MENGATASI STRES DAN MENINGKATKAN FUNGSIKOGNITIF PADA LANSIA DENGAN TERAPI REMINISCENCE

Proses penuaan akan dialami oleh siapapun tidak terkecuali kita dan orang di sekitar kita,penuaan adalah proses alami yang terjadi secara terus-menerus, proses ini mengakibatkan penurunan kondisi fisik yang gampang lelah dan memiliki keterbatasan dalam aktivitas sehari-hari,masalah kesehatan dan juga mengalami penurunan kondisi mental, psikososial, dan adanya perubahan peran sosial. Dengan adanya penurunan kondisi tersebut lansia memerlukan bantuan dalam aktivitasnya karena berkurangnya kemandirian dalam menjalani kehidupan, dan juga peran sosial ekonomi yang bermasalah atau tidak adanya penghasilan karena pensiun atau tidak memiliki pekerjaan. Keadaan tersebut memiliki kecenderungan berpotensi dalam masalah kesehatan secara umum maupun kesehatan jiwa lansia salah satunya stres. Stres merupakan suatu kondisi dengan perasaan cemas, tegang, dan tertekan. Stres dapat berdampak terhadap kondisi emosional seseorang yang mengakibatkan mood yang gampang berubah (marah dan gampang tersinggung). Apabila stres ini tidak diatasi dapat berujung depresi. Untuk mengatasi dampak negatif dari stres tersebut diperlukan suatu penanganan dalam pengelolaan stres. Pengelolaan stres bisa dilakukan dengan berbagai cara yang meliputi penggunaan terapi farmakologis diantaranya obat cemas (anxiolytic) dan antidepresi serta non farmakologis. Terapi farmakologis tersebut terkadang menimbulkan efek samping atau reaksi negatif seperti sakit kepala, pusing, mual, konstipasi, takikardi, dan gangguan penglihatan. Salah satu terapi non farmakologis pada lansia yang mengalami stres dan penurunan fungsi kognitif yaitu adalah terapi reminiscence. Terapi reminiscence adalah terapi yang diberikan kepada lansia dengan mengingat kembali kejadian di masa lampau, perasaan, dan fikiran yang menyenangkan untuk memfasilitasi kualitas hidup dan kemampuan beradaptasi terhadap suatu perubahan yang terjadi di masa kini. Terapi ini dapat diterapkan secara individu maupun kelompok,dan mampu memperbaiki perilaku, fungsi sosial, dan fungsi kognitif. Terapi ini adalah terapi yang memberikan perhatian terhadap kenangan terapeutik lansia,kenangan tersebut diingat secara spontan, tidak harus berurutan, karena merupakan kenangan menyenangkan atau yang mengesankan bagi lansia. Kegiatan terapi reminiscence ini terdiri dari 12 sesi dengan waktu 45-60 menit, dengan jumlah peserta 6-12 orang, dan juga menggunakan beberapa benda yang dapat mengingatkan peserta / lansia terhadap masa lalunya, contohnya : majalah, alat memasak, foto,video,kaset, stimulus bau, dan stimulus sentuhan lainnya. Kegiatan terapi ini dilakukan dengan cara membentuk suatu lingkaran yang terdiri dari 6-12 orang. Pelaksanaan terapi ini harus dilakukan oleh perawat spesialis keperawatan jiwa, ners keperawatan yang telah lulus uji kompetensi terapi reminiscence atau berpengalaman dalam keperawatan jiwa. Ada beberapa tahapan atau sesi dalam terapi reminiscence yaitu : 1. Pendahuluan 2. Masa kanak-kanak dan kehidupan keluarga 3. Masa sekolah 4. Awal bekerja dan kegiatan bekerja 5. Pertemuan dengan pasangan 6. Pernikahan 7. Rumah,kebun dan binatang 8. Mengasuh anak 9. Makanan dan memasak 10. Liburan 11. Hari raya/perayaan 12. Kesimpulan dan evaluasi Kegiatan terapi ini tetap diawali dengan kontrak waktu ke peserta dan menyampaikan tujuan dari terapi, serta diakhiri dengan evaluasi atau penilaian dari perawat spesialis keperawatan jiwa yang memfasilitasi. Dengan adanya terapi tersebut diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup lansia, meningkatkan harga diri, meningkatkan kemampuan berkomunikasi, meningkatkan kemampuan bersosialisasi, serta meningkatkan fungsi kognitif lansia. Daftar Pustaka : 1. Devi, P.S. (2012). Pengaruh Terapi WarnaHijau Terhadap Stres Pada Lansia di PantiSosial Tresna Werdha Wana Seraya Denpasar. Denpasar: Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Udayana. 2. Florensa. (2013). Penerapan Terapi Reminiscence Pada Klien Harga Diri Rendah Dan Isolasi Sosial Dengan Pendekatan Model Stres Adaptasi Stuart Dan Model Interpersonal Peplau di Ruang Saraswati RS Dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor, Karya Ilmiah Akhir FIK-UI. 3. Fontaine, K.L. (2009). Mental Health Nursing. Sixth Edition. New Jersey : Pearson Education Inc. 4. Misesa. (2013). Pengaruh terapi kelompok reminiscence dan Life Review terhadap depresi pada lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Sinta Rangkang Tangkiling, Provinsi Kalimantan Tengah, Tesis FIK-UI. Tidak Dipublikaskan 5. Rahayuni, Dkk. (2015). Pengaruh Terapi Reminiscence Terhadap Stres Lansia di Banjar Luwus Baturiti Tabanan Bali, FK-Udayana. 6. Wilkinson,J.M. (2012). Nursing diagnosis with NIC Interventions and NOC Outcomes. (9ed). New Jersey : Pearson Prentice Hall. 7. World Health Organization. (2013). Mental Health And Older Adults, (online), (http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs381/en/ diakses tanggal 10 September 2019). 8. Thong, D. (2011). Memanusiakan Manusia: Menata Jiwa Membangun Bangsa. Jakarta: Gramedia

Penulis: 
Rusmawaty Sitorus, S.Kep., Ners
Sumber: 
Perawat Jiwa RSJD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

Artikel

09/12/2019 | Ridho Handari Dwansi, S.Kep,Ners
09/12/2019 | Liya Anggraini. S.Kep, Ners
09/12/2019 | Eran Doharma Siringoringo, S.Farm.,Apt
30/06/2016 | Wieke Erina Ariestya, S.Kep.Ners
02/02/2017 | Muhammad Isnaini.S.Kep
14/11/2015 | Sri Ayu Indayani, S. Farm., Apt
04/04/2016 | Sri Chandra Dewi, SKM (Perekam Medis)

ArtikelPer Kategori