ARTI PENTING MEMAAFKAN

Dalam menjalankan perannya sebagai makhluk sosial setiap individu terlibat dalam proses interaksi sosialnya dengan orang-orang disekitarnya. Interaksi dengan orang lain menjadi kebutuhan dasar bagi setiap manusia sama halnya dengan makan, minum dan kebutuhan dasar lainnya. Setiap individu memiliki cara yang beragam dalam berkomunikasi, keberagaman tersebut berpotensi memunculkan konflik jika tidak saling memahami satu sama lain. Ada tipe pribadi yang mudah menyesuikan diri dengan beragam gaya dan tipe pribadi manusia sehingga terlihat luwes dalam bergaul, namun adapula yang mengalami kesulitan untuk dapat menyesuaikan diri dengan beragam tipe manusia yang berpotensi menghambatnya dalam proses interaksi sosial. Aktivitas yang dilakukan baik di lingkungan tempat kerja maupun di sekitar tempat tinggal membutuhkan seni tersendiri agar terjalin hubungan yang efektif yaitu hubungan yang hangat, menyenangkan dan saling memahami satu sama lain. Dalam perjalanannya dimungkinkan terjadinya konflik karena adanya perbedaan persepsi atau kesalahan yang dilakukan oleh salah satu pihak yang menyebabkan munculnya kemarahan sehingga memperburuk hubungan yang sebelumnya terjalin dengan baik. Bagi pribadi yang belum cukup mampu mengolah konflik secara efektif dapat memunculkan rasa dendam, marah, enggan, enggan bekerjasama dan dapat mempengaruhi produktivitas kerja jika konflik terjadi dengan teman sekerja. Beberapa tokoh menyebutkan bahwa konflik dapat diselesaikan dengan cara saling memaafkan. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa tipe kepribadian mempengaruhi kecakapan seseorang dalam menyelesaikan konflik, dalam hal ini yaitu kemampuan dalam memaafkan kesalahan orang lain. Tipe kepribadian memberikan pengaruh tersendiri pada kemampuan seseorang untuk dapat memaafkan kesalahan orang lain. Bagi individu yang terbuka lebih mudah memberikan maaf kepada orang lain dibandingkan dengan pribadi tertutup (Fandini & Istiana, 2019). Ciri pribadi yang terbuka adalah senang berbicara, periang, terbuka dan mudah bersosialisasi dengan orang lain. Sedangkan pribadi yang tertutup adalah pribadi yang pemalu, tidak banyak berbicara dan lebih banyak berpusat pada dirinya sendiri. Selain itu, individu yang terbuka cenderung terhindar dari konflik, hal tersebut menunjukkan bahwa saling memaafkan adalah metode efektif dalam menyelesaikan konflik. Memaafkan adalah mengubah perasaan negatif baik marah, sakit hati ataupun dendam menjadi perasaan positif kepada pelaku, tindakan yang dilakukan oleh pelaku dan situasi (Nashori, 2011). Individu yang sulit memaafkan dan menerima kondisi yang ia alami akan menimbulkan sakit fisik seperti pemasalahan pada jantung, tekanan darah meningkat, stres, kecemasan, merasa nyeri pada badan dan yang terburuk adalah terjebak dalam minuman beralkohol dan obat-obatan terlarang (Gani dalam Kusprayogi & Nashori, 2016). Penting kiranya bagi setiap pribadi untuk mulai melatih kemampuan dalam memaafkan agar terciptanya hidup sehat yang berkualitas. Adapun ciri bahwa sesorang telah memaafkan orang lain setidaknya meliputi tiga aspek diantaranya yaitu emosi, kognitif dan interpersonal. Pada aspek emosi ketika individu sudah memaafkan kesalahan orang lain maka akan meninggalkan perasaan marah, benci dan sakit hatinya, serta mampu mengontrol emosi ketika diperlukan dengan cara yang tidak menyenangkan. Individu yang sudah memaafkan pada sisi emosi akan membentuk perasaan positif seperti memunculkan rasa kasih sayang dan timbul rasa nyaman dalam berinteraksi. Sedangkan pada aspek kognitif, pribadi yang sudah memaafkan akan memunculkan penilaian positif terhadap perilaku dan peristiwa yang ia hadapi, mencoba mencari pertimbangan logis alasan dari perilaku yang tidak menyenangkan tersebut. Sedangkan