merasa ingin sendirian, merasa tidak aman di tempat umum. Pada beberapa kasus biasanya pasien juga mengungkapkan merasa berbeda dengan orang lain, merasa asyik dengan pikiran sendiri, dan merasa tidak mempunyai tujuan yang jelas. Perilaku yang sering ditunjukan ditandai dengan menarik diri, tidak berminat / menolak berinteraksi dengan orang lain atau lingkungan, jarang berkomunikasi, tidak ada kontak mata, malas, tidak beraktifitas dan menolak hubungan dengan orang lain. Dampak dari isolasi social yang tidak tertangani adalah penurunan produktifitas seseorang.

Gangguan proses pikir : waham

Waham adalah suatu keyakinan yang salah yang dipertahankan secara kuat / terus menerus, tetapi tidak sesuai dengan kenyataan. Secara subjektif biasanya pasien mengungkapkan isi waham, seperti waham kebesaran (“saya ini pejabat presiden..” atau “Saya punya tambang emas..”), waham curiga (“saya tahu seluruh saudara saya ingin menghancurkan hidup saya karena mereka iri dengan kesuksesan saya..”). Biasanya juga ditandai dengan menunjukkan perilaku sesuai isi waham, isi pikir tidak sesuai realitas, isi pembicaraan sulit dimengerti. Selain itu pasien juga terlihat curiga berlebihan, waspada berlebihan, bicara berlebihan, sikap menentang atau permusuhan, wajah tegang, pola tidur berubah, tidak mampu mengambil keputusan, flight of idea, produktifitas kerja menurun, tidak mampu merawat diri, dan menarik diri.

Penyebab seseorang mengalami waham antara lain faktor biologi seperti kerusakan neurologis yang mempengaruhi system limbic dan ganglia basalis dan faktor psikodinamika.

Resiko bunuh diri

Secara definisi resiko bunuh diri berarti beresiko melakukan upaya menyakiti diri sendiri untuk mengakhiri kehidupan. Faktor resiko nya antara lain gangguan perilaku (mis. euforia mendadak setelah depresi, perilaku mencari senjata berbahaya, membeli obat dalam jumlah banyak, membuat surat warisan), demografi (mis. lansia, status perceraian, janda / duda, ekonomi rendah, pengangguran), gangguan fisik (mis. nyeri kronis, penyakit terminal), masalah sosial (mis. berduka, tidak berdaya, putus asa, kesepian, kehilangan hubungan yang penting, isolasi sosial), dan gangguan psikologis (mis. penganiayaan masa kanak-kanak, riwayat bunuh diri sebelumnya, remaja homoseksual, gangguan psikiatrik, penyalahgunaan zat).

Berdasarkan data WHO (2015), bunuh diri menjadi penyebab utama kedua kematian pada usia produktif 15-29 tahun dan rata-rata kematian karena bunuh diri di Indonesia adalah satu orang pada setiap satu jam. Tidak semua tindakan bunuh diri disebabkan oleh gangguan jiwa, tetapi 80-90% remaja yang meninggal karena bunuh diri mempunyai psikopatologi signifikan seperti gangguan mood, gangguan cemas, problem perilaku dan penyalahgunaan NAPZA. Menurut WHO Global Health Estimates 2017, kematian global tertinggi akibat bunuh diri adalah pada usia 20 tahun di negara low- and-middle income. Lebih lanjut menurut Global School Based Health Survey 2015 keinginan untuk bunuh diri pada pelajar SMP dan SMA lebih banyak remaja perempuan daripada remaja laki-laki. Data Riskesdas 2013 memaparkan angka bunuh diri di kota lebih banyak daripada di desa. Dan kejadian ini lebih banyak menimpa remaja dengan masalah emosional dengan gejala mempunyai pikiran mengakhiri hidup, merasa tidak mampu melaksanakan hal-hal yang bermanfaat dalam hidup, merasa tidak berharga, kehilangan minat pada berbagai hal, pekerjaan sehari-hari terganggu.

