FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENURUNAN KEMAMPUAN PASIEN GANGGUAN JIWA DALAM MELAKUKAN PERAWATAN DIRI DI RUMAH SAKIT JIWA

Kenapa pasien dengan gangguan jiwa mengalami penurunan kemampuan dalam segala hal?... pertanyaan tersebut pasti muncul pada setiap orang terutama pada keluarga yang salah satu keluarganya mengalami hal tersebut. Jawaban simpel orang pun berbagai macam, mungkin orang beranggapan..”bagaimana kemampuan untuk merawat dirinya kemampuan untuk berpikir pun sulit”... Adapun keluarga yang merawat pasien dengan gangguan jiwa, sering mengatakan ...”malas benar, hanya makan tidur itu lah kerjaan yang bisa dilakukannya”. Ada bayak hal yang melatarbelakangi masalah tersebut. Pertama kurangnya informasi tentang pasien dengan gangguan jiwa, kurangnya pelatihan atau edukasi cara merawat pasien dengan gangguan jiwa bahkan pengobatan yang tidak tepat seperti membawa ke dukun atau lainnya sehingga memperburuk kondisi pasien gangguan jiwa. Kurangnya sarana dan prasarana kesehatan khususnya kesehatan jiwa baik dari tenaga medis dan lainnya.  Dengan demikian pasien dengan gangguan jiwa mengalami penurunan kemampuan dalam dirinya, keluarga, lingkungan dan masyarakat. 

Riset Kesehatan Dasar di tahun 2013 menemukan bahwa terdapat sekitar 14,4 juta penderita gangguan jiwa di Indonesia. Angka yang tinggi bahkan akan bertambah jika keluarga yang terdekat dengan pasien gangguan jiwa tidak berkoordinasi dengan tenaga kesehatan atau dinas yang terkait.  Gangguan jiwa menurut PPDGJ III adalah sindrom pola prilaku seseorang yang secara khas berkaitan dengan gejala penderitaan (distess) atau hendaya (impairment) di dalam satu atau lebih fungsi yang penting dari manusia, yaitu fungsi psikologik, perilaku, biologik, dan gangguan itu tidak hanya terletak di dalam hubungan antara orang itu tetapi juga dengan masyarakat (Maslim,2002 ; Maramis,2010). Banyak faktor yang mempengaruhi penurunan kemampuan pasien gangguan jiwa, salah satunya penurunan kemampuan dalam merawat dirinya. Penurunan kemampuan melakukan perawatan diri sering dijumpai pada sebagian besar pasien gangguan jiwa. Penurunan kemampuan perawatan diri di mediasi oleh peningkatan level kecemasan yang menyertai, isolasi sosial, halusinasi, resiko prilaku kekerasan dan waham.

Kurangnya kemampuan dalam melakukan perawatan diri adalah akibat dari penurunan kemampuan realita yang menyebabkan ketidakpedulian terhadap diri dan lingkungannya. Selain itu, kurangnya dukungan keluarga dalam hal pelatihan merawat diri kepada anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa. Sering kali keluarga menyerahkan pengobatan sepenuhnya kepada pihak rumah sakit. Untuk itu pentingnya melakukan pendekatan secara menyeluruh untuk pasien gangguan jiwa sangatlah dibutuhkan untuk kesembuhannya. Hal ini bertujuan memberikan treatmen atau terapi dari berbagai sisi yang pada akhirnya akan menampakkan hasil ke arah positif. Selain pendekatan dari sisi medis, dengan pemberian obat-obatan secara rutin, juga dilakukan pendekatan psikososial yaitu keterampilan merawat diri. Dengan memberikan aktivitas-aktivitas positif, pasien mendapatkan pembelajaran tentang prilaku dan aktivitas sehari-hari untuk meningkatkan keterampilan merawat diri, sehingga mereka mampu mandiri dalam kesehariannya. Sangat ditegaskan kembali bahwa peran keluarga yang sangat dibutuhkan mereka. Keluarga  yang sangat dekat dengan pasien agar dapat memberi dukungan terhadap pasien gangguan jiwa. Melatih kemampuan yang dimiliki pasien serta memberi reward atas kemampuan yang meraka lakukan.

Berbagai macam upaya yang bisa dilakukan terutama masalah keperawatan. Perawat yang 24 jam kontak langsung dengan pasien gangguan jiwa yang di rawat. Upaya mengatasi keperawatan defisit keperawatan diri perlu strategi khusus, karena beda pemicu pasti beda cara atau pendekatannya. Perawat dalam mengatasi masalah defisit perawatan diri kurang memperhatikan faktor pemicunya, hal ini berdampak pada hasil yang dicapai. Pentingnya perawat membina hubungan saling percaya terhadap pasien walau tidak semudah kita bayangkan tetapi hal tersebut yang harus dilakukan. Sebelum mengajarkan keterampilan perawatan diri perlu diperhatikan adanya masalah keperawatan lainnya dan menurunkan kecemasan pasien tersebut. Setelah itu perawat bisa mengajarkan perawatan diri dan diharapkan pasien dapat meningkatkan kemampuan untuk merawat dirinya secara mandiri.

Daftar Pustaka

https://www.alodokter.com/macam-macam-gangguan-jiwa-yang-umum-terjadi. di akses tanggal 26 Juni 2019 pukul 09.25 WIB.

https://id.wikipedia.org/wiki/Gangguan_jiwa. di akses tanggal 26 juni 2019 pukul 09.45 WIB

Yusuf, Ah,dkk. (2015). Buku Ajar Kesehatan Jiwa. Jakarta : Salemba Medika

Yosef, Iyus. (2009). Keperawatan Jiwa. Bandung : Refika Aditama

 

 

 

Penulis: 
Sari Anggun,S.Kep.Ners
Sumber: 
Humas RSJD Babel

Artikel

30/06/2016 | Wieke Erina Ariestya, S.Kep.Ners
02/02/2017 | Muhammad Isnaini.S.Kep
14/11/2015 | Sri Ayu Indayani, S. Farm., Apt
04/04/2016 | Sri Chandra Dewi, SKM (Perekam Medis)

ArtikelPer Kategori