INTERAKSI OBAT

Interaksi Obat?
Ada istilah "interaksi obat" dalam dunia medis, yaitu kondisi terjadinya perubahan efek obat akibat hadirnya asupan lain, seperti makanan, minuman, bahan herbal, dan perubahan lingkungan atau Dua atau lebih obat yang diberikan pada waktu bersamaan dapat memberikan efek masing-masing atau saling berinteraksi. Interaksi tersebut dapat bersifat potensiasi atau antagonis satu obat oleh obat lainnya, atau kadang dapat memberikan efek yang lain. Interaksi obat dapat bersifat farmakodinamik atau farmakokinetik.
Interaksi Farmakodinamik
Interaksi farmakodinamik adalah interaksi antara obat-obat yang mempunyai efek farmakologi atau efek samping yang serupa atau yang berlawanan. Interaksi ini dapat disebabkan karena kompetisi pada reseptor yang sama, atau terjadi antara obat-obat yang bekerja pada sistem fisiologik yang sama. Interaksi ini biasanya dapat diperkirakan berdasarkan sifat farmakologi obat-obat yang berinteraksi. Pada umumnya, interaksi yang terjadi dengan suatu obat akan terjadi juga dengan obat sejenisnya. Interaksi ini terjadi dengan intensitas yang berbeda pada kebanyakan pasien yang mendapat obat-obat yang saling berinteraksi.
Interaksi Farmakokinetik
Yaitu interaksi yang terjadi apabila satu obat mengubah absorpsi, distribusi, metabolisme, atau ekskresi obat lain. Dengan demikian interaksi ini meningkatkan atau mengurangi jumlah obat yang tersedia (dalam tubuh) untuk dapat menimbulkan efek farmakologinya. Tidak mudah untuk memperkirakan interaksi jenis ini dan banyak diantaranya hanya mempengaruhi pada sebagian kecil pasien yang mendapat kombinasi obat-obat tersebut. Interaksi farmakokinetik yang terjadi pada satu obat belum tentu akan terjadi pula dengan obat lain yang sejenis, kecuali jika memiliki sifat-sifat farmakokinetik yang sama .
Interaksi farmakokinetik dapat digolongkan menjadi beberapa kelompok:
Mempengaruhi absorpsi
Kecepatan absorpsi atau total jumlah yang diabsorpsi dapat dipengaruhi oleh interaksi obat. Secara klinis, absorpsi yang tertunda kurang berarti kecuali diperlukan kadar obat dalam plasma yang tinggi (misal pada pemberian analgesik). Namun demikian penurunan jumlah yang diabsorbsi dapat menyebabkan terapi menjadi tidak efektif.
Menyebabkan perubahan pada ikatan protein
Sebagian besar obat berikatan secara lemah dengan protein plasma karena ikatan protein tidak spesifik, satu obat dapat menggantikan obat yang lainnya, sehingga jumlah bentuk bebas meningkat dan dapat berdifusi dari plasma ketempat kerja obat. Hal ini akan menghasilkan peningkatan efek yang terdeteksi hanya jika kadar obat yang berikatan sangat tinggi (lebih dari 90%) dan tidak terdistribusikan secara luas di seluruh tubuh. Walaupun demikian, penggantian posisi jarang menyebabkan potensiasi yang lebih dari potensiasi sementara, karena meningkatnya bentuk bebas juga akan meningkatkan kecepatan eliminasi obat. Penggantian posisi pada tempat ikatan protein penting pada potensiasi warfarin oleh sulfonamid dan tolbutamid. Tetapi hal ini menjadi penting terutama karena metabolisme warfarin juga dihambat.
Mempengaruhi metabolisme.
Banyak obat dimetabolisme di hati. Induksi terhadap sistem enzim mikrosomal hati oleh salah satu obat dapat menyebabkan perubahan kecepatan metabolisme obat lainnya secara bertahap, sehingga menyebabkan rendahnya kadar plasma dan mengurangi efek obat. Penghentian obat penginduksi tersebut dapat menyebabkan meningkatnya kadar plasma obat yang lainnya sehingga terjadi gejala toksisitas. Barbiturat, griseofulvin, beberapa antiepilepsi dan rifampisin adalah penginduksi enzim yang paling penting. Obat yang dipengaruhi antara lain warfarin dan kontrasepsi oral.
Sebaliknya, saat suatu obat menghambat metabolisme obat lain, akan terjadi peningkatan kadar plasma, sehingga menghasilkan peningkatan efek secara cepat dan juga meningkatkan risiko. Beberapa obat yang meningkatkan potensi warfarin dan fenitoin memiliki mekanisme seperti di atas.
