MARAH : BAGIAN II

Pada tulisan Marah Bagian satu sudah dibahas tentang apa yang dimaksud dengan marah, faktor-faktor yang menyebabkan seseorang marah dan beragam cara dalam mengekspresikan emosi marah. Kali ini pada tulisan Marah Bagian dua akan dibahas tentang ciri-ciri seseorang dikategorikan sedang marah, efek samping dari marah yang berlebihan atau yang bersifat destruktif dan cara mengatasi rasa marah yang berlebihan tersebut.

Menurut Hudaya ciri ciri dari seseorang yang sedang marah setidaknya meliputi lima aspek Pertama aspek biologis, seseorang yang sedang marah akan mengalami peningkatan tekanan darah dan denyut jantung, wajah memerah, pupil melebar, serta produksi urin meningkat. Selain itu kondisi orang yang sedang marah terdapat juga kecemasan seperti meningkatnya kadar kewaspadaan, otot menjadi tegang seperti tangan mengepal, tubuh menjadi kaku, dan memiliki refleks yang cepat, hal tersebut yang menyebabkan energi yang dikeluarkan saat marah menjadi berlebih. Ciri yang kedua terkait dengan aspek emosional seperti merasa tidak nyaman, tidak berdaya, jengkel, merasa ingin berkelahi, menyalahkan orang lain, menunjukkan sikap permusuhan dan merasa sakit hati. Selanjutnya ciri yang ketiga yaitu pada aspek intelektual, pribadi yang sedang marah kurang mampu mengidentifikasi kondisi dengan tepat sehingga mempengaruhi dalam pemprosesan informasi yang berefek terhadap kesimpulan yang diambil dari suatu kondisi atau situasi. Ciri yang keempat yaitu terkait dengan aspek sosial, pribadi yang mengekpresikan rasa marah yang berlebihan secara terbuka dapat menimbulkan kemarahan dari orang lain sehingga mempengaruhi relasi sosial diantara keduanya. Beberapa orang memilih untuk memendam rasa marahnya dan tidak menyampaikan atau bahkan menyangkal rasa marahnya guna mempertahankan hubungan sosialnya tersebut. Adapun ciri yang terakhir yaitu terkait dengan aspek spiritual, tuntutan yang diharapkan agar dapat dipenuhi oleh orang lain ternyata tidak terwujud, hal tersebut akan menimbulkan kekecewaan yang berujung pada kemarahan. Kondisi pribadi yang sedang kecewa dapat mempengaruhi kualitas spiritual seseorang, pribadi yang memiliki tingkat spiritual yang stabil cenderung mampu mengkondisikan gejolak emosi yang dirasakan sehingga tidak mudah kecewa ketika menghadapi suatu kondisi yang kurang sesuai dengan harapannya. (beck dalam Purwanto dan Mulyono, 2006).

Hudaya menjelaskan lebih lanjut, adapun imbas dari pengekspresian rasa marah yang berlebihan dapat berpengaruh secara fisiologis, psikologis dan sosial. Individu yang sedang marah akan mempengaruhi kondisi fisiknya sehingga mampu memicu timbulnya penyakit fisik seperti hipertensi, stres, depresi, maag, gangguan jantung dan insomnia (Lari dalam Purwanto dan Mulyono, 2006). Selain itu marah yang berlebihan dapat menyebabkan peyempitan pembuluhan darah yang berpotensi mengalami serangan jantung (Frank Rose dalam Purwanto dan Mulyono, 2006). Penelitian yang dilakukan oleh Charkes W Shedd menunjukkan bahwa seseorang yang marah selama tiga menit lebih cepat membuat lemah kekuatan dibandingkan dengan orang yang bekerja selama delapan jam. Hal tersebut disebabkan karena ketika marah menyebabkan darah membanjiri otot-otot tubuh terutama pada bagian tangan dan kaki sehingga memiliki kekuatan yang lebih besar daripada biasanya, pada saat bersamaan terjadi kondisi pengurangan suplai darah di otak yang menyebabkan lupa diri (Purwanto dan Mulyono, 2006).

