CARA MENCEGAH DAN MENGATASI STIGMA SOSIAL AKIBAT PENYAKIT CORONAVIRUS DISEASE 2019 (COVID-19)

MENGENAL STIGMA SOSIAL

Menurut Goffman (1959) Stigma adalah segala macam bentuk atribut fisik dan juga sosial yang mengurangi identitas sosial seseorang, mendiskualifikasikan orang tersebut dari penerimaan seseorang. Menurut Mansyur (1997) Stigma adalah ciri negatif yang menempel pada pribadi seseorang disebabkan karena pengaruh lingkungannya. Menurut Research (2009) Stigma adalah suatu usaha untuk label tertentu ialah sebagai sekelompok orang yang kurang patut untuk dihormati daripada yang lain. Menurut Scheid dan Brown (2010) Stigma adalah sebuah fenomena yang terjadi pada saat seseorang diberikan labeling, stereotip, separation, serta mengalami diskriminasi.

Sedangkn berdasarkan bentuk Stigma menurut Rahman (2013), bentuk dari stigma dapat dikelompokan ke dalam beberapa bentuk yang ada pada masyarakat diantaranya yaitu:

 Labeling Labeling merupakan pembedaan serta juga memberikan label atau juga penamaan itu dengan berdasarkan perbedaan yang dipunyai anggota masyarakat tersebut. Sebagian besar perbedaan individu itu tidak dianggap relevan dengan secara sosial, namun beberapa perbedaan yang diberikan itu dapat menonjol secara sosial.

 Stereotip Stereotip merupakan kerangka berpikir atau juga aspek kognitif yang terdiri dari pengetahuan serta keyakinan mengenai kelompok sosial dan traits tertentu. Stereotip merupakan keyakinan mengenai karakteristik yang merupakan keyakinan tentang atribut personal dipunyai orang-orang didalam suatu kelompok atau kategori sosial tertentu.

 Separation Separation merupakan pemisahan “kita” (sebagai pihak yang tidak mempunyai stigma atau pemberi stigma) dengan “mereka” (kelompok yang mendapatkan stigma itu). Adanya hubungan label dengan atribut negatif tersebut akan menjadi suatu pembenaran disaaat individu yang di label percaya bahwa dirinya itu memang berbeda. Sehingga hal itu dapat dikatakan bahwa proses pemberian stereotip berhasil.

 Diskriminasi Diskriminasi merupakan perilaku merendahkan orang lain disebabkan keanggotaannya didalam kelompok. Diskriminasi yaitu komponen behavioral yang merupakan perilaku negatif terhadap individu disebabkan karena individu itu merupakan anggota dari kelompok tertentu. Sedangkan berdasarkan konteks kesehatan Stigma Sosial adalah pengaitan negatif antara seseorang atau sekelompok orang yang memiliki kesamaan ciri dan penyakit tertentu.

Pada suatu wabah, stigma sosial berarti beberapa orang atau seseorang yang diberi label, distereotipkan, didiskriminasi, diperlakukan secara berbeda, dan/atau mengalami kehilangan status karena dianggap memiliki keterkaitan dengan suatu penyakit. Adanya perlakuan yang semacam itu dapat berdampak negatif bagi mereka yang menderita penyakit, pemberi perawatan, keluarga, teman, komunitas mereka, bahkan orang-orang yang tidak tahu yang pernah bersinggungan dengan penderita penyakit. Bagi orang yang tidak mengidap penyakit tersebut akan memiliki karakteristik yang sama dengan kelompok ini mungkin juga mengalami stigma. Pada saat ini terjadi sebuah wabah Coronavirus Disease 2019 (COVID-19), wabah Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) saat ini telah memicu stigma sosial dan perilaku diskriminatif terhadap orang-orang dari latar belakang etnis tertentu serta siapa pun yang diduga pernah berkontak dengan virus tersebut.

CORONAVIRUS DISEASE 2019 (COVID-19) MENYEBABKAN BANYAK STIGMA

Pada kejadian wabah Coronavirus Disease 2019 (COVID-19), tingkat stigma didasarkan pada tiga faktor utama:

1. Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) merupakan penyakit baru dan masih banyak yang belum diketahui;

2. Manusia sering takut akan hal yang tidak diketahui; 3. Ketakutan mudah dikaitkan dengan 'orang lain'. Penyakit Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) merupakan penyakit yang baru, wajar jika menimbulkan kebingungan, kecemasan, dan ketakutan di kalangan masyarakat. Namun sayangnya, faktorfaktor ini juga memicu stereotip yang merugikan.

DAMPAK STIGMA

Dampak dari Stigma dapat merusak kohesi sosial dan mendorong terjadinya kemungkinan isolasi sosial terhadap kelompok, yang dapat berkontribusi pada situasi yang justru lebih memungkinkan, bukan mencegah, penyebaran virus. Perlakuan ini dapat mengakibatkan masalah kesehatan yang lebih parah dan kesulitan mengendalikan wabah penyakit.

