BOLEHKAH ANAK MELIHAT PERTENGKARAN ORANG TUANYA?

Sumber Ilustrasi : media.npr.org
 

BOLEHKAH ANAK MELIHAT PERTENGKARAN ORANG TUANYA?

 

Di dalam hidup ini, manusia tidak dapat menghindari terjadinya konflik dalam kehidupannya. Ada banyak hal yang menyebabkan munculnya konflik, mulai dari hal yang sederhana sampai hal yang kompleks. Konflik yang dialami dengan jumlah yang terbatas atau dengan frekuensi yang sedikit memberikan manfaat bagi kita sebagai individu untuk dapat bertumbuh menjadi pribadi yang dewasa dan matang sehingga mampu menghadapi dan mengatasi permasalahan apapun.

Begitupun dalam suatu keluarga, konflik diantara pasangan baik sebagai suami istri ataupun sebagai orang tua tidak dapat dihindari. Pertanyaannya, bagaimana jika konflik yang dihadapi tersebut berubah menjadi suatu pertengkaran dalam keluarga, apakah anak boleh melihat pertengkaran tersebut? Dampak apa yang dialami anak ketika mereka melihat hal tersebut?

Ketika orang tua bertengkar dengan ucapan-ucapan verbal yang keras dan kasar, lakukanlah di ruangan yang tertutup atau yang tidak terdengar oleh anak (seperti di kamar). Jika memang pertengkaran hebat tidak terhindarkan oleh orang tua, anak-anak dapat diungsikan terlebih dahulu. Pertengkaran yang terjadi didepan anak-anak cukup berpengaruh terhadap kondisi psikologis mereka. Anak-anak dapat berubah menjadi pemurung, mengalami kebingungan karena mereka tidak tahu harus berpihak atau memilih siapa, mulai tidak menghargai orang tuanya atau salah satunya, memiliki rendah diri, mengalami masalah di sekolah atau kesehatannya, atau bahkan mengalami luka batin oleh karena pertengkaran tersebut menjadi peristiwa yang tidak menyenangkan dalam hidupnya. Tidak jarang, anak-anak yang menyaksikan pertengkaran orang tuanya sedari mereka masih kecil mengalami masalah atau gangguan emosi dan perilaku yang terbawa hingga mereka dewasa sehingga berpengaruh terhadap hubungan yang mereka jalani nantinya.

Namun, apakah itu berarti anak-anak sama sekali tidak boleh melihat orang tuanya bertengkar? Terkadang tak jarang, saat orang tua bertengkar lupa dengan keadaan termasuk dengan keberadaan anak.-anak yang ternyata ada disekitar mereka. Anak-anak yang menyaksikan pertengkaran tersebut akan melihat bagaimana orang tuanya menyelesaikan konflik yang dihadapi dan bagaimana cara orang tuanya berkomunikasi menyampaikan pendapat dan perasaan diantara mereka.

Anak-anak belajar menghadapi konflik dengan orang lain berdasarkan dari apa yang mereka lihat. Sikap, perilaku, ataupun cara yang orang tua lakukan saat mereka bertengkar dapat menjadi contoh bagi si anak ketika mereka menghadapi persoalan dengan orang lain. Jika anak-anak melihat pertengkaran orang tuanya yang dipenuhi dengan kata-kata kasar, maka anak-anak pun akan berkata kasar ketika bertengkar. Jika anak-anak melihat pertengkaran orang tuanya diwarnai dengan tindakan kekerasan maka jangan heran anak pun akan bersikap agresif dan melakukan kekerasan ketika menghadapi konflik dengan temannya. Akan tetapi, jika anak-anak melihat orang tuanya saat bertengkar menunjukkan perilaku yang tidak berlebihan, menyampaikan pendapat dengan cara yang tepat, dan diskusi yang sehat maka anak pun akan melakukan hal yang sama saat ia menghadapi suatu konflik dalam interaksinya.