pada aspek interpersonal, individu yang pemaaf akan mengalihkan perilaku dan perkataan yang kasar serta tidak baik menjadi lebih bersahabat, tidak memiliki keinginan untuk melakukan tindakan balas dendam, mencoba saling bertemu dan saling menyampaikan keluhan hati secara terbuka sehingga dapat memaafkan satu sama lain. Selain itu pada aspek interpersonal seorang pemaaf akan meninggalkan perilaku menghindar dan sikap tidak peduli terhadap orang yang telah menyakitinya serta bermusyawarah untuk mencapai kesepakatan bersama sehingga menciptakan situasi yang nyaman dan menyenangkan. Untuk dapat memaafkan orang lain diperlukan beberapa tahap hingga akhirnya dapat berdamai dengan diri sendiri, pelaku, peristiwa dan kondisi yang tidak menyenangkan. Tahap pertama adalah fase pengungkapan, dimana pada tahap ini seseorang mengakui secara terbuka dan menerima perasaan tersakiti dan rasa lainnya yang ia rasakan dari peristiwa yang ia alami. Selanjutnya tahap kedua adalah fase dimana mulai memikirkan dari sudut pandang norma sosial dan agama untuk akhirnya memutuskan untuk dapat memaafkan kesalahan orang lain. Tahap ketiga disebut dengan work phase (bertindak), pada fase ini individu mulai membentuk persepsi baru terkait peristiwa yang terjadi padanya, ia mulai memiliki sudut pandang yang bebeda sehingga membantunya untuk berlapang dada dan menerima kesalahan yang dilakukan orang lain. Selain itu ia mencoba untuk menerima bahwa peristiwa yang ia hadapi sebagai bagian dari episode hidup yang dapat dijadikan pelajaran berharga bagi dirinya dan orang lain. Dan pada tahap terakhir yaitu tahap pendalam, dimana individu mulai menginternalisasikan kebermaknaan yang ia dapatkan terkait peristiwa yang ia alami dan menghasilkan kesimpulan bahwa ia mendapatkan manfaat yang besar bagi dirinya dari memaafkan kesalahan orang lain. (Enright dalam Nashori, 2011). Kesimpulan untuk memaafkan orang lain dan menerima dengan terbuka peristiwa yang ia alami didahului dengan melakukan pertemuan terlebih dahulu antar pihak yang bekonflik untuk melakukan rekonsiliasi atau memperbaiki hubungan seperti kondisi semula. Dalam rekonsiliasi tersebut pihak pelaku menyampaikan penyesalannya terkait perilaku yang kurang menyenangkan dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya tersebut. Sedangkan pada pihak korban, mencoba untuk menunjukkan perilaku postif dengan menerima permintaan maaf tersebut dan tetap berusaha menunjukkan perilaku positif. Diperlukan penyelesaian tahap-tahap dalam memaafkan yang telah disampaikan, sebelum melakukan rekonsiliasi agar pertemuan tersebut berjalan dengan efektif serta menghasilkan kesepakatan yang menaungi kebutuhan kedua belah pihak. Pribadi yang memaafkan orang lain akan merasakan kelapangan hidup, tidak hidup dalam bayang-bayang peristiwa yang menyakiti hatinya, dan dapat melanjutkan hidup lebih produktif. Memaafkan bukan berarti membiarkan orang lain berbuat sesukanya pada diri kita atau melupakan begitu saja peristiwa yang tidak menyenangkan tersebut. Akan tetapi, memaafkan memiliki makna menyelesaikan secara terbuka sehingga mampu merubah persepsi dan perilaku yang negatif menjadi perilaku positif dan produktif.

Referensi: Fandini & Istiana, 2019. Perbedaan Forgiveness Ditinjau dari Tipe Kepribadian pada Remaja di Yayasan Al-Hidayah Medan. Jurnal Psikologi Prima Vol 2, No 1. Medan : Universitas Meda Area.

Nashori, 2011. Meningkatkan Kualitas Hidup dengan Pemaafan. Jurnal UNISIA, Vol. XXXIII No. 75. Yogyakarta: Universitas Islam Indonesia.

Kusprayogi & Nashori, 2016. Kerendah hatian dan Pemaafan pada Mahasiswa. Jurnal Psikohumaniora Volume 1 No. 1, November 2016, 12-29. Yogyakarta: Universitas Islam Indonesia.

Penulis: 
Rakhmawati Tri Lestari, S. Psi., M.Psi
Sumber: 
Psikolog Rsjd

Artikel

ArtikelPer Kategori