Selain secara fisik rasa marah yang berlebihan dapat mempengaruhi kondisi psikologis seseorang, menurut Beck individu yang mengekspresikan rasa marahnya dengan cara-cara yang destruktif atau merusak akan menimbulkan rasa bersalah dan penyesalan yang mendalam sehingga berujung pada penghukuman diri secara berlebihan pada kurun waktu lama. Selanjutnya efek secara sosial yang muncul ketika seseorang merasa marah yang berlebihan dapat menyebabkan terputusnya hubungan yang telah terjalin sebelumnya, kehilangan pekerjaan bahkan sampai dengan hukuman pidana. Inidvidu yang mudah lebih mudah dijauhi teman ataupun orang terdekatnya seperti keluarga.

Jika melihat efek negatif yang ditimbulkan dari rasa marah, muncul pertanyaan baru apakah marah memiliki efek positif. Ternyata, marah juga dapat memunculkan dampak positif salah satunya dapat mengkondisikan sesesorang untuk bersikap tegas. Sikap tegas membentuk seseorang untuk menyampaikan pikiran dan perasaannya secara terbuka kepada orang lain dengan cara-cara yang tidak menyakiti dan dibenarkan sesuai norma yang berlaku. Selain itu pribadi yang tegas mampu bernegosiasi dalam mengkomunikasikan gagasan yang dimiliki sehingga menghasilkan solusi ataupun keputusan yang mengakomodir setiap pihak yang terlibat. Sisi positif lainnya dari rasa marah yang dimiliki seseorang yaitu orang yang mampu mengkespresikan rasa marahnya menunjukkan bahwa ia jujur terhadap perasaan dan pikiran yang ia miliki dan mampu menyampaikan secara terbuka kepada orang lain (Baqi, 2015). Kemarahan pada seseorang juga akan membangkitkan sikap asertif seseorang dimana individu menjadi mampu menyatakan keinginannya dan berusaha mendapatkan hak yang seharusnya ia miliki serta tidak membiarkan orang lain bertindak semena mena terhadap dirinya (Hudaya, 2015). Ternyata marah juga memberikan dampak positif pada seseorang, namun perlu dikontrol cara pengekpresiannya sehingga tidak merugikan diri sendiri dan orang lain sehingga diperlukan cara-cara khusus agar dapat mengontrol rasa marahnya.

Adapun langkah-langkah yang perlu dilakukan sehingga tidak memunculkan ekspresi marah yang berlebihan diantaranya yaitu mulai mengenali tanda-tanda marah pada seseorang, hal tersebut telah disampaikan di awal tulisan ini terkait gejala marah. Langkah selanjutnya setelah terdeteksi gejala marahnya dilanjutkan dengan melakukan stabiliasasi emosi melalui teknik relaksasi, untuk bahasan relaksasi akan dibahas secara tersendiri pada tulisan berikutnya.

Setiap kita diberikan kebebasan untuk mengekspresikan rasa emosi yang dimiliki termasuk rasa marah, karena dengan mengekpresikan rasa emosi yang dimiliki maka akan mengkondisikan seseorang untuk memiliki jiwa yang sehat. Hanya saja dalam mengekspresikan rasa emosi yang dimiliki perlu diperhatikan cara yang digunakan sehingga tidak merugikan diri sendiri ataupun orang lain. Jika seseorang merasa kurang mampu mengontrol rasa marahnya sehingga memunculkan perilaku merusak yang merugikan diri sendiri dan orang lain maka disarankan untuk dapat menjalani sesi konseling dengan Psikolog berizin praktek yang terpercaya.

Referensi:

Al Baqi’, S. 2015. Ekspresi Emosi Marah. Journal Buletin Psikologi Volume 23, No.1.Jogjakarta: Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada. Hudayana, N.F. 2015. Peningkatan Kemampuan mengelola emosi melalui teknik Anger Management pada Siswa Teknik Komputer dan Jaringan SMK Muhammadiyah Moyudan. Skripsi. Jogjakarta: Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta.

Penulis: 
Rakhmawati Tri Lestari, S. Psi., M.Psi.
Sumber: 
Psikolog Rumah Sakit Jiwa Daerah

ArtikelPer Kategori