ADIKSI INTERNET

Internet bukan lah suatu hal yang asing untuk telinga kita saat ini. Mulai dari anak-anak hingga dewasa memahami bahwa internet adalah suatu perkembangan tekonologi yang membuat mereka mudah untuk mengakses segala informasi yang ada didunia. Penggunaan internet saat ini tidak lagi sekedar mengirim email atau berbagi informasi, internet menyediakan banyak hal yang memudahkan individu mengatasi persoalan dan memenuhi kebutuhan. Pekerjaan, pelajaran, jaringan sosial, hiburan dsb sangat mudah ditemui ketika individu sudah menggunakan internet. Hal ini semakin menjadi ketika didukung dengan adanya kemunculan teknologi wireless dan perangkat komunikasi smartphone. Hanya dengan sekali tekan, informasi yang dibutuhkan sudah ada dalam genggaman dan komunikasi dengan dunia luar pun terjalin. Berdasarkan hasil riset yang dirilis oleh platform manajemen media sosial Hoot Suite dan agensi marketing sosial We Are Social bertajuk "Global Digital Reports 2020", hampil 64 % penduduk Indonesia sudah terkoneksi dengan jaringan internet. Jumlah pengguna Internet di Indonesia sudah mencapai 175,4 juta orang, meningkat sekitar 17 persen atau 25 juta pengguna dengan jumlah penduduk Indonesia sekitar 272,1 juta. Selain itu dari hasil riset tersebut juga mendapatkan bahwa jumlah pengguna internet diperangkat mobile seperti smartphone atau tablet, mencapai 338,2 juta pengguna. Angka tersebut naik 15 juta pengguna atau 4,6 persen ketimbang tahun lalu. Ini menunjukkan bahwa pengguna teknologi internet semakin meningkat. Seiring meningkatnya penggunaan teknologi internet ini dan smartphone, masalah juga kian muncul dan dampaknya dirasakan tidak hanya pada kalangan orang dewasa namun juga anak-anak. Berbagai keluhan muncul mulai dari keluhan fisik yang dialami tubuh hingga masalah perilaku serta prestasi belajar yang menurun akibat penggunaan internet. Adiksi Internet adalah salah satu masalah yang timbul dari pengunaan internet itu sendiri. Selama ini kita mengenal kata adiksi lebih banyak ditujukan kepada mereka yang menggunakan narkoba, namun saat ini adiksi juga dapat kita lihat pada mereka yang tidak bisa mengendalikan diri dalam penggunan internet. Menurut Young (2017) adiksi internet adalah gangguan dalam mengontrol impuls. Byun dkk (Soesatyo, 2018) mendefinisikan adiksi internet sebagai tindakan kompulsif ataupun ketergantungan yang tak terkendali terhadap benda, kebiasaan tertentu yang menyebabkan gangguan emosi, mental ataupun respon fisiologis yang parah. Young (2017) membedakan adiksi internet dalam 5 kategori yaitu computer addiction: kecanduan game komputer, informational overload: kecanduan berselancar dalam web, net addiction: kecanduan judi ataupun belanja online, cybersexual addiction: adiksi pornografi ataupun seks online, dan cyberrelationship addiction: adiksi terhadap situs media sosial. Semua jenis adiksi memberikan dampak negatif, dan tidak sedikit penelitian yang dilakukan untuk mencoba memahami penyebab dari adiksi tersebut. Penelitian yang dilakukan oleh Kim, LaRose & Peng (2009) menunjukkan bahwa individu yang kesepian atau tidak memiliki ketrampilan sosial yang baik menunjukkan peningkatan dalam penggunaan internet secara kompulsif yang memberikan dampak negatif pada kehidupan. Penelitian lain yang dilakukan juga oleh Gedam, dkk ( 2017) menemukan bahwa ada hubungan yang siginifikan antara kecanduan internet dengan terjadinya psikopatogi, yaitu kecemasan, depresi, sulit mengontrol emosi dan perilaku, masalah emosi, masalah kepuasan hidup ,stres dan menurunnya kesejahteraaan psikologis. Berbagai pendekatan mencoba memahami hal tersebut karena tidak mudah untuk langsung menyatakan seseorang mengalami