Stigma juga dapat:

• Mendorong seseorang untuk menyembunyikan penyakitnya untuk menghindari diskriminasi

• Dapat mencegah seseorang segera mencari perawatan kesehatan

• Dapat mencegah mereka mengadopsi perilaku sehat

CARA MENGATASI STIGMA SOSIAL CORONAVIRUS DISEASE 2019 (COVID-19)

Berdasarkan bukti yang ada menunjukkan bahwa stigma dan ketakutan seputar penyakit menular menghambat respons, sedangkan tindakan yang membantu yaitu membangun kepercayaan pada layanan dan saran kesehatan yang terpercaya, menunjukkan empati kepada mereka yang terkena dampak, memahami penyakit itu sendiri, dan mengambil langkah-langkah praktis dan efektif sehingga orang dapat membantu menjaga diri mereka dan orang yang mereka cintai agar tetap aman. Komunikasi merupakam cara yang efektif untuk dilakukan, cara kita berkomunikasi tentang COVID-19 sangat penting dalam mendukung orang-orang untuk mengambil tindakan efektif guna membantu melawan penyakit tersebut dan untuk menghindari ketakutan dan stigma. Menciptakan suatu lingkungan di mana penyakit dan dampaknya dapat didiskusikan dan ditangani secara terbuka, jujur, dan efektif.

Beberapa kiat tentang cara mengatasi dan menghindari stigma social akibat penyakit Coronavirus Disease 2019 (COVID-19):

1. Kata-Kata Itu Penting: apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan saat berbicara tentang Coronavirus Disease 2019 (COVID-19). Pada waktu berbicara tentang penyakit Coronavirus Disease 2019 (COVID-19), ada kata-kata tertentu (seperti kasus suspek, isolasi, dll.) dan bahasa tertentu mungkin memiliki arti negatif bagi orang-orang dan memicu sikap stigmatisasi. Sehingga mereka dapat menguatkan stereotip atau asumsi negatif yang ada, memperkuat kaitan yang salah antara penyakit dan factor lain, menciptakan ketakutan yang meluas, atau merendahkan martabat orang yang mengidap penyakit tersebut. Karena adanya hal ini dapat membuat orang menjauh dari pemeriksaan, pengujian, dan karantina. Perlu adanya rekomendasi bahasa 'mengutamakan manusia' yang menghormati dan memberdayakan orang di semua kanal komunikasi, termasuk media. Pemilihan kata-kata yang digunakan media sangat penting, karena akan membentuk bahasa dan komunikasi umum tentang Coronavirus Disease 2019 (COVID-19). Terjadinya pelaporan negatif berpotensi memengaruhi pandangan dan perlakuan terhadap orang yang diduga terjangkit Coronavirus Disease 2019 (COVID-19), pasien, keluarga, dan komunitas yang terkena dampak bahkan orang yang hanya kontak dengan penderita. Banyak contoh konkret tentang bagaimana penggunaan bahasa inklusif dan terminologi yang tidak terlalu menstigmatisasi dapat membantu mengendalikan epidemi dan pandemi dari HIV, TB, dan Flu H1N1 yang dapat digunakan pada penderita Coronavirus Disease 2019 (COVID-19).

2. Lakukan Bagian Anda: ide-ide sederhana untuk menghilangkan stigma Semua yang ada pada suatu tempat yang terpapar Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) baik Pemerintah, warga negara, media, pemberi pengaruh utama, dan komunitas memiliki peran penting dalam mencegah dan menghentikan stigma seputar Coronavirus Disease 2019 (COVID-19). Semua harus berhati-hati dan bijaksana saat berkomunikasi di media sosial dan platform komunikasi lainnya, dengan menunjukkan perilaku yang mendukung seputar penyakit Coronavirus Disease 2019 (COVID-19).

Beberapa contoh dan kiat tentang tindakan yang dapat diambil untuk melawan sikap stigmatisasi:

 Menyebarkan fakta: Stigma dapat diperparah oleh kurangnya pengetahuan tentang bagaimana penyakit baru Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) ditularkan dan diobati, dan bagaimana infeksi dicegah. Pada upaya tanggapan, prioritaskan pengumpulan, konsolidasi, dan penyebaran informasi yang akurat terkait negara dan komunitas tentang daerah yang terkena dampak, kerentanan individu dan kelompok terhadap COVID-19, pilihan pengobatan, dan tempat mengakses perawatan dan informasi kesehatan. Selalu gunakan bahasa sederhana dan hindari istilah klinis. Media sosial berguna untuk menyampaikan kebenaran informasi kesehatan kepada banyak orang terkait Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) dengan biaya yang relatif rendah.

