MARI MENGENAL STANDAR JENIS MASKER UNTUK APD PENANGANAN COVID-19

Baru-baru ini penduduk dunia dikejutkan dengan adanya virus yang sangat menghebohkan dunia. Virus ini memang tidak besar dalam bentuk fisik namun, sangat besar pengaruhnya terhadap kelangsungan hidup manusia. Virus ini dikenal luas dengan sebutan Virus Corona atau dikenal juga dengan Covid-19. Virus Covid-19 merupakan jenis baru dari Coronavirus yang dapat menular ke manusia. Virus Corona atau Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2) adalah virus yang menyerang pada sistem pernapasan. Penyakit yang disebabkan infeksi virus ini disebut dengan COVID-19.
Virus ini pertama kali ditemukan di Negara China tepatnya di Kota Wuhan. Penyebaranya sangat cepat dan banyak memakan korban, sehingga menyebabkan kepanikan luar biasa. Kota Wuhan sekejap menjadi kota mati karna, terjadi kelumpuhan dari segala aspek kehidupan dan pemerintahan. Kejadian ini bahkan berdampkak pada Negara China, selain terjadi penyebaran yang terjangkit terjadi juga kelumpuhan pemerintahan dan kehidupan. Sehingga pemerintah China mengambil tindakan bagi masyarakat yang sudah terinfeksi di lakukan isolasi sedangkan yang belum terinfeksi tidak diperbolehkan beraktifitas diluar rumah. Meskipun langkah ini dilakukan namun dengan keterbatasan pengetahuan dan peralatan kesehatan yang belum memadai pada saat itu, penyakit ini tetap menyebar kewilayah lain bahkan ke Negara-negara lain.
Kejadian ini pun menyebabkan kepanikan yang luar biasa bagi Negara-negara lain, termasuk Indonesia. Angka kejadian penyakit ini meningkat terus di Negara-negara yang terdampak, bahkan, melebihi angka kejadian dari Negara asalnya. Angka kematian akibat virus ini tak sedikit serta penyebaranya yang begitu cepat, hal ini lah yang menyebabkan kepanikan. Belum lagi dampak yang ditimbulkan yaitu terjadinya kelumpuhan kehidupan dan pemerintahan.
Kepanikan ini secara beransur dapat diatasi, dengan adanya pengetahuan dan pengalaman yang ada. Angka kejadian mengalami penurunan termasuk angka kematian akibat virus ini. Kehidupan perlahan mendekati seperti sedia kala sebelum terjadi penyebaran virus. Setiap Negara punya cara dalam mengatasi pandemic Covid-19 yang terjadi di Negaranya. Pengembangan pengetahuan dibidang kesehatan dilakukan dengan berlomba dan berpacu hingga saat ini, berharap bukan hanya menekan angka kejadian namun, dapat menemukan cara untuk pencegahan dan pengobatan penyakit Covid-19.
Virus Corona saat menginfeksi manusia bisa hanya menyebabkan gangguan ringan pada sistem pernapasan namun, bisa menyebabkan infeksi paru-paru yang berat bahkan hingga menyebabkan kematian. Untuk saat ini kasus kematian akibat virus ini kebanyakan pada lansia, dan orang dengan penyakit penyerta (penyakit menahun dan penyakit system pernapasan). Orang dengan daya tahan tubuh kuat tidak mudah terinfeksi Virus ini, kalaupun terinfeksi hanya menimbulkan gangguan ringan pada system pernapasan.
Meskipun virus ini hanya menyebabkan gangguan ringan pada sistem pernapasan, kita tidak boleh menganggap sepele akan hal penyebaranya. Oleh karena itu perlu adanya kesadaran dan kepedulian kita semua dalam mengatasi pandemic Covid-19. Sesuai dengan sifatnya virus ini menyerang pada system pernapasan maka, langkah paling awal yang dapat kita lakukan dalam mencegah penyebaranya yaitu penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) terutama penggunaan masker.
Masker adalah sebuah alat yang digunakan untuk melindungi system pernapasan luar. Penggunaan masker bertujuan untuk menyaring partikel-partikel yang ada dalam udara yang akan masuk dalam system pernapasan, agar system pernapasan tidak terganggu dengan adanya partikel asing yang masuk. Kegunaan masker bukan hanya untuk pencegahan partikel melaikan dapat, mencegah penularan penyakit yang ditularkan melalui udara, maupun yang akan menempel pada bagian yang terlindung masker.
Pada kasus Covid-19 penggunaan masker merupakan langkah awal pencegahan penyebarannya. Maka penting untuk kita memahami kegunaan dan jenis masker yang harus kita gunakan. Masker yang digunakan masyarakat maupun tenaga medis memiliki jenis dan standar yang berbeda-beda. Penggunaan masker perlu disesuaikan dengan tingkat intensitas kegiatan yang dilakukan. Berikut merupakan tipe dan klasifikasi masker beserta perbedaannya:
Tipe-tipe Masker
1. Masker Kain
Masker ini dapat digunakan untuk mencegah penularan dan mengantisipasi kelangkaan masker yang terjadi. Efektivitas penyaringan pada masker kain tergantung dengan jenis dan jumlah lapisan kain yang digunakan, ia akan meningkat seiring dengan jumlah lapisan dan kerapatan tenun kain yang dipakai. Masker kain harus dicuci setelah digunakan dan dapat dipakai berkali-kali. Bahan yang digunakan untuk masker kain bisa berupa bahan kain katun, scarf, dan sebagainya. Sedangkan penggunaan masker kain dapat digunakan untuk:
a. Bagi masyarakat sehat dapat digunakan ketika berada di tempat umum dan fasilitas lainnya dengan tetap menjaga jarak 1-2 meter. Namun, saat masyarakat memiliki kegiatan yang tergolong berbahaya (misalnya, menjadi relawan penanganan jenazah COVID-19, dan sebagainya) maka tidak disarankan menggunakan masker kain.
b. Bagi tenaga medis masker kain tidak direkomendasikan sebagai APD (Alat Pelindung Diri) untuk tingkat keparahan tinggi karena, sekitar 40-90% partikel dapat menembus masker kain bagi tenaga medis. Masker kain dapat digunakan oleh tenaga medis bila dikombinasikan dengan pelindung wajah yang menutupi seluruh bagian depan dan sisi wajah, namun bisa sebagai opsi terakhir jika masker bedah atau masker N95 serta pelindung wajah tidak tersedia.
2. Masker Bedah 3 Ply (Surgical Mask 3 Ply)
Masker ini memiliki 3 lapisan (layers) yaitu lapisan luar kain tanpa anyaman kedap air, lapisan dalam yang merupakan lapisan filter densitas tinggi dan lapisan dalam yang menempel langsung dengan kulit yang berfungsi sebagai penyerap cairan berukuran besar yang keluar dari pemakai ketika batuk maupun bersin. Karena memiliki lapisan filter, masker bedah efektif untuk menyaring droplet yang keluar dari pemakai ketika batuk atau bersin, namun bukan merupakan barier proteksi pernapasan karena tidak bisa melindungi pemakai dari terhirupnya partikel airborne yang lebih kecil. Dengan begitu, masker ini direkomendasikan untuk masyarakat yang menunjukan gejala-gejala flu / influenza (batuk, bersin- bersin, hidung berair, demam, nyeri tenggorokan) dan dapat juga digunakan untuk tenaga medis di fasilitas layanan kesehatan.
3. Masker N95 (atau Ekuivalen)
Masker ini adalah masker yang lazim dibicarakan dan merupakan kelompok masker Filtering Facepiece Respirator (FFR) sekali pakai (disposable). Kelompok masker jenis ini memiliki kelebihan tidak hanya melindungi pemakai dari paparan cairan dengan ukuran droplet, tapi juga hingga cairan berukuran aerosol. Masker jenis ini memiliki face seal fit yang ketat sehingga mendukung pemakai terhindar dari paparan aerosol asalkan seal fit dipastikan terpasang dengan benar.
Masker Filtering Facepiece Respirator (FFR) yang ekuivalen dengan N95 yaitu jenis FFP2 (EN 149- 2001, Eropa), KN95 (GB2626-2006, Cina), P2 (AS/NZA 1716:2012, Australia/New Zealand), KF94 (KMOEL-2017-64, Korea), DS (JMHLW-Notification 214,2018, Jepang). Kelompok masker jenis ini direkomendasikan terutama untuk tenaga kesehatan yang harus kontak erat secara langsung menangani kasus dengan tingkat infeksius yang tinggi. Idealnya masker N95 tidak untuk digunakan kembali atau berulang, namun dengan stock N95 yang sedikit dan terbatas, dapat dipakai ulang dengan catatan semakin sering dipakai ulang, kemampuan filtrasi akan menurun. Jika akan menggunakan metode pemakaian kembali atau berulang masker N95, maka masker N95 perlu dilapisi masker bedah pada bagian luarnya agar saat melepas masker tanpa menyentuh bagian dalam (sisi yang menempel pada kulit) dan kemudian disimpan selama 3-4 hari dalam kantung kertas sebelum dapat dipakai kembali. Masker setingkat N95 yang sesuai dengan standar WHO dan serta dilapisi oleh masker bedah dapat digunakan selama 8 jam dan dapat dibuka dan ditutup sebanyak 5 kali. Masker ini tidak dapat digunakan kembali jika pengguna masker N95 sudah melakukan tindakan yang menimbulkan aerosol.
4. Reusable Facepiece Respirator
Masker jenis ini memiliki keefektifan filter lebih tinggi dibanding N95 meskipun tergantung filter yang digunakan. Karena memiliki kemampuan filter lebih tinggi dibanding N95, masker tipe ini dapat juga menyaring hingga bentuk gas. Masker jenis ini direkomendasikan dan lazim digunakan untuk pekerjaan yang memiliki resiko tinggi terpapar gas-gas berbahaya. Masker jenis ini dapat digunakan berkali-kali selama face seal tidak rusak dan harus dibersihkan dengan disinfektan secara benar sebelum digunakan kembali.