Mempengaruhi ekskresi ginjal
Obat dieliminasi melalui ginjal, melalui filtrasi glomerulus dan melalui sekresi aktif di tubulus ginjal. Kompetisi terjadi antara obat-obat yang menggunakan mekanisme transport aktif yang sama di tubulus proksimal. Contohnya salisilat dan beberapa AINS menghambat ekskresi metotreksat; toksisitas metotreksat yang serius dapat terjadi.
PENTINGNYA INTERAKSI
Banyak interaksi obat tidak berbahaya tetapi banyak juga interaksi yang potensial berbahaya hanya terjadi pada sebagian kecil pasien. Terlebih, derajat keparahan suatu interaksi bervariasi dari satu pasien ke pasien lain. Obat-obat dengan indeks terapi sempit (misalnya fenitoin) dan obat-obat yang memerlukan kontrol dosis yang ketat (antikoagulan, antihipertensi dan antidiabetes) adalah obat-obat yang paling sering terlibat.
Pasien dengan peningkatan risiko mengalami interaksi obat adalah lansia dan orang-orang dengan gagal ginjal atau hati.
Interaksi Yang Berbahaya.
Simbol • dicantumkan pada interaksi yang potensial berbahaya serta apabila pemberian kombinasi obat-obat yang terkait sebaiknya dihindari (atau hanya diberikan dengan peringatan dan pemantauan yang memadai). Interaksi yang tidak ditandai dengan simbol biasanya tidak mempunyai akibat yang serius.
Interaksi obat secara umum dapat dibedakan atas tiga kategori berikut :
1. Interaksi antara obat dengan obat (drug-drug interaction) : interaksi yang muncul saat dua tau lebih obat yang dikonsumsi bereaksi satu terhadap lainnya. Interaksi ini dapat berupa sinergis atau antagonis. Jika efeknya sinergis tentu akan menguntungkan karena obat yang satu akan meningkatkan kemampuan yang lain. Jika antagonis maka akan ada oabat yang menghambat kerja obat yang lain.
2. Interaksi antara obat dengan makanan/minuman (Drug-food/beverage interaction) interaksi yang muncul saat mengkonsumsi obat dan makanan/minuman jenis tertentu. Misalnya konsumsi obat X tidak boleh bersamaan dengan kafein, atau dengan makanan yang mengandung zat atau enzim tertentu seperti anggur atau produknya.
3. Interaksi antara obat dengan kondisi tertentu : interaksi yang dapat muncul jika suatu kondisi medis tertentu dapat menyebabkan obat jenis tertentu menjadi berbahaya. Misalnya konsumsi obat-obatan tertentu yang dilarang pada penderita hipertensi, gangguan ginjal, alergi terhadap zat aktif obat, atau diabetes.
Jika obat tersebut berinteraksi dan timbul sinergi yang meningkatkan kemampuan obat dalam membantu proses kesembuhan, maka tidak ada masalah yang ditimbulkan. Lain halnya jika yang terjadi adalah efek antagonis yang lebih sering tidak diinginkan. Interaksi obat yang tidak diinginkan dapat menyebabkan penurunan efektivitas obat, perubahan fungsional tubuh yang tidak begitu serius sampai kondisi yang dapat membahayakan nyawa seseorang. Kondisi medis tertentu juga dapat menyebabkan interaksi obat dengan tubuh memberikan efek negatif yang dapat mempengaruhi kerja organ tertentu.
Sebagian besar interaksi obat memang tidak berakibat serius, tetapi ada baiknya sebelum mengkonsumsi obat, kita memahami hal-hal apa yang dapat mempengaruhi efektivitas obat yang kita konsumsi untuk memaksimalkan efek yang dihasilkan dan menghindari efek sampingnya.
Keuntungan lebih akan diperoleh jika memperoleh obat tersebut berdasarkan resep atau membeli di apotek yang dikelola oleh petugas yang memiliki keahlian di bidang tersebut. Konsumen dapat menanyakan hal-hal yang dapat memperngaruhi kerja obat dan makanan/minuman yang harus dihindari selama mengkonsumsi obat tersebut. Tetapi, untuk obat yang dibeli secara bebas (OTC), pembeli harus cermat untuk membaca informasi apa saja yang tertera pada obat tersebut.

Penulis: 
GITTA RISKIKKA S.Farm,. Apt
Sumber: 
Apoteker Rumah Sakit Jiwa Daerah Prov. Kepulauan Bangka Belitung

Artikel

ArtikelPer Kategori