Defisit perawatan diri

Defisit perawatan diri tampak dari ketidakmampuan merawat kebersihan diri, makan, berhias diri, dan eliminasi (buang air besar dan buang air kecil) secara mandiri. Tanda dan gejala yang tampak pada pasien yang mengalami defisit perawatan diri adalah sebagai berikut :

Gangguan kebersihan diri, ditandai dengan rambut kotor, gigi kotor, kulit berdaki dan bau, serta kuku panjang dan kotor.

Ketidakmampuan berhias / berpakaian, ditandai dengan rambut acak-acakan, pakaian kotor dan tidak rapi, pakaian tidak sesuai, pada pasien laki-laki tidak bercukur, pada pasien perempuan tidak berdandan.

Ketidakmampuan makan secara mandiri, ditandai oleh ketidakmampuan mengambil makan sendiri, makan berceceran, dan makan tidak pada tempatnya.

Ketidakmampuan eliminasi secara mandiri, ditandai dengan buang air besar (BAB) atau buang air kecil (BAK) tidak pada tempatnya, dan tidak membersihkan diri dengan baik setelah BAB / BAK.

Harga diri rendah

Harga diri rendah adalah perasaan tidak berharga, tidak berarti dan rendah diri yang berkepanjangan akibat evaluasi negatif terhadap diri sendiri dan kemampuan diri. Secara subjektif pasien menilai diri negatif (mis. tidak berguna, tidak tertolong), merasa malu / bersalah, merasa tidak mampu melakukan apapun, meremehkan kemampuan mengatasi masalah, merasa tidak memiliki kelebihan atau kemampuan positif, melebih-lebihkan penilaian negatif tentang diri sendiri, menolak penilaian positif tentang diri sendiri. Secara objektif ditandai dengan enggan mencoba hal baru, berjalan menunduk, postur tubuh menunduk. Selain itu bisa juga dilihat dari kontak mata yang kurang, lesu dan tidak bergairah, berbicara pelan dan lirih, pasif, perilaku tidak asertif, mencari penguatan secara berlebihan, bergantung pada pendapat orang lain, sulit membuat keputusan, dan seringkali mencari penegasan.

Masalah harga diri rendah perlu mendapatkan penanganan yang tepat karena jika tidak hal ini dapat menyebabkan timbulnya masalah psikologis lain yang lebih serius. Morton, Louise, Reid, dan Stewart (2011) menyebutkan bahwa masalah harga diri rendah dapat berkembang menjadi gangguan jiwa seperti depresi, ansietas dan panik.

DAFTAR PUSTAKA

Sutejo. 2015. Keperawatan Jiwa. Yogyakarta : Pustaka Baru Press

Yusuf, A.H., Rizky Fitryasari dan H.E. Nihayati. 2015. Buku Ajar Keperawatan Asuhan Kesehatan Jiwa. Jakarta : Penerbit Salemba Medika

Prabowo, Eko. 2014. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Yogyakarta : Nuha Medika

Samsara, Anta. 2010. Gelombang Lautan Jiwa. Yogyakarta : Jejak Kata Kita

Muhith, Abdul. 2015. Pendidikan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta : Andi Offset

Keliat, B. A. dkk. 2009.  Model Praktik Keperawatan Profesional Jiwa. Jakarta : EGC

Tim Pokja SDKI DPP PPNI. 2016. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia. Jakarta : DPP PPNI

Fitria, Nita. 2012.Prinsip Dasar dan Aplikasi Penulisan Laporan Pendahuluan dan Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika

Penulis: 
Fuad Hamada,S.Kep.Ners
Sumber: 
Humas RSJD Babel

Artikel

15/10/2019 | Etriyuna, S.Kep., Ners.
15/10/2019 | Rusmawaty Sitorus, S.Kep., Ners
22/07/2019 | Erlen Gustina,SKM
29/06/2019 | Mardiah,AMK
30/06/2016 | Wieke Erina Ariestya, S.Kep.Ners
02/02/2017 | Muhammad Isnaini.S.Kep
14/11/2015 | Sri Ayu Indayani, S. Farm., Apt
04/04/2016 | Sri Chandra Dewi, SKM (Perekam Medis)

ArtikelPer Kategori