MARAH BAGIAN 1

Setiap pribadi pernah merasakan satu rasa emosi ini yaitu rasa marah, beberapa individu berpikir bahwa marah hanya dapat ditunjukkan dengan cara-cara negatif seperti menyakiti atau bersikap agresif, pandangan tersebut muncul karena belum mengenal lebih dalam terkait dengan marah. Sebenarnya apakah rasa marah itu? Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi emosi marah seseorang? Dan bagaimanakah bentuk-bentuk pengekspresian rasa marah itu sendiri? Untuk lebih jelas akan dibahas pada edisi Marah Bagian 1 kali ini.
Marah merupakan salah satu emosi dasar manusia, selain marah ada pula rasa takut, sedih dan senang. Sama halnya dengan rasa emosi yang lain, marah memiliki porsi yang serupa untuk disampaikan kepada orang lain melalui cara-cara yang sehat dan dapat diterima sehingga tidak mengganggu hubungan personal dalam bermasyarakat. Rasa marah muncul disebabkan adanya perbedaan atau ketidaksesuaian antara yang terjadi secara nyata dengan harapan yang dimilliki individu. Adapula yang mengartikan marah sebagai bentuk reaksi yang dilakukan seseorang ketika menghadapi suatu kendala dalam mewujudkan hal yang diinginkan. Individu yang sedang marah akan terjadi perubahan secara fisik, psikologis dan cara berpikir secara bersamaan, diperlukan langkah-langkah praktis agar dapat menenangkan diri ketika sedang marah sehingga dapat menganalisa kondisi secara logis dan mengurangi potensi pengekspresian marah yang negatif. Jadi, pada dasarnya rasa marah adalah hal yang normal dan sehat serta boleh disampaikan kepada yang bersangkutan dengan memperhatikan kaidah norma yang berlaku.

Adapun jenis-jenis pengekspresian marah cukup beragam diantaranya yaitu pertama mencoba melupakan perasaan marah yang ia miliki serta memaafkan dan menerima keadaan dengan lapang dada. Kedua melampiaskan rasa marahnya kepada objek lain yang tidak berhubungan dengan persoalan yang dihadapi. Sebagai contoh, pasangan suami istri yang sedang berkonflik namun saling memendam rasa dan tidak mengkomunikasi secara terbuka terkait perasaannya maka rasa marah tersebut dilampiaskan kepada anak atau orang lain dalam bentuk kata-kata atau perbuatan yang sebenarnya ditujukan untuk pasangannya. Kondisi tersebut membuat orang lain menjadi bingung karena tiba-tiba menjadi pelampiasan amarah tanpa mengetahui duduk perkarannya. Bentuk pengekspresian yang ketiga yaitu mencoba mengendali rasa marahnya dengan melakukan kegiatan positif seperti berolahraga atau aktivitas hobi lainnya yang dapat mengurangi rasa marahnya sehingga mampu bersikap luwes atau elegan dalam merespon kondisi yang dihadapi.

Bentuk pengekspresian yang keempat yaitu memendam dan tidak menunjukkan rasa marahnya kepada orang lain, model pengekspresian yang keempat ini dinilai kurang efektif karena dapat memunculkan konflik yang lebih besar di kemudian hari ketika ada pemicunya. Individu dengan model pengekspresian marah jenis keempat ini perlu menjalani sesi konseling dengan Psikolog agar dapat melatih kemampuan menyampaikan perasaan yang dimiliki dengan cara yang sehat. Adapun bentuk pengekspresian yang kelima yaitu melampiaskan rasa marah dengan cara menangis atau merasakan kesedihan yang mendalam, individu pada tipe ini perlu melatih dirinya untuk mengekspresikan rasa marah melalui kegiatan yang positif sesuai dengan hobi yang dimiliki. Sedangkan bentuk ekspresi marah yang kelima yaitu langsung merespon dengan tegas terhadap kondisi yang dinilainya kurang sesuai dengan yang seharusnya. Tegas yang dimaksud adalah mencoba menyampaikan pandangannya secara terbuka kepada pihak lain dengan tujuan agar untuk mengevaluasi ataupun memberikan masukan. Model pengekpresian yang kelima ini tergolong efektif karena menyelesaikan persoalan langsung pada orang atau situasi yang bersangkutan sehingga lebih tepat sasaran. Sedangkan cara pengekspresian yang terakhir adalah menyampaikan rasa marah dengan cara-cara yang negatif atau destruktif seperti merusak dan menyakiti individu/benda yang menjadi penyebab marah. Cara yang kelima ini adalah yang umumnya dipahami kebanyakan orang, meluapkan rasa marahnya dengan cara-cara yang merusak atau agresif, cara ini dinilai kurang efektif karena dapat mempengaruhi hubungan personal di kemudian hari seperti tidak saling menyapa, menimbulkan rasa dendam, dan enggan saling bekerjasama.