Anak-anak yang tidak pernah melihat orang tuanya berkonflik atau beradu pendapat pun juga berpengaruh terhadap perkembangan mereka. Anak-anak ini akan lebih mementingkan pandangan orang lain daripada keinginannya sendiri ketika ia berkonflik. Anak berkemungkinan menjadi pribadi yang lebih memilih melarikan diri daripada mempertahankan diri ketika berada dalam suatu masalah. Anak merasa tidak tidak tahu bagaimana bicara meminta haknya, tidak tahu bagaimana cara membela temannya yang diganggu orang lain, kurang mampu mengekspresikan perasaannya atau menyampaikan pendapatnya, dan anak-anak bisa jadi memiliki pandangan bahwa suatu hubungan itu akan berhasil atau sukses jika tidak pernah terjadi pertengkaran ataupun perselisihan paham atau pendapat.

Dengan demikian, konflik yang dihadapi orang tua dapat memberikan dampak positif ataupun dampak negatif bagi psikologis anak. Namun poin penting disini, bukanlah persoalan apakah orang tua boleh bertengkar atau tidak di depan anak, akan tetapi bagaimana sikap dan perilaku orang tua saat konflik tersebut terjadi. Apakah orang tua dapat menemukan solusi atau tidak setelah pertengkaran tersebut. Perbedaan pendapat diantara suami dan istri tidak dapat dihindari begitupun konflik dalam keluarga, namun konflik yang muncul karena perbedaan tersebut mampu diselesaikan oleh orang tua dengan cara yang membangun dan positif sehingga memberikan suatu pelajaran yang berharga bagi anak untuk dapat dia bertumbuh lebih baik. Sebagaimana yang dinyatakan Cummings dan Patrick dalam bukunya Marital Conflict and Children: An Emotional Security Perspective (2010), bahwa anak-anak yang melihat beberapa konflik yang terjadi pada orang tuanya dapat juga memberikan hal baik bagi mereka dalam perkembangannya.

Pertengkaran yang diselesaikan dengan komunikasi yang sehat akan mengajarkan anak keterampilan sosial dalam mengeluarkan perasaannya dengan cara tepat tanpa dengan menyakiti orang lain. Seperti berkata, "Aku marah sama kakak karena aku sedang main dengan mobil-mobilanku, tapi kakak mengambilnya dan merusaknya karena tidak kuberi saat kakak minta mainanku”, “Aku marah karena mama tidak memperhatikanku dan tidak mendengarkanku saat aku bicara”, dsb.

Diskusi sehat yang ditunjukkan orang tua saat bertengkar atau beradu pendapat akan membantu anak-anak belajar cara mengontrol dirinya ketika ia dikuasai oleh rasa marah dan dapat mengkomunikasikannya dengan cara yang positif pada orang lain. Komunikasi yang dilakukan dengan cara yang positif akan memberikan pandangan pada anak bahwa pasangan ataupun suatu keluarga dapat tetap hidup bersama sekalipun melewati situasi-situasi yang kurang ataupun tidak menyenangkan. Konflik yang diselesaikan orang tua dengan baik akan mengajarkan seorang anak lebih memahami, menghargai, dan menghormati dirinya ataupun orang lain. Pada akhirnya, anak-anak akan belajar melihat dan menilai peristiwa yang terjadi disekitarnya, serta tahu cara menghadapinya dan mereka menyadari bahwa kehidupan ini tidak selalu indah ataupun selalu menyenangkan didalam perjalanannya.

Daftar pustaka:

E. Mark Cummings and Patrick T. Davies. 2010. Marital Conflict and Children: An Emotional Security Perspective. New York: Guilford Press

 

 

Penulis: 
Astry Evana S.Psi., M.Psi
Sumber: 
Psikolog Rumah Sakit Jiwa Daerah

Artikel

31/12/2020 | Sri Ayu Indayani, S. Farm., Apt
31/12/2020 | Rakhmawati Tri Lestari, S.Psi., M.Psi
30/12/2020 | Sefrita Danur, S.Psi.,M.Psi
29/12/2020 | Sri Ayu Indayani, S. Farm., Apt
30/06/2016 | Wieke Erina Ariestya, S.Kep.Ners
02/02/2017 | Muhammad Isnaini.S.Kep
16/11/2017 | Syafri Rahman,AMK
14/11/2015 | Sri Ayu Indayani, S. Farm., Apt

ArtikelPer Kategori