ARTIKEL KESEHATAN MENGATASI CEMAS DI MASA PANDEMI

Dimasa pandemic dengan makin meningkatnya jumlah kasus di terkonfirmasi positif covid -19 di Indonesia ini dan khususnya di kepulan Bangka Belitung tak banyak orang menyadari jika para perawat sebagai garda terdepan menghadapi pasien covid-19 juga harus mengatasi anxietas ketakutan / kecemasan mereka sendiri terhadap pandemi mematikan ini. Tanggung jawab moral dan sumpah profesi menjadikan tenaga medis harus tetap menjalankan tugasnya di tengah rasa cemas dan khawatir . khususnya perawat di UPTD RSJD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tak pernah menyangka jika pandemi covid 19 akhirnya sampai di Kota SERUMPUN SEBALAI. Pandemi Covid-19 adalah situasi yang penuh ketidakpastian. Karena itu, tidak heran jika kita akan menemukan kesulitan melewati masa-masa ini. Masyarakat dihantui stres, kecemasan, hingga rasa takut selama pandemi. Lalu, bagaimana agar kita dapat keluar dari situasi tersebut? Menurut Annastasia Ediati, S.Psi, M.Sc, Ph.D, psikolog dan dosen di Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro, di masa pembatasan sosial, banyak orang merasa ada "tembok besar" yang menghalangi hidup mereka. Berdasarkan tingkat kecemasan pada karakteristik responden, masyarakat dalam rentang usia 30-39 tahun mengalami kecemasan terbanyak yakni sekitar 76 persen. Kaum perempuan mengalami kecemasan paling dominan sebanyak 77,7 persen, dan kaum pria yang mengalami kecemasan di masa pandemi COVID-19 ini sebanyak 64,6 persen. “Dampak wabah COVID-19 tidak saja dirasakan dari sisi kesehatan atau kematian. Persakmi juga menjelaskan bahwa masyarakat tidak hanya cemas dengan kemungkinan tertular infeksi SARS-CoV-2 tersebut, melainkan juga dampak pandemi terhadap tatanan kehidupan mereka. Bagaimana cara mengatasi kecemasan tersebut? Dalam diskusi pengelolaan kecemasan semasa pandemi COVID-19 via daring beberapa waktu lalu, Dra. Y. Santi Roestiyani menyatakan: “banyak informasi mengenai virus corona, menimbulkan dampak positif maupun negatif. Kita memang wajib mengikuti informasi sebagai upaya untuk tetap waspada." Akan tetapi, kata dia, apabila terpapar informasi itu secara terus menerus, maka akan berdampak pada kesehatan mental. Hal tersebut memicu stres, cemas, panik, dan rasa takut. Namun, dalam diskusi bersama Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada dan Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk (DP3AP2) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tersebut menjelaskan bahwa kecemasan merupakan reaksi yang wajar semasa pandemi ini. Kendati demikian, jika dibiarkan berlarut-larut, kecemasan dapat menyebabkan gangguan psikologis, fisik, dan kognitif. Oleh karenanya, psikiater RSUD Wonosari dan RS PKU Muhammadiyah Wonosari Ida Rochmawati menjelaskan bahwa penting untuk mengenali gejala kecemasan sehingga seseorang dapat menolong dirinya sendiri. Beberapa cara yang ia jelaskan antara lain dengan bertanya dengan diri sendiri dan mengenali kepribadian diri. Kedua, menghindari paparan yang memicu kecemasan. “Menjaga jarak dari informasi itu penting. Apabila sudah merasa lelah dengan informasi, maka coba berhenti beberapa hari,” Tidak hanya itu, ia menambahkan, perlu juga menghindari diskusi dengan orang yang pencemas. Sebagai solusi kecemasan, direkomendasikan untuk bertanya pada ahli terkait jika ada informasi yang menyebabkan cemas Banyak kisah dari sejawat perawat yang memberikan pelayanan pasien Covid-19 yang sudah dipublikasikan oleh media massa. Perasaan cemas, takut tertular dan menularkan kepada orang-orang tersayang menjadi hal yang utama yang mereka rasakan. Perasaan yang lain perawat sebagai pemberi pelayanan yang kontak langsung dengan pasien Covid-19 diharuskan menjauhi keluarga, istri dan anak — anak hal ini menambah berat perjuangan mereka. Di saat masyarakat umum di wajibkan Stay at Home, perawat dan tenaga kesehatan lainnya berkewajiban memberikan pelayanan kepada pasien Covid-19 maupun pasien umum yang membutuhkan. Benar memang sudah tugas profesi perawat tapi seandainya bisa memilih Stay at Home, pastinya sejawat perawat memilih berkumpul dengan keluarga dan mematuhi himbauan pemerintah untuk Stay at Home berkumpul dengan keluarga tersayang dibandingkan dengan tetap bekerja dengan penuh resiko tertular. Berita gugurnya pahlawan kemanusiaan, rekan-rekan sejawat perawat yang mencapai angka dua puluh orang tidak membuat semangat kendur malah menambah semangat untuk memberikan pelayanan bermutu dan mengedepankan keselamatan pasien dan petugas.. Kendati dirasakan cukup berat pelayanan pasien Covid-19 yang diberikan namun senantiasa selalu memperhatikan mutu, keselamatan pasien dan petugas. Point penting yang harus diperhatikan tercantum dalam Permenkes No. 11 Tahun 2017 tentang keselamatan pasien pasal 4 dan 5. Standar dan sasaran keselamatan pasien menjadi hal yang utama untuk di lakukan.