Selanjutnya adalah apa saja faktor-faktor yang turut mempengaruhi cara pengekspresian rasa marah sehingga setiap pribadi memiliki cara yang berbeda dalam menyampaikan rasa marahnya? Yang pertama yaitu faktor individu. Pribadi yang temperamental akan berbeda cara pengekspresian emosinya dengan pribadi yang memiliki kemampuan mengontrol gejolak emosi secara efektif. Pribadi yang temperamental adalah pribadi yang cenderung reaktif dengan rangsangan yang ada disekitarnya, ia terbilang sensitif sehingga sulit untuk menganalisa kondisi secara objektif. Masih dari sisi individu, faktor lainnya yang turut mempengaruhi yaitu terbatasnya kemampuan dalam memilah dan memilih informasi yang ia dapatkan dari lingkungan sehingga terbentuk persepsi dan kesimpulan yang kurang tepat tentang lingkungan sekitarnya sehingga mudah salah paham dan tersinggung. Faktor kedua yang mempengaruhi cara pengekspresian emosi yaitu faktor keluarga, keluarga memiliki peran penting dalam memilih metode pengekspresian rasa marah yang dimiliki. Dalam keluarga setiap individu saling mempelajari dan menduplikasi cara seseorang dalam menghadapi masalah. Peran orang tua cukup besar dalam memberikan contoh cara penyelesaian masalah ataupun merespon kondisi secara tepat, bagaimana orang tua melampiaskan rasa marahnya maka anak akan mengikuti pola tersebut dalam menunjukkan rasa marahnya. Faktor pola asuh orang tua juga turut mempengaruhi pembentukan kebiasaan anak dalam menunjukkan ekspresi marahnya. Pola asuh yang cenderung memberikan semua hal yang diminta oleh anak maka akan menimbulkan rasa marah ketika ada permintaannya yang tidak dapat dipenuhi oleh orang tua, perlu kiranya ketegasan orang tua ketika menghadapi perilaku marah anak disebabkan keinginan yang tidak terpenuhi sehingga anak terbiasa mengekspresikan marahnya dengan cara-cara yang lebih positif. Adapun Faktor ketiga yaitu faktor lingkungan dimana individu dapat melatih cara baru dalam pengekspresian emosi sehingga lebih dapat diterima oleh lingkungan sekitarnya.
Dapat disimpulkan bahwa emosi marah adalah perasaan dasar manusia yang normal dan sehat, ia membutuhkan penyaluran dengan menggunakan cara-cara yang tepat sehingga tidak menggangu fungsi sosial individu yang mengekspresikan rasa marahnya. bagi individu yang sulit mengontrol rasa marahnya sehingga muncul dalam bentuk agresif, meledak ledak ataupun merusak maka perlu menjalani sesi konseling dengan Psikolog sehingga dapat dilatih mengontrol rasa marahnya tersebut. Pun bagi individu yang merasa sulit menyampaikan rasa marahnya sehingga memendam perasaan yang dimiliki maka perlu juga untuk berkonsultasi dengan para Psikolog sehingga dapat melatih kemampuannya agar dapat menyampaikan rasa marahnya dengan cara-cara yang sehat.

Referensi;
Al Baqi, S. 2015. Ekspresi Emosi Marah. Buletin Psikologi Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada Volume 23, No. 1, Juni 2015: 22 – 30

Hayati, R; Indra, S; 2018. Hubungan Marah Dengan Perilaku Agresif Pada Remaja. STKIP PGRI Sumatera Barat : Jurnal Edukasi Vol. 4 No. 1, Januari 2018.

Penulis: 
Rakhmawati Tri Lestari, S.Psi., M.Psi
Sumber: 
Psikolog Rumah Sakit Jiwa Daerah

Artikel

31/12/2020 | Sri Ayu Indayani, S. Farm., Apt
31/12/2020 | Rakhmawati Tri Lestari, S.Psi., M.Psi
30/12/2020 | Sefrita Danur, S.Psi.,M.Psi
29/12/2020 | Sri Ayu Indayani, S. Farm., Apt
30/06/2016 | Wieke Erina Ariestya, S.Kep.Ners
02/02/2017 | Muhammad Isnaini.S.Kep
16/11/2017 | Syafri Rahman,AMK
14/11/2015 | Sri Ayu Indayani, S. Farm., Apt

ArtikelPer Kategori