adiksi internet. Untuk membantu mengidentifikasi kecanduan internet, Young, (2017) mengkonseptualisasi 8 kriteria yang dapat digunakan sebagai skrining dan dapat kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu: 1. Merasa terpreokupasi dengan internet (memikirkan tentang kegiatan online terus-menerus) 2. Merasa membutuhkan waktu yang lebih lama dalam menggunakan internet untuk mencapai kepuasan 3. Gagal untuk mengontrol, mengurangi atau menghentikan pemakaian internet walaupun sudah melakukan upaya berulang 4. Merasa gelisah, suasana perasaan berubah-ubah, depresi, mudah tersinggung ketika mencoba mengurangi atau menghaentikan penggunaaan internet 5. Online lebih lama dari pada waktu awal yang direncanakan 6. Menghadapi resiko kehilangan hubungan yang signifikan, pekerjaan, atau peluang pendidikan atau karier akibat internet 7. Pernah membohongi anggota keluarga, terapis atau oranglain untuk menutupi keterlibatan anda dengan internet 8. Menggunakan internet sebagai cara untuk melarikan diri dari masalah atau meredakan suasana perasaan ( Misalnya, merasa tidak berdaya, merasa bersalah cemas, depresi). Apabila terdapat lima jawaban atau lebih yang membenarkan kriteria tersebut ada pada seseorang dalam jangka waktu enam bulan, maka dapat dikatakan ia mengalami ketergantungan. Namun akan lebih baik pemeriksaan lebih lanjut dengan tenaga profesional juga dilakukan. Menghadapi semakin pesatnya teknologi saat ini, hendaknya kita semakin bijak dalam menyikapi perubahan. Dampak positif dan negatif dalam suatu perubahan teknologi selalu mengiringi dan menuntut kesiapan dari pengguna teknologi itu sendiri agar tidak memberikan dampak negatif. Adapun beberapa tips yang dapat digunakan agar terhindar dari adiksi internet yaitu: 1. Tetapkan tujuan penggunaan internet, sehingga anda tetap fokus pada tujuan. 2. Atur kembali prioritas online dan evaluasi aktivitas apa yang paling menyita waktu. Kalau ternyata lebih banyak melakukan hal yang tidak bermanfaat, atur kembali priotitas mu. 3. Kurangi durasi online secara perlahan. Terlalu sering melakukan aktivitas online tidak baik bagi kesehatan. 4. Dalam 1 minggu, sediakan satu hari tanpa ganget dan internet. Lakukan aktivitas lain seperti berkumpul dengan keluarga, bersih-bersih rumah, mengunjungi teman dll 5. Lakukan aktivitas kesukaan / hobby akan membantu mengurangi durasi penggunaan internet. 6. Sediakan waktu untuk berkumpul keluarga 7. Sesekali keluar rumah dan mencari hiburan yang nyata tidak berasal dari internet 8. Berolahraga Referensi: • Kim, LaRose & Peng. 2009. Loneliness as the cause and the effect of problematic internet use: The ralationship between Internet Use and Psychological Well-Being. Cyber Psychology & behavior.Volume 12, Number 4. 2009 • Young, K & de Abreu, C. 2017. Kecanduan Internet: Panduan Konseling & Petunjuk untuk Evaluasi dan Penanganan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. • Riset: 64% Penduduk Indonesia Sudah Pakai Internet. 2020. diakses dari https://kumparan.com/kumparantech/riset-64-penduduk-indonesia-sudah-paka... 1ssUCDbKILp/full • Gedam, S., Ghosh, S., Modi, L., Goyal, A., Mansharamani, H. 2017. Study of internet addiction: Prevalence, pattern, and psychopathology among health professional undergraduates. Indian Journal of Social PSyciatry, 33 (4), 305-3011. DOI: 10.4103/ijsp.ijsp_70_16 • Soesatyo, Budi. 2018. Ancaman Adiksi Internet dan Pencegahannya. Temu ilmiah Nasional X Ikatan psikologi perkembangan Indonesia. Diakses dari https://www.researchgate.net/publication/328462164_Ancaman_Adiksi_Intern...

Penulis: 
Mita Octarina, M.Psi., Psikolog
Sumber: 
Psikolog Rumah Sakit Jiwa Daerah

Artikel

ArtikelPer Kategori