Sasaran Keselamatan Pasien dicapai dengan :

1. mengidentifikasi pasien dengan benar

2. meningkatkan komunikasi yang efektif

3. meningkatkan keamanan obat-obatan yang harus diwaspadai

4. memastikan lokasi pembedahan yang benar, prosedur yang benar, pembedahan pada pasien yang benar

5. mengurangi risiko infeksi akibat perawatan kesehatan dan f.mengurangi risiko cedera pasien akibat terjatuh.

Keselamatan pasien (Individu, Keluarga, Kelompok dan Masyarakat) dan petugas sangat menentukan percepatan penanganan covid-19 ini dengan memutus rantai penularannya. Sehingga pasien yang di rawat dengan Covid-19 dapat sembuh dan penularan yang terjadi dapat di cegah. Untuk melihat masalah gangguan kecemasan, seseorang mesti melihat bagaimana proses gangguan cemas itu terjadi. Misalkan berasal dari faktor genetik bawaan, pola asuh, lingkungan atau sosial. Pengobatannya pun kemudian bisa berdasarkan kondisi tersebut. Jika berkaitan dengan biologis, maka secara genetik akan kuat gangguan cemasnya. Ada keluarga yang alami gangguan cemas, misalnya, maka kemungkinan kena gangguan kecemasan juga besar. Pola asuh bisa jadi memberi pengaruh. Lalu terkait lingkungan, misalkan dari tekanan kehidupan, seseorang yang diperlakukan tak baik, dibully dan sebagainya lebih dominan kena gangguan cemas. Ini perlu jadi perhatian juga. Terapi psikologis bisa jadi salah satu pengobatan untuk gangguan kecemasan. Ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan dan diperbaiki. Kalau misalkan seseorang termasuk tipe pencemas, maka dari sisi psikologi ia perlu dukungan. Lingkungan yang dominan baik akan turut membantu mencegah gangguan cemas. Namun, patut dipahami juga bahwa tidak semua keinginan bisa terpenuhi, manusia selalu dituntut untuk bisa beradaptasi dengan kondisi. Gangguan kecemasan tak dapat diprediksi atapun dicegah langsung. Namun, terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menguranginya, diantaranya: berolahraga teratur, berhenti merokok, membatasi jumlah alkohol dan kafein yang dikonsumsi, melakukan kegiatan atau latihan relaksasi seperti yoga, atau meditasi. Serta bisa juga dengan melakukan hobi yang disukai, seperti menulis, merajut, bermain musik atau berkebun. Perjuangan petugas kesehatan tidaklah bermakna tanpa didukung peran serta aktif masyarakat dalam mengatasi pandemik ini. Kepedulian dan dukungan masyarakat sangat diperlukan dalam percepatan penanganan Covid-19 yaitu dengan selalu mematuhi aturan yang di keluarkan oleh pemerintah dan edukasi yang dikeluarkan oleh organisasi profesi tenaga kesehatan. Kesinergian antara pemerintah, petugas kesehatan dan masyarakat dengan selalu menjalankan peran dan fungsinya masing-masing akan mempercepat teratasinya ” Badai Pandemik Covid-19 “. Yakinlah … Bersama kita pasti bisa melewati masa — masa sulit ini. Dengan bersabar , menahan diri, meningkatkan rasa kepedulian antar sesama saling bantu maka kondisi pandemik ini akan segera berakhir. Selanjutnya kita menata kehidupan Indonesia baru dalam mengatasi dampak yang disebabkan oleh pandemik ini dari sisi pemulihan ekonomi, politik, social, budaya dan pertahanan keamanan.

DAFTAR PUSTAKA:

https://tirto.id/penelitian-orang-indonesia-alami-kecemasan-tinggi-saat-...

https://www.msn.com/id-id/video/berita/kisah-perawat-atasi-ketakutan-had...

Penulis: 
Liya Anggraini,S.Kep.,Ns.
Sumber: 
Perawat rsjd

Artikel

ArtikelPer Kategori