 Melibatkan pemberi pengaruh sosial seperti para pemimpin agama dalam mengajak memikirkan tentang orang-orang yang distigmatisasi dan cara mendukung mereka, atau selebritas yang dihormati untuk memperkuat pesan yang mengurangi stigma. Dalam memberikan informasi harus tepat sasaran dan selebritas yang diminta untuk mengomunikasikan informasi ini harus terlibat secara pribadi, dan sesuai dengan daerah dan budaya pendengar yang akan dipengaruhi. Salah satu contoh, wali kota (atau pemberi pengaruh utama lainnya) yang tampil di media sosial untuk menyampaikan tentang penyakit Coronavirus Disease 2019 (COVID-19).

 Menguatkan suara, cerita, dan gambar orang-orang lokal yang pernah mengalami Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) dan pulih atau yang mendukung orang yang dicintai melalui pemulihan untuk menekankan bahwa kebanyakan orang pulih dari COVID-19. Selain itu, laksanakan kampanye "Pahlawan" untuk menghormati perawat dan petugas kesehatan yang mungkin mengalami stigma. Selain itu tidak kalah pentingnya Relawan komunitas juga berperan besar dalam mengurangi stigma di masyarakat.

 Pastikan Anda mencakup berbagai kelompok etnis. Seluruh materi harus menunjukkan masyarakat yang beragam yang terkena dampak dan bekerja sama untuk mencegah penyebaran COVID-19. Memastikan jenis huruf, simbol, dan format bersifat netral dan tidak mengarah kepada kelompok tertentu.

 Jurnalisme etis: dalam melakukan pelaporan jurnalistik yang terlalu berfokus pada perilaku individu dan tanggung jawab pasien yang terkena dan “menyebarkan COVID-19” dapat meningkatkan stigma orang yang mungkin mengidap penyakit tersebut. Media, misalnya, berfokus pada spekulasi sumber COVID-19, mencoba mengidentifikasi "pasien nol" di setiap negara. Kesulitan mengupayakan untuk menemukan vaksin dan pengobatan dapat meningkatkan ketakutan dan memberi kesan bahwa kita tidak berdaya menghentikan infeksi saat ini. Untuk sebaliknya, promosikan konten seputar praktik pencegahan infeksi dasar, gejala COVID-19, dan kapan harus mencari perawatan kesehatan.

 Menghubungkan: Sejumlah inisiatif berupaya melawan stigma dan stereotip. Sedangkan yang menjadi kunci di sini adalah menghubungkan kegiatan-kegiatan ini menjadi gerakan dan lingkungan positif yang menunjukkan kepedulian dan empati untuk semua. 3. Kiat Dan Pesan Komunikasi Pada saat "Infodemi" perlu adanya seleksi, karena bila terdapat informasi yang salah maka rumor yang menyebar akan lebih cepat daripada wabah Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) saat ini. Maka hal ini akan memperburuk efek negatif termasuk stigmatisasi dan diskriminasi terhadap orang atau daerah yang terkena wabah. Yang perlu kita butuhkan solidaritas kolektif dan informasi yang jelas dan dapat ditindaklanjuti untuk mendukung komunitas dan orang-orang yang terkena dampak wabah Coronavirus Disease 2019 (COVID-19). Bila terjadi kesalahpahaman, rumor, dan informasi yang salah berkontribusi menimbulkan stigma dan diskriminasi yang menghambat upayarespons.

 Membetulkan Kesalahpahaman, sambil mengakui bahwa perasaan orang dan perilaku akibat perasaan tersebut sangat nyata, meskipun asumsi yang mendasarinya salah.

 Mempromosikan Pentingnya Pencegahan, tindakan penyelamatan nyawa, pemeriksaan, dan pengobatan dini. Perlu adanya solidaritas kolektif dan kerja sama global yang diperlukan untuk mencegah penyebaran lebih lanjut dan meredakan kekhawatiran masyarakat

 Menyampaikan Narasi Yang Simpatik, atau cerita yang memanusiakan pengalaman dan perjuangan individu atau kelompok yang terkena dampak Coronavirus Disease 2019 (COVID-19).

 Mengkomunikasi Dukungan dan dorongan bagi mereka yang berada di garis depan dalam upaya tanggapan terhadap wabah ini (petugas kesehatan, relawan, tokoh masyarakat, dll.). Tanamkan bukan rasa takut, melainkan faktalah yang akan menghentikan penyebaran novel Coronavirus Disease 2019 (COVID-19)

 Membagikan fakta dan informasi akurat tentang penyakit Coronavirus Disease 2019 (COVID-19.

 Menantang mitos dan stereotip.

 Memilih kata-kata dengan hati-hati. Cara kita berkomunikasi dapat memengaruhi sikap orang lain.

Penulis: 
YESSICA MANALU, S. KEP., NERS
Sumber: 
Perawat RSJD

Artikel

ArtikelPer Kategori