Sumber:
1. Centre for Disease Prevention and Control (CDC). Strategies for Optimizing the Supply of Facemasks – 30 March 2020. USA: CDC; 2020. https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/hcp/ppe-strategy/face- masks.html.
2. Conserving Supply of Personal Protective Equipment – A Call for Ideas (Comment Section). JAMA. Published Online March 20,2020. Doi:10.1001/jama.2020.4770.
3. Davies, et al. Testing the Efficacy of Homemade Masks: Would They Protect in an Influenza Pandemic? Disaster Medicine and Public Health Preparedness, Available on CJO 2013 doi:10.1017/dmp.2013.43.
4. European Centre for Disease Prevention and Control. Cloth masks and mask sterilisation as options in case of shortage of surgical masks and respirators – 26 March 2020. Stockholm: ECDC; 2020.
5. 3M Science. Surgical N95 vs. Standard N95 – Which to Consider? Available on 3M Technical Bulletin March 2020 https://multimedia.3m.com/mws/media/1794572O/surgical-n95-vs-standard-n9....
6. Raina Maclntyre, C., et al. A cluster randomized trial of cloth masks compared with medical masks in healthcare workers. BMJ Open, 2015, 5(4): e006577. Available on https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4420971/.

Penulis: 
Mahmudah, AMK
Sumber: 
PERAWAT

Artikel

ArtikelPer Kategori